Senja kala itu menjadi saksi bisu terputusnya sebuah ikatan kami yang kuat, Matilah engkau mati Aku tidak ingin mengingat sebuah lintasan pikiran menyakitkan itu kumohon segera akhiri semua penderitaan kami.
Saat itu andai aku tidak menghampirinya apakah semua akan menjadi lebih baik?
Jumat,16 September 2016
"Mahen,ngapain disitu!" Teriakku dari kejauhan melihat sesosok punggung besar familiar terduduk di dekat danau, hening sesaat tidak ada sautan aku mengeryitkan dahi tidak suka, "Aku kesitu ya" Ucapku lagi berlari kearah sosok tersebut dan menepuk punggung kekarnya.
Saat kulihat wajahnya aku terkejut,"Mahen!kamu dipukulin lagi?!" Aku marah, sakit rasanya hatiku melihat wajah orang yang kusayang penuh dengan ungu kebiruan lebam, langsung kupeluk sesosok lelaki itu kedekapanku.
Tangisan ku pecah saat aku memeluk raga nya sakit rasanya sungguh sakit, "Saya baik baik saja,tidak perlu menangis Mahika" Ucap Mahen mengusap pelan punggungku, suara dan sentuhannya bagaikan sihir ditelingaku membuat tenang diriku yang histeris "Kenapa kamu engga ngelawan sih, aku yang sakit liat kamu kaya gini" raungku terhadapnya.
Diam, lelaki itu diam seribu bahasa tidak berucap satu kalimat pun memeluk diriku tenggelam dalam tangisan bersama, "Mahen pasti sakit banget kan,aku obatin seperti biasanya ya?" Aku mengusap pipi Mahen pelan, kasih sayangku kutuangkan ke belaianku.
Mahen menggenggam tanganku mengecup setiap inci dari pergelangan tanganku "Mahika sungguh baik dirimu, pantaskah saya mendapatkan kamu", Aku jatuh cinta, terlalu dalam cintaku terhadap semua yang dimiliki laki laki ini, senyuman terukir diwajahku "Mahen kita obatin dulu ya" ku berdirikan raga ku, ku tarik perlahan tangan mahen mengisyaratkan ajakan kepada Mahen.
Namun penolakan kurasakan dari tarikan yang kuberikan kepadanya, lelaki itu menahanku "Mahika bisakah kita berbicara sebentar, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan", raut di wajah Mahen begitu serius jujur saja kala itu aku takut dan ingin menolaknya, semua kalimat yang ingin diucapkannya sepertinya akan begitu menakutkan.
"Ada apa Mahen" tanyaku penuh kekhawatiran, kami saling mengunci pandangan seolah olah, didunia ini hanya berisi diriku dan Mahen saja, benar memang benar firasat burukku benar benar terjadi.
"Apakah baik baik saja jika saya pergi Mahika", Terguncang segala isi di diriku segala pertanyaan mulai mengisi kepalaku yang berisik "Apa maksudnya mahen, kamu mau ninggalin aku" Kukatupkan gigiku menahan tangis yang kapan saja bisa keluar dari kedua bola mataku, "Mahika tidak akan lama, saya berjanji" Begitu ucapnya.
Aku menggelengkan kepala ku, spontan menolak keras apa yang di ucapkan lelaki itu, Mahen mendekapku lagi, aku tenggelam dalam tangisanku meraung memohon agar Mahen tetap berada disisiku.
"Mahika tolong jangan bersedih hati itu membuat saya ikut sedih, saya akan datang nanti memasangkan cincin di jari manismu, jadi tunggu saya sampai saat itu,saya mohon"
Aku mendongak ke arah laki laki itu "Kemana kamu akan pergi, apakah lama?" Tanyaku tak rela melepaskannya, laki laki itu tersenyum penuh sayang "Saya akan pergi ke tempat jauh Mahika, kalau tidak salah sepertinya nama negara itu adalah australia" Balas laki laki itu setia menahan senyumannya.
Kini giliran aku yang diam, aku tidak ingin menjawab laki laki itu,aku hanya ingin tetap seperti ini selamanya, berada di dekapan hangatnya.
