Apa siapa bagaimana bisa
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
tanyaku terus-terusan dengan semua hal yang menimpa ku bertubi-tubi hingga membuat ku hampir gila, hampir gila bukan berarti ga mati.
mengapa begitu sulit rasanya, hanya untuk sebuah ketenangan. SESULIT ITUKAH?
AKU TIDAK MENGERTI INI SEMUA APA DAN BUAT APA ADA APA INI SEBENARNYA APA
selanjutnya, lagi, dan terus hanya bisa apa, apa, apa, apa. Bisa apa? bisa gila.
𝐍𝐨𝐰 𝐥𝐨𝐚𝐝𝐢𝐧𝐠. . .
"astaga bagaimana ini dasi ku kenapa belum rapi juga sial"
Hari itu hari pertama ku disekolah baru. Tentu saja sekolah baru suasana baru, teman baru, lingkungan baru, dan...
"selamat pagi anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru, nak silahkan perkenalkan dirimu". Begitu masuk kelas guru yang mengajar sekaligus guru yang mengantarkan ku menuju kelas yang akan aku gunakan seterusnya langsung memperkenalkan diriku kepada teman-teman sekalian.
" Halo perkenalkan nama saya Lukikari Takahashi, salam kenal semua"kataku seraya melambaikan tanganku alih-alih agar mereka pada berfokus padaku. Aku pikir mereka akan menganggap ku ini sebagai anak yang aneh namun ternyata
"HALO LUKIKARI SELAMAT BERGABUNG YAH hihi" seru salah satu siswa yang duduk paling belakang. Tak lama kemudian siswa lain ikut menyoraki ku dengan antusias ingin menjadi teman ku pada saat itu. Tanpa terkecuali salah satu siswa laki-laki yang merupakan ketua kelas dikelas baru ku saat itu. Ntah lah aku tidak begitu mikir panjang toh banyak yang seneng sama aku juga.
Jam pelajaran telah usai, tidak terasa karena aku terlalu terbawa suasana aku hendak mengajak teman baru ku untuk makan bersama dikantin namun apa yang harapkan itu seketika musnah. Yah, mereka hanya seperti itu jika sedang berada dihadapan guru saja. Jika tidak ada guru mereka akan mengacuhkan aku. Namun tanpa disangka-sangka datanglah sosok yang diawal tadi terlihat biasa saja dengan kehadiranku. Tak lain itu ialah ketua kelasku namanya Attarix. anak laki-laki dengan rambut yang mirip seperti brokoli dimataku.
"ayo kantin bareng denganku" mendengar ajakan tersebut tentu saja aku tidak akan menolaknya sekalipun dia laki-laki. Aku juga setelah menyadari suasana yang aku hadapi ini cuek saja. Aku bisa mengikuti permainan mereka, aku juga siap jika suatu saat aku akan dibully.
Dikantin siswa-siswi dari kelas lain menatapku dengan tatapan aneh seperti tatapan yang mengisyaratkan ku akan suatu hal yang mengganjal tentang si Attarix. Lagi-lagi aku tidak peduli tentang itu, aku tidak begitu ambil pusing yang penting ada orang yang ingin menemaniku makan siang di kantin, itu saja tujuanku mengiyakan ajakan Attarix.
"bagaimana makanannya enak?"tanya Attarix kepadaku. "tentu saja ini masakan ibuku" jawabku seraya melanjutkan makan. Setelah mendengar jawabanku aku melihat raut wajahnya yang awalnya biasa aja seketika berubah menjadi murung, aku tidak begitu tau apa yang terjadi pada Attarix dari perkataan ku tidak ada yang salah kan?
*sudut pandang Attarix
Aku tidak tega kamu diperlakukan seperti itu pada anak kelas, lalu sekarang kamu dicap aneh oleh anak-anak yang lain. Sebenarnya aku kenapa sih, sejak kapan aku peduli pada anak perempuan lugu berkacamata. Aku tidak bermaksud untuk merendahkannya tapi kalau ku perhatikan dia sepertinya juga cuek akan hal yang sudah terjadi disini.
"jujur aja aku seperti ini bukan karna alasan tapi karna aku tau kamu udah kena jebakan anak kelas yang begitu baik di hadapan mu saat ada guru namun seketika berbeda saat tidak ada guru"sautku yang menjelaskan alasan kenapa aku seperti ini kepadanya agar tidak terjadi kesalahpahaman. seketika mendengar balasan Lukikari, hal tersebut mampu membuat ku jadi gagal fokus sebab.
