Teror di Kamar 13
Rina adalah seorang mahasiswi psikologi yang sedang melakukan penelitian tentang gangguan tidur di sebuah rumah sakit jiwa. Dia mendapat izin untuk menginap di salah satu kamar kosong di lantai tiga, yang bernomor 13. Dia tidak percaya dengan anggapan bahwa nomor itu membawa sial, apalagi dia adalah seorang ilmuwan yang rasional.
Pada malam pertama, dia tidur dengan nyenyak tanpa ada kejadian aneh. Dia bangun pagi-pagi dan melanjutkan penelitiannya dengan mewawancarai beberapa pasien dan dokter. Dia mendengar cerita-cerita menyeramkan tentang rumah sakit itu, seperti bunuh diri, pembunuhan, dan halusinasi. Tapi dia tidak terpengaruh olehnya, karena dia yakin itu semua adalah akibat dari penyakit mental yang dialami oleh para pasien.
Pada malam kedua, dia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Dia mendengar suara-suara aneh dari luar kamar, seperti langkah kaki, bisikan, dan jeritan. Dia mencoba mengabaikannya dan tidur, tapi dia terus diganggu oleh mimpi buruk yang mengerikan. Dia bermimpi tentang seorang wanita berambut panjang yang menangis di pojok kamar, seorang pria berdarah yang menatapnya dengan mata kosong, dan seorang anak kecil yang tersenyum sambil memegang pisau.
Dia terbangun dengan keringat dingin dan menyalakan lampu. Dia melihat jam di meja dan terkejut. Jam menunjukkan pukul 03:13. Dia merasa ada yang aneh dengan angka itu, tapi dia tidak tahu apa. Dia mencoba menenangkan diri dan kembali tidur, tapi dia tidak bisa. Dia merasa ada yang mengawasinya dari balik pintu.
Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Dia ingin membukanya dan melihat apa yang ada di luar, tapi dia merasa takut. Dia mendekati pintu perlahan-lahan dan memegang gagangnya. Tiba-tiba, dia mendengar suara ketukan dari dalam pintu.
"Siapa?" tanyanya dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban.
Dia mengulangi pertanyaannya, tapi tetap tidak ada jawaban.
Dia mulai merasa panik. Dia ingin membuka pintu, tapi dia juga tidak berani. Dia merasa terjebak di dalam kamar itu.
Dia berbalik dan melihat ke arah jendela. Dia berharap bisa melihat cahaya dari luar, tapi yang dia lihat adalah kegelapan pekat. Dia merasa seperti di dalam lubang hitam.
Dia berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang mendengarnya.
Dia jatuh ke lantai dan menangis.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
Dia hanya tahu bahwa dia tidak akan bisa keluar dari kamar 13.