symphony of my heart
Saat itu Mendung membungkus kota sejak pagi, dan akhirnya hujan berhasil turun di sertai suara petir yang bergemuruh. Guru sejarah kami sedang asik menjelaskan materi pembelajaran, sedangkan Aku tidak memedulikan penjelasannya dan memilih sibuk memainkan bolpoin yang ada di tanganku. Selain pelajaran sejarah, aku juga membenci hujan, sangat benci.
Udara dingin saat hujan turun, menusuk tubuh. Jujur saja, aku tidak menyukai kelembapan dan suara hujan yang begitu berisik. Selain hal itu, alasan aku membenci saat hujan turun adalah aku dapat mendengar isi hati orang lain. Dimana mereka pasti menganggap tidak ada yang mendengar isi hati mereka selain mereka sendiri.
Bel lonceng bergema nyaring seantero sekolah, suara Bagas selaku ketua kelasku terdengar semangat memberi ucapan terimakasih terhadap guru sejarah setelah mengajar. Bu Ani membalas salam dari kami kemudian berjalan keluar kelas.
Suara berisik terdengar setelah guru keluar dari kelas. Para siswa-siswi di kelasku sibuk merapikan barang bawaannya kemudian bergegas pulang.
"Bil, pulang bareng yuk!" Ucap Nilam yang merupakan satu-satunya teman yang ku punya waktu itu.
Aku menggeleng lalu memakai earphone ke telinga. Aku tahu gadis di sebelahku ini sedang bersumpah serapah di dalam hati. Aku juga mengetahui kalau dia suka mengolok ku di belakang, tapi aku memaklumi kelakuannya itu, karena pada dasarnya sifatku memang terkesan kurang ajar.
Aku menunggu yang lainnya keluar terlebih dahulu, malas berdesak-desakan dengan mereka. Setelah sisa aku di kelas, aku beranjak keluar sambil bersenandung kecil. Namun di perjalanan, tiba-tiba mata suciku melihat pemandangan yang menggangu.
Tiga siswa sedang mengeroyok seorang siswa di salah satu gang kecil, cowok itu nampak babak belur, penuh luka. pakaiannya kotor karena terbaring di atas tanah.
"Enak bener hidup lu, apa yang lu mau bisa Lu miliki! Lu tuh dah punya segalanya cuy, jangan egois deh lu!" Teriak salah satu dari mereka.
"Jangan sok tau kau tentangku!" Cowok itu bangkit dan memukul wajah orang di depannya.
Bughh...
Keduanya adu jotos, yeh tontonan gratis nihh.
"Sekali lagi gue liat lu ganggu Kailin, gue gak bakal diam!" Seru salah satu dari mereka sambil memegang erat kerah baju cowok yang sudah tak berdaya itu.
"Aku gak ngapa-ngapain dia, dia aja yang suka nempel ke aku!" Balas cowok itu dengan sengit.
"Tutup mulut Lo brengsek!"
Bughh...
Apaan sih, gak adil banget. Masa 1 lawan 3.
"Woi! Ngapain liat-liat?" Tanya salah seorang diantara mereka dengan nada sangar.
Aku tersentak,segera membuang muka,"gak liat kok!".
Aku melirik mereka sejenak, lalu segera bergegas pergi dari sana sebelum mereka menjadikanku target selanjutnya.
Wajah cowok yang di keroyok tadi rasanya tidak asing. Ah dia anak ketua yayasan sekolah!
Berani banget Mereka memukul anak konglomerat. Setahuku, anak dari ketua yayasan sekolah kita itu adalah orang yang ramah, tapi kenapa tadi dia bersikap begitu yah? Mengapa anak seperti dia memiliki aura yang tidak biasa.
***
"Eh itu kan kak Hito!" Kata Nilam setelah kami berhasil keluar dari kantin.
Aku mengikuti arah tunjuk Nilam pada suatu meja di kantin. Meja itu berisikan Beberapa murid yang sedang bercerita seru, tapi mataku tertuju pada satu siswa di sana. Senior yang pernah kulihat di gang, kak Hito.
"Emang dia kenapa?" Tanyaku sedikit penasaran.
Kami berjalan keluar dari kantin yang di penuhi lautan manusia itu menuju ke taman. Nilam menghentikan langkahnya, aku menatapnya tanpa ekspresi sambil menyeruput es jeruk.
"Wah sejak kapan seorang Nabila penasaran!" Serunya begitu excited.
