Peter Edwardson dan Chelsea Ellden adalah musuh bebuyutan. Mereka tak pernah akur setiap kali bertemu. Memukul, mengumpati, bahkan mencemooh satu sama lain tidak pernah absen dari keduanya—oh ralat, maksudku geng mereka berdua. Semua itu dimulai dari kesalahan pahaman di masa lalu, yang entah mengapa sampai sekarang masih tak bisa di selesaikan.
Egois, serakah, dan manja adalah nama tengah kedua anak dari keluarga sederhana itu. Yah, mempunyai 7 triliunan perusahaan yang hampir menguasai seluruh Britania, dengan macam-macam bidang yang berbeda-beda dan jangan lupakan anakan cabangnya. Semua itu membuat mereka jadi orang yang sederhana.
Sangat berbeda dengan dahulu kala. Misteri lahirnya kebencian itu masih berusaha di pecahkan oleh keluarga dari kedua belah pihak. Karena para orang tua itu tahu—tahu betul, jika jauh di dalam sana ada perasaan CINTA. Maka dari itu kisah ini pun dimulai.
Hingga suatu hari, yakni hari ini. Mereka berkumpul di satu meja, sambil menatap penuh kebencian satu sama lain. Anak-anak geng gibah Marvel pun mendengus sebal, bermaksud protes tak mendapatkan sarapannya. Apakah maksudnya ini?! Bukannya mereka semua bermusuhan?!
“Ck! Apa yang mereka lakukan?” ucap salah satu anggotanya, si impor Eden.
“Mungkin mereka telah berdamai?!” sahut yang lainnya, Zydane dan mengangkat bahu acuh lalu melanjutkan acara minum sodanya.
Kembali ke salah satu meja kantin SMA Louis International School, 5 pemuda dan 5 pemudi lainnya menghela nafas malas. Mendesis diiringi decakan putus asa. Sungguh, melihat wajah masing-masing saja rasanya seperti ingin muntah.
“Ini membuatku hilang akal!” pekik salah satunya dan kembali menghembuskan nafas.
“Rasanya aku ingin melompat dari gedung 50 lantai” Jian, gadis dengan surai hitam legamnya angkat suara, dan mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia tidak sudi di berikan hukuman sebegininya rupa!
“Ya tinggal pergi, siapa juga yang melarangmu?! Huh!” si pemuda lainnya—Xion menyahut. Tak lupa diiringi senyum miring. “Itu malah bagus, jadi populasi manusia jelek sepertimu akan berkurang” tambahnya tanpa rasa tak tega. Bahkan setiap ucapannya saja bisa menyayat hati siapapun.
Brak!
“Xiao-An sialan! Mau ku tarik rambutmu lagi hingga rontok, huh?!” gadis cantik itu melotot tajam menatap penuh muak wajah sok tampan milik Xion, walau sebenarnya memang tampan. Bahkan ia sudah menaiki kursi untuk ancang-ancang melakukan hal yang disebutkannya tadi. Namun dengan cepat ditahan oleh Clara yang kebetulan ada di samping kanannya.
“Aih, sudahlah Jiannie. Kau tidak ingat jika kemarin baru saja merapikan kuku-kukumu? Jangan sampai kuku cantikmu ini terkena bakteri monyet dari si Sawan.” ujarnya dengan wajah memelas, tak lupa memberikan seringainya. Sangat berbeda jauh dari namanya.
Xion berdecih remeh, tak lupa mengacungkan jari tengah andalannya.
Dan yang lainnya hanya terkikik, terkecuali dua orang. Yang sedari tadi hanya diam membisu dan menatap tajam satu sama lain dengan tatapan membunuh, dari sorot hitam itu bahkan terlihat kode peperangan.
“Bisakah kalian tenang?!” sampai suara pemuda lainnya mencetus, dua orang tadi—Peter Edwardson dan Chelsea Ellden menoleh ke arah kursi di seberang kanan. “Apa kalian lupa dengan tujuan kita di sini? Jadi... Tolong tenanglah sedikit!” sambung pemuda itu dengan dada kembang-kempis, panggil saja Michael.
“Ini bukan waktu yang tepat untuk beradu mulut!” Leonard menambahi dengan nada tegasnya.
“Huft~” Chelsea membuang nafas keras, dan berdiri dari duduknya. Perlahan ia menatap satu-persatu kelima sahabatnya, lalu tatapan itu berubah sebal saat melihat Peter dan anak-anak gengnya. Ia menumpu kedua tangannya di atas meja.
“Ya... Kita tak punya pilihan lain selain menerima keputusan—hukuman dari mereka.” ucapnya dengan nada malas, dan kembali duduk di singgasananya.
“Hah?! Jadi kita akan tinggal bersama?! Di Trésor Home? Very not!!!!”
Felice dan Lily berteriak bersamaan dengan bibir yang melengkung ke bawah. Sangat menggemaskan. Hingga membuat Kyle dan Leonard yang kebetulan duduk di seberang mereka memekik tertahan. Karena terlalu gemas, dua pemuda tampan itu memukuli paha Xion bertubi-tubi yang memang berada di tengah mereka.
“Sakit bangsat!” umpatnya, dan menyingkirkan dua tangan laknat milik sahabatnya itu dengan kasar. Namun tanpa rasa bersalah, Kyle dan Leonard hanya menyengir dengan wajah tanpa dosa. Membuat tangannya gatal ingin menjitak pelipis mulus mereka.
“Aku tidak mau! Titik!” Jian kembali bersuara, menatap sengit musuh kekalnya, Xion.
“Aku juga tidak!” balasnya tak kalah sengit, lalu menatap lawannya lebih tajam dan menghunus.
“Huft~”
Dan kali ini, Tuan Muda kesayangan keluarga besar Edwardson lah yang membuang nafas kasar. Ia ikut berdiri dan mengalihkan pandangan dingin pada gadis cantik yang juga ikut menatapnya. “Tidak ada pilihan lain... Benar kata Chelsea tadi. Ya... Mungkin?!” pemuda itu mengangkat bahunya acuh. Menyorotkan matanya pada seonggok temannya tadi, yang seketika menyengir menampilkan barisan gigi-gigi rapihnya.
Idiot sekali.
Lalu pemuda tampan itu membenarkan kerah blazer-nya, dengan sorot mata tajam, ia memberikan kode pada Xion, Michael, Kyle, dan Leonard untuk segera berdiri.
“Keputusan ada di tangan kalian sendiri”, Peter mengedipkan sebelah matanya pada Chelsea yang secara reflek mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.
Manis sekali, batin pemuda itu dan tersenyum tipis.
Geng lelaki tampan itu pun pergi meninggalkan Chelsea dan sehabat-sahabatnya yang nampak termenung di tempat duduk masing-masing. Memikirkan cara untuk menolak perintah dari para orang tua mereka.
“Chelsea, bagaimana ini?” Lily kembali merengek saat melihat pergerakan sahabatnya yang berdiri lagi dari tempat duduknya. Terlihat raut frustasi dan putus asa dari Chelsea. Hingga helaan nafas kembali keluar dari bibir tipisnya.