"apa kau ga lapar? tidak usah terlalu peduli padaku, aku bisa beradaptasi dengan hal ini. Mending kamu makan, nih ibuku ada bikin bekal lebih untuk ku beri ke teman yang menemaniku makan siang"balas Lukikari dengan santainya. Mendengar hal itu aku terkejut sesaat lalu setelahnya yah seperti katanya aku mulai beradaptasi untuk kenal dengan Lukikari.
*kembali ke sudut pandang Lukikari
begitulah kegiatan hari sekolah ku, tidak ada yang menarik maupun menggangguku. Sampai pada suatu hari
hari ini ada jam olahraga bergegaslah aku turun ke lapangan mengikuti anak-anak yang lain. Karena ini masih jam pembelajaran dan tentu saja ada guru, teman sekelasku yang bermuka dua itu seperti biasa baik kepadaku menuntun ku dengan sangat baik. Tapi kali ini tidak, aku dengan mentah-mentah menolak ajakan baik mereka, aku bahkan mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan karena itu anak-anak pada menjauhi ku, ya bagus dong aku ga cape-cape ikut permainan licik mereka. Walaupun masih awal tapi hal ini telah membuat ku muak. Lebih baik aku sendirian saja. Tak lama setelah aku menjauh dari yang lain tibalah sosok Attarix yang masih aku terima ajakan-ajakannya.
"ayo bareng denganku saja, kau sudah berenti mengikuti mereka kan?" tanya nya yang sadar atas kelakuan ku terhadap anak-anak kelas.
Pembelajaran dimulai, semua jenis olahraga ku lalui dengan mudah tidak bagi mereka yang kewalahan dengan tugas olahraga kali ini. Aneh ku pikir aku paling payah disini ternyata tidak begitu buruk. Seperti biasa Attarix sang pahlawan datang menghampiri ku.
"kamu jago juga, bahkan kalah sama mereka yang melalui beberapa percobaan" salut Attarix dengan kemampuan yang aku miliki. "bagiku ini sangat mudah, aku malah kiranya aku paling bodoh disini ternyata, hihi"kataku sembari menyombongkan diri. Karena terlalu asik mengobrol dengan Attarix hal tersebut ternyata menjadi suatu malapetaka bagiku.
Setelah jam olahraga usai aku bergegas ke kelas mengambil baju ganti lalu pergi ke ruang ganti baju. Tanpa di sangka siswi lain ternyata sudah duluan berada di ruang ganti baju tersebut lalu pada menatap sinis kepadaku. Sekali lagi aku tidak mempedulikan soal itu yang aku ingin hanyalah ketenangan.
saat aku ingin memasuki ruang ganti, tiba-tiba saja badanku di dorong menjauh dari ruang ganti oleh salah satu siswi yang tak senang akan diriku. "Kamu berubah ya, semenjak ga main lagi sama kita" dengan nada kesal siswi tersebut mengatakan hal yang membuat ku bingung. Disini siapa yang berubah hey. "mana gatau diri banget mentang-mentang udah ga main sama kita skrg mainnya sama Rix" saut siswi lain. Aku diam saja karena aku tidak mau jika aku salah bicara nantinya. Karena kenapa? ya karena aku tidak tau pasti maksud mereka seperti ini kepadaku. Namun Mereka terus saja mengganggu ku ntah itu nge jambak rambutku, menjatuhkan pakaian ganti ku, mendorong ku, bahkan mereka tak segan-segan menyakiti ku. Aku ini dibully yah tidak kaget jika aku mendapatkannya, karena dari awal aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi padaku.
Tak sengaja karena kelakuan mereka kepadaku hingga membuat ku terlempar keluar dari ruang ganti dan hal tersebut disaksikan oleh Attarix yang baru selesai berganti dan tengah berjalan kembali ke kelas. Aku tidak bisa menahan emosi ku pada saat itu, bukan karena aku takut, tapi karena aku malu hal seperti ini disaksikan oleh siswa laki-laki yang baru selesai berganti terutama si Attarix aku selama ini berusaha terlihat santai jika sedang berhadapan dengan siswi kelasku dihadapannya. Aku tidak mau membebani orang lain karena hal ini.
*sudut pandang Attarix
baru saja selesai berganti dan hendak kembali menuju kelas betapa terkejutnya ia yang melihat seorang siswi yang tiba-tiba terlempar keluar dengan keadaan mengenaskan. Dan yang lebih membakar emosinya yaitu siswi yang terbully itu tak lain ialah Lukikari, siswi terdekatnya pada saat itu.
