~enjoy your time as you read my story~
Aku berdiri di spot favoritku. Menyaksikan lampu sorot yang padam satu persatu dengan suara dentum khasnya. Menunggu dengan tidak sabar lima pemuda yang berjalan menuju kearahku setelah kerja keras mereka menghibur penggemar.
Menyambut keheningan yang perlahan hadir seiring dengan langkah pemuda-pemuda hebat itu undur diri setelah menundukkan tubuhnya menunjukkan rasa terimakasih atas apresiasi dan sorakan yang membuat malam dingin menjadi membara.
Saat-saat seperti inilah aku melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat orang lain. Perlahan senyum itu menghilang seiring dengan menghilangnya sorot lampu panggung.
"Semua sudah siap di ruang tunggu," ucapku setengah berlari menyelaraskan langkah dengan kaki Riuchi.
"Kita langsung ke hotel," suaranya begitu datar.
Sorot mata keempat pemuda yang lain tampak jengah setiap kali leader mereka itu tak memberi kesempatan untuk rehat sekedar melepas lelah. Padahal setiap venue selalu menyediakan ruang khusus untuk artis beristirahat dengan fasilitas lengkap plus hidangan mewah.
"Ah, not again. Sampai kapan kau akan memaksakan kehendakmu seperti ini?!" Teriak Sutaro. Pemuda yang memiliki potongan rambut paling panjang diantara kelimanya itu selalu yang paling berani membantah.
"Kalau kau tak mau, tinggal saja sendiri dan kembali ke hotel bersama staff yang lain."
Langkah panjang Riuchi tak berkurang sedikitpun malah semakin cepat meninggalkan member yang lain.
Aku melirik sekilas dan memberikan tanda samar seperti biasa untuk menetralkan suasana.
"Lain kali aku yang akan memutuskan." Sutaro mempercepat langkah mendahului Riuchi. Sementara Kenji, Gorou dan Isao mengangkat bahu tak peduli.
Mobil SUV yang membawa mereka senyap. Keriuhan diatas panggung seakan tak pernah ada. Wajah-wajah ceria yang selalu menghibur di depan penggemar seperti tenggelam dalam kabut yang gelap dan dingin.
"Aku ingin makan, perutku teriak-teriak tak karuan. Kalau dia bisa bicara, pasti sudah nge-rap dengan nada kecepatan cahaya," Gorou mengelus perutnya sambil memasang wajah meringis.
"Sudah siap semua. Kita hanya harus segera sampai di hotel."
"Woi, Rika...kau tahu, menahan lapar itu tugas yang paling berat dalam hidupku yang tidak mudah ini," mata sipitnya makin sipit karena ekspresinya saat ini.
"Kau tak akan mati karena menahan lapar sebentar, tck," sambar Isao yang memiliki sifat hampir sama dengan Riuchi, tapi laki-laki yang memiliki warna kulit paling terang diantara mereka berlima ini masih bisa luwes pada waktu-waktu tertentu.
Sementara yang lain ribut, Kenji diam menatap ponselnya. Entah apa yang membuatnya tertahan pada benda pipih itu. Sedang Sutaro memejamkan mata, dahinya masih berkerut setelah perdebatan singkat tadi.
"Besok adalah jadwal kita yang terakhir kan," suara Kenji membuatku melihat ke arahnya.
"Ya, fansign di hotel tempat kita menginap. Hanya beberapa puluh penggemar saja dipilih oleh perusahaan, berdasarkan perhitungan banyaknya mereka membeli album kalian."
Aku masih melihat kearahnya, tapi Kenji sama sekali tidak mengalihkan matanya dari ponsel. Hanya kepalanya saja mengangguk perlahan hampir tak terlihat.
Kadang aku berpikir seharusnya Kenji yang menjadi leader grup ini, bukannya Riuchi yang kaku. Lagi pula, siapa juga yang memberi nama panggung untuk mereka, kreatif sekali menggunakan nama berbau Jepang, padahal mereka orang Indonesia asli, mungkin karena semua member matanya hanya segaris tipis—entahlah. Aku terkikik perlahan.
"Apa yang sedang kau pikirkan." Tiba-tiba suara Gorou begitu dekat dengan telingaku, bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya menyentuh cupingku, "kau pasti memikirkan yang tidak-tidak."
Karena kaget aku reflek menggerakkan kepala menghadap padanya yang malah membuat pipiku hampir menyentuh bibir Gorou.
"Tidak ada yang aku pikirkan." Memalukan, pasti sekarang wajahku sudah semerah kepiting rebus.
