Ada hal-hal dalam hidupku yang sering kali terlihat berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi.
Kata orang-orang, aku dan Billy adalah pasangan paling romantis di sekolah.
Senyum-senyum dan tatapan sayang di koridor, sentuhan kecil di antara pelajaran, dan bagaimana aku menghabiskan waktu menatap wajahnya di kantin.
Orang-orang mengira kami sempurna bersama. Aku bukan tipe yang biasa mendapat perhatian seperti ini.
Aku hanyalah Kirei, gadis biasa yang menjalani kehidupan sehari-hari di antara buku pelajaran dan tugas rumah.
Tidak ada yang istimewa tentangku, dan Billy, dia adalah ketua OSIS yang berbicara di depan umum dengan penuh percaya diri.
Namun, ada sesuatu yang lebih dalam dari gambaran yang terlihat oleh mata semua orang.
"Kamu tahu, Kirei, aku suka cara matahari terbenam di matamu," bisik Billy sambil menyentuh tanganku dengan lembut.
Aku hanya bisa tersenyum malu-malu sambil merasakan pipiku memanas.
"Apa kamu benar-benar harus berkata-kata manis seperti itu?" tanyaku dengan sedikit canda.
"Kau tahu, kau membuatku sulit berkonsentrasi di pelajaran dengan semua kalimat-kalimat romantismu," lanjutku sambil tersenyum ke arah Billy.
Billy tertawa lembut. "Maaf, tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya terpikat oleh senyummu."
Aku menggelengkan kepala dengan penuh kegembiraan, merasakan detak jantungku semakin cepat.
Kami duduk di bawah pohon rindang, cahaya senja yang lembut menyentuh wajah kami.
"Kamu yakin kita akan baik-baik saja?" tanyaku dengan suara lembut, setelah beberapa saat hening.
Billy meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku ada di sini untukmu, Kirei. Kita akan menghadapinya bersama-sama."
Kami saling menatap dengan penuh keyakinan. Dalam mata Billy, aku melihat lebih dari sekedar pria yang percaya diri.
Aku melihat seseorang yang peduli, yang mau mendengarkan, dan yang tahu cara menghibur.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyuman dan tatapan sayang di koridor, kehidupan kami berdua adalah apa yang bisa kuperkirakan, rumit.
Aku selalu memasang senyum bahagia ketika bersamanya di depan teman-teman kami.
Tapi ketika kami berdua sendirian, senyum itu kadang hilang dari wajahku.
"Kamu benar-benar pikir itu baju yang cocok untukmu?" tanyanya dengan nada meremehkan saat aku mengenakan pakaian untuk pesta sekolah.
Aku merasa jantungku berdebar keras. Aku tidak tahu apa yang salah dengan pakaianku, tapi Billy tampaknya selalu menemukan cara untuk merendahkanku.
"Kamu harus sadar kalau kamu tuh pacar aku! Berpakaian seperti ini? Itu terlihat seperti orang yang belum pernah datang ke pesta, tau gak?! Ganti dengan yang lebih terbuka!" Dia memarahiku bahkan sampai menunjuk-nunjuk mukaku dengan santainya.
"Dengan kamu bersikap seperti itu, bukankah itu termasuk pelecehan? Lagipula, siapa yang memperbolehkan bagian tubuh sensitif pacarnya dilihat oleh orang lain?!" batinku kesal.
Aku menggelengkan kepalaku dengan ragu, itu tanda bahwa aku menolaknya.
Namun, seketika tangan Billy yang cukup besar itu melayang ke arah pipiku. Penglihatanku ikut menjadi kabur bersamaan dengan pukulan itu mengenai pipiku.
Aku tidak bisa menahan tamparan itu, bahkan hingga beberapa detik berlalu aku baru sadar kalau aku sudah terjatuh ke lantai.
Aku hanya bisa menangis, memendam, dan menerima perlakuan Billy terhadapku.
Kamu tahu, ada saat-saat ketika aku bertanya pada diriku sendiri mengapa aku tetap bertahan.