Sontak hal tersebut membuat Attarix murka ia langsung mencaci maki siswi yang melakukan hal tidak pantas kepada Lukikari lalu ia menggendong Lukikari ke UKS agar mendapatkan penanganan, ia kawatir jika Lukikari ternyata terluka akibat pembullyan anak kelasnya. Sembari menggendong Lukikari menuju UKS, tak habis-habisnya ia menanyakan keadaan Lukikari yang mengenaskan itu. "hei jangan seperti ini, katakan padaku apa yang kamu alami selama ini, apakah sebelumnya kamu menerima hal yang lebih buruk dari ini? siapa yang paling sering seperti ini padamu? katakan semua padaku, jangan terlalu tertutup padaku, aku berjanji akan melindungi mu, jujur saja aku hanya seperti ini padamu, Lukikari"cemas Attarix pada Lukikari yang dari tadi mengabaikan dirinya.
*kembali ke sudut pandang Lukikari
Mendengar semua pertanyaan dan perkataan dari Attarix mampu membuatnya meneteskan air mata. Bagaimana tidak, selama ini tidak ada yang begitu peduli padanya kecuali Attarix dan sekarang hanya Attarix lah yang membantu nya, bahkan menggendongnya padahal ia bisa aja jalan dengan sendirinya.
"berisik, aku juga tau kamu sama persis seperti mereka kan? hanya saja masa mu bukan sekarang iyakan?!" karena tak mampu menahan perasaannya lagi ia mendorong Attarix lalu turun dari dirinya dan hanya bisa duduk menangis tersedu-sedu atas apa yang terjadi padanya selama ini. "semuanya seperti itu padaku termasuk kamu" mendengar perkataan Lukikari tersebut membuat perasaan Attarix yang awalnya panik menjadi kecewa.
Ia kecewa bukan karena perkataan Lukikari namun, kecewa dengan anak-anak dikelasnya. Sebelumnya ia selalu didekati oleh siswi kelasnya seraya ingin main bersama alih-alih akan berteman baik dengan Lukikari. Dan ternyata apa? justru mereka malah menyakiti Lukikari hingga membuatnya jadi seperti ini. Sangat di sayangkan jika ia harus meninggalkan Lukikari sendirian ditempat yang Lukikari sendiri tidak tau itu dimana, karena sudah kemakan emosi dia mengesampingkan Lukikari dan bergegas memanggil anak-anak yang sudah memperlakukan Lukikari dengan tidak baik.
Karena kedatangan Attarix yg secara tiba-tiba ini dengan raut wajah dingin penuh amarah, mampu membuat siswa-siswi seisi kelas ketakutan.
Sekedar informasi saja Attarix merupakan anak yang paling dihormati bagaimana tidak orang tuanya merupakan orang penting dinegara mereka, tidak hanya mengandalkan nama keluarganya ia juga merupakan siswa dengan gelar terbanyak disekolahnya, ya dia memang cocok menjadi ketua kelas karena dia bisa dikatakan adalah pemimpin sekolah yang di sekolahi oleh Lukikari itu.
Terdapat salah satu siswi yaitu Brixya, ia tidak begitu memperdulikan keberadaan Attarix ia langsung saja keluar mencari Lukikari yang ditinggal oleh Attarix, bagaimana ia bisa tau hal itu? Brixya ketua PMR disana jadi dia tau keadaan UKS bagaimana dan tidak ada pesan apapun jika terdapat seorang siswi yang berada di UKS. Brixya juga merupakan sepupu Attarix jadi tidak heran jika dia mirip seperti Attarix yang gercep jika terjadi sesuatu.
Di jalan menuju UKS, Brixya menghampiri Lukikari yang masih syok akan kejadian yang telah menimpamya hari ini dan yang sebelumnya. Brixya berusaha mendekati Lukikari yang lemes tak berdaya sembari menyandarkan dirinya kedinding. "Lukikari ini aku Brixya tenang lah aku berada di pihak mu" Brixya berusaha menenangkan Lukikari yang masih tidak menyangka kejadian yang telah ia rasakan. sesaat kemudian karena masih sangat terpukul Lukikari jatuh pingsan. Melihat Lukikari yang terjatuh itu, reflel Brixya menggotong Lukikari menuju UKS agar mendapatkan penanganan.
Beberapa saat kemudian ia terbangun dari pingsannya.
