"Aduuh, kepalaku benar-benar pusing, tunggu di mana aku?!''
Itulah kata pertama yang ia ucapkan.
Yona adalah gadis SMA kelas 3 di sekolah bergengsi. Siapa yang tak kenal Yona, dia adalah gadis cantik dan manis, berkulit putih dengan rambut hitam panjang dan lurus, senyumannya yang ramah dan juga pintar membuat nya menjadi salah satu gadis populer di sekolah Pelita Harapan di Jakarta. Namun, entah apa yang terjadi dia masuk pada dimensi waktu yang berbeda dari jamannya.
Kejadian ini bermula, sewaktu pulang sekolah pukul 4 sore. Yona bersama dua sahabat nya Rika dan Chika, berjalan untuk pulang bersama seperti biasanya, karena rumah mereka saling berdekatan. Namun dari arah gang sempit yang gelap dan cukup kotor, terdengar suara kucing yang terus mengeong. Sepertinya Yona penasaran, dan ingin menyelamatkan kucing itu yang terdengar seperti membutuhkan pertolongan.
"Oh ya, aku ketinggalan buku nih di kelas, aku mau balik ambil dulu ya. Kalian duluan aja. '' ucap Yona sambil berlari berlawanan dari arah jalan mereka pulang.
Rika dan Chika menggelengkan kepala maklum. Terlalu terbiasa dengan sifat pelupa sahabatnya itu.
"Kau benar-benar ceroboh. " Mereka pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
***
Maaf ya teman-teman aku berbohong, aku hanya tidak ingin merepotkan kalian. Pikir Yona.
Sedikit berlari, gadis itu masuk ke dalam gang kecil yang tertutup tembok sehingga terlihat gelap, di ujung jalan terdapat pohon besar dan tinggi juga lebat daunnya. Yona memejamkan mata merasakan angin sepoi-sepoi yang membuatnya begitu nyaman. Cahaya matahari yang terpantulkan dedaunan pohon menjadikan kegelapan menakutkan itu tergantikan bagai lampu di siang hari.
"Meong~. " Yona terlonjak kaget. Segera ia melihat sekeliling, mencari entitas yang menjadi tujuannya datang ke sini. Matanya membola ketika melihat di bawah pohon besar di depannya, terdapat sebuah kucing putih dengan bulu selembut sutra yang tertimpa dahan.
"Kasihan sekali, tunggu sebentar ya. '' Yona mengangkat dahan pohon yang menimpa kucing itu dan menyingkirkannya. Gadis itu tersenyum lega. Ia berjongkok dan mengelus tubuh kucing itu dengan lembut, yang direspon dengan dengkuran halus di kaki Yona pertanda hewan itu menyukai perlakuannya.
Yona baru saja hendak mengangkatnya ketika dengan gerakan tiba-tiba, kucing itu berjalan menjauhinya. Awalnya, ia hanya terdiam, namun Kucing itu kembali mengeong padanya seperti ingin menunjukkan sesuatu.
Yona yang penasaran dengan tingkah aneh kucing itu kemudian ia mengikuti kucing itu dari belakang. Di sekeliling tempat itu hanya terdapat pohon-pohon yang semakin dalam jalan yang dilewati, semakin tinggi pula pohon-pohon yang sama itu.
"Apa aku kembali saja ya, perasaanku tidak enak. Kenapa aku harus mengikuti kucing itu.'' .Ucap Yona di dalam hati yang kesal akan kelakuannya sendiri.
Semua dipenuhi rumput dan ilalang yang tinggi, dengan kupu-kupu yang menempel pada bagian pohon. Tempat bagaikan surga yang indah. Hanya saja kesendirian yang membuatnya merasa takut dan tidak nyaman. Tetapi, gadis itu terlalu menikmati pemandangan yang ada di depannya .Sehingga tanpa disadari, mata Yona yang tidak terfokus pada satu titik yang penting, yang menyebabkan ia berada di tempat ini, Yona kehilangan jejak kucing itu.
Yona sangat panik dan mencoba mencari di mana hilang nya kucing aneh itu, sampai gadis itu tiba pada sebuah rumah kosong yang tua dan juga rapuh. Yona pun tanpa ragu langsung masuk ke dalam rumah yang tidak berpenghuni. Di dalam rumah tua itu, hanya terdapat peralatan-peralatan umum yang usang untuk memasak, rumah yang dipenuhi dengan debu mungkin karena sudah lama kosong.
Seperti dugaan Yona, kucing itu berada di rumah ini sedang duduk pada sebuah meja dengan ilalang yang melingkar penuh serta tanaman-tanaman liar yang tumbuh pada meja itu, sehingga meja tersebut tidak dapat dikenali wujudnya lagi. Tanpa pikir panjang, Yona langsung berlari dan melompat ke arah kucing putih itu untuk menangkapnya.
Ternyata itu bukanlah sebuah meja seperti yang Yona pikirkan, melainkan sebuah sumur kering yang sudah lama tak terpakai lalu di tumbuhi dengan tanaman yang merambat penuh pada sekitar sumur. Kucing aneh itu pun terlepas dan Yona terjatuh ke dalam sumur itu.
***
"Aduuh, kepalaku benar-benar pusing, tunggu di mana aku?!'' Ucap gadis itu sambil memegang kepalanya yang kesakitan.
Yona terlihat begitu kotor dan lusuh. Tubuhnya yang kesakitan karena terjatuh dari atas. Kemudian dia segera bangun dari dasar sumur yang tidak terlalu dalam, dengan memanjat ke atas melalui ranting pohon yang menggantung ke dalam sumur. Dengan susah payah Yona berhasil mencapai atas sumur yang kering itu.
Gadis itu sangat bingung, di sekeliling hanya ada pepohonan yang tinggi dengan rumput hijau yang luas. Seperti hutan yang lebat dan juga indah. Langit terlihat biru dihiasi burung-burung yang berterbangan dengan kicauan yang merdu. Namun, tempat itu terlihat asing bagi gadis itu. Dia pikir tempat ini sama seperti tempat ia terjatuh.
Dia pun berdiri dengan tubuh gemetar dan pandangan mata yang berbinar menampung air matanya. Yona sangat ketakutan dan ingin kembali ke rumahnya. Gadis itu hanya terus berjalan tanpa ada nya tujuan dan ingin mencoba keluar dari hutan ini. Dengan kaki yang tergores ranting-ranting pohon gadis itu terluka dan membuatnya menjadi lambat berjalan.
Langit semakin gelap ,suasana nya pun semakin sunyi. Suara kicauan burung yang indah berganti menjadi suara burung hantu yang terasa menyeramkan.
Dengan jalan yang sempoyongan karena kelelahan, dia pun merebahkan tubuhnya pada sebuah pohon tinggi dengan daun-daun yang lebat, angin malam yang berhembus membuat gadis itu mengantuk dan tanpa disadari ia tertidur.
***
Di pagi hari yang cerah, di langit yang biru, pada sebuah hutan yang tak tersentuh manusia terdapat sesosok pria yang sedang berdiri pada bebatuan tinggi, pria itu bernama Haru. Dia adalah makhluk setengah siluman rubah dan juga pemimpin dari pasukan siluman bernama Suku Akari.
Dari arah kejauhan,terdengar suara langkah kaki kuda dengan cepat, kemudian dia menghampiri Haru sambil berlutut.
"Tuan, perlengkapan untuk melakukan penyerangan sudah siap.'' ucap Jun, pengawal setia Haru.
"Bagus, kita lakukan sekarang, ajak juga pasukan kita yang lain. '' jawab Haru singkat
" Baik Tuan. '' ucap Jun pada Haru, dan langsung melaksanakan tugasnya.
Kemudian mereka segera pergi dengan menunggangi kuda masing-masing.
***
Dua orang itu tiba pada sebuah desa kecil yang letaknya di dalam hutan diikuti dengan para pengawal Haru yang lain. Mereka pun menghampiri rumah warga desa.
"Siluman datang! Siluman datangg!'' Ucap salah satu penduduk desa sambil berlari panik memberitahukan yang lain.
