Pagi yang cerah, aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Jadwal visit yang seharusnya dimulai jam delapan pagi, sengaja aku atur ulang menjadi jam enam pagi. Ada kunjungan mendadak dari pihak pemerintah daerah setempat dan aku sebagai bagian dari pejabat penting rumah sakit harus mendampingi.
Namaku Siska dan aku adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam. Usiaku tergolong muda untuk mencapai posisi ada saat ini. Bukan karena keberuntungan tapi karena aku menempuh pendidikan yang tak mudah di luar negeri. Kesetaraan dan kesempatan belajar lebih baik tanpa ada diskriminasi.
Seperti biasa aku mengunjungi para pasienku yang kebanyakan wanita. Penyakit asam lambung yang paling sering menjadi keluhan. Satu persatu aku memeriksa keadaannya hingga akhirnya tiba di salah satu ruangan VVIP.
Aku mengernyit heran karena tidak ada nama pasien yang terdaftar di ruangan itu. "Ini pasien terakhir?" Tanyaku pada Reni, perawat pendampingku.
"Iya dok,"
"Nama pasien? Kok nggak ada di daftar berarti bukan bagian saya dong?" Protesku keras.
Reni memeriksa kembali daftar yang harus aku visit tapi entah mengapa dia juga bingung karena jelas semalam Reni sendiri yang membuat daftar kunjungan.
"Saya juga aneh dok, sebentar saya cek ke ruangan ya dok!"
"Eh, tapi saya kan …,"
Reni meninggalkanku tanpa menunggu kalimatku selesai. Aku kesal padanya karena ini bisa membuang waktu sarapan pagiku!
Aku sengaja datang ke rumah sakit sepagi ini demi mengejar waktu sebelum acara kunjungan. Aku mengintip dari balik kaca pintu ruangan. Seorang lelaki terbaring lemah disana.
"Kesuwen, udah aku masuk aja!"
Memasuki ruangan aku disergap rasa aneh dan tak nyaman. Entah mengapa kupingku terasa berdengung dan pengang sekali. Kepalaku berdenyut dan kakiku sangat berat untuk melangkah. Ada apa ini?
Aku menghampiri lelaki muda berkulit putih bersih yang masih lelap dalam tidur.
"Dimana penunggunya? Dia sendiri?"
Aku menoleh ke kanan dan ke kekiri mencari pendamping pasien untuk menanyakan kondisi nya. Karena tak ada siapa pun akhirnya aku membangunkan dirinya paksa. Setelah beberapa saat akhirnya lelaki itu membuka matanya.
Aku terkesiap! Mata biru itu mengingatkanku pada seseorang!
"Maaf membuatmu terbangun, tapi siapa namamu?"
Pasien lelaki itu tersenyum padaku, "Raka, namaku Raka!"
Senyumannya mengingatkanku pada seseorang tapi siapa? Aku lupa, tapi rasanya lelaki ini tak asing bagiku. Mata birunya, wajah tampannya dan senyuman itu … aargh, sakit!
Kepalaku mendadak berdenyut kencang, nyeri hebat sampai aku limbung. Aku berusaha mengontrol diriku agar tidak terjatuh. Tangan kekar lelaki yang terbaring di bed pasien tiba-tiba melingkar di pinggangku. Dia memelukku!
Mata kami saling beradu, membuat jantungku melesak ke dalam. Nafasku sesak saat tatapan mata birunya menghujam dalam netraku.
"Ka-kau?"
"Apa dokter baik-baik saja?"
"Ya, aku baik! Kamu bisa lepasin saya?"
Sungguh dari kalimatnya aku sama sekali tidak melihat jika pasien lelaki ini sedang sakit. Dia terlihat sehat, sangat sehat! Tapi kenapa dia ada disini?
Raka tak mau melepas tangan kekarnya dari pinggangku, ia justru semakin mendekatkan tubuhku hingga melekat pada tubuhnya yang … dingin.
Mataku membulat sempurna saat menyadari tubuh dingin Raka, tapi itu belum seberapa. Bibirnya dengan tak sopan sudah melekat di bibir tipisku, memberikan kecupan manis yang berubah menjadi liar dalam hitungan detik. Aku tak kuasa menolaknya, tubuhku seolah berada dalam pengaruh hipnotisnya.
Wajahku merona dan tubuhku seketika panas, aku tak lagi merasakan dinginnya tubuh Raka. Yang kurasakan hanya hangatnya gelora birahi yang tak terbendung lagi. Hasrat primitif yang naik ke permukaan cepat dan memberikan kepuasan tak terbantahkan saat penyatuan kami. Aku melenguh di bawah himpitannya, diatas ranjang pasien yang bergerak konstan.