“Kita tidak punya pilihan lain. Yah... Mau tidak mau kita akan tinggal bersama dengan mereka di Trésor Home—suka maupun tak suka” ujarnya dengan nada lesu, diiringi anggukkan-anggukkan kecil tenpa tenaga dari gadis lainnya.
Dan berandai...
Seandainya mereka semua tidak melakukan balapan dan taruhan mobil minggu lalu. Hal itu tentu jadi kekecewaan tersendiri bagi orang tua mereka. Jika saja saat itu mereka tak melakukan ini, hukuman pun takkan didapatkan.
Tinggal bersama musuh abadi mereka, huh?! Apa yang akan di katakan dunia?! Chelsea tak sanggup membayangkan hal mengerikan tersebut.
°°°
Mobil mewah dengan berbagai merk berjajaran rapi di sebuah taman luas. Tak menunggu lama, para tuan hingga nona muda keluar masing-masing dari setiap mobil. Koper dengan bermacam-macam warna ditarik dengan tak semangat. Gerbang besar yang membatasi bangunan besar dengan dunia luar itu di buka perlahan.
Ekspresi mereka nampak datar, malas dan kesal bersamaan. Mereka bersepuluh pun berdiri menatap nyalang bangunan tinggi nan besar yang saat ini—hingga waktu yang ditentukan akan menjadi tempat tinggal mereka BERSAMA.
“Ayolah! Mau sampai kapan kalian berdiri di depan pintu?” Michael, selaku pemuda yang paling tua di antara mereka semua bersuara. Ia dengan sigap menepuk bahu Xion, memberinya isyarat untuk masuk terlebih dahulu. “Panas! Ayo masuk” Xion hanya mengangguk dan menggeret koper hitamnya dan masuk terlebih dahulu.
Bangunan sederhana yang biasa orang tua mereka gunakan untuk berkumpul, memanfaatkan sela-sela waktu luang di antara padatnya kesibukan dan masalah perusahaan yang menjadi tanggung jawab besar.
Trèsor Home, begitulah orang tua dari sepuluh remaja itu menyebutnya.
“Eum... Hei! Manis-manis? Kalian tidak ingin masuk? Panas sekali loh disini. Nanti kulit kalian bisa hitam, kusam seperti Leonard” Kyle dengan tampang polosnya, berhasil memancing emosi dan membuatnya naik pitam seketika.
“Hei! Kyle brengsek Franklin! Mau mati ya kau?!!!”
Dan terjadilah drama kejar-kejaran ala film India, antara Leonard dan Kyle. Membuat yang lainnya hanya mampu menggelengkan kepala tak habis fikir. Kekanak-kanakan sekali dua pemuda itu.
Lalu dengan kecepatan Saitama, Kyle mengambil kopernya yang tadi sempat dianggurkan dan kembali berlari menuju mansion. Tentu diikuti teriakan nyaring penuh murka dari lelaki singa itu.
Menyisakan Chelsea, Peter, Clara, Lily, Michael, Felice dan Jian. Berdiri kaku dengan tangan yang menggenggam erat pegangan koper masing-masing, tanpa ada niatan melangkah mendekat.
“Huh~” Felice menghembuskan nafasnya keras, dengan cepat mengapit tangan kiri Jian, gadis berambut panjang itu tersenyum lembut saat sang empunya menoleh ke arahnya, “Tidak apa-apa Jiannie... Ini tidak seburuk yang kau pikirkan” ucapnya tulus, ia menyenggol pelan bahu Chelsea, “Benar kan Kak?”
Chelsea menyunggingkan senyum kaku, “Felice benar, ini tak akan seburuk itu. Ada aku—kita semua disini” jelasnya singkat, ia merapatkan jaketnya. Dan sedikit melirik sekilas Peter yang ternyata sedang menatap ke arahnya.
“Yah... Ayo” ucap Jian pasrah, dan mulai melangkahkan tungkainya masuk ke dalam mansion, tak lupa meraih koper merah mudanya dan tangan Felice. Sedangkan Chelsea mengekor di belakang.
“Hei!! Peter... Mulailah berusaha untuk memperbaiki segalanya” Clara berujar dan menepuk ringan bahu Peter. Pemuda itu menoleh bingung, dahinya nampak berkerut. “Bukankah ini tujuanmu... Mengajukan hukuman ini kepada orang tua?” Peter terkesiap.
Jadi Clara sudah tau?!
“Kau ingin memperbaiki segalanya kan? Hubunganmu dengan Chelsea—”
“Bagaimana kau—”
“Saat itu kebetulan, aku, Lily, dan Michael berada di sana” Lily melirik Michael dan sama-sama tersenyum manis.
“Kami mendengar segalanya” Lily menyambung.
“Nah! Tuan Peter Edwardson, kita sekarang memang tak terlalu dekat. Yah... Walaupun sebenarnya kita dahulu adalah teman baik”
Peter menunduk, “Kau tahu itu hanyalah kesalah pahaman, Ly. Aku tak bermasud berkata seperti itu” gumamnya lirih.
Lily menghela nafas, “Iya, tapi Chelsea tidak—dia sudah terlanjur sakit hati dengan apa yang dia dengar keluar dari mulutmu. Walaupun kenyataannya itu hanya kesalahpahaman saja. Chelsea adalah orang yang keras kepala. Sebanyak apapun kita mengatakan dan menjelaskan bahwa apa yang dia dengar dahulu adalah kesalahpahaman, tetap saja...” Lily mendesah lelah, kepalanya tiba-tiba saja berdenyut nyeri.
Michael yang berdiri tepat di sampingnya, mengusap bahunya dengan lembut, “Jadi jangan di pikirkan lagi, kami semua tahu bagaimana Chelsea itu luar dalamnya. Walau kita sering bertengkar, mencakar bahkan tak segan memukul satu sama lain. Kami tahu—ingat? Sebelum menjadi musuh seperti sekarang, dulu kita merupakan teman baik”
Lily mengangguk, gadis itu menatap Peter yang terdiam merenung, “Jadi... Peter? Apa rencanamu setelah ini? Kami semua siap membantumu...”
°°°
“1 kamar diisi oleh satu orang, tidak akan ada pembantu, kalian harus melakukan semua sendiri, mulai dari memasak, mencuci, dan lain-lain. Kalian hanya akan diberikan satu mobil Van sebagai transportasi kalian. Untuk uang jajan dan uang bulanan akan dikirimkan sebesar 52 juta Pound ke rekening tuan muda Michael selaku yang paling tua. Para orang tua kalian juga berpesan, tuan dan nona muda sekalian mulai besok juga harus bekerja menjadi pelayan di salah-satu restoran milik keluarga”
Ke sepuluh remaja itu hanya bisa menjatuhkan rahangnya jauh-jauh ke bawah, menatap tak percaya kepada si kepala pelayan—tuan John yang kini membungkukkan hormat tubuhnya.