"Kalian semua dengarkan ini! Serahkan semua persedian senjata dan makanan kalian! Cepat, atau kalian semua akan celaka!'' Ucap Haru kejam dengan menghempaskan pedang miliknya.
Para pengawal yang jumlahnya puluhan itu memasuki rumah-rumah warga untuk mengambil barang-barang yang menurut mereka berguna. Dan dari gudang senjata mereka memunguti senjata pedang dan busur yang dibuat oleh para warga. Para penduduk hanya bisa nenangis ketakutan dan meratapi rumah mereka yang rusak dan kacau. Karena, percuma saja jika mereka melawan, siluman itu bisa saja mencakar dengan kukunya yang tajam dan panjang ataupun terbunuh dengan pedang mereka. Setelah mendapatkan barang-barang itu, para siluman langsung pergi dengan kuda yang mereka tunggangi lalu meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkankan sepatah kata pun. Warga hanya bisa pasrah dengan apa yang menimpa mereka.
***
"Aku ingin mencari udara segar, kalian semua bisa kembali ke sarang kita.'' ucap pemimpin mereka dan langsung melajukan kudanya dengan cepat.
Ketika di dalam hutan, Haru hanya melihat-lihat pemandangan sekitar sambil bersantai. Mungkin hanya untuk menenangkan pikirannya sejenak. Namun, ada sebuah tempat penuh rumput ilalang, dan ditumbuhi bermacam-macam bunga liar yang mulai bermekaran diiringi dengan capung yang beterbangan kesana kemari. Di tengah rumput yang luas itu, berdiri satu pohon tinggi dengan ranting yang meliak-liuk ditumbuhi dedaunan yang rimbun.
Ada seorang gadis yang sedang bersandar pada pohon itu sambil memejamkan matanya. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat rambut gadis itu berkibar dengan indah. Pria langsung menghampiri tempat di mana ia bersandar lalu mengambil pedang yang berada pada pinggangnya dan mengarahkan pedang tajam itu ke arah wajah wanita itu. Yona yang mendengar suara gesekan yang tajam langsung membuka matanya. Sebelum Yona bertanya, pria itu langsung mendahulukan bicara terlebih dahulu.
"Siapa kau?!'' kata Haru dengan suara lantang dan tatapan yang tajam.
"Tunggu, tunggu. Bukannya aku yang seharusnya bertanya? Lebih baik sarungkan pedangmu dulu!'' Jawab Yona dengan wajah yang ketakutan dan panik.
"Kenapa aku hurus menurutimu, apakah kau tak tahu siapa aku? aku bisa saja membunuhmu kapanpun aku mau.'' ucap pria itu dengan menatapnya.
"Apakah kau seorang mata-mata? kau sengaja daritadi mengikuti dan memantauku bukan?'' Haru melanjutkan pembicaraannya.
Yona yang geram mendengar tuduhan-tuduhan yang diucapkan oleh pria aneh itu, gadis itu langsung bangun dari duduk nya.
"Hei, memang siapa kau! atas dasar apa kau bicara tidak sopan pada wanita yang baru kau temui?!'' Yona mengeluarkan semua amarahnya atas kelakuan Haru yang tak sopan itu dengan menunjuk-nunjuk pada wajah Haru.
Haru yang terkejut dengan keberanian bicaranya. Ini pertama kali Haru diperlakukan seperti itu, apalagi oleh gadis manusia. Haru kemudian mengurungkan niatnya dan kembali menyarungkan pedangnya di samping pinggangnya.
"Sudahlah, tak ada gunanya aku berbicara pada gadis bodoh seperti kau'' jawab Haru sambil membawa kuda yang tidak ditunggangi lalu pergi meninggalkan Yona sendirian di tempat itu.
Apa-apaan kelakuan makhluk aneh itu, tega sekali dia meninggalkan anak perempuan di tengah hutan seperti ini. Tapi, penampilannya sungguh berbeda seperti bukan manusia. Batin Yona kesal.
"Dia satu-satunya harapanku keluar dari tempat ini, aku harus mengikutinya.'' ucap Yona lirih dengan semangat.
Lalu Yona mengikuti pria itu dari belakang sambil mengendap-endap agar tidak ketahuan.
Setelah cukup lama berjalan, Yona terlihat begitu kelelahan. Dengan keringat yang bercucuran, wajah yang lusuh, rambut semakin acak-acakan dengan jalan yang terpincang-pincang.
"Hmm sepertinya kau sudah kelelahan. Lihat kan kau lemah? apa mau menyerah?'' Ucap Haru yang berada di depan Yona dengan membalikkan badannya dengan senyuman menyebalkannya.
"Sepertinya kau sudah tahu aku mengikutimu. Kenapa tak berhenti?'' Tanya Yona yang kesal.
"Ha? kenapa aku harus berhenti?'' Kata Haru dengan angkuh.
Huuh dasar makhluk tak berperasaan .Ucap Yona sambil menggerutu.
"Apa yang kau gumamkan? cepat kemari!'' Perintah Haru pada Yona.
"Kenapa aku harus menurutimu, kau pikir aku bodoh seenaknya diperintah olehmu!'' Kata Yona dengan cuek dan melipatkan tangannya.
Haru hanya menutupi senyumnya karena melihat tingkah gadis yang keras kepala itu. Lalu pria itu berjalan menghampiri Yona dan berdiri tepat di depannya.
"Mau apa kau?'' Kata Yona dengan memundurkan kakinya untuk berjaga-jaga.
"Cepat naik, sebelum aku berubah pikiran!'' Tegas Haru sambil memegangi kudanya dengan tali.
Yona pun langsung mengikuti apa yang dikatakan Haru. Sebenarnya ia merasa tertolong. Lumayan lama menunggu gadis itu mencoba naik ke atas kuda yang terlalu tinggi.
"Hei bagaimana cara menaikinya? aku tidak sampai!'' Keluh gadis itu kesusahan dengan satu kaki yang sudah ada pada punggung kuda.
"Dasar merepotkan, begini saja tidak tahu'' ejek pria itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian Haru mengangkat tubuh Yona dan mendudukkannya di kuda.
"Terima kasih.'' ucap gadis manis itu dengan pelan, wajah yang memerah dan hatinya berdegup kencang.
Andaikan sifatnya tdak menyebalkan . Batin Yona dengan melirik ke arah Haru.
"Apa kau lihat-lihat?!" Kata pria judes itu.
"Siapa yang lihat-lihat!? Geer amat jadi orang'' jawab Yona mengatasi rasa malunya.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan bersama. Yona duduk di atas kuda dan Haru hanya mengiringi dari samping Yona sambil memegangi tali yang terpasang pada kuda. Mereka juga saling mengobrol dan saling mencoba mengenal masing-masing.
"Oh ya aku belum memperkenalkan diri ,aku Yona. Siapa namamu?'' Yona membuka kata untuk menghanyutkan keheningan.
"Kau bisa memanggilku Haru.'' jawab pria itu singkat tanpa menoleh sedikit pun.
"Jadi kau ini apa? Hmm, sejujurnya aku baru pertama kali melihat makhluk sepertimu. Dengan rambut panjang berwarna perak lurus, ekor rubah di bagian belakang, dan sepasang telinga rubah berwarna putih berbulu di atas kepala.'' Yona memberanikan diri untuk bertanya. Sebenarnya ia sudah penasaran saat pertama kali melihat Haru.
Tiba-tiba Haru menghentikan langkahnya,
"Apa, kau takut padaku?'' Tanya Haru tanpa menoleh ke arah Yona dan tidak berekspresi apapun.
Yona terdiam dengan pertanyaan Haru,
"Tentu saja tidak, kenapa aku harus takut padamu?'' Jawab Yona dengan santai.
"Karena aku percaya, kau tak akan menyakitiku.'' sambung jawaban Yona dengan yakin sambil tersenyum ke arah Haru.
Haru tersenyum senang mendengar jawaban dari Yona.
