Cahaya bulan yang sempurna menerangi sebuah kawasan rumah di tengah hutan. Theo menatap langit dengan mata yang berkilat-kilat. Membaca sebuah buku kuno tentang manusia serigala.
"Heh! Aku tak percaya dengan cerita tua ini," diletakkannya kembali buku itu pada meja kecil disamping ranjangnya. Kemudian ia berbaring di kasurnya yang sempit itu.
Tengah malam! Tiba-tiba saja pintu kayu rumah itu berbunyi, seperti ada yang menggedor-gedornya dari luar. Theo yang penasaran bercampur ngeri membuka pintu itu. Terlihat seorang gadis yang pucat tak berdaya. "Hah!" Kagetnya. "Hei siapa kau? Kau tidak apa-apa kan!" Theo membantu gadis itu masuk ke rumah kayu yang sederhana itu.
Dibaringkannya gadis itu di sebuah kursi kayu yang empuk dengan menyelimutinya dengan selimut tebal. Diambilnya teh panas dari dapur.
"Hei minumlah!" Katanya. Kemudian ia kembali ke dapur.
"Terimakasih sudah menolongku!" Ucao gadis cantik itu.
Hari demi hari kondisi gadis itu lebih baik. Sampai pada bulan purnama yang kedua. Malam itu ia cerah tak berkabut, cuaca juga tak terlalu dingin seperti biasanya. Mereka berdua tengah asyik duduk di pinggir telaga yang dekat dengan rumah Theo.
Tiba-tiba suara serigala mengaung dari arah hutan yang dalam. "Tenang saja! Aku sudah bisa mendengar suara itu. Tapi percayalah, mereka tidak akan mendekat!" Ucap Theo yang melihat wajah Zerina berubah gelisah.
Semak-semak di sekeliling mereka bergerak tanpa ada angin. Bulan mulai menampakkan wajahnya semakin bulat sempurna yang terpantul di permukaan telaga. Tiba-tiba sepasang mata serigala mengejutkan Theo. Hal yang benar-benar mustahil baginya adalah ketika serigala hitam itu berubah menjadi manusia. "Zerina! Jadi ini yang akan kau berikan padaku!" Katanya menatap Theo tajam. "Sangat tampan!"
Theo menatap Zerina dengan tajam dan tak mengerti. "Tidak Zefanya!" Ucap Zerina pada wanita yang tadinya serigala.
"Ah jangan bilang kau jatuh cinta pada manusia ini!" Ucap Zefanya. Ia langsung berubah kembali menjadi serigala dan menyerang Theo. Namun Zerina langsung berubah menjadi serigala putih yang kala itu menjauhkan Theo dari Zefanya.
Pertarungan serigala membuat Theo menggigil ketakutan. Ia masih tak percaya terhadap apa yang ia lihat. Seorang gadis cantik yang ia cintai ternyata adalah siliman serigala.
Pertarungan semakin sengit. Zefanya terlihat sudah banyak luka dan terlihat tak berdaya dan kemudian berubah kembali menjadi manusia. Namun serigala hitam yang bernama Zefanya masih ingin menghabisinya. Theo bangkit mengambil ranting kayu tajam, berlari dengan langkah hati-hati. Di tancapkannya ranting tajam itu ketubuh serigala hitam dari arah belakang.
Serigala itu kemudian mati tanpa berubah menjadi manusia. Di hampirinya tubuh Zerina yang tergeletak di atas dedaunan kering. Ia kembali membawa pulang Zerina ke rumah dengan gak berdaya untuk ke dua kalinya saat bulan purnama.
"Maafkan aku Theo, aku harus pergi! Kau akan terluka jika tetap ada disampingku. Aku mencintaimu," kata Zerina
"Tidak Zerina! Aku.." kalimatnya terpotong.
"Aku tahu kita tak akan pernah bisa bersama, kita berbeda Theo," Zerina mencium Theo. Dan kemudian berubah menjadi serigala putih. 'Theo aku tidak ingin kau dalam bahaya seperti tadi. Jika kau terus bersama dengan ku, kau tidak akan aman. Aku akan selalu mengawasimu,' Batin serigala itu. Ia melompat keluar lewat jendela kamar itu. Pergi menjauh melewati beberapa puhon tusam yang tegak di tanah itu.
"Zerina! Aku mencintaimu!" Teriak Theo pada serigala putih yang kemudian menengok ke belakang itu. Ia melanjutkan perjalanannya dan seolah hilang di telan pepohonan.
Ia mengambil buku tua tentang manusia serigala dan memeluknya erat. "Kali ini aku percaya, dengan manusia serigala."