Rani adalah seorang gadis remaja yang suka membaca novel fantasi. Ia sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di dunia fantasi yang penuh dengan keajaiban dan petualangan. Ia ingin bisa bertemu dengan makhluk-makhluk ajaib seperti peri, naga, atau unicorn.
Suatu hari, ia menemukan sebuah buku tua yang tergeletak di rak buku perpustakaan sekolahnya. Buku itu berjudul “Dunia Paralel: Panduan untuk Pemula”. Ia penasaran dan membuka buku itu. Ia terkejut melihat bahwa buku itu bukanlah sebuah novel, tapi sebuah buku petunjuk yang mengajarkan cara untuk masuk ke dunia paralel.
Buku itu menjelaskan bahwa dunia paralel adalah sebuah dimensi alternatif yang berbeda dari dunia nyata. Di dunia paralel, semua hal yang tidak mungkin di dunia nyata bisa terjadi. Ada banyak jenis dunia paralel yang bisa dikunjungi, seperti dunia peri, dunia naga, dunia unicorn, dan lain-lain.
Buku itu juga menjelaskan bahwa untuk masuk ke dunia paralel, seseorang harus memiliki sebuah portal yang bisa menghubungkan antara dua dimensi. Portal itu bisa berupa apa saja, seperti cermin, pintu, jendela, atau bahkan buku itu sendiri. Yang penting adalah seseorang harus memiliki niat yang kuat dan keyakinan yang tinggi untuk masuk ke dunia paralel.
Rani merasa tertarik dan ingin mencoba. Ia memutuskan untuk menggunakan buku itu sebagai portalnya. Ia memilih untuk pergi ke dunia peri, karena ia suka dengan makhluk-makhluk cantik dan imut yang bisa terbang dan menggunakan sihir.
Ia menutup matanya dan membayangkan dirinya berada di dunia peri. Ia mengucapkan kata-kata mantra yang tertulis di buku itu. Ia merasakan tubuhnya bergetar sejenak. Kemudian, ia membuka matanya dan melihat pemandangan yang berbeda dari sebelumnya.
Ia berada di sebuah hutan yang indah dan hijau. Di sekelilingnya, ada bunga-bunga yang berwarna-warni dan beraroma harum. Di atasnya, ada langit biru yang cerah dan matahari yang bersinar. Di sampingnya, ada sungai yang mengalir dengan jernih dan gemericik.
Ia tidak percaya bahwa ia benar-benar berada di dunia paralel. Ia merasa seperti bermimpi. Ia mulai berjalan-jalan di hutan itu dan menikmati keindahannya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerincing yang lembut dari belakang semak-semak. Ia mendekati sumber suara itu dan melihat sesuatu yang membuatnya terpesona.
Di belakang semak-semak, ada sebuah kolam kecil yang dipenuhi oleh air mancur yang menyembur-nyembur. Di tengah kolam, ada sebuah patung putri peri yang cantik dan anggun. Patung itu terbuat dari batu putih yang bersinar seperti mutiara.
Di sekitar patung itu, ada puluhan peri kecil yang sedang bermain-main dengan air mancur. Mereka memiliki sayap tipis seperti kaca yang berkilauan dengan warna pelangi. Mereka juga memiliki rambut panjang yang berwarna-warni seperti bunga. Mereka tampak bahagia dan riang.
Rani merasa kagum melihat makhluk-makhluk ajaib itu. Ia ingin bergabung dengan mereka dan berkenalan dengan mereka. Ia mengambil langkah maju menuju kolam itu.
Namun, sebelum ia bisa mendekati kolam itu, ia mendengar suara teriakan yang keras dari arah lain. Ia menoleh dan melihat ada sesuatu yang mengerikan yang datang dari balik pepohonan.
Di balik pepohonan, ada seekor naga besar yang bersisik merah dan bernapas api. Naga itu tampak marah dan ganas. Ia mengaum dan menghembuskan api ke arah hutan. Ia tampak ingin membakar dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya.
Rani merasa ketakutan melihat makhluk buas itu. Ia sadar bahwa ia telah masuk ke dunia paralel yang berbahaya. Ia ingin segera kembali ke dunia nyata dan menyelamatkan diri.
Ia berbalik dan berlari menuju buku yang masih tergeletak di tanah. Ia ingin mengambil buku itu dan menggunakan mantra kembali untuk pulang. Namun, sebelum ia bisa sampai ke buku itu, ia mendengar suara dentuman yang keras dari belakangnya.
Ia menoleh dan melihat bahwa naga itu telah mengejarnya dan mencapainya. Naga itu mengangkat kepalanya yang besar dan membuka mulutnya yang lebar. Ia bersiap untuk menelan Rani dengan sekali gigit.
Rani berteriak ketakutan, tapi tidak ada yang bisa menolongnya. Ia menyesal telah masuk ke dunia paralel tanpa memikirkan risikonya. Ia tidak pernah tahu bahwa dunia paralel itu adalah dunia yang penuh dengan bahaya dan teror.