"Siapa bilang aku tak akan menyakitimu?'' Tingkah Haru kembali menjengkelkan.
"Apa kau bilang? Dasar menyebalkan!'' Ucap gadis itu yang geram sambil memukul pelan pundak siluman itu.
Saat itu, siluman yang terlihat begitu dingin dan terkenal kejam kini tengah tertawa dengan begitu lepas dan terlihat sangat bahagia.
"Waah kau kelihatan tampan saat tersenyum tulus seperti itu loh, coba naikkan sedikit lagi'' kata Yona menggoda Haru sambil mempraktekkan pada wajahnya sendiri dengan mengangkat sudut bibir dengan jari telunjuknya.
"Hei kau apa-apaan, mau aku turunkan di tengah hutan, hah?'' Jawab Haru yang kesal dengan tingkah gadis itu.
"Hahaa aku bercanda.'' jawab Yona sambil tertawa.
"Dasar gadis aneh.'' Haru kembali tersenyum.
Syukurlah, kini aku tidak kesepian dan ketakutan lagi kini ada yang menemaniku. Ibu, ayah ,tunggu aku sebentar lagi. Aku akan kembali. Kata Yona di dalam hati dengan tersenyum dan memandang ke arah langit yang berwarna orange itu.
Di bawah langit senja ini, burung malam yang menghiasi langit, dan dedaunan yang berjatuhan tertiup angin layaknya musim gugur. Takdir apalagi yang sedang menunggu mereka? .
***
Mereka berdua sampai pada sebuah tempat yang terletak di dalam goa yang besar dan tinggi. Dengan aliran arus sungai di sekitar tempat itu. Tempat itu tak terlihat karena ditumbuhi pohon-pohon rimbun yang menutupi tempat itu.
"Tuan, Anda sudah sampai.'' ucap salah seorang dari suku Akari dengan memberi hormat kepada pimpinan mereka, diikuti oleh yang lain.
Tuan membawa tamu, seorang gadis pula. Bisik beberapa orang-orang.
Sepertinya dia telah berubah .Orang-orang mulai membicarakan kejadian yang langka ini. Ini pertama kalinya Haru bersikap baik kepada seseorang, apalagi kepada perempuan.
"Semuanya dengarkan ini, gadis ini bernama Yona. Dia mulai sekarang akan menjadi bagian dari kita!'' Perintah dari pemimpin suku Akari itu.
"Hmm, halo semua. Namaku Yona. Mohon bantuannya.'' ucap Yona dengan membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam.
Orang-orang yang ada di sini semuanya siluman. Tentu saja begitu, namanya juga suku siluman. Aku harap semuanya baik-baik saja. Perasaan Yona yang bercampur aduk menjadi satu.
Semua orang menyambut Yona dengan senang hati diiringi tepuk tangan atas kedatangan gadis baru itu di tempatnya.
"Kalau begitu ayo kita adakan pesta malam ini untuk menyambut kedatangan nona Yona!'' Sorak ramai orang-orang dengan gembira.
"Kau tak apa-apa?'' Tanya Haru pada Yona.
"Ya aku baik-baik saja, aku hanya sedikit kelelahan.'' jawab Yona.
Lalu Haru memanggil salah seorang temannya yang juga seorang siluman gadis rubah.
"Dia akan menemanimu, kau beristirahat dulu saja.'' pinta Haru pada gadis yang terlihat lelah itu.
"Baik, terima kasih semuanya.'' ucap Yona dengan senyuman manisnya.
Lalu Haru pergi meninggalkan mereka berdua dan kembali menemui teman-temannya.
"Hai nona, aku Rin temannya Haru. Kalau ada sesuatu yang mengganggu katakan saja padaku. Aku akan membantumu.'' ucap gadis imut itu.
"Kau bisa memanggilku Yona. Tentu, terima kasih.'' ucap Yona kepada Rin.
"Oh ya ngomong-ngomong kau harus membersihkan diri dan berganti pakaian seperti yang lainnya.'' kata Rin dengan senyumannya.
Oh iya, pantas saja mereka melihatku aneh, ternyata karna aku memakai seragam ini. pikir Yona.
Lalu Yona membersihkan diri dan juga mulai beradaptasi sesuai dengan budaya pada saat ini. Ia pun menyimpan pakaian dan jas sekolah dengan rok yang panjangnya selutut itu pada tas yang di bawanya pada waktu itu.
***
Semua orang sedang bergembira bersama dengan berbagai acara untuk menyambut kedatangan orang baru pada suku itu.
Pada salah satu meja yang terletak di pojok, ada dua orang yang sedang duduk bersantai dilengkapi dengan makanan dan minuman yang sudah disediakan pada meja itu. Tak lain itu adalah Haru dan Jun. Jun adalah pengawal pertama yang mendampingi Haru sebelum menjadi pemimpin di suku ini, dan dia sangat kuat dan tangguh. Mereka berdua sudah bersahabat sejak lama.
"Tuan, aku tak percaya kau bisa membawa seseorang ke suku kita, apalagi seorang gadis. Apa dia pacarmu?'' Ucap Jun si pengawal sekaligus sahabat Haru.
Haru yang sedang duduk dan meminum air itu langsung tersedak karena terkejut mendengar yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Bagaimana mungkin?!'' Ucap Haru sambil memukul meja dan spontan berdiri, membuat orang-orang di sekitarnya juga terkejut.
"Hahaaa, aku hanya bercanda. Ayolah duduk kembali, kau mengagetkan semua orang. Dan ceritakan apa yang terjadi?'' Kata Jun yang penasaran.
Lalu pria itu kembali duduk dan tenang.
"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa. Saat itu aku melihatnya di pedalaman hutan. Pada saat itu aku merasa ingin menyelamatkannya, dia tak terlihat asing. Bahkan dia bilang tak takut denganku. Aku merasa nyaman di dekatnya.'' kata Haru yang menceritakan kejadian saat itu.
"Hahaa berani sekali dia. Dia sungguh menarik.'' Jun tertawa menggoda Haru.
"Mungkin dia memiliki keistimewaan tertentu.'' sambung yang di katakan Jun.
"Apa maksudmu?'' Haru tidak mengerti apa yang dimaksudkan Jun.
"Hei, coba kau lihat gadis itu'' Jun memotong ucapan Haru.
"Waah lihat! gadis itu cantik sekali, seperti seorang putri!'' Kata orang-orang yang melihat kecantikan Yona.
Gadis itu mengenakan model pakaian sesuai dengan perempuan-perempuan yang ada pada tempat itu. Pakaian putih yang langsung menyatu dengan rok berwarna merah yang panjangnya semata kaki, dipasangkan pada pinggang setali pita berwarna merah dengan bagian tengah membentuk kupu. Rambut panjang yang diikat dengan pita di belakang rambutnya berwarna merah membuatnya terlihat bersinar di bawah bulan saat itu.
"Waah cantik sekali.. '' pujian-pujian tertuju pada gadis itu. Bahkah Haru, pria angkuh itu, terus menatap tanpa teralihkan pandangan apapun karena kagum pada kecantikan gadis itu.
Semua orang bersenang-senang pada pesta itu. Terlihat sesosok pria yang sedang melamun. Gadis itu menghampiri tempat Haru yang duduk sendirian dengan hidangan yang diletakkan di atas meja.
"Hei, kenapa melamun? Terpenona denganku ya?'' Yona menggoda Haru dengan mengibaskan rambutnya lalu duduk di samping Haru.
"Haah? Mana mungkin'' jawaban Haru seperti tingkah yang biasa dengan menolehkan kepalanya ke arah samping.
"Waah sepertinya kau tidak memakai pakaian dan rok pendek aneh itu lagi'' pria dingin itu memberikan komentarnya.
"Aneh dari mananya? Justru itu pakaian modern. Dasar ketinggalan jaman'' jawab Yona yang kesal dan marah lalu ia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Haru.
"Tunggu,'' ucap pria itu sambil memegang tangan Yona yang akan pergi tanpa memandangnya.
"Maaf, duduklah.'' kata Haru dengan singkat. Gadis itu kembali duduk walau ia masih sedikit sebal.