Raka menatapku teduh setelah kegilaan kamu berdua. Ia tersenyum padaku menghujaniku dengan ciuman sambil berkata, "I love you, thanks my love!"
Kalimat terakhirnya sontak membuatku terkejut, tubuhku seperti tersedot dan melayang cepat melintas dimensi. Suasana tiba-tiba berubah, aku tak tahu ada dimana! Semua gelap, hanya satu cahaya yang menerangiku dalam balutan selimut tipis.
Kaki telanjangku berjalan perlahan dan aku kebingungan tak tahu harus kemana. "Halo, ada yang mendengarku? Siapapun tolong aku!"
Aku berteriak ketakutan, aku tak tahu ada dimana! Kedinginan dan tak memakai sehelai benang pun selain selimut tipis yang menutupi tubuhku.
"Dimana aku? Reni! Raka! Siapa saja dimana kalian!" Aku kenali lagi berteriak untuk kesekian kalinya.
Tak ada siapapun yang menjawab, hingga akhirnya aku terjatuh dan duduk bersimpuh di satu titik. Aku menangis sejadinya, aku tak tahu apa yang terjadi.
Sesaat tadi aku menjadi dokter, sesaat kemudian aku bercinta dan bergumul panas dengan Raka pasienku, dan kini aku tiba-tiba terdampar entah dimana!
"Tolong, selamatkan aku!" Bisikku dalam tangisan.
"Ikutlah denganku, sayang!"
Suara lelaki yang tak asing di telinga terdengar menghentikan tangisanku. Aku mendongak perlahan, dan menatap ukuran tangan dari sosok dalam gelap.
"Si-siapa kau?"
"Ayo, ikut denganku! Aku akan membawamu keluar dari sini. Sudah waktunya kau pulang!"
"Pulang? Kemana?"
Aku tak lagi bisa berpikir, kuraih tangan itu tak peduli bagaimana nasibku kemudian. Aku hanya ingin pulang dan tertidur. Aku lelah, sangat lelah.
*
*
*
Bunyi alat pemantau detak jantung terdengar keras dari ruangan gawat darurat. Suara perawat berteriak memanggil dokter jaga terdengar nyaring di telingaku. Aku merasakan kejutan listrik yang begitu kuat di bagian dadaku. Nafasku yang berat perlahan menjadi ringan saat kejutan listrik yang kedua menghampiriku.
Tubuhku mengejang, melengkung ke atas sebelum akhirnya kembali melemas. Aku meraup oksigen dengan rakus, samar aku melihat para perawat dan dokter menangis di sebelah kanan dan kiri ku. Kepalaku pusing dan rasanya masih melayang layang.
"A-apa yang terjadi?" Tanyaku lemah dan terbata-bata.
"Syukurlah dok, kau selamat! Kami pikir akan kehilanganmu!" Reni terlihat menangis begitu juga dengan dokter Syaiful rekan kerja sekaligus sahabatku.
"A-ada apa?" Aku kembali bertanya di balik masker oksigen yang masih kukenakan.
Aku menoleh ke arah Reni, ia masih menangis.
"Katakan padaku, apa yang terjadi!"
Reni menceritakan padaku tentang ledakan besar tabung gas yang berimbas pada ruangan VVip yang aku kunjungi. Ruangan itu hancur berantakan, dan aku ditemukan tak sadarkan diri dengan luka parah di kepala. Aku koma selama tiga hari.
Hasil investigasi mengatakan jika ledakan itu disengaja sebagai bentuk sabotase atas kunjungan pemerintah daerah. Aku mendengarkan dengan baik seluruh cerita Reni lalu tersenyum.
"Rupanya begitu, syukurlah aku masih hidup."
Ingatanku melayang pada pasien bernama Raka. "Ren, gimana kondisi pasien VVIP? Raka."
Reni, dokter Syaiful dan tiga perawat lain saling memandang. Dokter Syaiful kemudian bertanya padaku.
"Raka?"
"Iya, Raka. Aku belum sempat memeriksanya sebelum …," aku menggigit bibirku agar tidak melanjutkan bercerita tentang pergumulan panas yang memalukan itu.
"Tidak ada pasien bernama Raka, dok!" Reni menjawab dengan ragu, ia menoleh pada perawat lain.
Dokter Syaiful berpikir sejenak sebelum ia merogoh sakunya. "Apa yang kau maksud pria ini?"
Rekan dokterku itu menunjukkan sebuah foto. Lima orang dokter muda dengan jas kebesaran masing-masing berpose di depan sebuah ruangan.