“Semoga tuan dan nona muda sekalian betah” ucapnya dan lantas melenggang pergi.
“What the fuck?! Omong kosong macam apa ini?!”
Clara adalah orang pertama yang membuka suaranya, setelah pintu ruang utama tertutup tanda sang pelayan sudah benar-benar pergi meninggalkan mereka.
“Ck! Sepertinya tinggal disini akan membuatku gila!”, Lily ikut bersuara, dan Jian mengangguk-angguk kecil. Sedangkan yang lainnya hanya terdiam dengan berbagai macam ekspresi.
Peter, Michael, dan Clara saling bertukar tatapan. Berbicara lewat sorot mata tajam.
—Ini tidak masuk dalam ren—
Peter mengangkat bahunya, ia juga tidak mengerti.
Clara dan Michael... Sepasang kekasih itu kompak menghela nafas, nelansa.
“Bagaimana sekarang?!”
Lily yang sedari tadi hanya terdiam duduk dengan menekuk kakinya pun mendongak. Ditatapnya Chelsea dengan tatapan memelasnya. Hingga gadis itu berdiri meninggalkan mereka yang katanya ingin bertanya lebih lanjut kepada sang Mama. Ini semua keterlaluan!
Dan ya... Peter mengikutinya.
“Papa, apakah kalian semua serius melakukan ini pada kami? Kami ini anak kalian—Ok, kami memang bersalah telah membuat Papa dan Mama kecewa. Tapi—tinggal bersama di sini?! Itu rasanya tidak mungkin Papa! Kami pasti akan bertengkar sepanjang waktu”
“Maka dari itu... Berdamailah, nak. Seperti dahulu—”
“Itu... Tidak mungkin!”, Chelsea membuang nafas kesal dan mematikan sambungan telepon itu kasar. Karena geram yang teramat, gadis itu hendak melempar ponsel mahal keluaran terbarunya yang baru kemarin malam ia beli ke arah pilar tinggi di depannya.
Namun, sebelum hai itu terjadi. Sebuah tangan telah terlebih dahulu terulur dan mengambil alih ponsel Chelsea. Sontak gadis itu berbaik, ada Peter di sana. Yang berdiri bersedekap dada menampilkan senyum miringnya. Chelsea berdecih dan merotasikan bola matanya.
“Mau apa kau?!” tanyanya ketus.
Pemuda itu hanya terus terdiam. Cukup lama seperti itu, hingga membuat Chelsea yang menunggu Peter berbicara akhirnya jengah. Gadis itu menatapnya kesal dan meraih ponselnya dari genggaman si Edwardson dengan kasar.
Setelah itu, Chelsea berlalu menuju rumah. Meninggalkan Peter disana—di teras rumah yang malah sibuk memaki-maki diri sendiri.
“Bodoh!! Seharusnya tadi kau berbicara! Tidak bengong seperti patung lilin!”
°°°
“Lapar...”
Lily yang bersuara. Gadis itu menuruni tangga dengan wajah lesu. Setelah membantu Felice berbenah di kamar, tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring tanda minta diisi ulang. Terakhir ia hanya memakan makan siangnya sedikit, itu dikarenakan Felice yang tadi menjemputnya lebih awal. Sekarang sudah pukul 09:32 p.m, pantas saja sudah berkaraoke.
Lily menghampiri meja makan panjang yang terletak di sisi kanan dapur. Matanya menatap gusar. Bersih dan kosong. Bahkan keranjang buah yang terletak di tengah-tengahnya tak berisi satupun jenis buah-buahan. Cobaan macam apa lagi ini?!
Lily kembali melangkahkan kakinya ke sisi lain meja, membuka pintu penghubung di sana yang langsung menghubungkannya dengan dapur.
Semua yang berada di Trèsor Home. Dimulai dari dapur, ruang olahraga, tempat bermain, ruang makan, bioskop pribadi hingga lain-lain. Semuanya memiliki ruangannya sendiri.
“Jian, sedang apa?” tanyanya heran pada satu orang anggota gengnya. Yang sedari tadi hanya menatap kebingungan, dan berdiri di depan sebuah kulkas besar.
“Aku lapar, setelah berbenah. Tetapi di meja makan tak ada makanan.” Jian menjawab dengan bibirnya yang mengerucut kebawah, “Tidak ada yang bisa dimakan, kulkasnya kosong. Padahal seingatku tadi kulkas ini berisi berbagai sayuran dan buah-buahan” lanjutnya dengan kepala yang dimiringkan ke kanan.
Pose berpikir ala Jian.
“Ini pasti kerjaannya Xion babi aihhh” Jian berceletuk, dan Felice yang entak sejak kapan berada di sana pun mengangguk membenarkan.
“Benar! Pasti Xion dan Kyle pelakunya!”
Sedangkan Lily hanya terdiam menyimak seraya menggaruk pipinya yang baru saja di gigit nyamuk besar.
Dan dengan begitu. Lonceng pertempuran berdenting menandakan permulaan dari aksi pertengkaran antara Felice vs Kyle dan Jian vs Xion terjadi di mansion megah itu. Teriakan penuh umpatan mereka terdengar saling bersahutan memecah keheningan.
Lily yang duduk di atas sofa bertepuk tangan menyemangati dua teman segengnya asik menjambak hingga lempar-lemparan bantal di lantai ruang tengah.
Hingga Chelsea yang baru saja menyelesaikan aktivitas berbenah di kamarnya datang. Bersamaan dengan munculnya sosok tampan Peter dan Leonard di belakangnya. Ketiga manusia itu hanya menatap datar pemandangan tak mengenakkan yang tersaji di depan mereka. Mereka bertiga kembali melangkah, dan secara kompak menghempaskan tubuhnya di sisi sofa yang tersisa.
“Uh... Kalian berempat hentikan!” Clara yang baru saja masuk dari pintu utama muncul dengan membawa dua paperbag coklat di tangannya. Ia menatap tajam pada keempat orang itu, yang seketika menjauhkan diri masing-masing.
Xion dan Jian merapikan penampilan acak-acakannya, dengan rambut yang sudah menyerupai sangkar burung.
“Aku membeli bahan makanan untuk makan malam kita, sekarang adakah diantara kalian semua yang bisa memasak ini?”
“Peter dan Chelsea, kalian bisa kan?”
“Huh!”
°°°
Makan malam telah siap, setelah Peter dan Chelsea bersama-sama berperang melawan beberapa jenis bahan makanan hingga peralatan dapur. Tentu dengan diselingi cacian dan umpatan dari satu sama lain, terlebih dahulu. Seperti biasa, apabila keduanya berada di antara radius jarak 1 meter.
Kini semua orang tengah duduk bersama menikmati—ralat, lebih tepatnya mengamati sesuatu bernama makan malam itu dengan tatapan ragu. Bentuk yang sedikit aneh dengan warna coklat kehitaman. Seperti telur gulung yang berbentuk segitiga dengan warna gelap.