"Kau terlihat sangat cantik hari ini'' pria itu melanjutkan ucapannya sambil menoleh ke arah kiri dengan menutupi sebagian wajah dengan tangannya tanpa memandang sedikitpun wajah Yona.
Wajah gadis itu memerah malu setelah mendengar ucapan dari pria dingin itu, dia merasa senang serta merasa tersentuh melihat sisi lembut Haru.
"Terima kasih.'' balas gadis itu dengan senyuman riang dan ceria nya itu.
Haru ternganga melihat senyuman Yona karena ini pertama kali ia menemukan seseorang yang menerima diri nya dan memperlakukannya sebagai manusia. Pria itu juga memberikan senyumannya.
Mereka mengakhiri itu dengan mengobrol dan tertawa bersama. Di sisi lain, Jun yang sedang duduk di meja lain juga melihat dan memantau mereka berdua.
"Sepertinya kau akan mulai berubah, Haru. Kau akan segera menemukan kebahagiaanmu'' ucap Jun yang sedang memperhatikan mereka.
Pesta diadakan sampai tengah malam. Orang-orang yang lelah dan mengantuk kembali ke rumahnya masing-masing.
***
Tak terasa seminggu sudah berlalu sejak aku berada pada era waktu ini. Semua orang di sini memperlakukanku dengan sangat baik. Begitu pula Haru, dia begitu perhatian dan selalu berbicara lembut kepadaku, sangat berbeda ketika kami baru bertemu. Aku merasa senang dan nyaman. Tetapi, aku merindukan rumah,aroma masakan yang tercium,cahaya lampu yang terpancar,sahabatku Rika dan Chika yang selalu merangkul pundakku,dan ibu yang selalu menyambutku dengan senyuman. Apa aku bisa pulang? Dalam hati gadis itu sambil memandang langit dengan penuh harapan.
Tak jauh dari jarak Yona berdiri, terlihat Rin bersama gadis-gadis lain yang terlihat begitu sibuk.
"Waah sejuk sekali..'' ucap Yona sambil merenggangkan tangannya ke atas dan menikmati udara pagi yang segar.
Di pinggir sungai, Rin bersama gadis-gadis lain sedang melakukan kegiatan mereka, seperti mencuci, menyapu, dan juga mempersiapkan makanan.
"Hai Yona!'' Gadis ceria itu melambaikan tangannya ke arah Yona.
"Hai. '' Yona menyapanya kembali dengan tersenyum.
Diikuti oleh sambutan-sambutan hangat yang diberikan teman-teman Rin yang ramah itu. Mereka semua mengobrol dan menjadi akrab satu sama lain. Yona merasa senang bisa berteman dengan mereka semua. Gadis itu diajarkan satu per satu kegiatan-kegiatan dan tempat-tempat yang berada di Suku Akari. Memang Yona merasa canggung karena dia berada pada tempat yang berbeda dari jamannya, tetapi ia tetap harus berusaha menjalani kehidupannya dengan baik.
"Sepertinya kau bisa berteman dengan baik.'' ucap Haru yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
Mereka yang ada di tempat itu langsung berdiri dan memberi salam kepada tuan mereka, terkecuali Yona. Dia hanya menatap Haru sambil menoleh ke arah kiri dan kanan karena bingung kenapa mereka semua harus memberi salam. Lalu Rin langsung menarik kerah belakang baju gadis itu dan membungkukkan tubuh Yona agar memberi salam. Yona memang terkejut.
Kenapa harus memberi salam pada pria menyebalkan itu? Batin Yona.
Haru hanya tersenyum lalu membalikkan badannya dan melanjutkan perjalanannya.
"Hei apa yang kau lakukan? Kenapa tidak memberi hormat pada ketua? Bagaimana jika dia marah dan membunuhmu '' ucap Rin dengan panik dan khawatir.
"Dia itu adalah siluman rubah terkuat sekaligus terkejam, bahkan ia segan membunuh orang yang dianggap menghalanginya.'' sambung Rin memberitahukan Yona diikuti dengan anggukan teman-teman yang lain.
"Aku tak tahu kalau ia sekejam itu. Apa kau mau menceritakan kisah tentang nya, Rin?'' Pinta Yona pada gadis itu.
"Tentu! Teman-teman, aku akan mengajak Yona jalan-jalan sebentar ya. Kalian lanjutkan dulu pekerjaannya. " ucap Rin pada teman-temannya, kemudian mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana kalau kita duduk di bawah pohon besar itu? " tanya Rin pada Yona.
"Tentu.'' jawab Yona.
Mereka berdua duduk di bawah pohon besar dan juga tinggi dengan dedaunan yang rimbun dan angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat suasana menjadi teduh dan nyaman.
"Jadi, apa yang ingin kau tahu?'' Ucap Rin memulai percakapan.
"Mungkin apa saja yang ingin kamu ceritakan.'' jawab Yona dengan santai.
"Mulai dari mana ya, mungkin dari masa lalunya.'' pikir Rin.
Lalu gadis itu mulai menceritakan masa lalu Haru sebelum memimpin Suku Akari ini.
Haru meupakan makhluk setengah siluman. Ayahnya adalah seorang siluman rubah bernama Leo dan juga siluman yang terkuat pada saat itu. Siluman itu sangat ditakuti semua orang, karena dia sangat kuat dan kejam. Namun, saat Leo menyerang sekelompok pasukan yang kuat, dia terluka parah dan melarikan diri ke dalam hutan. Di saat itu, dia bertemu dengan seorang wanita bernama Euna, dia adalah putri dari Kerajaan Utara. Ia adalah ibunya Haru. Wanita itu yang menyelamatkan dam merawat Leo pada saat terluka. Setelah sekian lama, mereka saling jatuh cinta. Lalu Leo menikahi gadis manusia itu. Dan memiliki anak, yaitu Haru.
Tetapi, Haru mewariskan setengah darah siluman dan setengah darah manusia. Sehingga dia menjadi setengah siluman dan tidak di terima di lingkungan manapun.
"Memang kenapa dengan makhluk setengah siluman? Kenapa keberadaannya tidak diterima?'' Yona menyela pembicaraan.
"Tentu saja tidak diterima, bagi manusia mereka menganggap siluman sebagai makhluk berbahaya. Sehingga mereka tidak ingin berdekatan dengan manusia. Sedangkan bagi para siluman sepenuhnya, mereka menganggap makhluk setengah siluman sebagai makhluk yang lemah.'' Rin menjelaskannya.
"Maka dari itu, ia berlatih bertarung menggunakan pedang dan panah terus menerus, sehingga dia menjadi sangat kuat seperti sekarang.'' sambung Rin.
"Pantas saja sifatnya begitu kejam dan sangat dingin'' kata Yona.
"Hahaa, dia memang seperti itu. Tetapi sebelum bertemu kau, Yona. Dia lebih dingin dan sangat angkuh. Tetapi sekarang, seperti yang kau lihat, dia berubah menjadi lembut dan selalu memperhatikanmu. Sepertinya dia menyukaimu'' ucap Rin menggoda Yona.
"Haah? Mana mungkin? Dia saja setiap hari aelalu membuatku darah tinggi.'' jawab Yona dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rin hanya tertawa dengan kelakuan Yona yang manis itu.
"Matahari sudah mulai naik, ayo kita kembali.'' ajak Rin pada gadis itu.
"Hmm ayo.'' jawab Yona.
Kemudian mereka berdua kembali ke goa, tempat tinggal suku Akari.
Pantas saja dia terlihat begitu sedih, murung, dan dingin. Ternyata dia memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan. Pikir Yona selama perjalanan.
Ketika sampai, semua orang melakukan rutinitas seperti biasa, seperti memancing dan juga berburu juga kebiasaan untuk laki-laki.
Apa yang harus kulakukan? Aku harus kembali ke rumahku.
Apa aku ceritakan pada Haru yang sebenarmya? Aku tak bisa hanya santai-santai di sini . Yona mencoba berpikir lalu dia melihat Haru yang sedang berdiri dan Yona menyapanya.
