"Aku dan kamu"
-----
Kita berada dalam satu ruang dan dimensi yang sama. Namun, keadaan tak mengizinkan kita untuk melantunkan perasaan.
-----
Pertemuan adalah takdir. Ketika sepasang mata bertemu, saat itulah mereka menandai keberadaan satu sama lain. Saling mengenal nama indah yang tersemat pada raga, juga mengingatkan rupa yang selalu berada dalam pikiran nya.
Namanya Yerina. Perempuan dengan senyum secerah mentari. Tiada hari tanpa wajah bahagianya. la seorang yang mudah bergaul dan suka memulai pembicaraan.
Temannya banyak, dan orang-orang menyukainya.
Sedang sang pria bernama Wira. Matanya tenang seperti bulan. Hari-harinya hanya membaca buku dan menikmati kesendiriannya, Temannya hanya bisa dihitung jari.
Keduanya bertemu secara tak sengaja di ruang sepi penuh buku. Pertemuan mereka tidaklah secantik pertemuan dalam novel romansa. Hanya dengan keadaan sang gadis yang tertidur, dan sang pemuda yang terganggu oleh suara dengkurannya.
Maka ketika kedua mata bersitatap, ruang dan dimensi khusus seakan tercipta untuk mereka. Tanpa sadar bibir pun membuka percakapan sederhana tak terlupakan.
"Maaf, kalau kamu mau tidur, sebaiknya jangan di perpustakaan. Kamu menggangguku"
"Nggak ah. Perpustakaannya dingin. Ini tempat yang cocok untuk tidur."
"Kalau mencari tempat dingin, lebih baik kau ke UKS. Ada ranjang yang bisa kau tiduri" keluh sang pria dengan mata tak terlepas dari buku
"Aku diusir. Mending di sini, soalnya aku punya alasan"
"Alasan apa?"
"Tentu saja belajar"
"Kau mau aku melaporkanmu?"
Sang gadis tersenyum miring. "Memang kau siapa?"
Sang pria langsung menyodorkan sebuah kartu organisasi.
"OSIS?!" pekik gadis itu. "Kau bohong ya? Aku nggak kenal tuh!"
"Memangnya kamu kenal semua anggota OSIS?"
Sang gadis menyengir tanpa dosa. "Kalau begitu tolong jangan laporkan aku eum..," ia melirik kartu yang segera ditarik oleh sang pria- telat karena gadis itu sudah melihat namanya, "...Prawira Dipta"
Wira sempat ingin membalas, namun terhenti ketika pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka, menampakkan seorang guru lelaki berkacamata.
"Ada yang melihat Yerina?"
Wira hanya diam. Gadis itu bersembunyi di kolong meja.
"Kau sendirian, Prawira?"
"Ya, Pak. Kelas saya sedang kosong, jadi saya ke sini"
"Melihat murid perempuan?"
Wira menggeleng. "Bapak mencari siapa?"
"Kiara Yerina kelas IPS 3. Dia tidak ada dikelasku"
Mata Wira melirik ke kolong meja. Gadis itu menunduk, menyembunyikan keberadaannya dengan sangat baik.
"Mungkin di UKS atau atap? Bukannya para murid sering ke sana kalau bolos?"
"Bapak sudah ke UKS, tapi dia nggak ada. Bapak akan coba ke atap kalau begitu. Terimakasih, Prawira."
Begitu sang guru pergi, Yerin langsung keluar dari tempat persembunyiannya. la melirik Wira sebentar, lalu tersenyum.
"Makasih, ya. Aku harus pergi. Sampai jumpa!"
Pertemuan singkat, namun entah mengapa sangat membekas didalam memorinya.
Karena sejak saat itulah keduanya tanpa sadar saling mencari.
Dalam kebisuan mereka tau. Kiara Yerina adalah siswi yang berprestasi di bidang tari. Ia merupakan salah satu murid andalan yang selalu mengikuti lomba. Sedangkan Prawira Dipta adalah siswa yang aktif di bidang sastra. Diam-diam ia telah menerbitkan empat buah buku, dan namanya telah dikenal oleh para pencinta sastra.
Percakapan itu memang membekas, namun tidak menjadikan mereka saling mengenal. Mereka kadarng berpapasan, namun tak satupun kata terucap untuk menyapa. Hanya memerhatikan dalam diam dan bertanya, bagaimana kabarnya?
Apakah ia baik-baik saja?
Jawaban itu mereka cari tau sendiri.
Hingga akhirnya timbul rasa suka.
-----
Mereka takut. Tidak percaya diri.
Menurut Wira, Yerin akan sulit didekati. la dikelilingi banyak orang hebat, juga lelaki yang tampan dan berbakat. Dibanding mereka, apalah Wira dimatanya.
