Rania berdiri di depan pagar rumah yang telah ditinggali selama 5 tahun bersama suaminya. Dua koper besar berjajar rapi disisi kakinya.
Tak banyak barang yang dia bawa karena memang hanya itu yang dia punya. Sebagai istri dia tidak punya hak lebih selain barang pribadi miliknya. Semua isi rumah adalah hak milik suami dan orang tuanya, itulah yang selalu dia dengar selama ini.
Berat rasanya jika harus beranjak pergi. Banyak kenangan yang terlanjur terajut selama lima tahun ini. Tapi Rania tidak punya pilihan selain pergi setelah talak tiga turun dari Arga, suaminya.
Sekarang rumah di depannya tampak sepi dan lengang. Suaminya pulang ke rumah orang tuanya sejak satu bulan yang lalu. Sejak itu Rania dibiarkan tinggal sendiri sambil menunggu menemukan tempat baru untuknya.
Rania pergi setelah taksi yang dipesannya datang. Selama perjalanan pikirannya melayang pada rangkaian peristiwa yang terjadi setelah tahun ketiga pernikahannya, ketika ayah dan ibu Arga menuntutnya untuk memiliki keturunan.
Kalau ditilik kebelakang, kegagalan ini sebagian besar karena orang tua Arga yang terlalu ikut campur. Semua urusan rumah tangga Rania dan Arga atas pengaturan orang tua Arga. Bahkan urusan berapa besar uang belanja yang harus diterima Rania juga atas keputusan ibu dari Arga.
Tugas Rania hanya merawat rumah dan menuruti semua permintaan Arga dan orang tuanya. Tidak boleh berkata tidak, tidak punya hak bicara apalagi memberikan pendapat.
Rania sendiri adalah seorang yatim piatu yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Hampir seluruh hidupnya dia habiskan di sebuah panti asuhan milik pemerintah. Selama ini kehidupannya adalah tentang mematuhi aturan-aturan. Jadi ketika orang tua Arga memintanya untuk menurut, dia menganggap itu wajar.
Di tahun-tahun pertama kehidupan pernikahannya lancar saja, tidak ada perdebatan yang berarti. Rania merasakan kasih sayang dari keluarga secara utuh, paling tidak itu anggapannya karena dia tidak pernah tahu bagaimana kehidupan berkeluarga itu sebenarnya.
Memasuki tahun ketiga masalah mulai hadir. Rania diminta untuk memeriksakan diri ke dokter karena tak kunjung hamil. Hanya Rania tidak dengan Arga, ketika dokter bilang Rania sehat dan siap memiliki anak, orang tua Arga kembali menuding Rania tidak ikhlas melayani suami, makanya tidak juga hamil.
Berbagai macam jamu dan obat kesuburan masuk dalam perut Rania. Bukannya Rania kurang berpendidikan makanya dia menurut saja, tetapi lebih pada merasa bersyukur dan beruntung dia memiliki sebuah keluarga. Dari pada dia membantah dn ditinggalkan Arga, seperti ancaman mertuanya, lebih baik dia menurut dan mengikuti kemauan dua orang tua itu.
Memasuki tahun keempat dan kelima kondisi rumah tangganya makin parah, bahkan setahun kebelakang tidak tertolong lagi. Tidak ada pertengkaran, hanya saling mendiamkan. Arga hampir tidak pernah mengajaknya berbicara dan Rania terlalu takut untuk memulai percakapan. Sampai satu bulan lalu Arga meletakkan selembar surat diatas meja makan. Selembar surat dari pengadilan agama yang menyatakan bahwa keduanya tidak memiliki ikatan apa-apa lagi.
Tanpa mengucapkan apa pun, Arga tak pernah lagi pulang. Hanya sebuah pesan dikirim melalui aplikasi yang memberitahu kalau mantan suaminya itu pulang ke rumah orang tuanya dan Rania diberi waktu selama satu bulan untuk mengosongkan rumah yang selama ini mereka tinggali.