"Hai'' gadis itu menyapa haru dengan tersenyum.
"Sedang sibuk?'' Sambung Yona.
"Tidak juga'' jawab singkat Haru sambil menoleh ke arah Yona.
"Mau pergi jalan-jalan denganku?'' Pinta Yona kepada Haru.
"Tentu, kau tak ingin sarapan dulu? Mereka sudah menyiapkannya'' Tanya Haru.
"Nanti sepulang jalan-jalan. Kalau begitu kau ingin mengajakku kemana? Adakah tempat yang bagus?'' Ucap Yona.
"Tentu saja, ikuti aku.'' jawab Haru dengan tersenyum.
Mereka berjalan bersama, Haru mengajak Yona ke sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Ketika sampai taman itu, Yona sangat kagum pada pemandangan yang di lihat di depan matanya. Langit yang pada saat itu cerah berwarna biru dengan gumpalan awan putih yang membuat cahaya matahari tidak tembus langsung ke tanah sehingga lebih sejuk. Dan bunga berwarna-warni yang baru saja bermekaran.
"Waah indahnya!' Spontan ucap gadis itu.
"Benar kan? Sudah kuduga pasti kau suka.'' kata Haru melihat wajah senang Yona.
Kemudian tiba-tiba suasana menjadi hening. Yona melangkahkan kakinya mendahului Haru. Kedua tangannya diletakkan di belakang dengan mata yang memandang langit. Pakaian dan rambut yang berkibas terlihat sangat indah. Haru bingung dengan perubahan tingkah gadis itu.
"Sebenarnya aku merahasiakan sesuatu darimu.'' gadis itu membuka kata tanpa melihat ke arah Haru.
"Apa maksudmu?'' Tanya Haru yang tidak mengerti dengan apa yang Yona katakan.
"Bagaimana jika aku menghilang atau lenyap dari dunia ini?'' Kata Yona dengan sedikit candaannya.
"Jika ada sesuatu, katakan saja padaku. Aku akan menerima apapun itu. Kumohon, jangan tinggalkan aku, Yona.'' sambung Haru dengan wajah yang sedih, lalu ia melangkahkan kakinya mendekati Yona dan meraih tangan gadis itu.
Yona yang terkejut dan langsung menoleh ke arah belakang yang sudah ada Haru tepat di depannya. Dia tak tahu kalau Haru menganggap dirinya begitu penting.
"Ini pertama kalinya kau memanggil namaku.'' ucap gadis itu dengan tersenyum senang dengan wajah yang penuh kesedihan.
"Jika kau seperti ini, aku tak akan mengerti.'' kata haru sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Yona. Pria itu langsung memeluk erat tubuh Yona.
Ada apa denganku? Rasanya aku tak mau kehilangannya. Apa aku jatuh cinta padanya? . Batin Haru yang sedang memeluk Yona.
Angin yang berhembus kencang membuat dedaunan berjatuhan, seperti musim gugur. Lalu setelah tenang, mereka berdua duduk pada rerumputan dengan menikmati pemandangan.
Kini Yona tidak takut dan ragu untuk memberitahukan tentang kehidupan sebenarnya kepada Haru. Lalu gadis itu menceritakan semua yang terjadi bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini.
"Jadi kau keluar dari sumur tua yang ada di tengah hutan itu?'' Kata Haru setelah mendengar yang Yona ceritakan.
"Benar, saat itu juga aku baru bertemu denganmu. Si siluman rubah dengan pakaian kuno yang kejam itu.'' ucap Yona sambil sedikit menghibur Haru.
"Dasar, kau juga memakai pakaian yang mencolok saat itu kan?'' Haru kembali menggoda Yona dengan menyelintik dahi gadis itu.
Mereka mengingat-ingat saat pertama kali mereka bertemu, hingga mereka akrab saat ini.
"Jadi aku ingin kau membantuku menemukan cara agar aku bisa kembali.'' kata gadis itu.
Wajah pria itu menjadi muram. Sebenarnya, itu sudah menjadi konsekuensi sebelumnya. Seorang gadis yang secara misterius datang secara tiba-tiba, setelah membuatku nyaman juga akan menghilang secara seketika. Pikir Haru saat itu.
"Baiklah, aku akan membantumu mencari jalan keluarnya'' ucap Haru tanpa ekspresi apapun.
"Lebih baik kita kembali, yang lain mungkin khawatir.'' Kata Haru dengan wajah sedihnya itu .
Yona hanya mengikuti yang dia katakan, dan berjalan di belakang Haru.
Ada apa dengannya? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Dia terlihat kesal. Batin Yona di dalam hati.
Ada apa denganku? Kepalaku penuh dengan ribuan kata-kata yang ingin kusampaikan , tapi aku tidak memiliki hak untuk mengatakan padamu. Aku ingin kau tinggal lebih lama lagi di sampingku. Begitu pula yang ada dipikiran Haru.
Yona mengejar langkah Haru, lalu dia menggenggam tangan pria itu dari belakang.
"Jangan membuatku semakin gelisah karena kau mengacuhkanku'' ucap gadis itu dengan wajah cemberut.
"Maafkan aku, tenang saja aku akan selalu berada di sisimu dan melindungimu'' ucap pria itu sambil mengelus kepala Yona.
Mereka berdua berjalan bersama menikmati waktu yang sedang mereka lalui. Kemudian kembali ke goa, tempat mereka mereka.
***
Di pagi hari yang cerah, Yona sedang membantu gadis-gadis lain melakukan rutinitas seperti biasa.
"Yona!'' Pria itu muncul entah dari mana, dan memanggil gadis itu.
Yona bangun dari duduk nya dan berjalan menghampiri Haru.
"Hai!'' Ucap gadis itu.
"Ayo, bergegaslah! " kata lelaki itu.
"Mau pergi kemana?'' Tanya Yona.
"Bukankah kau ingin mencari tempat tinggalmu?'' Ucap Haru dengan sedikit memiringkan kepalanya
"Mungkin jika kita kembali ke dalam hutan di tempat kau muncul, kita akan mendapatkan suatu petunjuk.'' perjelas Haru kepada gadis itu.
"Benarkah? Kau akan membantuku?! Terima kasih.'' Ucap Yona dengan girang.
"Sudahlah, ayo. Cepat persiapkan barang-barang yang akan kau bawa.'' kata Haru sambil berjalan meninggalkan Yona dan menunggunya di luar Goa.
Gadis itu sangat senang mendengar apa yang di katakan Haru. Dia langsung masuk ke dalam dan berkemas merapikan barang-barang yang akan di bawa nya. Tak lama kemudian ia keluar.
"Maaf lama menunggu, apa kau sudah bilang pada yang lain kalau kau akan pergi?'' Tanya gadis itu.
"Sudah, aku hanya bilang tidak pulang beberapa hari.'' Kata pria itu.
Setelah satu jam berjalan mereka sampai pada sumur kering tempat pertama kali gadis itu muncul dan juga mereka bertemu. Lalu gadis itu mencoba masuk ke dalam sumur itu.
"Aku sudah mencoba masuk ke dalam, tapi sepertinya tak ada yang berubah.'' kata gadis itu dengan wajah sedihnya.
'"Jangan khawatir, kita pasti akan menemukan sesuatu agar kau bisa kembali ke rumah.'' ucap Haru menghibur Yona.
Lalu mereka duduk di bawah pohon yang rimbun untuk beristirahat dan berpikir.
"Oh ya Yona, aku memiliki teman bernama Kai. Dia pasti mengetahui beberapa rahasia alam yang tidak diketahui oleh manusia biasa.'' ucap pria itu.
"Apa maksudmu?'' Tanya Yona penasaran.
"Seperti yang lihat sekarang di dunia ini? Banyak hal yang berbeda dari duniamu yang kau ceritakan. Di sini terdapat beberapa makhluk yang memiliki keistimewaan tertentu, seperti yang kau lihat sekarang? Sedangkan Kai adalah manusia tetapi memiliki kemampuan untuk melihat masa depan dan petunjuk rahasia-rahasia di tempat sekitar.'' Haru menjelaskannya kepada Yona.