Terlebih ia tak punya keberanian untuk menyapa.
Wira sendiri tak tau sejak kapan perasaan itu berlabuh. Entah karena pertemuan mereka di perpustakaan, atau malah sebelumnya. Wira sudah menyadari keberadaan Yerina sejak lama. Bagaimana tidak, gadis itu hobi kabur dari kelas.
Wira juga salah satu penonton setianya saat ia tampil. Padahal ia bukanlah orang yang mau repot-repot hanya untuk menonton orang. Meski jabatannya di OSIS membuatnya selalu menjadi panitia acara yang otomatis membuatnya menjadi pendamping siswa yang mengikuti lomba-
Wira tidak akan menonton dan lebih memilih untuk jajan di stand yang tersedia.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk
Yerina. Ketika gadis itu mulai bergerak, disitulah ia dapat merasakan bebasnya gadis itu saat di panggung, Perasaan gadis itu ketika mnenari seakan menyentuh sanubarinya. Cantik, itu yang ia pikirkan.
Saat melihat Yerina memenangkan kejuaraan, ia akan merasa bangga.
Saat melihat Yerina terjatuh, ia akan merasa khawatir. Segala tentang Yerina sangat tidak masuk akal di kepalanya.
Bagaimana bisa ia menaruh hati pada perempuan itu?
Namun, ia sadar diri. Yerina akan lebih baik bersama dengan pria lain. Bukan dirinya.
Tidak hanya sekali ia melihat Yerina tertawa bersama pria lain dan menghabiskan waktunya bersama mereka. Tipe seperti Yerina tentu tidak akan betah bicara dengan satu orang pria saja. Wira juga sering mendapati loker Yerina didatangi para pengirim surat yang kemudian akan dibaca gadis itu dengan hati berbunga.
"Wira?"
"Iya?!"
Wira tersentak dari lamunan.
Di depannya, sang gadis melambai dengan pakaian yang begitu cantik. Ia lupa, sebentar lagi pentas seni akan dimulai.
"Kami tampil urutan berapa?"
Dengan sigap wira mengecek jadwalnya. Pasangan penari yang memenangkan kompetisi tingkat nasional akan menampilkan tarian kontemporer.
Mereka adalah Yerina dan teman dekat wira, Juna.
"Kalian tampil setelah perntas angklung. Duduk saja di sini dulu," ujar wira dengan profesional.
Ketika sampai pada pertengahan acara, barulah Yerina dan Juna bersiap-siap. Wira tidak banyak bicara. la hanya mengucapkan semangat pada Juna.
Ia tidak berani menyemangati Yerin.
Maka saat musik diputar, Yerina dan
Juna memberikan atraksi terbaik mereka di panggung. Ini adalah penampilan terakhir mereka, karena beberapa bulan lagi mereka akan lulus dari sekolah ini.
Wira tak berhenti kagum. Gerakan
Yerina sangat detail dan indah. Juga Juna yang melengkapi dengan atraksi tak kalah hebat. Dalam diam Wira merasa iri. Juna sangat cocok bersanding dengan Yerina. Ia sangat melengkapi Yerin di penampilan kali ini.
Yerina pantas bersama Juna.
Wira mulai membayangkan.
Seandainya ia adalah Juna, apakah ia bisa melengkapi Yerina seperti itu?
Apa rasanya menari dengan bebas bersama Yerina?
-----
Alunan musik klasik memenuhi ruangan. Suasana syahdu nan romantis melingkupi kedua pasangan yang tengah malu-malu di depan altar. Cincin tersemat di jari manis. Pertanda bahwa mereka telah terikat.
Kedua pasang mata tak berani melirik satu sama lain. Malu dan takut bila tak bisa menahan hasrat terpendam.
"Selamat atas pernikahan kalian!"
Hari ini merupakan hari sakral.
Sepasang manusia tengah mengikat janji suci sehidup semati. Dua manusia yang berkebalikan, namun saling melengkapi.
Keduanya terkejut saat kulit lengan tak sengaja bersentuhan.
"Owh!"
"Maaf"
Akhirnya kedua pasang matapun bersitatap. Meski jantung berdebar kencang, tautan mata itu tak mereka lepaskan. Lalu keduanya tertawa kecil.
"Kau kayak nggak pernah nyentuh wanita aja"
"Kamu juga kaget. Jangan cuma menyalahkanku!"
"Uh... jantungku..."
Sang pria tersenyum simpul dan menatap dalam sang kekasih hati.
Tiba-tiba lagu berubah menjadi waltz, pertanda bahwa acara dansa telah dimulai. Para tamnu pun berbondong-bondong ke lantai dansa untuk menari bersama pasangan mereka.
Seketika itu pula Yerina mengulurkan tangannya. Wira menatapnya bingung. Senyum khas Yerina pun membalas tatapan sang kekasih.
