"Gue yang kemaren mau ngekos disini" ucap seorang remaja laki-laki.
"Okey, nama Lo Haris kan?" Ucap lelaki yang umurnya tak jauh dari Haris.
"Iya" Jawabnya singkat.
"Perkenalkan nama gue Yudis,anak pemilik kost ini, Mulai hari ini Lo dah bisa tinggal di sini, kamar Lo nomer 10" ucapnya sembari memberikan kunci kamar.
Haris menerima kunci tersebut lalu pergi mencari nomer kamar miliknya.
"Hallo? Lo penghuni kost baru di sini ya? Perkenalkan nama gue Ajun" dia muncul dari belakang pintu nomer 9.
"Gw Haris" ucapnya singkat, kemudian Haris langsung masuk kedalam kostnya. Haris segera membereskan barang-barang miliknya, setelah selesai dia beristirahat.
Tok tok tok....
Haris membuka pintunya, di depan pintu terdapat 10 remaja seusianya
"Kenalin gue Sam,ini Yandi,ini Cio,ini Aska,ini Yohan,ini ini Ajun,ini Wawan,ini Jian,ini Jojo, dan ini Jae" ucapnya sembari memperkenalkan teman-temannya.
"Gw Haris" ucapnya singkat, Haris akan menutup pintunya namun dihalangi oleh Sam,
"masa kita gak dipersilahkan masuk sih?" Ucap Sam. Haris pun akhirnya membuka pintunya mempersilahkan mereka masuk.
"Hei, ini sangat rapi untuk ukuran cowo cool kek Lo" Aska memandangi kamar yang telah ditata oleh Haris, Haris diam tak menanggapi.
Akhirnya mereka bersama-sama duduk di lantai kamar Haris. Mereka bercerita tentang kisah mereka satu persatu. sampai tiba saatnya Haris menceritakan kisahnya kenapa ia bisa tinggal di kost ini.
"Ayok Ris, cerita gimana Lo bisa sampe tinggal di sini?" Tanya Yandi. Haris diam seribu bahasa, dia memang dari awal tidak memberikan respon apapun terhadap cerita dari teman-temannya kostnya.
"Gak penting" jawabnya singa lalu Haris berdiri membukakan pintunya, tanda dia mengusir mereka secara halus, akhirnya teman-temannya kostnya keluar satu-persatu dengan menampakkan kekecewaan.
"Itu si anak baru kenapa si? Jadi orang judes banget,di tanyain gak jawab lagi" Jian membuka suara.
"Entah, mungkin dia aja masalah yang gak bisa di ceritain ke kita" Jae berusaha menenangkan Jian yang mulai emosi.
"Ya tapi kan gak bisa kaya gitu lah, gue gak terima gue dah berusaha baik-baik eh dia malah kelakuannya kaya gitu" Jian mulai naik darah
"udah-udah dia juga baru kesini, mungkin dia masi sungkan sama kita" Wawan berusaha membuat semuanya tenang.
"Yaudah mulai besuk kita harus bisa membuat Haris pelan-pelan bisa nyaman dengan kita semua, lalu dia akan cerita apa masalah yang membuatnya seperti itu"
Semuanya mengangguk setuju menanggapi ide dari Yandi. Beberapa Minggu kemudian Haris sudah berbicara santai dengan penghuni kost lainnya, dia mulai banyak tertawa dan banyak berbicara, tidak seperti awal dia datang ke kost ini.
"Haris, sebenarnya apa sih alasan lo sampai Lo milih ngekost sendiri?" Pertanyaan dari Yohan membuat Haris tersedak,
"emm, gakpapa kok" Haris berusaha membuat mimik wajahnya biasa
"engga, Lo nyembunyiin sesuatu, iya kan? Lo bohong gue bisa liat itu Ris" ucap Jae.
"Lo gak mau cerita ke kita? Siapa tau kita bisa bantu Ris, kalo Lo gak cerita kita gak akan bisa bantu lo" sambung Yohan.
"percaya deh,kita gak akan ngebully Lo, apalagi ngejauhi Lo, dan kita bakal bantuin kalo ada yang bisa dibantu" Sam ikut bicara.
"Makasih buat semuanya, tapi gue bingung harus gimana sama gue sendiri, gue gak tau gimana kedepannya, dan gue sebenarnya udah muak sama kehidupan ini" Haris mulai buka suara, teman-teman kostnya mendengarkan cerita Haris dengan seksama tanpa memotong ucapan Haris.
"Jadi gue sebelumnya tinggal sama kedua orang tua gue, entah kenapa tiba-tiba bokap gue marah-marah ke nyokap gue, dan sejak saat itu ortu gue gak pernah akur, gue pernah nyoba ngelerai mereka tapi malah gue di hajar habis-habisan sama bokap gue, sejak itu juga prestasi gue lama-lama turun, nyokap gue marah-marah gue tambah frustasi akhirnya gue bolos sekolah, sampe bokap gue dipanggil sama kepsek, pulang dari sekolah gue langsung di baku hantam sama bokap gue, nyokap gue diem aja, sama sekali gak ngelerai, akhirnya gue ngambil keputusan buat angkat kaki dari rumah itu, dan kalian tau sendiri ceritanya" Haris menghela nafas panjang, akhirnya beban dipundaknya sedikit berkurang, dirinya sekarang merasa lebih baik.