Leonard menatapnya dengan kedua alis yang hampir menyatu, “Apakah begini bentuk nyata dari telur dadar, Chelsea?”
“Hehe... Sedikit gosong, sudah makan saja. Itu enak kok” gadis itu menyengir.
“Lalu ini apa?”, kali ini Lily menatap Peter. Mengangkat sepotong ayam utuh yang berasal dari panci, lalu menunjukkannya kepada semua orang.
“Itu sup ayam” sahutnya dengan nada ragu.
“Sebaiknya kita memesan makan malam secara online saja. Aku tidak mau mati karena keracunan” Clara meringis, menatap nanar beberapa hidangan di atas meja.
“Ya.. sebaiknya begitu”, Kyle menelan ludah kasar, mendorong piring miliknya ketengah meja, yang mana langsung diikuti oleh yang lainnya. Terkecuali Peter dan Chelsea yang langsung menunjukkan senyum palsunya.
Huft~
“Jika tahu begini, mengapa aku harus berusaha keras mencari tutorial cara memasak di YouTube? Buang-buang kuota saja!”, Chelsea mendengus dengan bibir yang mengerucut lucu, membuat pemuda di seberang sana menoleh dan menyunggingkan senyum tipis.
Segeralah mereka semua berdiri dan membereskan piring masing-masing.
“Kemarikan!”
“Huh?”, Chelsea berbalik cepat, begitu mendapati Peter kini tengah berdiri tepat dihadapannya dan menggenggam tangan kirinya erat. “M-mau apa kau?!” tanya Chelsea dengan nada ketus namun sedikit terbata. Ia pun dengan cepat menarik kembali tangan kirinya dari genggaman Peter.
Gadis itu berbalik dan kembali merapikan makanan yang dimasaknya tadi bersama Peter lalu membuangnya kedalam plastik hitam.
Si pemuda mendengus, diputarnya kembali tubuh Chelsea dan membuat keduanya kembali berhadapan.
“Apa maumu? Aku sedang tak ingin bertengkar!” gadis Ellden berdecak, manahan rasa kesalnya dalam-dalam dan menyimpannya hingga pada saat yang tepat mengeluarkannya dengan benar.
Peter tak merespon, tatapannya begitu tajam menghunus langsung ke arah manik coklat lawan bicaranya. Yang tentu membuat nyali sang lawan menciut seketika dan melembutkan tatapannya pada si pemuda.
“Tanganmu terluka” katanya kembali meraih tangan Chelsea sedikit paksa, dan meletakkan salep yang sedari tadi ia pegang ke telapak tangan si gadis. “Obati luka bakarmu, dan berhati-hatilah lain kali” ujarnya dan pergi begitu saja dengan mimik wajah sendunya.
Chelsea di tempatnya mengerjapkan mata pelan, kepalanya sedikit menunduk menatap salep pemberian Peter dan juga tangan kirinya yang ternyata nampak sedikit memerah.
“Mengapa? Mengapa kau melakukan ini? Peter~”, dan setetes cairan bening mengalir perlahan, seiring dengan kepalan tangannya yang semakin kuat. Chelsea menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan kasar, dan menangis.
“Aku merindukanmu”
“Aku juga”, Peter masih di sana, di belakang pilar besar, mendengar dan menyaksikan segalanya.
°°°
“Baikkan nih ceritanya?”
“Ih.. .gak asik ih... Tontonan Dramaku berakhir—”
“Yah... gak bisa lagi dong? Liat mereka jambak-jambakan? Adu jontos, ih.. kesel!”
Yang terakhir tolong di abaikan, Gea memang sedikit miring. Akibat selalu berdekatan dan di tempeli oleh geng gibah dan Marvel si ketua geng adalah kekasihnya.
Mereka mendekati Chelsea cs dan Peter cs yang pagi ini datang kesekolah mengunakan satu mobil yang sama juga dalam keadaan yang benar-benar tenang. Yang mana membuat jiwa keingintahuan mereka berbunyi 'Bip-bip-bip'. Tanda mereka semua harus segera mengorek informasi.
“Kalian? Berbaikan sekarang?”
Itu Allen yang bertanya, menatap bergantian satu persatu para Tuan dan Nona muda di hadapannya, yang hanya memasang wajah malas. Dahinya mengerut dalam. Tanda sedang berpikir terlalu keras.
“Sudah! Allencia bodoh! Otakmu itu sudah tak ada kapasitas lagi untuk menampung hal apapun, jadi jangan buat dirimu semakin bodoh dengan memikirkan tentang kehidupan orang lain. Kau mengerti?”
Felice yang sebenarnya sudah merasa sangat muak dengan kumpulan orang-orangan di depannya segera menarik tangan Chelsea dan juga Jian untuk dibawanya masuk kedalam gedung sekolah mereka.
Dia benar-benar sedang tidak berada dalam mood yang baik saat ini untuk meladeni setiap kalimat yang akan Allen and the gengnya todongkan. Yang dapat di pastikan oleh Felice. Itu Akan menjadi sangat panjang dan menjengahkan bila di dengarkan. Dan pergi merupakan pilihan terbaik yang bisa dia lakukan saat ini.
"Ck! Aku tidak bodoh ya!! Hanya kurang pintar saja!!" Allen yang tidak terima dan paling benci di katai 'Bodoh' mencebikkan bibirnya kesal.
Memutar setengah tubuhnya hingga berhadapan dengan sang kekasih- Kevin Robins dengan bibirnya yang bergetar, merengek dan meringsek masuk kedalam dekapan Kevin. Yang kini hanya bisa tersenyum meringis sembari mengusap punggung sang kekasih yang bergetar kecil.
Peter cs yang masih berada pada posisi berdiri mereka menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Mengapa Tuhan menciptakan makhluk sejenis Allencia? begitulah yang ada di pikiran Peter cs seraya berlalu meninggalkan tempat parkir.
Bel istirahat telah berbunyi sejak beberapa saat lalu. Tentu seluruh siswa akan berbondong-bondong menuju ke kantin untuk meminta makan siang.
“Ada yang tahu David Chris itu orang seperti apa?”, Lily bertanya dengan kakinya yang berayun-ayun bebas. Gadis itu sedang duduk di atas meja milik Kyle omong-omong. Mata bulatnya membesar dengan dahinya yang mengerut samar. Lily Robert sedang berfikir cantik.
“Entah, tanyakan saja dengan Leo. Dia kan sepupunya.” sahut Clara acuh, tanpa melirik sedikitpun ke arah Lily yang tengah duduk tepat di depannya.
Kelas mereka memang sedang kosong, efek bel istirahat. Semua orang termasuk Felice yang tadi mengeluh kelaparan langsung berlari menuju kelas Jian si adik kelas untuk pergi bersama ke kantin. Meninggalkan, Felice, Clara, dan Chelsea di dalam kelas.
Lily dengan rasa penasarannya akan sosok orang yang akan menjadi calon Bos di restoran tempat kerja mereka nanti.