"loh aku ada dimana ini?"sesaat setelah terbangun dari pingsannya Via justru dibuat kebingungan dengan apa yang ia lihat. Ini bukan seperti UKS tapi ini, tidak bisa dijelaskan dia saat ini berada dimana yang jelas dipenglihatannya hanyalah ruang putih kosong, sunyi, dan sepi.
Dimana ruang kelas? UKS? kantin? teman-teman kelasnya? Attarix? Sebentar, kenapa jadi membingungkan begini?.
Tiba-tiba terdengar suara seperti suara seorang pelayan yang datang menghampiri tuannya.
"nyonya apakah anda sudah bangun? bagaimana keadaan anda hari ini? saya harap anda tidak gugup ya untuk hari ini" tanya pelayanan tersebut yang seketika membuat pandangannya kembali semula namun bukanlah di ruang UKS tetapi, Di kamar yang begitu megah seperti di sebuah istana dengan interior yang sangat mewah mengagumkan. Pikiran ku yang saat itu dibuat kebingungan dengan hal-hal yang baru saja menimpa ku semakin dibuat pusing dengan bangunnya diriku di sebuah kamar kerajaan dan bukan di UKS.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Tanya ku sembari mengingat kejadian-kejadian sebelumnya terjadi. Melihat tingkah laku tuannya yg aneh itu membuat si pelayanan cemas. Bukannya membantu menjawab pertanyaan tuannya ia justru pergi meninggalkan tuannya sendirian dalam keadaan seperti orang linglung. Tak lama kemudian setelah perginya pelayanan tadi datanglah sosok pangeran yang tak asing di matanya.
"ATTARIX?!" ia terkejut bukan main bagaimana tidak, pangeran yang ia maksud itu ternyata adalah sosok Attarix yang merupakan teman sekolahnya. Aldo yang ikut dibuat kebingungan dengan tingkah calonnya hanya bisa mendekatinya lalu mendekapnya sembari berusaha menenangkan Via, alasan mengapa ia seperti ini mungkin karena kelelahan menyiapkan acara semalam. Wajar saja jika permatanya itu bertingkah aneh justru hal tersebut membuat Aldo gemas dengannya. "tenangkan dirimu via, ada aku disini jangan kawatir ayo kita jalankan bersama-sama aku akan selalu menemanimu" ucap Aldo yang tengah menenangkan seorang Via.
"Via?! siapa itu Via, kenapa kamu berubah gini Attarix?" tanya Via yang berusaha memahami sesuatu.
*sudut pandang Aldo
Sayang maafkan aku yang melibatkan dirimu dengan hal seperti ini, aku tidak mau kamu jadi seperti ini terus menerus namun aku juga tidak mau meninggalkan dirimu sendirian lagi untuk yang kesekian kalinya, maaf, maafkan aku Via. Aku melakukan hal ini agar bisa terus bersama mu namun ternyata jalan yang aku pilih ini justru membuat mu seperti ini maaf kan aku sayang.
"sekarang tenangkan dirimu dulu aku akan menjelaskannya ketika kamu sudah tenang agar kamu tidak kebingungan lagi, dengarkan aku baik-baik jangan lari lagi dariku ya, maafkan aku kali ini dengarkan penjelasanku terlebih dahulu" sebuah permohonan dari seorang Aldo kepada Via. Sambil memeluk Via, ia mulai menjelaskan semuanya kepada Via. Agar tidak terjadi hal yang lebih serius kedepannya.
*kembali ke sudut pandang Via
Baiklah aku tidak sepenuhnya mengerti dengan keadaan sekarang yang aku mengerti hanyalah diriku yang sekarang ini bukanlah Lukikari sosok anak sekolah berkacamata namun Via sosok putri dari sebuah kerajaan dan dipasangkan oleh seorang pangeran Attarix, tidak itu bukan Attarix tapi Aldo.
Mengapa hal seperti ini menimpaku ini membuat kepalaku terasa sangat pusing hingga mau muntah. "apa kepalamu masih pusing? kalau mau muntah katakan saja padaku Via" tanya Aldo yang cemas dengan keadaan Via. Sepertinya hal seperti ini sering terjadi sebelumnya makanya dia bisa dengan sigap menangani hal ini seperti sudah terjadi sebelumnya. setelah itu Aldo menuntun Via untuk bersiap diri.
Sejujurnya aku tidak begitu mengerti apa yang telah terjadi padaku, sebenarnya aku siapa?