Mataku langsung tertuju pada pria tampan di tengah. Senyumnya dan wajah tampan itu masih jelas dalam ingatanku. "Iya, ini Raka!"
Wajah dokter Syaiful seketika memucat, begitu juga dengan Reni yang memaksa melihat foto dalam ponsel dokter Syaiful. Wajah kebingungan keduanya membuatku semakin penasaran.
"Ada apa? Apa yang terjadi dengannya? Apa dia selamat?"
"Sis, Raka dalam foto ini sudah meninggal tiga tahun lalu. Dia tewas setelah kelelahan melakukan operasi bypass jantung." Dokter Syaiful menjelaskan dengan perlahan, ia takut aku shock.
"Betul dok, dokter Raka adalah salah satu dokter terbaik rumah sakit ini. Beliau meninggal sebelum dokter bergabung bersama kami." Reni menambahkan.
"Tapi, aku melihatnya! Dia ada disana, tersenyum padaku!" Aku menolak penjelasan mereka.
Raka benar-benar nyata dan aku menyentuhnya. Aku bisa merasakan sentuhan tangan dan lembutnya bibir itu!
"Entahlah apa yang terjadi padamu tapi … dia sudah meninggal, dan konon beberapa petugas jaga kerap melihatnya di sekitar ruangan tempat dia meninggal."
"Ta-tapi …,"
"Istirahat lah, kau harus segera pulih. Kami membutuhkanmu!" Dokter Syaiful memotong kalimatku, aku tak bisa berbuat banyak karena selanjutnya para perawat memindahkan aku ke ruangan rawat inap.
Beberapa hari kemudian, kondisiku telah membaik. Meski masih merasakan nyeri di kepalaku tapi aku sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Aku kembali menerima pasien, seperti hari ini. Jumlah pasien yang datang cukup banyak hingga aku baru beristirahat jelang tengah malam.
Aku berjalan perlahan di lorong koridor lantai tiga. Sesuatu menuntunku untuk datang kemari. Sebuah bisikan yang meresahkan selama aku praktek. Panggilan yang menyebut namaku. Langkah kakiku terhenti di satu titik, aku baru menyadarinya ketika aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Kudapati foto dokter tampan yang menghantui mimpiku setelah pulang dari rumah sakit.
"Raka," tanpa sadar aku memanggil namanya.
Jantungku berdesir, bulu di tengkukku meremang seketika lalu seraut wajah tampan muncul dan berdiri tepat di sebelahku.
"Apa kabar, Siska?"
"Ka-kau … tidak! Kau sudah mati!" Aku melangkah mundur kebelakang berusaha menjauh.
"Iya, aku memang sudah tiada. Jiwaku terperangkap disini, dirumah sakit ini."
"Tidak, lalu bagaimana kau …,"
Ingatanku kembali melayang pada adegan panas itu, seketika perutku mual. Aku bercinta dengan hantu!
"Aku mencintaimu, aku memperhatikanmu sejak pertama kau bertugas disini. Aku selalu menemanimu tanpa kau sadari. Hingga aku tak lagi bisa menahan gejolak dalam diriku."
Aku menggeleng perlahan, berusaha menolak keberadaan Raka. Tapi apa yang selanjutnya terjadi sungguh membuatku terkejut. Dia selalu ada dan melindungi ku tanpa aku sadari, dia bahkan bercerita tentang segala hal detail yang hanya aku sendiri yang tahu. Dia benar-benar melekat padaku selama ini.
Aku shock dan tak ingin mendengar kalimatnya lagi, aku menolaknya. Ini gila! Bagaimana mungkin aku dicintai hantu!
Aku berlari cepat menuruni anak tangga, sesekali menatap ke atas dan melihat wajah tampan Raka memperhatikan diriku dengan cemas. Aku tak peduli aku harus pergi, iya pergi menjauh! Sejauh mungkin dari rumah sakit ini!
Kraaak!!
Bruuugh!!
"Ayo kita pergi. Takdirmu ada disisiku, selamanya!"
Aku meraih tangannya, tangan yang sama saat terulur padaku dalam gelap. Entah mengapa kini hatiku lebih tenang dan damai. Raka dan aku saling menatap penuh cinta. Aku baru menyadarinya jika aku juga telah jatuh hati pada Raka. Aku hanya menolaknya, aku ingkar pada hatiku sementara pikiranku tertuju padanya.
Kutinggalkan jasadku yang tak bernyawa lagi. Jerit ketakutan dan tangis pilu terdengar nyaring dari lantai bawah. Aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin bersama Raka, kekasihku.