"Jadi begitu.'' Ucap Yona.
Haru dan Yona pergi menuju ke tempat tinggal Kai yang letaknya tidak jauh dari hutan ini. Di dalam perjalanan mereka berdua pun mengobrol begitu akrab sambil menceritakan kehidupan yang dialami mereka sebelumnya. Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah yang sederhana dengan pemandangan yang sangat luar biasa indahnya itu. Semua terlihat hijau dan asri. Lalu mereka bertemu dengan Kai.
"Hai nona, kau benar-benar cantik. matamu yang bulat dengan bulu mata yang indah, rambut panjang yang harum. Kau seperti bidadari yang jatuh dari surga.'' Ucap pria playboy itu dengan dramatis.
"Hei, kau ingin mati ya?!'' Haru menaikkan alisnya yang kesal dengan kelakuan temannya itu.
"Hahaa ampun Tuan, aku aku hanya bercanda.'' kata si playboy itu ketakutan melihat ekspresi Haru.
Yona hanya tertawa kecil melihat tingkah laku mereka. Mereka dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya, dan menceritakan tujuan mereka kemari. Kai terkejut mendengar kejadian itu.
"Jadi begitu, apakah kau memiliki suatu perubahan tertentu?'' Tanya Kai pada Yona.
"Sepertinya tidak.'' Jawab gadis itu singkat.
Lalu Kai menceritakan yang terjadi sesuai dengan analisis dan perkiraan yang ia ketahui. "Sebenarnya Yona, kau memiliki keistimewaan, yaitu di dalam tubuhmu, kau memiliki kekuatan spiritual yang tinggi, sehingga kau bisa melewati waktu atau membuka pintu waktu yang menghubungkan antara dunia modern tempatmu tinggal dan dunia era kini yaitu tempat yang sekarang kau datangi.'' Perjelas Kai dengan serius.
"Tapi bagaimana mungkin? Aku ini hanya gadis biasa, tidak memiliki keunggulan tertentu..'' ucap Yona tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Tapi, apa aku bisa kembali ke tempat asalku?'' Tanya Yona yang kebingungan.
"Kalau tentang itu, aku tak tahu. Hanya kau sendiri yang bisa melakukannya. Kau harus menemukan kekuatanmu untuk membuka kembali dimensi waktu itu.''
"Tenanglah Yona, kita akan menemukannya bersama.'' kata Haru sambil menepuk pundak gadis itu.
Lalu mereka berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Kai. Namun, saat Yona menunggu Haru di luar,
"Haru! Ada suatu hal penting yang ingin kuberitahu tentang Yona.'' Kata Kai dengan wajah yang gugup dan kebingungan.
"Ada apa?'' Tanya Haru penasaran.
"Apa kau masih ingat dengan Misa?'' Tanya Kai pada Haru.
Seketika jantung Haru berdebar dengan keras
"Yona kemungkinan adalah reingkarnasi dari Misa.'' Kata Kai dengan wajah serius.
"Dulu ia sering sekali mengunjungiku untuk memeriksa dan melatih kekuatan spiritualnya. Tetapi ketika aku memeriksa Yona, kehangatan dan aura yang terpancar dari tubuh gadis itu sama seperti milik Misa. Ada kemungkinan bahwa sebelum meninggal, ia memiliki keinginan yang besar untuk kembali dan hidup lagi sehingga sebagian jiwanya masuk pada tubuh Yona dan melewati dimensi waktu.'' Kai menjelaskannya dengan rinci yang ia ketahui semua pada Haru.
"Itu tidak mungkin,'' ucap pria itu sambil mengacak rambutnya karena tidak percaya dengan yang terjadi.
"Tenanglah, itu hanya kemungkinan. Mungkin kau bisa melatihnya agar dia lebih memahami kekuatannya lagi, lebih baik kau kembali dan temui dia, gadis itu pasti khawatir menunggumu lama.'' kata Kai sambil menepuk bahu Haru. Lalu Haru pergi berjalan keluar menemui Yona dengan pikirannya yang sedang kacau.
Sepertinya kau akan dihantui oleh rasa bersalahmu itu lagi, Haru. Ucap pelan Kai yang sedang melihat Haru dan Yona berjalan pergi.
Gadis itu sudah cukup lama berdiri di luar menunggu Haru.
"Hei, kau lama sekali. Liat tubuhku sampai berlumut menunggumu.'' Kata gadis itu yang selalu menggoda dan menghibur Haru.
Tetapi kali ini, pria itu tidak merespon apa-apa. Hanya memandang sekilas ke arah gadis itu dengan tatapan kosong, lalu langsung melanjutkan berjalan. Yona terlihat bingung harus berbuat apa, ia hanya mengikuti langkah Haru dari belakang tanpa ada obrolan apapun.
Hari mulai gelap, matahari mulai tenggelam dan angin mulai bertambah kencang. Setelah berjalan kaki cukup lama, langkah Haru berhenti pada sebuah goa yang tidak terlalu besar dan kecil, diikuti dengan Yona.
"Kita akan beristirahat di sini malam ini, kau masuklah. Aku akan mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh.'' Ucap pria itu sambil berjalan keluar.
"Kalau begitu aku ikut!'' Pinta gadis itu pada Haru.
"Kau diam saja di sini.'' Kata Haru lantang dengan nada suara yang tinggi sambil memandang Yona dengan tatapan yang tajam.
Lalu pria itu meninggalkan Yona di dalam Goa sendirian. Yona terkejut dengan tingkah Haru hari ini. Selama ini, setelah gadis itu bertemu dengannya saat pertama kali, pria itu tidak pernah berkata kasar apalagi membentaknya. Dia selalu menaruh perhatian dan kasih sayang hanya kepada Yona.
"Apa yang terjadi? Apa aku melakukan kesalahan?'' Ucap gadis itu dengan meneteskan air matanya sambil duduk di dalam Goa.
Yona menunggunya sekitar dua jam, tetapi pria itu belum muncul juga hingga langit gelap gulita.
"Sepertinya aku mendengar sesuatu di luar, apa dia sudah kembali?'' Kata gadis itu, lalu dia berjalan keluar untuk menemuinya.
"Selamat datt....'' gadis itu dikejutkan oleh pria yang tak dikenalinya.
"Siapa kau?!'' Tanya Yona yang ketakutan sambil mengambil langkah mundur lalu tiba-tiba ia pingsan.
***
Pantas saja ia terlihat mirip dengannya. Apa yang kulakukan? Kenapa aku harus lari dan menghindari Yona. Dia tak bersalah dan tidak tahu apa-apa bagaimana bisa aku melampiaskan kepadanya. Siaall!
Aku harus kembali untuk meminta maaf dan memberitahukan semuanya kejadian yang sebenarnya. Pikir Haru saat itu, lalu ia melompat dari pohon yang tinggi setelah mimikirkannya sepanjang waktu ini, lalu ia segera pergi ke Goa, tempat gadis yang ia sayangi menunggunya sambil membawa kaya bakar dan bebw buah yang dipetik nya.
Saat sampa di Goa, tiba-tiba pria itu menjatuhkan semua barang-barang yang di bawanya.
Dasar bodoh, dia sekarang milikku! . Itulah kata yang ditinggalkan di depan Goa yang dikhususkan untuk Haru yang dituliskan dengan menggunakan darah. Apakah itu darah milik Yona?
"Lagi-lagi seperti ini, awas saja kau. Aku pasti akan menemukanmu Viken.'' kata Haru dengan sangat emosi dan penuh penyesalan.
Lalu saat itu, di bawah bulan purnama yang sedang bersinar terang, Haru berlari dengan sangat cepat mencari Yona dengan mengikuti aroma khas tubuh nya yang begitu harum dengan indra penciuman tajam yang dimiliki oleh Haru. Tanpa sadar ia juga mengalami perubahan pada tubuhnya. Mata yang berubah menjadi lebih tajam, kuku-kuku yang semakin panjang, dan taringnya yang siap memakan apapun.