Beberapa hari kedepannya lebih tepatnya siang itu di halaman tempat berlatih pedang. Aldo mengajak Via untuk datang melihatnya berlatih, Via mengiyakan ajakan Aldo dengan senang hati. Begitu lihai Aldo memainkan pedangnya hingga mampu membuat Via kagum, Aldo yang sadar akan hal tersebut merasa bangga atas dirinya yang dikagumi oleh permatanya yaitu Via. Karena rasa penasaran, Via menghampiri Aldo lalu meminta Aldo untuk mengajarinya cara berpedang yang sama persis seperti Aldo saat memainkan pedangnya itu. Aldo yang tak mampu menolak keinginan permatanya itu mempersilahkan Via memegang pedangnya lalu mengajarinya dengan hati-hati.
Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang tengah menikmati hari-hari bersama. Hal tersebut mampu mengambil fokus orang-orang sekitar halaman latihan, bagaimana tidak mereka sangat jarang melihat pangeran Aldo tersenyum dan bersama dengan Via para penjaga disana tidak pernah melihat senyum lepas sang putri.
Beberapa tahun kemudian...
Aldo dan Via bertengkar hebat saat itu sampai-sampai membuat seisi ruangan takut memisahkan mereka dan hanya bisa terdiam sampai keduanya juga diam. Karena terlalu terbawa suasana Aldo mendorong Via hingga terjatuh, namun tanpa disadari jika dorongannya tersebut begitu kuat hingga membuat Via terjatuh lalu menghantam salah satu tiang di ruang itu, sontak hal tersebut membuat tulang belakang Via terluka hingga badannya tak dapat lagi memopong lalu terjatuh ke lantai. dikarenakan suasana sedang tidak bagus saat itu Aldo pergi meninggalkan Via yang tak berdaya begitu saja dengan cueknya. Karena tidak ada yang berani ikut campur dalam masalah tersebut dan tidak ada satupun para pelayan yang peduli dengan keadaan Via, pada akhirnya karna itu lah sebuah hal yang tidak di inginkan terjadi menimpa Via dan seisi istana disana.
Sesaat sebelum Via terjatuh
Badannya terlempar kuat hingga menghantam tiang yang berada di belakangnya. Dalam keadaan merintih kesakitan akibat ulah suaminya itu Via hanya bisa pasrah sembari mengingat beberapa momen dimana ia sebelum pada akhirnya bertengkar hebat dengan suaminya. Benar-benar tidak ada yang datang membantunya disaat dirinya tengah sekarat tak terbayang rasanya didetik-detik terakhir dia harus merasakan hal yang pahit lalu pergi untuk selamanya.
"sial, ada apa lagi sekarang, apakah aku masih hidup? aku kira sudah tidak ada jalan untuk hidup"
dejavu? ya itu lah yang aku rasakan sesaat setelah terjatuh, sama seperti yang sebelumnya aku akan terbangun lalu
berusaha beradaptasi dengan hal yang baru saja aku alami. Ntah ini sudah kali ke berapa aku merasa bingung seperti tidak tau arah yang akan ditempuh di jalan berikutnya.
aku berusaha agar tersadar dan cepat-cepat memulihkan penglihatan ku, aku sudah muak melihat ruang putih ini. tiba-tiba saja terdengar suara yang tak asing dari kejauhan.
"Lukikari kau tidak apa-apa sekarang, bangunlah"
"Sayang kamu aman sekarang, permataku yang indah"
tunggu itu kan suara Attarix dan Aldo
BAGAIMANA BISA?
suatu yang keras seperti buku terjatuh dan menimpaku hingga membuat ku terkejut lalu terbangun. Tetapi, ada hal yang lebih membuat ku kaget yaitu, bangunnya diriku didalam kamar yang rasanya tak asing. Tidak, bukan ini jelas-jelas lain kamar yang megah itu tidak melainkan kamar yang sederhana dimana aku terbangun diatas meja belajar dengan buku novel yang masi menempel ditanganku. Apa selama ini semua kejadian yang aku rasakan itu hanyalah mimpi? tapi bagaimana bisa mimpi itu terasa begitu nyata adanya. Karena masih kurang yakin dengan hal yang terjadi aku menampar keras wajahku dengan rasa tidak percaya apakah diriku ini sudah benar-benar bangun atau masih di alam mimpi.
Tidak terjadi perubahan apapun yang aku dapat hanyalah rasa sakit akibat ulahku sendiri yang tidak begitu percaya sama apa yang telah terjadi. Aku melihat sekeliling dan pandanganku terfokus pada obat yang berada di ujung meja, lalu aku mengambil obat tersebut. Alangkah bodohnya diriku ini, dengan segera aku membuang obat itu.