"Owalah jadi gitu ceritanya, lah Lo punya dendam gak ke ortu lo?" Tanya Cio
"gue sendiri rasanya pengen benci ke mereka, tapi gue gak bisa benci ke mereka, karna merekalah gue bisa ada di sini" jelas Haris.
"Nah bener banget tu, seberapa banyak kemarahan Lo ke ortu lo itu gak akan bisa apa-apa tanpa ortu lo" jelas Jojo.
"Lo juga gak tau apa yang sebenarnya dilakuin nyokap lo itu semua demi kebaikan lo" tambah Jian.
"maksud lo?" Haris tidak paham maksud Jian.
"Yang bisa gue simpulin dari cerita Lo, sebenarnya nyokap lo itu sayang banget sama lo, sangking sayangnya dia sampe nyakitin hati Lo supaya lo bisa pergi dari tempat yang bisa membuat lo rusak" terang Jian.
"Ow, jadi nyokapnya itu emang sengaja ngelakuin itu supaya si Haris pergi dari rumah itu dan bisa ngejalanin hidup yang lebih baik lagi, gitu maksudnya?" Tanya Ajun.
"Nah bener itu" Jian membenarkan.
"Seorang ibu gak akan membiarkan anaknya sedih, apalagi saat melihat ibunya menderita, makanya nyokap lo lebih milih ngorbanin perasaannya supaya lo bisa keluar dari rumah itu tanpa rasa bersalah ninggalin nyokapnya bersama lelaki yang jahat." Yandi ikut bicara.
"Sampe sini lo paham?" Jian bertanya kepada Haris, Haris menunduk dia menahan airnya supaya tidak menetes.
"Mungkin benar luka terbesar itu biasanya datang dari orang yang paling dekat dengan kita, lantas apakah kita haru tetap tenggelam dalam keterpurukan? Atau menyerah dengan semuanya? Engga,jangan nyerah, gak boleh kita harus bisa maju, Masih ada masa depan yang menunggu kita, kita mau jadi apa itu juga tergantung pada diri kita sendiri, seperti saat ini, lo ada di sini karna itu pilihan lo, walaupun lo kabur dari rumah, jauh dari ortu lo, tapi lo Masi bertahan, dan lo juga tetap ngelanjutin sekolah lo, lo kerja sendiri gak bergantung sama ortu lo, itu dah jadi konsekuensi dari pilihan yang sebelumnya lo pilih, dan lo memilih untuk tetap bertahan, benar kan?" Ucap Yandi,
"gapapa nangis, kalo lo emang pengen nangis nangis aja, gak bakal ada yang ngejek lo, gak usah gengsi gengsian, semua manusia itu punya hak buat nangis" ucap Azka.
Tangisan Haris pun pecah, dia menangis sejadi-jadinya dia akhirnya bisa meluapkan seluruh emosi yang telah dipendamnya selama ini.
"Makasih ya, kalian semua dah mau dengerin cerita gue, makasih banget karna dah ngasih masukan ke gue" ucap Haris yang masih sesenggukan
"santai, kita disini semuanya sahabat, walau awalnya gak kenal satu sama lain, tapi seiring berjalannya waktu kita saling memahami, makanya lo juga harus terbuka sama kita, supaya kalo ada masalah bisa kita bantu" ucap Yudis.
"Nah, lo dah tau apa yang harus lo lakuin sekarang kan?" Tanya Yohan dibalas anggukan mantap oleh Haris.
Setelah itu Haris mengemasi pakaian miliknya, lalu ia berpamitan kepada teman-teman kostnya.
"Gue pamit dulu ya, ntar sewaktu-waktu gue mampir deh" ucap Haris.
"Good luck Ris!"
"thanks Jun, gue janji gue gak akan nyia-nyiain hidup gue buat hal-hal yang gak jelas, karna gue gak mau kaya bokap gue, dan gue gak akan pernah nyakitin perasaan pasangan gue suatu saat nanti" ucap Haris.
"Inget kata-tata lo men, cowo itu yang di pegang janjinya" ucap Jojo.
"Gue gak akan pernah lupa sama janji gue" ucap Haris
kemudian dia pergi dari tempat itu, dia menuju ke rumahnya yang lama, karna dia tidak akan membiarkan nyokapnya disakiti oleh cowo yang dicintainya.
Sesampainya di rumah Haris melihat bokapnya akan memukul nyokapnya, Haris langsung berlari dan menangkis tangan bokapnya.
"MULAI SEKARANG PAPA GAK BERHAK BUAT NYAKITIN MAMA, KARNA MAMA BAKALAN PERGI BARENG HARIS DARI RUMAH INI" ucap Haris,
"cihhh, emang lebih baik kalian berdua angkat kaki dari rumah ini" ucap ayahnya Haris lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mama, mama gak papakan? Mama maafin Haris yaa, Haris janji gak akan ninggalin mama sendirian, Haris janji Haris bakalan ngelindungin mama selamanya." Ucap Haris sambil berlutut di bawah kaki ibunya.
Akhirnya Haris hidup damai bersama ibunya, sedangkan ayahnya dia asik dengan wanita lain yang dicintainya.