Pria itu sampai pada sebuah rumah kecil yang sangat gelap dan kotor. Tanpa ragu pria itu langsung menendang pintu itu sampai roboh.
"Wah, di luar dugaann, ternyata kau cepat juga ya sampai sini. Apalagi dengan wujudmu yang berubah menjadi siluman sempurna ini.''ucap Viken tanpa merasa bersalah.
Viken merupakan manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan khusus tertentu, tetapi dia sangat kejam dan tidak berkemanusiaan sehingga selalu bekerja sama dengan siluman-siluman lain yang ingin bertindak jahat.
"Di mana Yona?',
"Bukankah kau juga seorang pembunuh yang kejam? Padahal aku mengagumimu loh.'' Kata penjahat itu.
"Ku tanya sekali lagi, di mana Yona?!'' Pria itu semakin kesal dan tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Apakah karena dia kau berubah haah?!'' Pria aneh itu tiba-tiba menarik kain yang ada disamping nya dan terdapat Yona sedang diikat kaki dan tangannya tengah terduduk lemas dan kesakitan tanpa kesadaran yang fokus, hanya samar-samar yang terlihatnya.
"Yona!'' Haru spontan mamanggilnya dan datang menghampiri gadis itu, ketika sampai di depan Yona dan memandang wajah Yona yang terlihat ketakutan, tiba-tiba ada hempasan pedang yang menusuk punggung bagian kanan pria itu. Haru langsung terjatuh.
"Har-ruu...!'' Ucap Yona terbata-bata dengan suara yang lirih karena terlalu lemah untuk berbicara, dia hanya bisa memegang tangan kanan Haru dengan erat yang dari tadi memegangnya.
"Rasakan, itu karena kau tak tahu kodratmu sebagai siluman dan hatimu semudah itu ditaklukan oleh seorang wanita manusia!!'' Kata Viken yang merasa senang telah membunuh Haru, siluman rubah terkuat.
"Hahahaaa....'' tiba-tiba terdengar suara tawa yang begitu keras yang tak lain adalah suara Haru.
Lalu siluman itu bangkit dengan darah yang mengalir tanpa merasakan kesakitan sedikit pun. Kemudian ia mengeluarkan cakarnya yang setajam pedang itu dan melompat tinggi dengan cepat sampai tak terlihat okeh pandangan mata dan ia berdiri tepat berada di depan pandangan Viken. Manusia itu terkejut dan terjatuh ke arah belakang, Haru pun tanpa ragu mencakar dengan kekuatannya hingga tewas. Seketika dari tubuh itu, keluar berbagai macam siluman yang bekerja sama dengan tubuh Viken, lalu tubuh itu pun lenyap menjadi debu di udara.
Setelah menyelesaikan masalah Viken, Haru langsung menghampiri Yona walaupun dengan setengah kesadaran sebagai diri manusianya.
"Hmm..'' jawab Yona dengan tenang dan kembali pingsan.
Lalu Haru segera mengangkat tubuh Yona terlunglai lemah, lalu membawanya pergi dari rumah itu ke tempat yang aman.
***
Fajar telah tiba, matahari mulai terbit kembali. Mereka kembali ke dqlam Goa sebelumnya. Yona perlahan mulai membuka matanya di dalam pangkuan pria itu.
Kata pertama yang dikeluarkan saat melihat gadis yang ia sayangi membuka matanya adalah,
"Maafkan aku, ini salahku. Andaikaikan pada saat itu aku berada di sisimu pasti kamu tidak akan mengalami ini.'' Satu tetes air mata yang penuh dengan penyesalan jatuh pada pipi kanan Yona.
"Aku senang kau datang menyelamatkanku, terima kasih. " ucap gadis sambil memegang pipi haru yang terlihat begitu sedih, Haru pun membalas tersenyum.
"Jadi, semalam apa kau berubah menjadi siluman sepenuhnya?'' Tanya gadis itu.
"Ya, sepertinya kau telah melihatnya. Menakutkan bukan? Bahkan aku tak bisa mengendalikan tubuhku sendiri.'' Kata pria itu.
Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia bangun dari pangkuan Haru,
"Bukankan dulu aku pernah bilang, kalau aku tak takut padamu. Dan aku sangat mempercayaimu.'' Kata Yona tersenyum kembali.
Haru juga kembali tersenyum karena telah menemukan seseorang yang sangat penting dan ia percayai dalam hidupnya. Lalu siluman itu menceritakan bahwa dia adalah makhluk setengah siluman. Dan setiap malam bulan purnama yang terjadi sebulan sekali, ia akan berubah menjadi siluman seutuhnya. Ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri dan tidak merasa bersalah ketila membunuh seseorang. Namun berbeda dengan yang terjadi semalam, mungkin rasa ingin menyelamatkannya lebih besar sehingga pria itu bisa mengingat Yona.
Yona pun mengerti dan merasa senang karena Haru mulai terbuka terhadap diri nya. Sebenarnya gadis itu pernah mendengar kisah hidup tentang Haru sewaktu diceritakan oleh Rin. Kini mereka berdua saling bergantung dan melindungisatu sama lain. Dengan berbagai cerita baik kesenangan atau kesedihan.
Hingga satu bulan berlalu,
Semua berjalan seperti biasanya. Mereka berdua kini hidup dengan menjelajah berbagai tempat untuk menemukan pengalaman dan sesuatu yang baru untuk membantu Yona. Mereka juga mendapatkan dua teman baru selama perjalanan yaitu Riki si siluman pengendali api dan Sasha seorang manusia biasa dengan kemampuan pedang dan senjata lain yang handal. Mereka ikut bergabung dan membantu melakukan perjalanan bersama Yona dan Haru.
Sekarang Yona telah menemukan keistimewaan yang terdapat pada dirinya yang juga terdapat pada seorang wanita hebat bernama Misa. Yaitu kekuatan untuk membasmi siluman-siluman jahat dengan menggunakan busur dan panah yang ditembakkan dengan cepat dan di dalamnya terdapat kekuatan suci pembasmi. Mereka berempat sama-sama memiliki tujuan yang sama, yakni membantu manusia-manusia lain yang lemah.
Di bawah terik matahari dengan alas rerumputan yang hijau, Yona dan Sasha sedang menikmati angin sepoi-sepoi di cuaca yang panas ini sambil mengobrol tentang sekitar.
"Hmm Sasha, apa kau tahu siapa itu Misa?'' Tanya gadis itu penasaran karena masing terbayang-bayang dengan kejadian sebelumnya.
Sebenarnya ketika Haru dipanggil kembali oleh Kai saat itu, ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka, termasuk tentang wanita yang bernama Misa.
Lalu Sasha menceritakan yang diketahuinya bahwa, Misa adalah seorang gadis remaja dengan memiliki kekuatan spiritual manusia yang sangat kuat. Dia sangat cantik dengan bentuk mata yang tajam disertai bulu mata yang lentik, rambut panjangnya yang selalu diikat kebelakang membuatnya menjadi disukai orang-orang. Tetapi, dia sangat membenci siluman karena keluarganya telah dibunuh sehingga membuat dendam di dalam hatinya. Namun, saat mulai bertemu dengan Haru, semakin lama ia semakin berubah. Bahkan mulai jatuh cinta begitu pula yang dirasakan Haru.
Namun, takdir berkata lain. Misa menghilang tanpa jejak, seperti telah lenyap dalam kehidupan ini. Orang-orang beranggapan bahwa Misa telah tewas oleh siluman. Sejak saat itu, Haru yang selalu bersikap lembut, kini telah berubah menjadi siluman yang kejam.
"Tetapi, sepertinya kini tidak lagi setelah bertemu dengan kau, Yona.'' Kata Sasha dengan tersenyum pada Yona.
Terkadang tidak mengetahui kebenaran, terasa lebih baik. Dalam pikiran Yona walau tetap tersenyum.
***
Burung-burung malam mulai beterbangan di langit menandakan hari mulai malam.