Dan Chelsea-Clara dengan ketertinggalan mereka dalam mencatat soal yang tadi diterangkan oleh Mr. Albert.
Huft~
Lily yang merasa di acuhkan melompat turun dari meja milik Kyle. Ia menghembuskan nafas keras dan melayangkan pukulan sayang ke kepala dua temannya bergantian. “Kalian berdua ini tidak asik!!! Makanya kalau guru sedang memberikan penjelasan jangan keasikan bermain Video Game!! Menyebalkan, Sakit hati Lily!"
Chelsea, dan Clara menatap Lily aneh, "Anak ini tidak waras!" gumam mereka berdua bersamaan.
"Hei!!"
°°°
Chelsea terkejut, begitu setengah buku yang ia bawa hingga menutupi setengah wajahnya, kini tengah beralih ke tangan seseorang yang sangat tak diharapkannya.
Peter Edwardson.
Dengan wajah datarnya, entah dari mana datangnya pemuda itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia langsung berbalik menuju perpustakaan untuk mengembalikannya.
“Hei...”, Chelsea berteriak.
Peter pun menghentikan langkahnya tanpa berbalik menatap si lawan bicara.
Membuat gadis itu mendengus dan menaruh setengah tumpukan buku dari tangannya ke lantai. Gadis itu menarik lengan blazernya ke atas siap untuk melakukan pergulatan. Chelsea melangkah dengan kakinya yang di hentak-hentakkan kesal, berdiri menghadap Peter.
“Kembalikan buku itu!” ucapnya dengan mata yang melotot lucu. Nampak begitu menggemaskan, Peter berusaha keras itu tak memekik dan menciumi seluruh sudut wajah si Ellden.
Pemuda Edwardson itu hanya berdehem kaku dan mempertahankan ekspresi wajah datarnya dan berujar, “Dengan tubuh pendek dan lemah, apa kau bisa membawa setumpuk buku seperti tadi, huh? Sudah beruntung kubantu, jarang sekali kan? Melihat Peter Edwardson yang tampan ini mau merepotkan dirinya untuk membantu seorang Chelsea Ellden”
Gadis itu memalingkan wajahnya dan berdecih pelan, “Siapa juga yang mau di bantu badak buluk sepertimu, huh?! Aku bisa sendiri. Kembalikan! Aku tak membutuhkan bantuanmu. Memang apa pedulimu?!!” balas Chelsea dan meninggikan nada bicaranya.
Peter terkejut, ia tak menyangka jika reaksi Chelsea akan seperti ini. Marah(?)
—Apa kau benar-benar membenciku?—
Tanpa disadarinya, ekspresi wajah Peter yang semula datar kini berubah menjadi sendu. Tatapan matanya menjadi sayu, pemuda itu menatap lantai kosong.
Chelsea yang mulai menyadari hal itu mengernyit.
“Tidak bisakah?” Peter bersuara, tanpa mau bertukar pandang dengannya. Gadis itu hanya terdiam, menunggu dengan ekspresi wajah heran.
“Aku peduli padamu, Chelsea. Tidak bisakah kau melihat itu?” sambungnya dengan suara yang teramat sangat kecil. Seperti berbisik. Setelah itu, Peter melewati tubuh Chelsea begitu saja. Masih dengan rampasan buku di tangannya.
Chelsea memutar tubuhnya, ditatapnya punggung Peter yang mulai menyempit termakan jarak. Dia menunduk dan meremas kedua tangannya dengan bibir bawah yang dia gigit kuat-kuat.
“Maaf—”
°°°
Bruk!
“Akh!”
Semua orang menoleh, dan melotot tajam. Clara, Felice dan Lily hendak berlari menuju tengah lapangan. Namun, terlebih dahulu Peter mendahului mereka. Ia dengan panik berlari dan berjongkok di hadapan Chelsea yang tengah meringis kesakitan—akibat tersandung kakinya sendiri.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lembut. Ringgisan kembali di dapatkan sebab pemuda itu tak sengaja menyentuh luka di lutut Chelsea yang nampak mengeluarkan darah.
“Ssh... Sakit, Peter” rengeknya sembari menahan sakit.
“Maaf. Sini kubantu pergi ke UKS” lantas Peter memutar tubuhnya hingga berjongkok memunggungi Chelsea yang menatap punggungnya dengan raut polos.
“Apa?” Chelsea mengerjap, memiringkan kepalanya ke kanan. Ia menatap wajah tampan Peter dari samping yang menoleh.
“Naik Chelsea, aku akan menggendongmu” tuturnya dan menarik pelan kedua tangan Chelsea untuk dikalungkan ke lehernya.
Entah sadar atau tidak, gadis itu mengulum senyumannya. Ia menumpu dagu di atas pundak Peter, bisa dilihat dengan jelas bahwa pemuda itu terlihat sangat cemas.
“Senang melihat mereka seperti itu”, Kyle yang entah datang dari mana tiba-tiba berceletuk. Ia berdiri tepat di belakang Clara dan Lily, hingga membuat dua gadis cantik itu tersentak kaget.
Dua gadis itu pun berputar cepat dan menghadapnya. Sontak memberikan pukulan sayang bersamaan di kepala si pemuda yang seketika mengasuh kesakitan.
Felice hanya tertawa melihatnya.
“Lain kali lebih berhati-hatilah” ujar Peter yang tengah mengobati luka Chelsea, ngomong-ngomong mereka sudah berada di UKS sejak 2 menit lalu.
“Akh! Perih...”, Chelsea mencenkram sedikit kuat pundak Peter yang kini sibuk mengoleskan antiseptik menggunakan kapas putih. Terlihat luka lecet yang sedikit mengeluarkan cairan merah kental berbau amis.
“Jika Mama Julia sampai tahu, kita semua pasti akan terkena imbasnya” ucap Peter memberitahukan sedikit fakta gelap.
“Ya makanya, jangan di beritahu Peter!!!”, Chelsea cemberut, ia memejamkan matanya saat nafas hangat Peter sampai di permukaan lututnya yang telah sempurna tertutup perban. Rasanya begitu nyaman, hatinya menjadi tenang.
Chelsea menatap Peter yang masih fokus meniupi lukanya. Ah, sudah lama sekali kita tak terlibat dalam keadaan yang seperti ini. Sudah sangat lama kan? Jika boleh jujur, aku merindukan masa-masa indah kita dahulu Terrie... Tetapi—
Gadis itu menghela nafas lirih. Menatap sendu Peter yang kini sibuk merapikan semula obat-obatan yang ia ambil dan menaruhnya ke tempat sedia kala.
“Beristirahatlah disini, aku akan meminta izin kepada Mrs. Lèa, jika kau sedang sakit dan beristirahat di UKS”, gadis itu hanya mengangguk pelan. Peter pun tersenyum lembut, tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Chelsea.
