Rinai-rinai hujan tersingkap
Gerimis minggir mengucap permisi
Awan-awan hitam bergerak
Berarak meninggalkan kampung
Dalam keheningan aku menatap
Sinar jingga kemerahan lembut
Menyongsong roda hidup baru
Yang bahagia, bahagia, selamanya.
***
Seorang Jelita yang hidup berdua bersama Ibunya di gubuk tua.
“Nak, ayo kita pulang! ini sudah mau larut malam, dan hujan sebentar lagi mau turun.”
Ibu Jelita sedari tadi tengah sibuk mengumpulkan serpihan kayu untuk bahan bakarnya. Sedangkan Jelita, setia menunggu Ibunya, sambil duduk di tepian sungai. Seketika matanya tertuju pada senja, keindahan yang di pancarkan berhasil mencuri pandangan gadis itu, dan membuat hatinya terasa kian tenang dan amat damai. Namun seketika, keindahan itu tertutupi oleh awan hitam pekat yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Jelita pamit pulang kepada sang burung di atas pohon yang telah menemani Jelita hari ini, sesekali Jelita menyuruh burung itu pulang karena Jelita takut burung itu akan terkena percikan hujan.
Jelita berjalan bersama Ibunya dengan keadaan awan yang telah menutupi jalan pulang mereka dan percikan itu sudah turun membasahi Jelita dan Ibunya, namun mereka tetap berjalan tidak takut dengannya karena sudah terbiasa, Jelita bertanya kepada Ibunya, yang setiap hari mencari serpihan kayu dan mencari uang dari hasil menjual sebagian kayunya.
“Ibu, apakah ibu tidak lelah mencari serpihan kayu terus menerus di hutan?” Ibunya tersenyum mendengar perkataan anak semata wayangnya bertanya seperti itu.
“Tentu tidak pernah Nak.” Jelita menghela nafas, karena Ibunya berbohong,
Jelita memang sudah tahu jawaban Ibu nya akan seperti itu, tapi Jelita ingin selalu mendengar perkataan Ibunya seperti itu, karena itu sebagian semangat untuknya. Jelita meminta untuk membantu Ibunya membawakan serpihan kayu sampai rumah.
Malam hari, di rumah gubuk tua, tidak ada sedikit pun yang menyala menggunakan listrik atau lampu, tetapi gubuk tua itu masih tetap terlihat terang di setiap penjuru yaitu terangnya lilin. Ibunya memasak sedikit beras secukupnya untuk Jelita dan Ibunya saja, Ibu Jelita hanya mengambil sedikit garam dan di taburkan ke dalam nasi untuk makan malamnya. Jelita tidak pernah menolak atau meminta lebih karena Jelita dari kecil sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Akhirnya perut Ibu dan Jelita terisi sehingga tidur pun bisa tenang, Ibunya tertidur sambil memeluk Jelita agar tidak kedinginan itulah kebiasaan Ibunya, sedangkan Api nya tetap menyala agar sedikit membantu untuk menghangatkan badan keduanya.
Jelita terbangun, melihat Ibunya yang sudah tidak ada di dalam pelukannya, Jelita mencari di sekitarnya namun tetap tidak ada, Jelita heran kemana Ibunya, biasanya di pagi hari, Ibunya hanya mencari kayu di sekitar rumahnya tidak di hutan, karena Ibunya mencari ke hutan hanya sore hari. Jelita menangis degup jantung nya begitu kencang, Jelita berdiam di penjuru gubuk tuanya, dan tangisan yang membanjirinya. Jelita memiliki trauma setelah ditinggalkan Ayahnya, karena Ayahnya meninggal secara tragis yaitu 2 orang penjahat membunuh Ayahnya. Jelita sampai saat ini takut sendirian tidak pernah ditinggalkan oleh Ibunya, Ibunya pergi kemana pun Jelita selalu mengikutinya. Keringat dingin yang saat ini Jelita rasakan ketika mendengar langkah kaki masuk menuju gubuk tuanya, dalam hatinya Jelita memanggil Ayah dan Ibunya.
