Perempuan jangan duduk di depan pintu!”
“Jangan pulang malam-malam!”
“Jangan mandi magrib!”
“Jangan menyapu halaman malam!”
Begitulah berbagai macam pamali atau larangan yang dilontarkan ibu kepadaku. Apakah kau mempercayainya?
Sebetulnya aku tak percaya. Namun, saat makhluk aneh itu mengikuti ku setelah pulang latihan tari. Mungkin aku mempercayainya.
Makhluk itu perempuan. Badannya hampir setara denganku, rambutnya sangat panjang. Bajunya seperti seorang penari namun penuh darah. Pertama kali aku bertemu dengannya ia membuatku kaget dengan kemunculannya di depan sangar tariku . Lalu ia terus mengikutiku bahkan sampai rumah.
Seminggu pertama, aku ia terus mengganguku. Aku pun bercerita ke ibu ku, Ibu sampai khawatir dengan apa yang ku alami. Sampai akhirnya, ibu membawakan orang pintar ke rumah.
“Ada yang mengikuti anak ibu saat Si Neng pulang latihan nari. Saat ini masih di sini” ujar bapak-bapak tersebut.
Segera Ibu meminta bapak tersebut mengusirnya. Bapak itu pun membaca sesuatu, lalu seolah berpikir. Kurasakan tubuhku meregang di ambang sadar dan tidak sadar. Perlahan muncul satu bayangan, makhluk tersebut, ia berbicara kepadaku pelan.
“Aku merindukan adikku. Ia sepertimu.” Bayangan itu pun menghilang setelah ia mengucapkan kalimat tersebut. Badanku melemas dan tak sadarkan diri.