Mengapa aku membiarkan Billy memperlakukan aku dengan cara yang tidak pantas?
Mengapa aku tidak melangkah pergi atau menuntut perlakuan yang lebih baik?
Ada satu alasan yang aku simpan sendiri, tersembunyi dalam lipatan hatiku. Dan itulah kenapa aku masih ada di sini, meskipun aku tahu itu tidak benar.
Hutang.
Pada kenyataannya, hutang itu lebih besar daripada yang aku bayangkan.
Hutang yang seharusnya dibayarkan oleh keluargaku sekarang menggantung di atas kepala kami seperti pedang Damocles yang siap untuk jatuh.
Kekayaan dan kebanggaan keluargaku dipertaruhkan dalam permainan yang aku tidak pernah ingin menjadi bagian darinya.
Dia datang pada kami dengan tawaran yang terlalu sulit untuk ditolak.
Tawaran yang akan membantu keluargaku terbebas dari belenggu hutang, tetapi pada harga yang sangat tinggi.
Aku tidak tahu rencananya sejak awal. Aku hanya ingin percaya bahwa dia mungkin bisa merubah keadaannya, tapi nyatanya, aku adalah "bayaran" untuk melunaskan hutang itu.
Setiap kali dia memperlakukanku dengan kasar, itu adalah pengingat keras akan posisiku yang rapuh.
Dia memperlakukan aku seolah aku adalah miliknya, karena di dunianya, aku memang seperti itu.
Aku bukan lagi "Kirei" yang ingin mengejar mimpiku. Aku hanya menjadi sepotong barang yang harus dijalani sebagaimana mestinya.
Semua perasaan itu memuncak ketika festival sekolah tiba.
Festival sekolah adalah salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu dalam setiap tahun akademik.
Tetapi tahun ini, ada sesuatu yang berbeda. Tidak seperti biasanya, perasaan gugup dan ketidaknyamanan mendalam memenuhi dadaku sejak hari pertama.
Ketika malam festival akhirnya tiba, aku berusaha untuk menyembunyikan perasaanku di balik senyuman palsu.
Aku berjalan melalui kerumunan, mencoba untuk tidak menunjukkan bahwa setiap langkah yang aku ambil penuh dengan keragu-raguan.
Namun, seiring semakin malam berjalan, perasaan tak enak semakin menjadi.
Saat aku berjalan sendirian melalui koridor yang sunyi, Billy tiba-tiba muncul di depanku.
Tatapannya yang tajam membuat jantungku berdegup lebih cepat.
"Kirei," katanya dengan suara rendah, menciptakan perasaan ketidaknyamanan di dalam diriku.
Sebelum aku bisa mengatakan apapun, dia menarik tangan kananku dan membawaku dengan paksa ke sebuah ruangan kelas yang kosong. Aku merasakan tanganku bergetar dan perutku terasa mual.
Dan yang terjadi selanjutnya, adalah hal yang benar-benar tidak ingin aku ingat.
Dia memperlakukanku layaknya sebuah mainan, tentu saja aku berusaha menolaknya, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Hal yang kata orang menyenangkan, itu tidaklah benar.
Itu benar-benar sakit, rasanya seperti pisau yang menusuk-nusuk tubuhku.
Disaat-saat itulah aku menatap Billy memang bukanlah orang yang aku kenal.
Dia orang yang jahat.
Kejadian itu berlangsung cukup lama sebelum akhirnya aku ditinggal oleh Billy, terkapar di ruangan itu sendirian.
Aku menatap sekeliling yang gelap, mendengar suara murid-murid bersuka cita menikmati festival dilapangan.
Aku sempat berharap ada orang yang menemukanku disini, namun seperti yang kukatakan, itu hanyalah 'harapan'.
Dengan sisa tenagaku, aku berdiri menuju jendela terdekat diruangan itu.
Aku menatap mereka yang masih menikmati festival tersebut.
"Enak ya...," gumamku.
Dan disaat itulah aku berpikir,
"Kurasa, pergi adalah pilihan yang tepat."