Nilam berlari kecil menyamai langkahnya denganku, " Namanya itu Kak Hito, senior di sekolah kita. Dia itu orangnya baik banget. Semua orang suka sama dia! Walau dia anaknya pak Arga, tapi dia tetap ramah dengan semua orang!".
Suasana taman kala itu terasa menyejukkan.
"Siapa sih yang gak kenal kak Hito!? Punya wajah tampan dan kepribadian yang mengagumkan. Tambah lagi ramah pada semua orang. " Lanjut Nilam antusias.
Aku hanya mengangguk-angguk sambil menikmati minuman.
"Eh aku mau ketemu Fania dulu yah! Mumpung jam masuk masih lama. Kamu tunggu di sini yah!".
Nilam meninggalkanku, dia berlari menuju ke kelas sahabatnya. Dia memang anak yang terkenal ceria, bertolak belakang denganku.
Aku melirik jam tangan lalu beranjak menuju tempat rahasiaku.
***
Aku memasuki sebuah ruangan di suatu lorong. Sebuah ruang musik yang sudah tidak terpakai. Dimana tempat itu adalah persembunyianku. Sepertinya Nilam saat ini sudah kembali ke taman, Aku tak peduli dengan dia, Toh dia masih punya banyak teman lain untuk di ajak ke taman.
Ruang musik itu jarang lagi di datangi para siswa-siswi, atau bisa di bilang sudah tidak ada yang datang ke sana. Ruangannya bersih, setelah aku rutin membersihkannya dari sebulan yang lalu. Aku berhasil mendapatkan kunci cadangan dari Bu Rara, guru musikku.
Awalnya beliau hanya menyuruhku membersihkan ruang musik yang sudah tidak terpakai itu, ruangan tersebut berada di pojok dan terkesan menyeramkan. Banyak desas-desus yang beredar, bahwa dahulu ada yang bunuh diri di ruangan itu dan banyak pula yang katanya melihat penampakan. Yang benar aja!?
Aku memberanikan diri untuk dapat izin dari guru seni itu, Bu Rara mengizinkan dengan syarat harus menjaga barang yang ada di tempat itu.
Aku bermain gitar, untung saja ruangan ini letaknya jauh dari kelas dan tidak mudah terekspos. Aku memetik senar sambil menutup mata. Tanpa kusadari ternyata ada orang masuk ke ruang itu.
Aku berhenti memainkan alat musik itu, menghela nafas pelan, gerimis mulai turun lagi.
'siapa cewek ini?'
Aku menoleh. Mendapati seseorang yang tengah menatap datar ke arahku.
"Wah siapa sangka ruangan terbengkalai ini jadi bersih dan di jadikan ruang pribadi oleh salah satu siswi" ujar Hito sambil melangkah mendekatiku.
Jarak kami sekitar lima meter. Aku memandang wajahnya, kuakui dia memang tampan. Baru kali ini aku tidak melihat senyuman di wajahnya, biasanya senior itu berbicara dengan Tampang sumringah.
"Eh tunggu, kau cewek yang di gang itu kan?"
Aku mengangguk.
"Hmm, begini.... Aku gak bakal cerita ke orang-orang kalau kakak habis di pukul, jadi jangan lapor aku ke ketua yayasan, aku gak bikin aneh-aneh kok di sini".
Cowok itu terkekeh lalu duduk di kursi. "Perasaan aku gak bilang mau laporin kamu, Toh ruangan ini juga sudah gak di gunain lagi sama sekolah"
Dia menjengkelkan. Itu kesan pertama yang kulihat tentang dia.
"Ngomong-ngomong kamu gak takut kalo setan tiba-tiba muncul? Katanya di sini ada yang pernah bundir loh," katanya sambil menyapu pandang isi ruangan itu.
Aku tidak membalas ucapannya, memilih memperbaiki senar gitarku.
" Yeh, gak sopan banget sih sama yang lebih tua".
Gerimis di luar sudah berhenti. Suara pengumuman tentang rapat antar guru akan di laksanakan. Berarti pelajaran selanjutnya akan kosong. Aku bisa menikmati waktu jam kosong di ruangan, tapi sekarang aku tidak bisa sama sekali bergerak leluasa.
Suara dering telfon dan notifikasi berkali-kali bunyi, tapi cowok di sampingku ini tidak memedulikan ponselnya.
"Sepertinya orang-orang mencari mu" kataku menatapnya yang sedang menopang dagu di atas meja.
Dia melirikku dengan tatapan yang tidak ku pahami. Seandainya hujan turun, aku dapat mendengar apa yang sedang dia pikirkan.