Rania sempat bingung, harus kemana, tinggal dengan siapa, atau bagaimana kehidupannya nanti. Lima tahu ini dia hanya menerima saja tanpa harus melakukan sesuatu. Tapi kemudian Rania ingat dia masih punya tempat untuk pulang, panti asuhan tempat tinggalnya dulu.
Disinilah dia sekarang, taksi membawanya kembali ke panti tempat dia dulu tinggal. Ibu panti menyambutnya di depan pintu dengan tangan terbuka. Beliau bilang, kebetulan kalau Rania mau pulang ke panti, panti sekarang butuh tenaga tambahan karena beberapa pekerja dipindahkan ke tempat lain.
Ibu panti paham betul Rania tidak akan minta yang aneh-aneh, dan benar, Rania hanya ingin ada tempat untuk tinggal, sekedar nasi sepiring untuk makan dan dia bersedia melakukan apapun tugas yang diberikan padanya.
Kadang ibu panti melihat Rania menangis diam-diam. Di lain waktu Rania melamun dengan tatapan mata kosong. Untungnya Ibu panti biasa menghadapi anak-anak yang punya masalah dengan kejiwaannya, jadi bukan hal yan baru bagi beliau untuk mengembalikan semangat hidup Rania yang sempat hilang.
Perlahan Rania kembali bangkit dari keterpurukannya. Ibu panti memberinya tugas merawat anak-anak usia dibawah enam tahun, terbayang bagaimana sibuknya. Tidak ada waktu baginya untuk melamun. Ditambah lagi dengan kursus menjahit yang diikutinya sebanyak tiga kali dalam satu Minggu.
Ketika kursus selesai dan Rania siap, ibu panti mengosongkan satu ruangan yang akan dipakai Rania untuk menjahit. Dari situlah Rani memulai usaha butik miliknya.
Kemampuan menjahit Rania yang mumpuni ditambah dengan keramahannya dalam melayani pelanggan membuat namanya makin tenar. Dari satu pelanggan merambah pada pelanggan-pelanggan berikutnya.
Karena makin banyak pelanggan yang datang, Rania menggunakan tabungannya untuk menyewa tempat diluar panti untuk membuka butik. Ibu panti juga memberi tambahan modal, sebagai bentuk investasi katanya. Kalau keuntungannya banyak, ibu panti minta modalnya dikembalikan plus dengan keuntungannya, tentu saja itu diucapkan dengan nada bercanda.
Setelah menyelesaikan tugasnya di panti, pagi ini seperti biasa Rania membuka butiknya. Tapi ada yang berbeda, di depan butik terparkir sebuah mobil mewah.
"Selamat pagi," sapa seorang lelaki yang tiba-tiba berdiri di belakangnya ketika Rania sedang membuka pintu.
Laki-laki itu tersenyum, tapi tidak dengan Rania. Matanya bingung melihat kanan kiri. Merasa tidak mengenal dan khawatir laki-laki itu akan berbuat jahat.
"Saya orang baik, mbak," lelaki itu tersenyum bahkan cenderung menertawakan.
Rania mengangguk, "ada yang bisa dibantu?"
"Buka dulu butiknya, baru mbak bisa membantu saya."
Sekali lagi Rania mengangguk. Jarang sekali ada pengunjung yang datang sepagi ini. Biasanya pelanggan lebih suka berkunjung siang atau sore hari. Tahulah waktu pagi adalah jam-jam sibuk bekerja. Nah orang ini menunggu bahkan sebelum butik dibuka.
Mata lelaki itu mengikuti semua gerak-gerik Rania bahkan gerakan sekecil apapun. Saking risihnya Rania, akhirnya dia berhenti, bersendekap sambil sedikit melotot, dia menegur lelaki yang saat ini sedang duduk di sofa.
"Kenapa anda memandangi saya seperti itu?!" Rania meletakkan sapu yang dipegangnya.
"Lebih baik saya melayani anda lebih dulu, karena saya merasa risih dengan kehadiran anda!" Lanjut Rania.
Lelaki itu tersenyum, "mbak tidak cocok kalau marah."