Setelah tubuhnya menenangkan raga dan pikiranku, aku bersandar di pundaknya memandangi keatas langit yang hampir sore senja "Kamu pasti capek ya dipukulin ayah kamu tiap hari makanya kamu pergi" Aku menatapnya sedih "Tidak, bukan begitu kekasih saya, saya selalu kuat alasan saya pergi adalah ibu, saya merindukan ibu saya Mahika" Lagi lagi lelaki itu mendaratkan sebuah senyuman di bibirnya.
"Setelah bertemu ibu, kamu janji bakal balik iyakan?" Tanyaku memastikan, namun lelaki itu lagi lagi hanya tersenyum,kali ini lelaki itu membelai rambutku halus dan menciumnya.
"Saya tidak tahu kapan, namun saya berjanji akan kembali" Ucap Mahen menatap dalam bola mataku, Aku menghela napas panjang menerima semua yang dikatakan lelaki dihadapanku ini, "Mahen aku selalu percaya, jika kamu ingin aku menunggu aku pasti akan menunggu" Ucapku pasti.
Tawa kecil mulai menghiasi bibir lelaki itu menatapku sayang "Begitu beruntungnya saya mahika",Aku ikut tertawa melihat tawa indah yang dimilikinya "Kenapa begitu?" belum menjawab Mahen mengecup kening ku, tentu saja gerakan tiba tiba itu membuatku membeku diam disitu.
"Mahika kekasih saya begitu cantik terimakasih kepada Tuhan karena membuat Mahika untuk Mahen"
Aku tertawa lagi dibuatnya, kami tertawa bersama setelah melepaskan sedih, andai kamu tau Mahen kekasihku, aku lebih bersyukur memiliki dirimu.
Senja kala itu menjadi saksi terakhir kali kami bersama kini sudah satu bulan kekasihku Mahen meninggalkanku untuk bertemu ibunya di negara asing, walau begitu tentu saja komunikasi kami tidak terputus.
Aku selalu bertanya tanya mengapa Mahen mengirimiku surat untuk mengabariku padahal kami berdua sama sama mempunyai handphone dan menurutku mengirim surat juga membutuhkan waktu yang lama apalagi negara tempat kami tinggal tidak terhitung dekat.
"Bukankah lebih romantis jika saya mengirimimu surat, saya juga lebih suka menulis dan melihat tulisanmu" Begitulah kalimat balasan yang ditulis Mahen di suratnya, lagi lagi aku dibuat senang oleh kata katanya yang manis.
Kini hampir 3 tahun aku berkirim surat dengan Mahen namun saat ini aku gundah,Mahen membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membalas hanya satu suratku, bahkan sekarang Mahen jarang mengabariku lewat surat bahkan hampir tak pernah, hari demi hari aku menguatkan kepercayaanku agar terus percaya kepadanya, pikiran pikiran buruk selalu ku tepis walau tak jarang aku berpikir bahwa Mahen berpaling dariku.
Hari demi hari aku datang ke kantor pos demi mengirimkan sebuah surat kepada Mahen namun hasilnya nihil, Mahen tidak membalas satu surat pun yang aku kirimkan kepadanya, tidak bisa ku tepis lagi pikiran pikiran negatif yang terus memenuhi kepalaku.
Kamis,21 Februari 2019
Untuk:Mahendra Rakai Panangkaran
Dari:Raden Ayu Mahika Selaras
"Mahen, ini kekasihmu mahika bagaimana kabarmu aku selalu berharap kamu baik baik saja, apa kamu bahagia disana?, aku sangat sedih kamu tidak membalas lagi suratku selama 3 tahun ini, aku rindu sangat rindu semua tentangmu Mahen, 1 tahun lalu aku mendapatkan pekerjaan impianku apakah kamu masih ingat impian kita Mahen? Aku yakin kamu sudah menjadi penulis sastra terkenal di sana, jika kamu tidak kembali kepadaku maka kini aku yang akan mencarimu Mahen, sebentar lagi kita akan bertemu, sungguh senang hatiku akan melihatmu setelah sekian lama, Besok aku akan terbang ke Australia kuharap kamu membaca suratku, ini akan menjadi surat yang terakhir."
Surat itu menjadi penutup untuk kepergianku,butuh sekitar 7 jam untuk aku sampai ke negara asing itu lelahku tak terasa jantungku berdegup keras aku akan menemui kekasih yang aku cintai begitu pikirku, saat itu aku juga memikirkan kata kata apa yang akan ku ucapkan di depannya, Mahika kekasih Mahen sudah menjadi wanita yang cerdas.