“Nak, kamu sudah bangun sayang.”
Jelita seketika memeluk erat Ibunya dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya. Ibunya tersenyum, mengetahui anaknya yang sedang ketakutan sendirian, dalam hati kecil Ibunya, Ibunya sengaja pergi sebentar karena untuk membiasakan Jelita ketika sendiri, Ibunya tidak mau terus menerus melihat Jelita trauma.
“Jelita sayang,
"kamu harus memberanikan diri kamu, jika Ibu sedang tidak ada di samping kamu, Ibu tidak mau melihat kamu terus menerus seperti ini sayang.”
tetesan Ibunya kini mengalir tak bisa lagi tertahan oleh senyumannya itu yang selalu Ibunya berikan kepada Jelita, Ibunya selalu menguatkan dirinya agar tidak terlihat lelah oleh Jelita tapi kali ini Ibunya mengkhawatirkan Jelita yang ditinggal sebentar oleh Ibunya, trauma yang ada dalam dirinya masih saja ada, Ibunya memikirkan bagaimana jika dirinya sudah tidak ada lagi, pikiran Ibunya selintas terhadap masa depannya Jelita.
Jelita kali ini cukup lebih tenang, dan sudah bisa bermain di depan gubuk tuanya, Jelita tidak punya teman sejak kecil, Jelita hanya bermain sendirian di sekeliling rumahnya. Kupu-kupu yang hinggap di pundak Jelita kini terbang menjauhi Jelita, tapi Jelita terus saja mengejar kupu-kupu itu karena Jelita suka dengan kupu-kupu cantik. Langkah kaki Jelita terhenti karena mendengar suara dari arah sungai yang sangat ramai, Jelita melihat di bawah pohon jauh dari sungai ternyata ada empat orang seumuran Jelita bermain air di sungai. Jelita tersenyum betapa ingin sekali Jelita mempunyai teman dan bisa tertawa seperti mereka, tapi sayangnya mereka selalu tak ingin berteman dengan Jelita karena kemiskinan Jelita dan penampilan Jelita yang menjijik kan menggunakan pakaian rumpang ramping seadanya.
Jelita menginjak potongan ranting, hingga ranting itu berbunyi terdengar oleh mereka, mereka semua melihat Jelita yang sedang diam-diam melihat mereka berenang di sungai, satu dua orang yang seumuran Jelita teriak
“Hey siapa yang disana,”
Jelita langsung ketakutan karena dirinya ketahuan dan langsung lari meninggalkan mereka dan kembali pulang ke gubuk tuanya. Ibunya mencari Jelita kemana Jelita pergi, Ibunya takut terjadi apa-apa dengan Jelita baru pertama kali Jelita menghilang, tetapi saat Ibunya ingin pergi ke hutan mencari Jelita, Jelita terlihat berlari menuju rumahnya.
“Sayang kamu habis dari mana Nak?”
Ibunya mengajak Jelita masuk ke dalam gubuk tuanya itu dan memberikan Jelita minum.
“Aku habis menangkap kupu-kupu, dan aku melihat di tepi sungai ada anak seumuran aku yang sedang bermain air.”
Ibunya mengusap rambut Jelita dan seketika mencium rambutnya, Ibunya mengerti Jelita ingin sekali mempunyai teman.
“Eh Nak itu kan kamu tidak takut jika pergi sendirian tanpa harus bersama Ibu.”
Ibunya baru saja menyadarinya Jelita pergi sendiri tanpa nya dan tidak sama sekali Jelita ketakutan lagi.
“Iya Ibu, Jelita juga tidak tahu, tiba-tiba Jelita tidak memikirkan apa-apa,”
Jelita tersenyum karena dirinya tidak takut lagi, tidak seperti sebelumnya yang tadi pagi ditinggal oleh Ibunya sebentar. Ibunya merasa senang kemungkinan besar trauma Jelita sedikit demi sedikit mulai menghilang.