"Kurasa kau punya banyak teman, kau benar-benar idaman sekolah ini" . Kataku asal sambil memperbaiki posisi gitar.
" Hah...Banyak orang yang sok dekat denganku ...aku muak dengan mereka semua" ujar Hito. Nada suaranya terdengar dingin.
'Hih, ini yang dibilang ramah?'
Saat itu aku tau kalau dia memiliki dua kepribadian.
****
"Kamu suka musik yah? Sejak kapan mainnya?".
"Entahlah, sepertinya sejak aku kecil."
" Alat musik apa yang kau suka?" Tanyanya yang sedang duduk di atas meja.
"Hmm, mungkin gitar dan harmonika?"
Sejak hari itu, Hito datang ke ruang seni setiap jam istirahat dan melihatku memainkan gitar.
" Apa menyenangkan?" Tanyanya lagi sambil tiduran.
"Menyenangkan? Mungkin begitu. Tapi... bagiku rasanya seperti sebuah pelampiasan".
Ruangan kembali senyap. Hanya suara coretan pensilku yang terdengar, aku sedang sibuk membuat irama.
"Tapi kenapa kau... Gak punya teman?"
Aku memukul meja. Yang benar saja aku gak punya teman.
"Aku punya teman kok, namanya Nilam." Protes ku tidak terima dengan perkataannya.
"Benarkah? Cewek yang terkadang jalan sama kamu itu?"
Aku mengangguk.
"Tapi waktu itu, aku gak sengaja jalan di dekatnya, dia sedang bercerita tentang mu".
"Apa salahnya dia cerita tentangku?"
"Dia bergosip tentang kau yang suka ileran saat jam pelajaran. Bukankah itu tidak bagus dalam hubungan pertemanan?"
Ah sial. Lagi-lagi cewek itu kembali berulah. Tapi yang bikin aku kesal, cowok di depanku ini sedang tertawa mengejek.
"Tapi bukankah kau ini terlalu cuek? Aku gak tau kau ini pemalu atau pemberani. Hahaha".
Aku tak mempedulikannya yang makin menjadi-jadi. Image-nya benar-benar beda dari yang ku dengar. Aku memilih berdiri, kemudian berjalan keluar.
"Loh, kau mau kemana?"
Huh Kepo banget jadi cowok.
"Mau beli minuman. Kakak mau?"
"Boleh. Minuman soda yah!" Katanya lalu memainkan gitar.
"Tapi... Gue mau tanya sesuatu nih," katanya lagi.
Aku yang hendak keluar dari ruangan itu kembali menoleh.
"Apaan lagi sih?" Tanyaku risih
"Nama kamu siapa yah?"
What? Jadi selama ini dia gak tau namaku? Yang bener aja bang!
Aku berdecak sebal "Nabila. Nabila Fayra!"
Setelah mengucapkan itu, aku keluar meninggalkannya.
****
"Eh lu liat Hito yah?"
Aku menoleh.
Beberapa senior bertanya pada orang yang ia temui di lorong.
"Kak Hito, teman kakak nyariin tuh" aku menutup pintu setelah habis dari luar.
Hito menoleh, meletakkan gitar ke meja lalu mengambil minuman di tanganku.
"Siapa?" Tanyanya dengan raut penasaran.
"Senior yang wak-"
"Lu yakin Hito ada di dalam?" Sebuah suara terdengar dari luar ruangan.
Aku dan Hito saling tatap.
"Gak sih. Tapi belakangan ini gue sering liat dia di sekitar sini" ujar yang lain.
"Jangan-jangan itu setan yang cosplay jadi Hito".
Hito dengan cepat menarik tangan ku lalu kami berdua masuk ke dalam lemari. Lemari itu sempit, jarak di antara kami begitu dekat, Semoga saja dia tidak mendengar suara jantungku yang sudah berdegup kencang.
Brakk...
Pintu di buka kasar oleh dua senior.
"Tuh kan nggak ada siapa-siapa, yang lu liat itu setan bro"
"Perasaan tadi gua denger suaranya"
Aku mendengar derap langkah mereka yang semakin menjauh. Hening seketika.
"Oi gimana? Dah pergi mereka?" Tanya Kak Hito.
Aku mengangkat kepala menatapnya kemudian segera membuka pintu lemari. Menghirup udara banyak-banyak setelah sesak di dalam lemari itu.
"Ah dia kenapa sih?"
Setelah berkata begitu, kak Hito pergi keluar ruangan. Kalau memang niat keluar, kenapa tadi dia malah masuk lemari? Cowok aneh.