Ku keluarkan langsung alamat kekasihku Mahen dari saku jaketku, mendaratnya pesawat langsung membuat ku bersemangat dengan sigap ku cari taxi yang berlalu lalang di jalan sambil dengan bangganya aku berucap "Sir can you take me here", akhirnya aku dibawa berjalan menuju kerumah kekasihku.
30 menit telah berlalu kini aku sudah berdiri didepan mansion besar, kagum takjub lagi lagi jantungku berdegup keras aku melihat berulang kali apakah ini alamat yang benar lalu aku meyakinkan diri "Mahennya Mahika telah sesukses ini ternyata" pikirku, senyuman terukir di bibirku melihat rumah yang luas dan megah itu, mataku mulai menyusuri setiap bagian dari bangunan tersebut.
Dengan langkah tegap pasti aku memberanikan diriku untuk memenekan bel yang ada di pinggiran pintu mansionnya "ddingddong" suara bergema dikeluarkan dari bel yang tadi ku tekan
2 menit 3 menit barulah pintu yang menjadi jalan utama masuk itu terbuka, namun kecewanya hatiku melihat bahwa yang membukakan pintu itu bukanlah kekasihku namun seorang wanita tua yang sungguh membuat mata tersihir begitu elegan dan cantik.
"Excuse me,is mahen in there?" Dengan berani aku bertanya dan tersenyum kearah wanita tua itu, dia ikut tersenyum ketika melihatku dan berjalan kearahku memelukku, tentu saja aku begitu terkejut dengan perlakuan wanita tua itu "Mahika saya sudah lama menunggu kamu,ayo nduk masuk dulu" Ucap wanita tua itu.
Kedua kalinya aku di kejutkan oleh wanita tua itu, saat dia berbicara didalam logatnya tercampur aksen kejawaan, makin bingung aku dibuatnya kala itu "Permisi apa ibu ini,ibunya Mahen" Tanya ku lagi yang begitu penasaran dengan wanita tua ini.
Wanita itu tersenyum "Betul saya ibunya Mahen, ayo masuk dulu pasti kamu capek to" Balas wanita tua itu menggiringku masuk "Saya mau ketemu Mahen bu saya kangen, kangen banget" Ucapku tak sabar.
Namun wanita tua itu tersenyum lagi kearahku dan mengucapkan kalimat yang sama "Ayo masuk dulu", Aku menyerah akhirnya aku berjalan mengikuti wanita tua itu masuk ke dalam mansion yang begitu megah, kini kami berdua sudah ada di ruangan yang ku tahu itu adalah ruang tamu begitu indah, mataku tertuju kepada satu bingkai foto yang menempel di dinding itu.
"Bu saya.." belum selesai aku berbicara wanita tua itu menepuk pundakku mengisyaratkan ku untuk duduk, "Tunggu sebentar ya sayang, tak ngambil titipan Hendra dulu" Ucap wanita itu berdiri meninggalkan ku yang terduduk diruang tamu sendirian.
Jantungku berdegup takut ada firasat tidak enak yang memenuhi perasaanku, apa maksudnya titipan apa mahen pergi ke negara lain lagi apa dia menikah dengan wanita lain?
Aku menutup mataku menenangkan pikiranku yang kalang kabut, kuberdirikan diriku berjalan kearah foto yang menjadi fokusku sejak tadi ku pandangi foto itu dalam dalam kusentuh dengan sayang, menakjubkan selalu foto masa kecil kekasihku itu begitu membuat mata terlena.
"Mahen aku rindu" Ucapku miris kutempelkan dahiku ke foto itu lelah begitu lelah aku ingin kembali kedekapannya yang hangat, cukup lama aku di posisi itu hingga suara wanita tua tadi kembali terdengar "Mahika nduk sini dulu, ibu mau ngomong" begitu katanya.
Seperti tersihir tubuhku berjalan dengan sendirinya ke arah wanita tua itu mendudukan diri di sampingnya, wanita tua itu mulai membuka sebuah album besar yang ada di tangannya mengganti halaman album itu satu persatu dengan halus sambil menceritakan kisah kekasihku.
Aku senang, senyuman ku tidak dapat ku hilangkan ketika aku mendengar wanita tua itu bercerita tentang kekasihku Mahen, "Makasih ya bu udah cerita tentang Mahen" Aku memeluk wanita tua itu berterimakasih, "Iya sayang ibu ikut seneng nyeritain Hendra" Wanita itu menepuk pelan punggungku.