"Tapi, baiklah, demi kenyamanan kita berdua, saya akan membeli apa yang saya butuhkan sekarang. Jadi mbak bisa melanjutkan pekerjaannya."
Rania melayani dengan cepat. Dalam hati dia masih terus bertanya-tanya, untuk apa seorang lelaki mendatangi butik khusus perempuan sendirian. Kalaupun seperti katanya, dia ingin membeli sesuatu untuk seseorang yang istimewa, bukannya orang itu harus diajak. Agar memilih sendiri ukuran dan model yang disuka. Ini tadi Rania yang disuruh memilih, lelaki itu bilang apapun pilihannya pasti seseorang yang istimewa itu akan setuju.
Tapi kembali lagi, apapun itu, yang penting beberapa barangnya terjual. Urusan pelanggan bukan urusannya.
Malam ini Rania menutup butiknya dengan senyum bahagia. Omset penjualan meningkat cukup signifikan. Beberapa pelanggan baru datang, mereka tampak menyukai model baju yang ada, bahkan ada yang membeli sampai beberapa potong. Ada juga yang menjahitkan baju untuk seragam.
Sepertinya Rania harus menyiapkan strategi untuk rencana penjualan kedepan. Bahkan mungkin Rania harus merekrut beberapa bekerja untuk membantunya memenuhi pesanan. Satu-satunya orang yang bisa diajak berdiskusi adalah Ibu panti.
Benar saja, saran-saran ibu panti sangat membantu. Ibu panti juga berjanji akan mencarikan pekerja yang loyal dan terampil.
Esok harinya, Rania membuka butik pada jam yang sama dan anehnya mobil yang sama sudah berhenti didepan butik seperti kemarin.
Kali ini lelaki itu berdiri bersandar di sisi mobil. Kepalanya mengangguk ketika melihat Rania datang. Sebagai rasa hormat Rania membalas dengan cara yang sama.
Berbeda dengan kemarin, sekarang lelaki itu tidak mengikuti Rania masuk ke dalam. Setelah beberapa saat lelaki itu melambaikan tangannya, masuk ke mobil dan pergi. Aneh...
Hari ini tak kalah sibuk dengan kemarin. Rania kembali menerima beberapa pelanggan baru. Butiknya hampir kosong. Pekerja yang dijanjikan Ibu panti juga mulai berdatangan. Karena mendesak, tanpa banyak tes dan karena kepercayaannya pada ibu panti, dia meminta mereka untuk langsung bekerja.
Pada hari-hari selanjutnya lelaki itu masih melakukan hal yang sama. Rania melihatnya menunggu di depan butik. Tidak melakukan atau membeli apapun, hanya melambaikan tangan lalu pergi.
Makin kesini Rania merasa makin terganggu. Apa sebenarnya maksud lelaki itu menunggunya. Bagaimanapun Rania adalah seorang janda, meskipun di lingkungan sekitar butik Rania yakin tidak ada yang tahu tapi Rania merasa dia wajib menjaga kehormatannya. Setelah mempertimbangkan masak-masak Rania memutuskan untuk bertanya dan meminta lelaki itu mengakhiri kebiasaannya.
Pagi ini Rania datang tapi tidak langsung membuka butik. Dia berjalan mendekati lelaki itu dan memintanya untuk masuk ke dalam, untungnya sekarang Rania tak lagi sendiri di butik, ada beberapa pekerja yang selalu menemani.
Rania membiarkan pekerjanya yang membersihkan butik. Meminta yang lain menyiapkan minum dan keduanya sekarang sedang duduk berhadapan.
Lelaki itu menatap Rania lekat, senyum tak lepas dari bibirnya, membuat Rania kikuk salah tingkah.
"Mengapa anda meminta saya masuk? Apa ada yang anda butuhkan dari saya?" Suara bariton itu sedikit mengintimidasi.
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu, mengapa anda selalu muncul di depan butik saya? Apa ada yang anda butuhkan? Karena selama ini anda tidak membeli sesuatu dari butik ini."