****
Aku kadang berpapasan dengannya di koridor, dia berjalan bersama teman-temannya. Tapi saat aku ingin menyapanya, rasanya seperti tidak pantas dan akhirnya aku memilih untuk diam saja.
Rasanya aku sedikit kecewa karena tidak bisa menyapanya. Kami bukan siapa-siapa bagi satu sama lain.
Bagiku kak Hito adalah salah satu temanku berbicara selain Nilam, tapi baginya aku bukanlah apa-apa...
Namun saat aku membuka pintu ruang musik, aku melihatnya yang sedang duduk sambil menatap keluar jendela.
Aku terkejut saat dia menoleh ke arahku, dia sedang menangis. Waktu itu aku tidak tahu, apa yang sedang ada di pikiran seorang remaja berusia 17 tahun, sampai batinnya terlihat lelah begitu.
****
Hubunganku dengan kak Hito semakin dekat. aku mulai mengajari kak Hito memainkan gitar dan memberikannya harmonika kesayanganku sebagai bentuk rasa terima kasih, setelah selama ini mau membantuku menyelesaikan PR yang susah.
"Kamu gak punya teman yah?" Tanya ku penasaran. Hampir setiap hari dia datang ke ruangan seni.
"Gak sopan banget, panggil kakak dong!"
Dia tidak menjawab pertanyaanku.
"Kak Hito yang baik hati, apakah kakak tidak punya teman?" Tanyaku dengan menekan kata 'kakak'.
"Punya sih, tapi ngobrol sama kau lebih menyenangkan".
Yang benar saja? Dia suka sekali bicara begitu.
Sebenarnya aku berniat untuk tidak memedulikannya lagi, tapi setelah Nilam pindah sekolah ke luar kota, aku benar-benar kesepian.
Saat itu teringat jelas, hujan turun begitu deras. Aku dan kak Hito ketiduran di ruang musik dan terbangun setelah mendengar suara petir.
"Ah, aku gak bawa payung" tanganku menyentuh bulir bening yang berjatuhan dari atap gedung.
Hujan benar-benar deras, aku benci dengan suasananya.
'Telat sedikit gak papa kan. Moga aja beliau tidak marah.'
Aku yang sedang mengamati langit kelabu mendengar suara batin kak Hito yang terdengar tidak tenang sama sekali.
"Apa kita terobos saja?" Kak Hito mengeraskan Suaranya agar dapat kudengar di tengah deras hujan saat itu.
"Aku tidak suka hujan!" Batinku protes sambil menatapnya.
Tanpa aba-aba kak Hito menarik lenganku menembus ratusan rintik hujan, aku yang selalu menghindar dari yang namanya hujan akhirnya masuk ke dalam hujan di sore itu.
"Ingatan tentang hujan itu akan lama di kenang, oleh karena itu kau harus menikmati hari ini".
Betul saja, kenangan itu terus tersimpan di memori ku. Seberusaha apapun aku ingin melupakannya, tapi kenangan itu akan terus berputar.
Seluruh tubuhku basah oleh hujan, sepanjang jalan aku tertawa melihat tingkahnya yang melompat di kubangan air.
"Kakak?" Aku membalikkan badan. Seorang laki-laki kecil tengah memandang kami sambil menenteng kantong plastik.
Payung kuningnya terlihat mencolok di pinggir jalan. Dia terus saja menatap Hito dengan wajah penasaran.
"Kakak kenapa basah kuyup?" Tanyanya.
"Habis belanja yah? Pulang yuk Aris!" Kak Hito langsung menarik Aris pergi menjauh. Dia menoleh dan melambai ke arahku.
'ah jadi itu adiknya yah?' aku balas melambai kemudian segera pulang.
****
Sudah seminggu berlalu, saat itu begitu banyak orang yang sibuk bekerja. Festival diadakan di sekolah dengan begitu meriah. Aku yang seorang introvert ini malas bergabung dengan teman sekelas maupun orang lain dan memutuskan untuk menyendiri di ruang musik. Ketika aku membuka kenop pintu, aku mendapati kak Hito di dalamnya.
"Kakak ngapain di sini?" Tanyaku lalu menutup pintu.
Aku mendekat, tatapannya kosong.
"Kakak gak papa?" Tanya ku memegang bahunya pelan.
Dia terkejut. Oh melamun rupanya.
"Ngapain kamu di sini? Gak bantuin orang di luar"
"Lah, Kakak yang ngapain di sini? Bukannya kakak bakal tampil nanti?"