"Ayo, berdansa denganku!"
Wonwoo terdiam. Ini pertama kalinya seorang perempuan mengajaknya berdansa.
"Aku baru tau seorang perempuan bisa mengajak berdansa"
"Karena aku Kiara Yerina!"
"Kau memang aneh."
Yerina hanya tersenyum dengan mata yang melengkung. "Makanya ayo!"
"Tapi.."
"Mempelai harus berdansa, kan? Coba kau lihat para tamu. Masa kita sebagai tuan rumah tidak berdansa?" Yerin berucap dengan wajah lucu.
"Aku nggak bisa berdansa"
"Kau lupa aku seorang penari?" Tanpa basa-basi, Yerina segera menarik tangan
Wira, menuju ke tengah-tengah lantai dansa. "Aku akan menuntunmu. Ini cuma dansa sederhana kok"
"Aku takut melukai kakimu"
"Tak masalah. Aku sudah biasa cedera berkali-kali" Lagi-lagi senyum tersemat di bibir pemilik gaun putih. "Atau kau merasa harga dirimu terluka, Tuan Dipta?"
Segera Wonwoo menggeleng. Tidak, ia tidak merasa begitu. Menurutnya, tidak ada yang harus dikhawatirkan jika itu Yerin.
Karena Yerin separuh hidupnya sekarang.
"I trust you, Kiara Yerina."
Senyuman Yerina semakin melebar.
Secara tiba-tiba, ia memutar dirinya.
Membuat Wira kaget kalau-kalau perempuan itu jatuh. Secara refleks tangannya melingkar di pinggang sang wanita dan mendekatkan tubuhnya.
"Gerakan yang bagus, Wira."
"Ck, jangan melakukan hal yang gila,
Yerina!"
"Aku hanya berputar. Kau saja yang banyak pikiran."
Wira mendengus malu. Sedangkan
Yerina dengan sigap meraih jari jemari
Wira, dan menggenggamnya.
"Ikuti langkahku."
Maka Yerina mulai menuntun Wira, dikuti dengan iringan lagu waltz yang romantis.
-----
"Wira, jangan sibuk menghitung tempo. Gerakanmu jadi aneh"
Perempuan itu menggerutu saat
Wira berkali-kali salah langkah.
Mereka berhenti sejenak, mengatur nafas.
"Sudahlah, aku merasa malu," ucap
Wira saat mengetahui kalau mereka tengah menjadi pusat perhatian.
"Kau mau menyerah? Enak saja!" omel
Yerina. Dengan cepat ia bawa kembali tubuh wira untuk bergerak.
"Sudah kubilang ikuti saja langkahku.
Kau tak perlu mengkhawatirkan tempo, oke?" bisik Yerina tepat di telinga
Wira. "Aku tak masalah jika kau menginjak gaunku. Percaya aku."
Dalam sekejap Yerina berhasil membawa wira melangkah. Meski awalnya masih terasa kaku, Yerina tetap melanjutkan dengan percaya diri.
Mereka bertatapan. Dalam dan penuh arti. Di saat seperti ini, waktu pun terasa terhenti untuk mereka. Menyediakan tempat khusus dimana mereka dapat merasakan perasaan satu sama lain.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Wira percaya pada Yerina.
Sepasang kekasih itu mulai terbiasa dengan tempo langkah mereka.
"Bisa kan?"
Wira melihat Yerina menyeringai.
Tautan mata tak terlepas, justru malah semakin dalam. Mereka menyelami arti tatapan masing-masing.
Penuh rasa, penuh sayang.
Penuh cinta.
Maka wira dengan berani mengambil langkah tak terduga, membuat Yerina agak sedikit kaget karena ulahnya. Akibatnya, ia menginjak kaki sang pria.
"Ternyata kau yang menginjak kakiku," goda Wira.
"Oh ya?" Seringai Yerina semakin melebar "Kalau begitu, aku juga tak akan segan-segan"
Mendengar itu, Wira jadi ciut.
Yerina bukanlah seseorang yang menarik kata-katanya. Lihat saja, sekarang gadis itu mulai berputar di rengkuhan Wira.
"Coba lawan aku!"
Gerakan yang semula sederhana kini menjadi lebih kompleks. Wira tak segan-segan melangkah lebih jauh, dan Yerina pun tak ragu bergerak secara bebas. Tak ada halangan dalam gerakan mereka. Seakan lantai dansa hanya tersedia untuk mereka saja.
Tangan Wira memeluk pinggang kurus Yerina, sedangkan Yerina memegang erat pundak Wira. Terus melangkah tanpa henti dengan lagu waltz yang seakan tak pernah berakhir.
Jadi ini rasanya menari bersama Yerina.
-bersambung