Saat itu juga, benih cinta mulai tertanam diantara Haru dan Yona, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sampai waktu itu tiba...
"Haru! Cepat bunuh dengan pedangmu!'' Teriak Yona yang sedang memanah siluman yang muncul.
Lalu Haru menyayat tubuh siluman itu dan membelahnya menjadi dua.
Pertarungan sengit itu selesai. Mereka berdua duduk di bawah pohon yang rindang melihat senja saat itu. Yona yang kelelahan menyandarkan tubuhnya pada bahu Haru yang berada di sampingnya.
"Terima kasih untuk segalanya.'' Ucap gadis itu dengan memejamkan matanya pada pria yang disampingnya.
"Aku mencintaimu.'' Sambung ucap gadis itu lirih.
Seketika hening sesaat, waktu terasa berhenti.
"Yona?'' Haru terlihat terkejut mendengar kata yang dikeluarkan Yona, sehingga tak tahu harus menanggapi apa.
Gadis itu membuka matanya, dan berpindah duduk menjadi di depan hadapan Haru. Lalu mengulangi ucapannya dengan mata yang berkunang dan air mata yang berlinang.
Lalu Haru langsung menarik tangan Yona yang berada di depannya dan memeluknya.
"Aku juga mencintaimu.'' Balas pria itu.
Yona sangat senang mendengar itu dari Haru. Dia pun menangis tersedu-sedu di dalam pelukan yang hangat itu. Dia bahagia karena ternyata selama ini cinta yang ia rasa terbalaskan. Mereka menikmati waktu berdua seperti orang yang sedang berkencan di bawah bulan dan kunang-kunang.
Keesokan paginya, mereka menjalani kegiatan seperti biasa. Yona dan Sasha membereskan rumah lalu Haru dan Riki pergi ke dalam hutan hutan mencari kayu bakar dan bahan makanan. Mereka semua sangat harmonis dan bahagia menjalani kehidupan sekarang.
Setelah beberapa saat Haru dan Riki kembali, mereka menyiapkan kayu bakar untuk memasak makan pagi. Namun ketika Yona sedang berjalan dan akan menyambut kedatangan mereka berdua, tiba-tiba ia berhenti berjalan, terjatuh lalu pingsan dan menghilang di tempat itu. Riki,Sasha dan juga Haru berlari cemas dengan apa yang dilihat dan mencari gerangan gadis itu. Walaupun Haru dan teman-temannya telah mengetahui rahasia dari Yona.
***
Kegelapan,kesunyian, dan ketakutan itulah yang sedang ia rasakan sekarang.
Ada apa ini? Tubuhku tidak bisa bergerak, bahkan suaraku tidak mau keluar? Batin gadis itu.
Akhirnya kau sadar, sudah saatnya kau kembali di tempat yang seharusnya kau berada. Semua yang terjadi akan dianggap mimpi olehmu saat kau sadar. Aku akan mengambil ingatanmu saat ini. Selamat tinggal.. Begitulah suara misterius itu muncul dan juga dan juga menghilang.
Tidak! Aku tidak ingin kembali melupakan ini! Kumohon bawalah aku pada mimpiku lagi! Sekali lagi saja aku ingin bertemu dengan Haru!'' Itulah yang Yona rasakan di hatinya, namun tidak tersampaikan. Hanya tetesan air mata saja yang dapat keluar.
Lalu muncul setitik cahaya yang semakin mendekat lalu menyinari waktu saat itu. Rasanya seperti potongan-potongan memori yang hilang, bagaikan seseorang yang baru dilahirkan kembali. Semua kenangan yang baru ia dapatkan semuanya sirna.
***
"Kring... kriingg....'' jam beker berbunyi keras cukup lama.
"Sayang bangun, ayo sarapan!'' Ucap ibu penyayang itu
"Hmm..?'' Gadis itu setengah sadar.
"Sudah pukul tujuh kurangg?!'' Ucap gadis itu dengan melihat ke arah jam. Gadis itu langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri dan berkemas untuk berangkat ke sekolah seperti biasa.
"Ibwu, akwu berrangkwaat!'' Kata gadis itu dengan roti yang menyumpal pada mulutnya lalu berlari keluar menuju ke sekolah.
"Hati-hati'' ucap ibunya.
"Hai Yona!'' Suara bersamaan dua sahabat Yona dan mengajaknya pergi ke sekolah bersama.
Hari, bulan berjalan dengan cepat. Tak terasa ujian nasional telah dilewati dan sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu serta paling mendebarkan. Para orang tua siswa datang ke sekolah untuk mengambil hasil kelulusan.
"Akhirnya kita bertiga berhasil!'' Ucap Chika meresa senang sambil merangkul pundak dua sahabatnya itu.
Diikuti oleh anggukan oleh Yona dan Rika.
Kini mereka telah lulus dari sekolah SMA nya dan bersiap untuk memasuki kehidupan yang baru.
***
Lima tahun kemudian,
"Bu, maaf mengganggu. Saya telah menyelesaikan tugas yang diberikan dan diletakkan di meja ibu.'' Ucap seorang murid perempuan SMA pada Yona.
"Terima kasih.'' Ucap Yona dengan tersenyum pada muridnya. Lalu siswa itu pergi bersama temannya.
"Banyak hal yang telah berubah.." ucap gadis yang telah tumbuh dewasa itu sambil memandang langit.
Yona telah menyelesaikan kuliah di perguruan negeri ternama di Yogyakarta selama empat tahun. Dia mengambil jurusan pendidikan kemudian mengajar pada sekolah Pelita Harapan di Jakarta. Ya, itu adalah sekolah SMA Yona.
Setelah gadis itu selesai mengajar, sekitar pukul dua siang ia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki karena tempat itu tak jauh dari rumah.
"Hari ini anginnya kencang sekali, jalanan juga lumayan sepi.'' Ucap gadis itu dengan rambut yang terus berkibas.
Saat ia melewati gang kecil, dari dalam tempat tersebut, terdapat kucing putih yang terus mengeong duduk di rerumputan. Yona memasuki gang itu karena ingin melihat keadaan kucing yang ia temukan di dalam sana. Lalu ia berjongkok di dekat kucing itu kemudian mengelus bulu kucing yang lembut. Gadis itu dari kecil memang sangat menyukai kucing.
Setelah beberapa menit ia kemudian berdiri dan memperhatikan tempat itu. Sesaat suasana yang dirasakan berubah.
"Sepertinya dulu aku pernah datang kemari.'' Kata Yona sambil berpikir.
Yona berjalan menelusuri tempat itu. Begitulah Yona, gadis pemberani yang memiliki rasa penasaran yang tinggi. Yona dikejutkan dengan sebuah rumah tua yang ada di sana, lalu ia masuk ke dalam rumah itu.
Ya, kejadian ini kembali terulang lagi.
Jleb! Tiba-tiba Yona merasakan sangat kesakitan pada dadanya, kepala yang pusing dan tubuh yang langsung lemas. Ia pun langsung duduk di bawah menahan rasa sakitnya sementara. Tiba-tiba dari arah sumur yang terlihat di depan mata Yona memancarkan cahaya yang sangat terang seperti ada sesuatu yang muncul.
Tanpa sadar air mata sudah membasahi kedua pipi Yona. Semua memori dan kenangan-kenangan yang telah hilang selama ini tiba-tiba masuk ke dalam kepala gadis itu. Muncul sesosok pria dengan pakaian tradisional dan wujud yang berbeda dari manusia muncul.
"Haru, Haru..!'' Spontan gadis itu berteriak memanggil nama seseorang yang ada di depannya.
Haru langsung lompat dari sumur lalu menghampiri Yona dan langsung memeluknya dengan erat.
"Setelah sekian lama, bagaimana kabarmu?'' Kata pembuka yang diucapkan oleh pria itu.
Gadis itu hanya bisa menangis karena selama ini kepingan dirinya yang telah lama hilang dan terasa hampa sudah berada dalam pelukannya.
Aku mencintaimu.
~End~