Kak Hito tidak berbicara dia berdiri dan berjalan ke arahku. Mata kami saling bertemu. Wajahnya nampak lelah. Dia membenamkan kepalanya di pundakku.
"Kena-"
"Sebentar!" Dia memotong pertanyaan ku.
Suasana di ruangan begitu sunyi. sedangkan diluar, suara sorakan begitu heboh.
Beberapa menit berlalu, kak Hito mengangkat kepalanya lalu memelukku. Tentu saja aku terkejut.
"Kakak sakit yah?".
"Bil, jangan pergi jauh dariku yah?!" Ucapnya pelan.
Aku mendongak. Tatapannya sendu, bibirnya melengkung, tersenyum tulus.
Aku ikut tersenyum lalu mengacak rambutnya.
"Akhhh aku dah capek-capek rapi-in rambut tau"
"Hahaha, sana... Orang pada nyariin tuh".
Pada saat itu, hubunganku dan kak Hito bukan lagi sekedar teman cerita.
Aku baru tahu waktu itu, ternyata orang tuanya sangat ketat terhadap dia. Saat libur, aku memberanikan diri mengajaknya jalan-jalan.
Dia tertawa di seberang telpon, kemudian menyetujuinya. Kami menghabiskan waktu libur di hari Minggu.
****
Saat itu teringat jelas, waktu ujian akhir sisa tiga bulan. Aku hampir menyelesaikan lagu yang ku buat. Kalau kalian bertanya 'saat itu kak Hito dimana?'
Dia ada di sebelahku, memainkan Harmonika sambil bersenandung kecil.
"Kakak gak siap-siap untuk ujian? Bukannya tryout udah dekat?" Aku meliriknya yang bersenandung sambil menatap keluar jendela.
Dia berhenti bernyanyi. Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah balik bertanya.
"Kalau lulus SMA, nanti kau mau lanjut ke mana?"
Kenapa dia tiba-tiba bertanya begitu? Pikirku saat itu.
"Hmm, entahlah...mungkin jurusan yang di dalamnya ada musik, hehehe"
Dia menatapku lama.
" Oh iya, kakak kan pintar main musik, kenapa kakak gak ambil jurusan seni musik saja? Bukannya kakak lebih suka seni dibanding jurusan hukum yang kakak pilih? Kakak tinggal bujuk ibu kakak, kalau beliau tidak mengizinkan tinggal izin ke ayah kakak saja. Beliau Kan orang yang bijaksana, pasti dia mengerti."
Dia terdiam cukup lama.
Aku melihat tangannya terkepal.
"Menurutmu dia bijaksana?" Tanyanya yang kubalas sebuah anggukan.
"Kakak gak papa?" Tanyaku memastikan.
Dia menggeleng lalu tersenyum.
Akhh akhir-akhir ini hujan sudah tidak turun lagi. Aku yang dulunya membenci hujan kini sangat menantinya.
****
Musim sudah berganti, dan hujan sudah jarang turun, bisa dibilang hanya sesekali saja turunnya.
Aku berjalan di malam hari, setelah pulang dari kerja les piano. Kebetulan saat itu aku melewati rumah kak Hito. Aku menekan tombol dan menelponnya.
Beberapa detik akhirnya terangkat.
"Ada apa Nabila?" Tanyanya di seberang telpon.
Suaranya terdengar serak, mungkin dia baru bangun tidur.
"Kak coba liat di luar jendela". Seruku sambil menatap jendela kamarnya yang berada di lantai dua.
Cahaya lampu jalan remang-remang, aku tidak melihat jelas wajahnya yang melambai ke arahku.
"Kamu habis dari mana? Sampe nyasar di sini". Katanya di seberang telpon.
Aku terkekeh " dari kerja. Oh iya, kakak jangan terlalu keras belajarnya!".
Tanganku sibuk melambai sambil tersenyum, senyuman yang pernah hilang sejak memasuki bangku SMP.
Itu adalah pertemuan terakhir kami selama beberapa Minggu.
****
Saat itu sudah memasuki masa-masa ujian dan kami berdua sudah tidak bertemu lagi selama dua bulan. Dia sudah tidak pernah datang di ruang musik. Aku menelponnya dan dia tidak mengangkatnya. Jahat sekali!
Walaupun aku sengaja menunggunya di depan gerbang, sosok nya tidak pernah muncul di depanku.