“Lain kali jangan terluka lagi! Aku harus kembali ke kelas, nanti Felice dan Lily akan datang menjemputmu”, senyum kecut pun hadir dalam kalimat terakhir. Membuat ekspresi penuh kekecewaan Chelsea terlihat samar-samar, sebisa mungkin ia menormalkan wajahnya kembali.
“Baiklah, aku pergi!”
Dan Chelsea hanya termenung di tempatnya. Dengan tatapan nanar pada pintu UKS yang baru saja ditutup, dan menghilangkan sosok Peter di baliknya.
Hatinya terasa kosong. Chelsea merasa sangat kesal, marah dan sangat membenci dirinya sekarang ini. Bukan! Bukan karena dia terjatuh memalukan di tengah-tengah lapangan pada saat jam olahraga. Ada hal lain. Ini mengenai hubungannya dengan Peter Edwardson yang dahulunya begitu indah dan baik-baik saja. Kini entah dimulai dari mana dan karena apa telah berubah dalam satu malam.
Chelsea benci dengan keadaannya saat ini. Ia benci terus-terusan memasang topeng angkuhnya setiap kali bertemu tatap dengan Peter. Ia benci berpura-pura kuat hanya untuk memperlihatkan kepada Peter yang ia sebut sebagai musuhnya.
‘Aku tidak lemah, aku kuat dan pantas di cintai serta dikagumi oleh banyak orang’
Bicara tentang permusuhan. Chelsea jadi merenung. Benarkah kita ini bermusuhan? Peter... Apa iya?
Apa iya masih bisa disebut dengan musuhan? Disaat kita sakit dan mendapatkan masalah. Bersama-sama kita akan membantu satu sama lain secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Tentu saja tidak! Chelsea tertawa sumbang di tengah keheningan ruang UKS.
Karena nyatanya... Perasaan itu masih ada. Dan Chelsea menyadari semua itu. Tidak ada yang berubah dari rasa sayang dan simpatinya untuk ia berikan kepada Peter. Bahkan, mungkin perasaan itu tumbuh semakin bertambah besar.
Namun, keadaan mereka sedang tak baik-baik saja. Untuk sekedar membiarkan perasaan ‘itu’ semakin berkembang.
Peter dan Chelsea, kini bukan orang yang sama lagi. Mereka berdua memiliki ego dan kearoganan masing-masing. Yang hingga sampai saat ini, masih kokoh membatasi keduanya—terutama Chelsea Ellden.
Ego dan harga diri yang ia junjung tinggi itu telah mengalahkannya, lalu mengubur perasaannya jauh di dalam lubuk hati. Walau mungkin, jika saja suatu hari nanti mereka mau untuk bersedia menekan keegoisan itu dan membiarkan hati satu sama lain bekerja.
Semoga saja.
°°°
Penyebab permusuhan yang terjadi di antara Peter dan Chelsea itu sederhana. Hanya karena sebuah kesalahpahaman.
Hari itu, 8 tahun yang lalu. Ketika Peter dan Chelsea masih menjadi murid di salah satu SD ternama di London. Berdua tanpa teman-teman mereka yang sekarang. Sebuah acara piknik di laksanakan.
Chelsea tahu, semua orang tak menyukainya. Karena apa? Karena kondisi fisiknya yang buruk rupa, tubuh gemuk nan pendek, dan penglihatan yang bermasalah hingga membuatnya harus menggunakan kacamata bulat besar—jauh dengan kondisinya saat ini yang hampir mendekati sempurna. Berbeda dengan Peter yang sejak kecil sudah tampan dan banyak dikagumi.
Ia dikucilkan dan dihina dari belakang, Chelsea tahu akan hal itu. Semuanya sudah biasa ia dapatkan. Namun, hari itu berbeda. Seseorang yang sangat Chelsea sayangi dan percaya—Peter Edwardson, telah mematahkan hati dan rasa percayanya.
Hanya karena sebuah kata.
“Aku kasihan”
Yang sebenarnya hanya merupakan kesalahpahaman belaka. Telah membuat hubungan persahabatan mereka menjadi hancur.
Chelsea berdiri mematung tepat 3 meter jauhnya dari posisi Peter saat itu, yang berdiri dengan penuh kepercayaan diri di depan anak-anak yang merupakan teman sekelas mereka.
“Kami muak, Peter. Kenapa kau mau saja berdekatan dengan Chelsea, Chelsea itu sih? Apa karena dia anak orang kaya?”
“Iya, Peter! Bukannya kau juga anak orang kaya?”
“Sudahlah Peter, tinggalkan saja dia. Nanti kau yang tampan dan sempurna ini bisa tertular penyakit gatalnya loh. Ewh”
“Aku hanya kasihan—”
Tepat setelah Chelsea mendengar tanggapan pertanyaan dari teman-teman sekelasnya. Ia berbalik pergi, dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Kedua tangannya terkepal erat di masing-masing sisi tubuhnya. Chelsea merasa marah, hancur dan kecewa pada Peter yang dengan teganya menghianati kepercayaannya—menurut Chelsea.
Chelsea hanya tidak tahu saja, tepat setelah tubuhnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area taman, Peter melanjutkan kalimatnya yang sengaja ia tahan.
“Aku kasihan—”
Peter berucap dengan nadanya yang sangat dingin, wajahnya datar. Ia menatapi satu-satu wajah teman sekelasnya dengan tatapan marah, “Aku kasihan—tetapi bukan pada Chelsea melainkan kepada para orang tua kalian!"
Semua anak-anak itu mengenyit bingung. Peter lalu tersenyum miring, menatap mereka semua remeh, "Kasihan sekali ya orang tua kalian, karna telah melahirkan anak-anak menjijikan seperti kalian. Yang hanya bisanya berbicara menjelekkan seseorang dari belakangnya saja, tetapi didepan.. Cih! Kalian bertindak dan bertingkah seperti seorang pengemis, dasar penjilat. Tak tau malu, setelah meminta banyak hal dari seseorang yang tadi kalian sebut apa?
Buruk rupa? Penyakitan? Begitu?
Cih!
Yang buruk rupa itu kalian!! Bukan Chelsea!! Yang penyakitan itu kalian!! Bukan Chelsea ku!!!
Aku selama ini berdiam diri hanya karna Chelsea melarangku untuk memberi kalian semua pelajaran. Seharusnya kalian berterimakasih padanya, bukan malah menghinanya seperti ini!!
Bayangkan jika kalian berada di posisinya!! Apa kalian tidak akan merasa sangat terluka, huh? Walau Chelsea tau... Kalian semua itu tak lebih dari seorang penjilat, Chelsea ku masih saja mau bersikap baik dan membuka tangannya dengan sangat senang hati.
Tapi kalian semua....
Apa begini cara orang tua kalian mendidik kalian, huh? Benar-benar memalukan!!”
Semua di buat bungkam, dengan wajah memerah menahan tangis. Tak berani mengangkat wajah, bahkan hingga Peter Edwardson pergi dan menghilang dari jarak pandang mereka.