"Suara tawamu itu tidak bisa menipuku. Apa yang kau pikirkan, hah, apa yang kau pikirkan." Rambutku ditarik sambil tangannya terus menguyel-uyel puncak kepalaku.
"Berhentilah Gorou, kau membuat kepalaku pusing. Kulit kepalaku bisa lepas kalau kau tarik begini."
Aku berusaha melepas cengkeraman tangan Gorou pada rambutku tapi tampaknya sia-sia.
"Sebutkan dulu apa yang sedang kau pikirkan. Jangan bilang otakmu itu masih belum bisa menerima nama panggung yang kami pakai." Gorou terus saja menarik-narik rambutku.
"Hei, hentikan! Sakit tahu!" Aku mencengkeram tangan Gorou tapi tetap saja tenagaku kalah dengan kekuatannya.
"Diamlah kalian berdua, aku butuh istirahat." Suara Riuchi membuat Gorou melepaskan tangannya.
"Ya, kami butuh ketenangan."
Gorou mencibir mendengar Isao ikut menimpali perkataan Riuchi. Entah apa yang digumamkan tapi bibirnya bergerak-gerak tak jelas.
Suasana kembali sunyi sampai mobil memasuki area parkir. Staff selalu berhasil mengecoh wartawan agar tidak mengikuti kami. Tapi terkadang gagal juga jika ada staff lokal yang tidak loyal membocorkan keberadaan kami, tapi itu jarang terjadi. Umumnya mereka takut karena konsekuensi hukum menanti jika para staff lokal itu melanggar kontrak kerja.
Pihak promotor benar-benar memperhatikan privasi para member dan staff. Semua disediakan secara khusus dan tidak bercampur dengan tamu umum yang menginap. Bahkan kami disediakan jalan khusus dengan menggunakan lift pribadi yang langsung menuju suitroom terbaik.
Memasuki kamar, aroma makanan tercium memenuhi ruangan, menyambut perut kami yang keroncongan—termasuk perutku. Tanpa ba-bi-bu Gorou langsung menuju meja dan menikmati hidangan.
"Paling tidak kau bisa membersihkan diri dulu," cerca Kenji yang berlalu masuk kamarnya.
Promotor memang hanya menyediakan satu suitroom, tapi didalamnya terdapat tiga kamar tidur yang nyaman. Hanya Riuchi yang menempati kamarnya sendiri sedangkan ke-empat yang lain saling berbagi. Kalau aku biasanya tidur di sofa karena mereka bisa saja tiba-tiba membutuhkan sesuatu.
Setiap selesai perform adalah waktu melakukan evaluasi. Mengeluarkan buku yang biasa aku gunakan untuk mencatat setiap masalah yang bisa saja hadir mengganggu jalannya pertunjukkan. Paling tidak aku punya antisipasi untuk menghindari kejadian yang sama pada show berikutnya.
Beberapa kali aku digoda Gorou karena kebiasaanku yang lebih suka menulis di buku dari pada memanfaatkan gawai yang disediakan khusus untukku. Bagiku menulis membuatku mengingat lebih banyak dari sekedar mengetik pada tablet.
Setelah menyelesaikan catatan, aku merapatkan jaket dan merebahkan diri. Tidak terpikir untuk mandi. Membayangkan air mengguyur tubuh saja membuatku kedinginan.
Makanan tetap penuh diatas meja, sepertinya hanya Gorou yang tadi menikmati makan malamnya. Sedangkan yang lain aku pikir memilih untuk langsung tidur. Besok di awal pagi aku akan kelabakan jika tak kusiapkan hidangan karena mereka pasti kelaparan.
Sebelum aku benar-benar merebahkan diri, sekali lagi aku berkeliling. Dua kamar sudah tertutup rapat, hanya satu yang pintunya terbuka sedikit. Dari sela pintu aku bisa melihat Riuchi berdiri disisi jendela memandang keluar.
Aku mematung sebentar. Aku tahu pasti ada banyak yang berkecamuk di kepalanya, tapi aku tak pernah bisa membayangkan berada pada posisinya. Betapa hancur hatinya, seberapa banyak dia bersandiwara untuk membuat orang lain bahagia. Berpura-pura hidup dengan baik demi menyenangkan orang lain yang disebut penggemar.
"Kau belum tidur?" dari tempat aku berdiri, aku bisa melihat asap rokok mengepul kemudian menghilang di udara.
"Belum."
Wajah tampan itu menengok kearahku, "tidurlah, aku baik-baik saja."
"Hmm, kau juga."