Saat pengumuman hasil tryout keluar, aku yang tidak suka keramaian ini, berusaha melewati orang-orang yang sedang melihat nama mereka di mading. Aku mencari nama 'Hito mahesa' dan ketika aku melihat namanya, segera aku mencari sosoknya, tapi dia tidak ku temukan.
****
Hari Selasa. hari itu kami berpapasan di koridor sekolah yang sunyi, orang-orang sedang berkumpul di aula.
"Wah kamu potong rambut? Padahal Rambut panjang lebih cocok" ujarnya.
Kami baru bertemu setelah sekian lama, tapi dia malah bicara hal seperti itu?
"Gerah" jawabku singkat.
Aku tidak bisa menahan diri lalu menarik tangannya ke tempat sepi.
"Kak, hp kakak rusak?" Tanyaku membuka topik.
"Nggak"
"Nomor kakak ganti?"
"Nggak juga".
Aku menghela nafas panjang.
"Kenapa kakak tidak mengangkat telepon ku?. Siswa terpintar Se angkatan tiba-tiba nilai tryout-nya menurun. Orang-orang dan guru juga pada kaget dengan nilai kakak."
"Hah...mereka masih sok peduli lagi dengan urusanku". Gumamnya pelan.
"Padahal kakak dulu pernah bilang jangan menjauh, tapi yang menjauh siapa? Kakak kan!?"
Hening. Tidak ada balasan darinya.
"Kakak tidak main musik lagi yah?"
"Aku sudah berhenti."
Aku meliriknya, "Minggu depan aku bakal ikut audisi, kakak bisa datang bu-. "
"Aku sibuk. Maaf nggak bisa !"
"Hah...baiklah. Kakak sebaiknya relakan saja musik, juga aku"
Ucapku lalu meninggalkannya.
****
Aku menekan tuts piano dengan pelan, sudah sembilan jam aku di ruangan latihan. Audisi tinggal beberapa Minggu lagi, Aku memutuskan untuk tetap mengikutinya.
Hujan di luar sana tidak mengganggu pikiranku. Aku harus tetap fokus, agar dapat di akui oleh papa dan mama.
Kabar tentang kak Hito sudah tidak pernah ku dengar. Katanya dia mengambil jurusan hukum, pilihan yang dia idam-idamkan itu.
Saat semua teman seangkatan-nya masih datang di sekolah untuk melaksanakan ujian praktek, dia tidak pernah datang sama sekali. Waktu itu aku tidak sengaja mendengar guru sejarah bercerita, bahwa kak Hito sedang sibuk mempersiapkan diri masuk ke universitas ternama.
Ponselku bergetar, tanda suatu notifikasi sedang masuk.
Aku tidak memedulikannya, mungkin saja itu hanya notifikasi iklan. Miss Anggia selaku guru les ku menepuk bahu kiri ku.
"Latihannya cukup di sini, Nabila. Kamu boleh pulang" ujarnya sambil memberiku air.
Aku mengangguk. Berjalan mengambil tas dan ponselku.
Ada notifikasi pesan dari kak Hito. Ketika aku hendak membukanya, Miss Anggia memanggil.
"Ada apa Miss?" Aku berjalan mendekat.
"Ah, kamu akhir-akhir ini terlihat kurang fokus yah! Kalau kamu ada masalah, selesaikanlah cepat."
Aku mengangguk lalu keluar dari ruangan itu. Setiap pintu dari lorong bangunan itu, mengeluarkan suara alunan musik yang indah.
Aku keluar dari bangunan besar itu, menatap langit yang sedang bersedih.
Aku membuka pesan dari kak Hito.
'si Hito menghapus pesan ini'
Dia salah kirim? yang kuliat sepintas dari pesan itu hanya kata 'hujan'.
Aku memakai payung dan memutuskan menembus hujan yang deras. Memutuskan membuang gengsi dan menelponnya.
Dua...tiga...empat. Empat kali aku menghubunginya tapi tidak ada balasan.
Aku menghela napas. Menurunkan payungku, menatap langit yang menghitam. Kemudian memutuskan berjalan di dalam hujan dengan suara batin pejalan kaki di sekitarku yang bergema ditelinga.
Dia yang membuatku tersenyum di derasnya hujan, dia juga yang membuatku menangis.
****
Sosok cowok yang bernama Hito Mahesa benar-benar hilang dalam pandanganku, tidak ada kabar sama sekali yang aku tahu tentangnya, selain dia mempersiapkan diri masuk ke perkuliahan.
Aku berjalan membawa beberapa buku paket bersama ketua kelas, Kami berjalan menuju perpustakaan yang letaknya lumayan jauh dari kelas kami.