Menyesal, tertusuk telak mengenai jantung dan hati. Perkataan panjang Peter telah berhasil membuat semua anak-anak itu merasakan bagaimana perasaan menyesal dan rasa bersalah yang perlahan berhasil menggerogoti hati mereka.
Dan membuat mereka semua sadar. Mereka memanglah seorang penjilat tak tau diri.
“Pergi! Dan jangan datang menemuiku lagi”
“Aku membencimu, mulai detik ini tak ada lagi hubungan di antara kita, tuan Peter Edwardson! Aku membenci mu!”
Kata itu adalah kata terakhir yang menjadi awal perselisihan dan hubungan renggang mereka.
Chelsea Ellden benar-benar telah menyingkirkan seorang Peter Edwardson dari dalam hidupnya. Dengan cara pindah ke negeri asal sang nenek, Belanda. Selama kurang lebih 5 Tahun lamanya. Dan kembali dengan masih membawa kebencian dari hasil kesalahan pahaman. Hingga sampai saat ini (?)
"Clara, Lily, Jian, dan Felice”
Malam itu, tepat setelah kembalinya Chelsea dari Belanda setelah 5 Tahun lamanya. Peter mengumpulkan para sahabatnya.
“Aku ingin kalian berada di samping Chelsea, jaga dia dan selalu dukung dia untukku. Aku tidak ingin dia sendiri, Tolong aku”
“Peter!”
“Benci aku, jika itu di perlukan untuk membuat Chelsea merasa lebih baik”
“Karena bagiku, kebahagian Chelseaku-lah yang paling utama”
°°°
“Untukmu, aku baru belajar membuatnya”
Lily menger japkan mata perlahan. Menatap tak percaya sekaligus curiga pada Leonard yang tiba-tiba saja datang dan memberikannya secangkir Milk Coffee dengan toping yang sangat banyak. Ada ukiran hati di tengah-tengah.
“Kenapa?”
Lily dengan wajah lempeng bertanya dengan nada yang tidak santai. Membuat Leo mengeriyit bingung. Gadis tersebut menatap tajam-tajam pada Leonard yang malah di buatnya salah tingkah.
“Kau tidak ingin meracuniku kan?”
Leonard mendesah lelah. Membuang wajah sejenak, untuk menenangkan hati beserta jantungnya yang tengah berdetak bertalu-talu. Tak lama ia menoleh kembali, dengan sebelah tangan yang mengusap canggung belakang kepala.
Leonard berdehem, “Tentu saja tidak, apa kau pikir aku akan tega menyakitimu, huh?”
“Tentu saja!” Lily mencibir, “Kau selalu saja menjahiliku dan membuatku kesal setiap hari, bahkan kau sering sekali membuatku menangis” Lily mencebikkan bibirnya kesal.
Leonard tersenyum tipis, “Maaf... Kau tahukan? Aku tak pernah benar-benar serius melakukan semua itu. Termasuk juga dengan anak-anak yang lainnya. Kalian saja yang terlalu mendalami peran. Hingga kalian semua benar-benar menganggap kami ini musuh kalian”
Bibir Leonard mengerucut lucu.
“Maafkan aku ya, Lilie~!....Ku mohon”
Ia mengedip-ngedipkan matanya. Hingga membuat Lily memekik tertahan karena merasa gemas. Leonard yang bertingkah manis seperti ini—mana sanggup Lily menolaknya?
Dengan senyum lebarnya, Lily menarik pergelangan tangan Leonard hingga membuat posisi mereka sangat dekat. Leonard sedikit membungkukkan tubuhnya, di karenakan posisi Lily yang tengah duduk di meja kasir.
Leonard mengedip-ngedipkan matanya dengan gerakan lambat. Lily masih dengan senyum lebarnya. Menangkup kedua pipi tirus Leonard untuk kemudian dia tarik lembut mendekat kearah wajahnya.
Cup~
Ciuman lembut itu datang, Leonard maupun Lily masih sama-sama memejamkan mata mereka. Senyum lembut nan tulus terukir di bilah bibir mereka masing-masing. Setelah ciuman singkat itu berakhir dengan kedua wajah mereka yang memerah.
“Kita baikan ya sayang?” Leonard bertanya lembut dengan senyum yang tak luntur menghiasi wajahnya yang rupawan.
Tangannya yang lumayan kekar terulur, mengambil secangkir kopi susu buatannya yang tadi dia letakkan di depan Lily—kekasihnya. Sebagai bentuk permintaan maafnya atas semua sifat, tingkah dan prilakunya yang.. yah ia akui sangatlah keterlaluan. Apa lagi mengenai semua perkataan pedas(?) yang pernah dia lontarkan dengan begitu mulus untuk ia rujukan ke pada Lily, sang kekasih.
Leonard benar-benar merasa sangat buruk, dia menyesal.
“Baiklah, aku memaafkanmu. Leo~. Aku juga meminta maaf”, masih tersenyum lembut, ia berdiri dari tempatnya duduk, untuk bisa berdiri saling berhadapan dengan Leonard—kekasihnya. Lily meraih kedua tangan Leonard dan mengecupnya lembut bergantian. “Aku juga sudah sangat keterlaluan, Terlalu kekanakan hingga aku banyak melukaimu. Maafkan aku”
Dengan begitu, kedua sejoli yang diharuskan bertingkah layaknya musuh—saling membenci itu, akhirnya saling berpelukan dengan rasa syukur dan lega di hati mereka.
Setidaknya cinta mereka masihlah sangat kuat, untuk bisa saling mengucapkan kata maaf atas segala perbuatan, perkataan, tingkah maupun sifat yang saling berbenturan—yang membuat mereka sering sekali terlibat perkelahian—
“Aku mencintaimu.... Lily-nya Leo”
“Aku juga mencintaimu.... Leo-nya Lily—hehe!”
“Lihat! Lily dan Leonard saja bisa saling memaafkan, Claraie masa kita tidak?" Michael merengek seperti bayi.
Dan Clara hanya bisa menatapnya dengan tatapan ngeri. Tubuh tinggi dan tua itu merengek?!!! Astaga.... Clara membuang wajah, melipat tangan di depan dada dan pergi berlalu.
Michael mengerucutkan bibir sebal “Ini salah Peter Edwardson!!!!!”
"Kasihan kak Michael"
Jian langsung menoleh, dan menatap pada Xion sengit. Ia mengetatkan rahang dengan gigi terdengar bergemeletuk. Dengan secepat kilat ia menginjak kuat-kuat sebelah kaki Xion, hingga membuat si Pemuda Kang itu memekik kesakitan.
“Jangan mengasihani orang lain. Kasihani dirimu sendiri dulu! Kang sialan Xiao-an!!! Aku tidak akan memaafkan mu!!!” Jian langsung menyusul ketempat dimana tadi Clara pergi—kebun belakang. Dengan Xion yang mengekor seperti anak itik pada induknya, sedikit terseok-seok.
“Hei.. Jian—maafkan aku.....”
“Tidak karena kau telah membuat rambutku rontok. Aku tidak akan memaafkanmu!!”