"Sekarang kita lanjutin ke akhirnya bagaimana" Tanya wanita itu menatapku lurus, aku tidak bisa menjelaskannya yang pasti ada kesedihan dan kerinduan di mata wanita tua itu, aku hanya diam mengangguk setuju.
Lantas wanita tua itu menyodorkan secarik kertas kearahku "Ini titipan Mahen di baca pelan pelan yang ikhlas", Dari ucapannya firasat burukku semakin menjadi jadi aku baca perlahan menyusuri setiap kata lalu akhirnya aku menangis keras.
Selasa, 24 Oktober 2017
Untukmu kekasihku Raden Ayu Mahika Selaras
"Mahika saya rindu begitu rindu dengan kamu apakah kerinduan ini ada obatnya?, setiap detiknya saya selalu memikirkan Mahika, apakah kamu baik baik saja semoga Mahika selalu sehat, kalau seandainya Mahika membaca surat ini artinya saya sudah tidak bisa bertemu Mahika selamanya ya? begitu memikirkannya hati saya sakit bukan main saya tidak ingin hal itu terjadi Mahika, bukan tanpa alasan saya menulis ini, namun jika Mahika ke sini paling tidak saya bisa menyampaikan kebohongan saya selama ini, Mahika kekasih Mahen, Dunianya Mahen, Segalanya bagi Mahen tolong jangan terlalu sedih dengan kepergian saya nanti, selama ini saya terbaring lemah dirumah sakit di pasangi alat alat medis yang menyakitkan, jikalau Mahika melihatnya pasti akan tertawa karena itu lucu saya seperti boneka yang hidup, dokter bilang saya menderita leukimia sudah terlambat untuk mengobatinya maafkan saya tidak memberitahumu lebih cepat saya takut Mahika akan lebih menderita dari saya semoga mahika tidak malu mempunyai kekasih cacat seperti saya, ketika saya nanti sudah tidak bisa membalas surat Mahika maafkan saya sepertinya tangan saya sudah tidak kuat bahkan untuk mengangkat satu pena pun, tidak perlu khawatir Mahika saya akan berjuang untukmu, akan saya berikan surat ini jika saya sudah berakhir jika benar itu terjadi tolong lupakan segalanya tentang saya bahagiakan dirimu Mahika,maafkan saya sekali lagi telah mengingkari janji saya, saya akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu selamanya Mahika adalah kekasihnya Mahen"
Salam cinta dari Mahennya Mahika
Bungkam tangisan keras ku semakin menjadi jadi aku memeluk erat secarik kertas yang ditulis dari kekasihku itu, badanku sudah terduduk dilantai lemas tidak kuat runtuh semua pertahananku selama ini, duniaku seolah olah meninggalkanku sendiri di dalam tangisanku.
"Nduk sing sabar, maaf ibu gabisa bilang lebih cepet ibu takut kamu kaya gini tidak siap ibu" Wanita tua itu memelukku mengusap punggungku ikut tenggelam dalam tangisku, kami larut dalam kesedihan menangisi sosok pria hebat yang sekarang tidak akan bisa dijumpai lagi.
"Ibu tolong antar saya ke tempat peristirahatan terakhir Mahen saya mohon" Raungku meminta tolong kepadanya, sambil berjalan air mataku tak ada hentinya keluar mengalir deras begitu saja, kali ini aku benar benar akan menemui kekasihku kerumah terakhirnya.
Tangisku terhenti begitu saja ketika sampai di pemakaman, gundukan tanah bertulis kan Mahendra Rakai Panangkaran di nisannya mengunci fokusku, bagai dihantam kenyataan aku berlari kearah gundukan tanah itu dan menangis berteriak pada semesta seolah semesta telah merenggut jiwaku benar memang benar.
Wanita tua itu ibunya mahen ikut terduduk disampingku mengusap lagi pelan pundakku.
Terimakasih Mahendra Rakai Panangkaran telah menjadi bagian paling berharga dari Raden Ayu Mahika Selaras, dimanapun kapanpun dan dikehidupan apapun itu Mahendra akan selalu menjadi kekasihnya Mahika.
Jikalau benar memang ada kehidupan kedua aku akan selalu bersedia menjadi kekasihmu Mahen.