Langkahku terhenti saat melihat beberapa senior sedang berkumpul di lapangan, sepertinya sedang persiapan praktek olahraga.
Aku tidak menyadari Bagas sedang memperhatikan tingkahku.
"Lo punya kenalan kelas 3?" Tanyanya.
"Hah? Nggak" jawabku blak-blakan.
Kami kembali berjalan, sesekali mataku melirik ke arah lapangan. Aku mencari keberadaan kak Hito. Benar saja, dia tidak pernah datang lagi.
"Minggu depan kau mau audisi kan?" Tanyanya kemudian mensejajarkan langkahnya denganku.
Aku mengangguk.
****
Mataku terus menatap ke arah penonton, Suara tepuk tangan dari seisi stadion membuat jantungku berpacu kencang.
"MARI KITA SAMBUT PESERTA SELANJUTNYA, SAUDARI NABILA FAYRA!"
Aku melangkah maju ke panggung, suara tepukan tangan membuatku sedikit gugup. Aku berjalan ke arah piano sembari melirik Mama yang sedang mengawasi ku di kursi penonton.
Diluar sedang turun hujan, membuat aku sedikit kurang fokus. Banyaknya orang di dalam ruangan besar itu, suara hati mereka saling bertumpukan.
Aku menghela nafas. Berusaha fokus dengan audisi ku. Tanganku mulai menekan tuts pada papan piano dengan pelan dan menghayati setiap irama yang keluar dari benda tersebut.
Perlahan-lahan suara sekitar makin redup.
Aku telah hanyut dalam irama yang ku hasilkan.
'Terlalu berat!'.
Tiba-tiba aku berhenti memainkan piano di depanku. Suara bisik-bisik dari penonton yang keheranan dengan tingkahku mulai terdengar keras.
Aku mendengar suara hati seseorang yang begitu putus asa. Menyadari kalau aku sedang berada di atas panggung, membuat kesadaran ku kembali.
Aku menekan tuts hitam putih itu dengan cepat, lalu mulai bernyanyi, lagu ciptaanku.
Padahal aku membawakan musik klasik seperti yang di ajarkan miss Anggia, tapi malah menggantinya di tengah pertunjukan.
Setelah selesai memainkannya, aku memberi hormat pada para juri dan hadirin yang berada di sana.
Suara tepukan tangan terdengar bergemuruh seantero ruangan itu. Mataku tertuju ke arah Mama yang hanya menatap datar ke arahku. Kemudian aku berjalan ke belakang panggung.
Pada waktu itu, aku tidak bisa melupakan momen yang membuat hidupku rasanya hancur. Bukan karena pengumuman nama-nama peserta terbaik yang membuat jantungku seakan berhenti,
Namun sebuah notifikasi dari grup sekolah.
Aku berlari kencang keluar dari ruangan itu, tidak memedulikan namaku yang di sebut karena masuk salah satu peserta terbaik.
Salah satu staf di sana menghentikan langkahku, aku mendorongnya dengan sisa tenagaku.
Mataku berkaca-kaca, berlari sekuat tenaga keluar dari gedung itu. Tidak peduli dengan tanggapan orang-orang yang menatap heran ke arahku. Tidak peduli dengan make up yang sudah luntur ataupun gaun putih yang kupakai saat itu.
Saat tiba di luar, hujan gerimis masih belum berhenti. Tiba-tiba tanganku di pegang seseorang, Dia Bagas.
Dia menarikku memasuki mobil merahnya. Di dalam mobil, kami hanya diam dengan pikiran masing-masing.
'bodoh, kenapa kamu lakuin itu?' aku terus mengulang perkataan itu dalam hatiku.
Saat sampai di sekolah, aku berlari kearah gedung seni yang berlantai dua itu. Di sana sudah penuh para siswa dan guru. Suara sirine ambulance dan polisi mendayu-dayu di pekarangan sekolah.
Aku melangkah pelan dan menorobos lautan siswa-siswi. Kakiku terasa lemas seketika. Seakan ada batu yang menghantam kepalaku.
Para tim medis mendorong Ambulance Stretcher yang di atasnya terbaring seseorang yang tertutup kain.
Saat di bawa masuk ke dalam ambulance, tangannya keluar dari lipatan tangannya.
Sebuah jam tangan sedang bertengger di pergelangan tangan, jam tangan yang terasa familiar di mataku. Jam milik kak Hito.
Aku menatap ketua atau pemilik yayasan yang sedang menepuk pundak istrinya yang begitu terpuruk atas kejadian yang menimpa putra sulungnya itu.