"Aku belikan bakpao 5 kotak"
“Deal!” Jian berbalik dan merangkul lengan Xion.
“Eum... F—?”
“Apa?!!”
“Galak banget sih?! Lagi PMS ya?”
“PMS! Pantatmu!!! Mau apa kau Franklin? Huh!? Mau ikut-ikut Leonard, Michael dan Xion? Untuk meminta maaf?!!" Felice bertanya dengan nadanya yang tidak santai. Membuat Kyle Franklin hampir saja menemui Sang Maha Kuasa.
Kyle dengan terus-menerus membuntuti kemanapun Felice pergi, tersenyum begitu lebar. Hingga membuat Felice di buat heran sekaligus risih dengan tingkah laku si Pemuda Franklin.
Huft~
“Kyle Franklin!! Sudah jangan membuntuti ku terus. Kalau mau meminta maaf seperti Leonard, Michael, atau Xion, ya tinggal katakan saja!! Apa susahnya sih?!”
Felice menyentak kain lap mejanya di atas kursi kayu. Total mengabaikan pekerjaannya yang belum selesai. Felice dengan melipat tangan di depan dada menatap serius kedua manik Kyle yang seketika di buat bungkam.
“Katakan?!!”
“Huh?!!”
“Kau ingin meminta maaf seperti yang di lakukan Leonard dan yang lainnya kan? Jadi aku akan mendengar nya!” Felice tersenyum dengan bibir membentuk garis lurus.
Dan Kyle mengaruk bagian belakang kepalanya, “Apa kau akan memaafkanku?” Kyle mulai membuka suara. Serius.
Felice mengangguk mantap "Untuk apa aku harus marah? Eum....walau memang di berbagai kesempatan rasanya aku ingin membunuhmu sih" Felice menyengir kaku, “Tetapi aku tidak membencimu” lalu Felice tersenyum manis.
Pemuda itu pun.
“Tetapi... Aku mengikutimu bukan untuk meminta maaf”
"Huh?!!" Felice merengut kesal dengan bibirnya yang mencebik lucu. Kyle terkekeh, di cubitnya gemas kedua pipi Felice hingga berubah menjadi kemerahan.
"Sakit bodoh!!"
"Hehe!!"
Felice mengelus kedua pipinya, tatapan kesal masih dia layangan untuk Kyle yang tengah tersenyum lembut kerahnya. Felice di buat gugup, “A-apa? Kenapa tersenyum seperti itu? Dan menatapku? Hah!”
“Aku menyukaimu, dan aku ingin kamu menjadi kekasihku"
“Apa?!!!”
“I LOVE YOU FEL!!
Cup!
“Hei!! Kyle Franklin!!! I LOVE YOU TOO—hehe!”
“Hehe...”
°°°
"Peter?!!
Chelsea tak mampu berkata-kata lagi. Ia berjalan sedikit tertatih menuju sebuah ayunan tali tambang yang terikat disalah satu dahan pohon besar.
“Kau—”
"Aku selalu datang kemari, Chelsea. Untuk merayakan hari dimana kita pertama kali bertemu satu sama lain—04-09-2015"
“Peter—”
"Aku selalu datang, dan berharap—menunggumu disini —untuk merayakan hari persahabatan kita, seperti yang selalu kita lakukan sebelum kesalahpahaman diantara kita itu.."
Peter berjalan mendekat, dan berdiri tepat di belakang tubuh Chelsea yang berdiri membelakanginya.
Jemari lentik itu terulur, menyentuh tali tambang ayunan yang masih terikat dengan kuat di atas dahan pohon. Chelsea ingat, di perayaan persahabatan mereka yang ke 4 tahun: Saat itu usia Chelsea dan Peter 9 tahun.
Peter mengajaknya pergi kebelakang bukit yang berada di sisi kanan sekolah SD mereka. Untuk membuat sebuah taman buatan, agar dapat di pergunakan oleh mereka sebagai tempat pertemuan rahasia. Disana, di pohon besar itu, Peter memanjat dengan susah payah. Hanya untuk membuatkannya sebuah ayunan.
Mengingat itu, tanpa dapat di cegahnya lagi. Air mata Chelsea menetes. Dia berputar cepat dan menghambur memeluk tubuh tegap Peter.
“Hiks.... Terrie” Chelsea menenggelamakan seluruh permukaan wajahnya didada bidang Peter dan menangis keras.
"Aku disini" Peter mengusap punggung Chelsea lembut. Menekan ke belakang kepala Chelsea untuk mempererat dekapan nya pada tubuh gadis itu.
Peter menangis dalam diam.
“Maafkan aku.. Chelsea... Maafkan aku yang sudah membuat hatimu terluka. Maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa. Aku benar-benar meminta maaf.. Aku berjanji akan menebus segalanya, tapi tolong—tolong berikan aku sebuah kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Ku mohon, Chelsea.... Tolong maafkan aku"
“Terrie—” Chelsea mendongak, dengan wajahnya yang basah. Menatap dalam sarat akan kerinduan. Peter melonggarkan pelukannya, sedikit membungkukkan tubuh. Tangan Peter bergerak untuk menangkup dan mengusap lembut permukaan wajah basah Chelsea dan menghapus bekas air mata.
“Peter...hiks...aku—aku merindukanmu.... Huweeee.........!"
Dan Chelsea menangis keras.
Peter terkekeh dengan air matanya yang semakin banyak merebas deras.
“Peter.... Aku juga minta maaf—tanpa mendengar penjelasan mu, aku malah memutuskan untuk mengakhiri persahabatan kita. C-clara dan Michael sudah menceritakan semuanya. Tentang kamu—kalian semua yang membodohiku—dengan berpura-pura saling membenci satu-sama lain. Maaf kan aku—hiks... Aku teman yang buruk—”
Peter menggeleng pelan, Kembali menarik lembut tubuh yang lebih mungil kedalam dekapannya. Peter lantas bergumam "Kau tidak—Chels..."
Peter membalik posisi mereka dan merengkuh tubuh mungil itu dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di atas pundak Chelsea dengan wajah yang menghadap langsung ke ceruk leher Chelsea.
“Chelsea.... Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu—Bersediakah kamu menerima pria yang tak sempurna ini menjadi kekasihmu?"
Dan jika sudah begitu, Chelsea Ellden tak memiliki alasan lagi untuk menolak bukan? Berbalik cepat, Chelsea mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Peter. Tersenyum lebar dengan matanya yang berbinar.
Dengan di saksikan langit malam dengan banyak bintang: Di tempat diamana dahulu mereka sering menghabiskan waktu bersama. Dibawah pohon besar yang menjadi tempat berteduh mereka.
Malam itu.
Bab permusuhan antara Peter Edwardson dan Chelsea Ellden telah resmi ditutup.
***
Thank you for reading!!!
Makasih buat yang baca cerita gaje yang asalnya dari kegabutanku ini. Hope you have a nice day 🥰
by Loozy ☘️
September, 2023