“Jelita apakah kamu mau Nak, mencari kayu di hutan sendirian tanpa Ibu?”
Jelita terdiam mendengar perintah Ibunya yang tiba-tiba langsung menyuruh Jelita pergi sendiri.
“Demi Ibu Nak, mau kan? Kamu harus berani sendiri Nak tanpa Ibu, kamu yakin pasti bisa menjalaninya sendiri.”
Jelita yang kemudian akhirnya mengangguk mau mencarikan kayu di hutan menggantikan Ibunya. Jelita pamit terlebih dahulu kepada Ibunya, dan Ibunya mengecup keningnya Jelita dan mengatakan hati-hati kepada Jelita.
Jelita menghela nafas terlebih dahulu yang akhirnya mengangkat kakinya untuk berjalan meninggalkan Ibunya ke hutan mencari kayu, sedikit Jelita takut tapi Jelita akhirnya bisa menahan ketakutan Jelita, Jelita menganggap Jelita sedang bermain-main di hutan seperti sebelumnya yang lari-lari mencari kupu-kupu. Jelita akhirnya bisa melupakan traumanya dan meloncat-loncat girang sambil menyanyi, bersiul, ternyata Jelita benar-benar sudah tidak takut lagi tanpa Ibunya, dan apa yang ada dalam pikiran Jelita memang tidak sepenuhnya akan terjadi jika menurutnya Jelita senang dan membuang rasa takutnya. Sesekali Jelita beristirahat dan diam terlebih dahulu di tepi sungai kebiasaan Jelita bersama burung kali ini Jelita datang sendiri tanpa Ibunya, dan tersenyum ke arah langit di atas yang indah dalam keheningan nya melihat sinar jingga kemerahan lembut di atas awan dan tentu saja Jelita menyukainya.
Jelita pulang karena menurutnya ini sudah mau larut malam, dan kayunya sudah cukup banyak. Jelita terus saja bersiul girang meskipun Jelita menggendong kayu di punggungnya, hingga sampai di gubuk tuanya, Jelita langsung memanggil Ibunya karena ingin memberi tahunya bahwa Jelita tidak takut sama sekali tanpa Ibunya.
Jelita masuk ke dalam dan sontak berteriak memanggil Ibunya, kayu yang ada di punggung Jelita terberai kemana-mana tangisan Jelita membanjiri pipinya, seluruh badan Jelita lemas tak berdaya, seketika nafas Jelita susah tidak terkendali, isak tangisnya berada dalam kecupan untuk Ibunya yang tak berdaya tanpa denyutan nadinya dan bercucuran darah di kepala Ibunya sama seperti kejadian kepergian Ayah nya, karena masih saja orang itu mempunyai dendam terhadap keluarga Jelita, karena Ayahnya yang dulunya meninggalkan hutang dimana-mana sehingga banyak musuh Ayahnya, kali ini musuh Ayahnya masih membalaskan dendamnya dengan membunuh Ibunya.
“Kenapa kamu sayang, kok melamun terus?”
Kini Jelita tersadar dalam ingatan dua tahun yang lalunya, ketika Ibu Angkatnya bertanya, sekarang Jelita tidak sendiri melainkan mempunyai keluarga angkatnya yang begitu baik yang menyayangi Jelita, Jelita hanya bisa menyimpan kesedihannya tentang masalalu orang tuanya, kini Jelita bukanlah sebatang kara lagi, melainkan anak dari Ayah Ibu angkatnya yang menemui Jelita di tengah hutan sendirian. Jelita meminta izin untuk pergi ke sungai kepada Ibu angkatnya, dan Jelita berjalan menuju sungai dan berdiam di tepi sungai dengan kebiasaan nya melihat senja yang memancarkan sorot yang indah.
Kala hidup terasa begitu berat
Hati kadang lemah terjerat
Akankah terus bertahan dan kuat
Ikat segala kenang dengan rapat
Rona bahagia selalu dicipta
Untuk kulabui hati yang lara
Lelah berjuang sebatang kara
~Selesai~