"Aku tidak pernah menyakiti nya,menyentuh nya saja aku tidak pernah"
" Halahh! Gak usah bohong dehh. Aku liat sendiri kalau kamu menyatinya"
" Demi Tuhan aku tidak berbohong " Aku mengambil dan memegang tangan mereka
Mereka menepis tangan
" Halah! Gak usah bawa bawa Tuhan dalam hal ini " Sambil melambai lambaikan tangannya
Mereka menarik rambut dan memukuli ku. Aku tidak berdaya saat mereka menyakiti ku. Tak sampai di situ mereka menyirami ku dengan air bahkan mereka juga menginjak injak ku.
Aku tidak tahan dengan semua ini, aku ingin mengakhiri hidup ku.
Aku berjalan dengan pikiran kosong ke balkon, semua orang menatap ku dengan jijik bahkan mereka memaki ku dengan kata kata kasar.
Ketika sampai di balkon aku menangis dengan terisak.
" Aku capek dengan semua ini, aku tidak pernah menyakiti nya. Aku tidak pernah mnyentuh nya" Aku berjalan ke ujung balkon.
" Apa aku lompat saja, aku tidak kuat semua ini"
" Kalau kamu mau lompat, jangan di sini juga kali. Kamu pikir dengan bunuh diri mereka akan merasa sedih, salah besar mereka malah akan senang dan akan mencari korban bully mereka selanjutnya " Ucap dia lompat dari kursi balkon
" Kenalin nama ku ikhsa, bisa di panggil sani "
" Nama ku santi, bisa di panggil anti"
" Ohh, jadi kamu yang namanya anti"
" Iya, kamu kenal aku"
" Siapa sih yang tidak kenal korban bully dari maya and the geng"
Aku menundukkan Kepala ku, karena ku tau pasti dia suka tau masalah ku.
" Kamu tidak usah malu, aku tau kok kamu tidak salah. Bukan kamu satu satunya korban mereka"
Aku tersenyum mendengar perkataannya
" Kamu kelihatan cantik kalau tersenyum"
" Blushh, pipi ku merona saat mendengar perkataannya "
Itu adalah pertemuan pertama ku dengan ikhsan.
Ikhsan memberi ku kebahagiaan, memberi ku semangat untuk menjalani hidup.
Selama bertahun tahun dia selalu bersama ku, bahkan dia juga melindungi ku dari mereka.
" Aku berjanji, akan selalu ada untuk mu. Aku akan selalu membuat mu tersenyum dan bahagia" Ucap ikhsan memegang tangan ku.
Hingga suatu hari ikhsan hilang kabar selama 2 bulan.
Berhari hari aku mencari keberadaannya, aku mencari ke kos dan ke tempat tongkrongan nya tetap aku tidak tahu keberadaan nya.
Hingga seseorang memberitahu kepada ku bahwan ikhsan berada di rumah sakit
Hati ku hancur seketika, dia tidak pernah memberi tahu ku kalau dia sakit. Aku merasa gagal jadi seorang yang dia cintai.
Aku berangkat ke rumah sakit, aku melihat dia berbaring di tempat tidur, Ku lihat tubuhnya menjadi kurus, bibirnya pucat.
" Haii, apa kabar? Kamu jahat yaa, kamu kok gak bilang kalau kamu lagi sakit"
" Hahh!! Anti siapa yang beri tahu keberadaan ku di sini"
" Seseorang yang memberitahu aku"
Aku memeluknya, sungguh aku sangat sakit hati melihat nya.
Hari telah berlalu aku menemani dia di rumah sakit, aku menjanganya, keadaannya masih tidak berubah
Setiap malam aku berdoa, semoga ikhsan di berikan kesembuhan.
Aku datang ke rumah sakit dan ku lihat semua orang menagis di ruangan ikhsan, aku bertanya tanya apa ini apa ikhsan sudah meninggal, tidak ini tidak mungkin.
Aku berlari memasuki ruangan ikhsan, semua orang melihat ku dengannya tatapan iba. Aku benci dengan keadaan ini.
Aku berjalan ke ranjang ikhsan dan membuka kainnya, ya Tuhan ini tidak mungkin.
Ikhsan tidak mungkin meninggal kan ku, dia sudah berjanji akan selalu bersama ku.
Kaki ku terasa lemas hingga penglihatan ku buram, aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya. Aku berharap ini cuman mimpi saja, ini hanya bunga tidur ku..
Tetapi saat ku terbangun, ternyata ini beneran nyata aku bertanya ke dokter di mana ikhsan berada, dan dokter itu berkata bahwa dia sudah di pulang ka ke rumahnya.
Aku pergi ke rumah ikhsan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah sakit.
Air mata ku tidak pernah berhenti saat aku mengetahui kepergian dia, aku telah sampai di rumahnya semua nya ku lihat sedang menangis aku pengen berhenti menangis tetapi air mata itu tidak tidak bisa ku tahan.
Selama pemakaman aku selalu menangis, semua orang menyuruh ku tabah dengan semua ini.
Aku kembali ke rumah orang tua ikhsan dan aku memasuki kamar ikhsan di sana ku lihat foto foto ku dengan ikhsan berbaris rapi di dinding kamar.
Aku mengambil satu foto yang menurut ku sangat bagus, ku liat dia tertawa bahagia sekali.
Aku menangis melihat itu semua, aku tidak kuat berpisah dengan mu. 2 tahun bukan waktu yang sangat singkat untuk melupakan mu.