Pesan yang di sampaikan dari pihak sekolah itu berisi tentang kematian salah seorang siswa di sekolahku, siswa yang bernama Hito Mahesa.
Aku yang mendengar kabar itu langsung saja pergi ke TKP. Penyebab kematiannya adalah bunuh diri.
Aku yang hendak berlari ke arah tubuhnya itu berhasil dihalang oleh Bagas. Ujung gaun ku sudah berwarna coklat karena hujan yang semakin deras.
Aku terjatuh di tanah, tidak memedulikan orang di sekitarku. Bagas menepuk pundakku pelan, berusaha menenangkan.
"Kak...kak hi...kak,..itu..kak hitooo" aku tidak bisa menahannya, tangisku pecah di depan jenazah kak Hito yang sudah di bawa ambulans.
Saat itu, rasanya dunia runtuh dalam sekejap. Orang yang ku sayangi pergi dariku untuk selama-lamanya.
****
Aku membuka mata, suara alarm dari tadi berusaha membangunkan ku. Aku turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah sarapan aku bergegas menuju kantor. Saat ini usiaku dua puluh delapan, bertepatan tiga belas tahun sejak kejadian yang menimpa kak Hito.
Saat memasuki mobil, hp-ku yang dari tadi tergeletak di dashboard mobil berdering beberapa kali. Aku mengambil dan memeriksa. Tiga notifikasi telfon tak terjawab dari Nilam.
Yah, benar saja, kami berdua menjadi teman dekat setelah bertemu di kampus yang sama.
"Ada apa?" Tanyaku tanpa basa-basi.
"Gue nanti sore free nih, ketemuan yuk! Dah lama gue gak liat lu" jawabnya di seberang sana.
Hah...dia benar-benar berubah. Dia sudah berkembang dari gadis penakut, menjadi wanita yang kompeten. Dia kini menjadi seorang selegram terkenal.
Aku mengiyakan ajakan dari dia, dari pada urusannya makin rumit. Aku mematikan telpon dari Nilam. Betul saja, aku dan dia menjadi sahabat dekat. Dia juga mengetahui tentang kak Hito yang dulu dekat denganku.
****
Aku membasuh wajah di wastafel saat tiba di kantor. Untung saja hanya beberapa orang yang masuk kantor hari itu.
Aku bekerja sebagai seorang manajer pemasaran di perusahaan ayahku. Impian menjadi seorang musisi benar-benar sudah padam. Aku takut mendengar suara musik. Hujan yang dulu mulai Ku nikmati menjadi hal yang kubenci. Sangat benciii!
"Bu Nabila, bisa saya minta tolong?"
Aku membalikkan badan saat seorang perempuan memanggil namaku. Dia adalah senior di kantorku.
"Ada apa buk?" Tanyaku.
"Saya ada urusan penting yang harus saya urus di daerah xx, tapi saya mau ada meeting penting di luar kota. Bisa ibu gantikan saya? Jika ibu tidak keberatan"
Ungkapnya panjang lebar.
Aku tersenyum mengangguk.
"Bisa buk. Mumpung kerjaan saya sudah selesai".
Bu Tania adalah senior yang selalu membantuku saat pertama kali bekerja di perusahaan tersebut. Walaupun kedua orang tuaku memiliki perusahaan yang terkenal, tapi aku tidak ingin masuk ke perusahaan ini, dengan mengandalkan orang tuaku. Masih ada kakakku yang dapat ia banggakan selain aku yang di cap maniak musik. Padahal aku sudah tidak berhenti memainkannya.
Aku mulai berdamai dengan diriku dan kembali menekuni dunia musik.
****
Aku keluar dari mobil dan menenteng beberapa berkas titipan Bu Tania. Tempat yang ku singgahi bersampingan dengan sekolah SMA ku dulu.
Aku menatap sekeliling, tempat ini masih sama, hanya beberapa yang berubah.
Brakkk...
Tubuhku bertabrakan dengan seseorang, berkas yang ku pegang berserakan di jalan. Aku bergegas memungutnya. Orang yang menabrakku membantu mengumpulkan kertas.
"Maaf yah, kak!" Serunya sambil menyodorkan kertas ke arahku.
Aku mengambil kertas ditangannya lalu menatapnya. Aku membeku. Tanpa kusadari, aku reflek memeluknya.
"Kak Hito?" Aku memeluk erat tubuh bidangnya yang sedang memakai baju sekolah kami.
_Andi zam_
Tunggu part 2-nya!!