"Saya ralat, saya pernah membeli sesuatu," sanggah lelaki itu.
"Ah, ya, hanya sekali, sedangkan anda hampir setiap pagi berdiri di depan setelahnya."
"Nama saya Rudi," ucap lelaki itu mengulurkan tangan, "saya ingin mengenal mbak lebih dekat."
Rania melongong, tidak menduga akan mendapat kejutan seperti ini. Ada lelaki yang ingin mengenalnya lebih dekat. Bahkan dengan Arga,mantan suaminya, dia tidak pernah berkenalan lebih dulu. Mereka berdua dikenalkan dan langsung menikah tanpa proses panjang.
Hari ini menjadi momen tak terlupakan bagi Rania. Ketika ada seseorang yang berterus terang mengajaknya untuk saling mengenal lebih dekat. Meski dia pernah mengarungi bahtera rumah tangga, rasanya kali ini berbeda.
Seiring berjalannya waktu kedekatan Rania dan Rudi menjadi tak terelakkan. Meskipun Rania adalah seorang janda, tapi usianya masih 26 tahun, sedangkan Rudi menginjak 28 tahun.
Dimata Rudi, Rania adalah wanita lugu, pekerja keras yang layak untuk dilindungi dengan sepenuh jiwa. Hatinya mantap untuk meminang dan menikahinya. Hingga suatu hari mantan ibu mertua Rania muncul di butik.
"Kembalilah pada Arga, istrinya yang sekarang meminta cerai karena ternyata Arga yang mandul."
Rania terkejut, tubuhnya menjadi sekeras batu dan hampir tak mungkin untuk digerakkan. Matanya nanar menatap mantan mertuanya, air matanya menggantung. Bayangan peristiwa dua tahun lalu ketika dia diceraikan kembali berputar tapi hatinya sakit membayangkan Arga dalam kesakitan. Lalu bagaimana dengan Rudi? Rencana pernikahannya dengan Rudi tinggal satu bulan lagi.
Kalau saja Rania punya kekuatan untuk menolak, ingin dia menolak permintaan wanita tua itu saat ini juga. Tapi bagaimana bisa dia melakukannya sedang wanita itu sekarang berlutut dihadapannya, tangannya digenggam erat. Tapi muskil juga jika Rania akan menerima permintaan itu karena talak tiga telah dijatuhkan oleh Arga dulu.
Hati Rania kacau dan bimbang. Di hadapannya sekarang ada seorang ibu yang memohon kebahagiaan anaknya. Dan di belakang ibu itu berdiri lelaki yang meminta kepastian dengan sorot matanya. Meski wajah Rudi tersenyum, dalam hati dia memohon agar wanita itu tetap memilihnya sebagai sandaran hidup, bukan hanya sementara sekedar bisa kembali dalam pelukan Arga lelaki yang dulu pernah menjadi belahan jiwanya...
~~~
Epilog
Rudi menata baju-baju yang dibelinya di dalam almari. Wajahnya penuh dengan senyum. Wanita itu memilih baju untuk dirinya sendiri. Siapa namanya pun Rudi belum tahu. Tapi dia telah jatuh cinta sejak pandangan pertama.
Suatu hari pasti dia akan terkejut melihat isi lemari ini. Baju pilihannya sendiri berjajar rapi. Rudi meyakinkan dirinya kalau hari itu akan datang, hari dimana dia menikahi dan membawa wanita itu pulang.
Rudi juga tahu wanita itu sedang berjuang, karena itu tadi dia mengerahkan anak buahnya mengunjungi butik dan memberi bekal uang saku untuk membeli baju disana. Bahkan seragam perusahaan akan dia pesankan dari butik yang sama. Protes dari bagian HRD diabaikan begitu saja. Toh bukan pesanan dalam jumlah besar, hanya seragam untuk sebuah event yang tak terlalu penting.
Tiap hari doa Rudi hanya satu, semoga Tuhan memberinya kesempatan untuk membahagiakan wanita itu meski akhirnya dia tidak bisa memilikinya...
§§§