Tidak menjawab, Riuchi kembali membuang pandangannya kearah luar jendela. Perlahan aku berlalu dan kembali ke sofa.
"Kau boleh mandi disini kalau mau."
Tawaran yang selalu kudengar, tapi juga tak pernah kujawab karena aku yakin Riuchi sudah tahu kalau aku pasti menolaknya.
———
"Kau jangan rewel, kau bukan anak-anak lagi. Kenapa kau selalu meributkan hal-hal kecil yang tak penting!" Suara Sutaro memecah ketenangan makan pagi.
"Aku hanya tak suka susu plain begini. Aku maunya susu dengan dark coklat yang kental," Gorou melirikku.
Bagaimana bisa pihak hotel melupakan yang satu itu, "sebentar lagi akan siap."
Gorou memang selalu meributkan hal-hal remeh, "harusnya kalian menaikkan gajiku. Kalian begitu rewel, cerewet, dan merepotkan seperti wanita."
"Mintalah pada Gorou, hanya dia yang serewel nenek-nenek," sambar Kenji yang matanya masih fokus pada gawai di tangannya. Sementara yang namanya disebut sudah asyik menikmati susu coklatnya.
"Kalau tidak ada lagi yang harus aku lakukan, aku akan turun ke lobi. Aku harus mengecek persiapan fansign di bawah."
"Jangan lupa air mineral dan kipas kecil." Lagi-lagi si nenek minta sesuatu yang pasti sudah disediakan. Lagi pula siapa yang butuh kipas kecil jika ruangannya dingin ber-AC.
"Berhentilah mengganggu Rika, dia sudah bekerja dengan baik selama ini."
Suara Riuchi masih aku dengar sebelum aku keluar. Dan aku masih sempat melihat staff makeup mulai melakukan sentuhan akhir sebelum semua member turun ke lobi.
Hotel ini memang luar biasa. Bukan tanpa alasan tempat ini berlabel bintang lima. Semua persiapan rampung tepat waktu dan sempurna. Bahkan 5 buah kipas kecil sudah tersedia di masing-masing meja.
Setelah yakin semua persiapan selesai. Aku menuju tempat yang disediakan khusus untuk menyambut member. Tentu saja setelah semua fans masuk dan duduk di kursi yang disediakan.
Diwaktu seperti ini aku selalu merasa di alam mimpi. Berada ditempat yang diinginkan banyak orang bersama idola mereka. Ketika satu persatu fans masuk ruangan dan menempati kursi diiringi teriakan fanchat yang mereka buat, hatiku selalu lebih hangat dari sebelumnya. Kerja keras member membuahkan hasil yang luar biasa dan aku adalah bagian dari perjuangan mereka.
Handytalkie yang aku pegang terus berbunyi untuk koordinasi. Aku harus bergegas menyambut saat member tiba. Menunjukkan tempat duduk masing-masing, dan tentu saja Riuchi berada di tengah.
Lambaian tangan, senyuman yang tak pernah hilang menghiasi wajah-wajah tampan itu.
"Selamat siang," Riuchi membungkam teriakan fans yang sedari tadi terdengar tanpa jeda.
Suara-suara, aku mencintai kalian, kalian sangat keren, kalian adalah manusia paling berbakat yang pernah ada di bumi, atau bahkan marry me, menggema tanpa henti. Tapi suasana langsung senyap ketika sang leader mulai menyapa.
"Hai uri princess, terimakasih atas kehadiran kalian hari ini. Aku bangga pada kalian."
"Kami lebih bangga padamu Riuchi..." Wah suara itu membuatku terkejut, keras sekali.
"Hahaha...kalau begitu memang kita saling membanggakan."
"Kalian berlima adalah bintang kami," aku kembali tersenyum, ya...mereka berlima juga seperti bintang buatku. Bersinar terang tapi tak tergapai.
"Ya...ya, kalau kami adalah bintang kalian adalah matahari dan bulan kami." Suara Kenji membuat penggemar kembali menggila. Sementara member yang lain tersenyum melihat ke arah Kenji dan fans bergantian.
Isao meletakkan jari di depan bibirnya, suara-suara itu kembali reda.
"Kalau tidak ada kalian kami tidak akan pernah bisa duduk disini," Riuchi melanjutkan kalimatnya.
"Dukungan kalian yang luar biasa membuat grup ini menjadi dikenal di hampir seluruh bagian bumi."
"Sekali lagi kami ucapkan terimakasih atas dukungan luar biasa tanpa henti yang kalian berikan."
Riuchi memberi tanda pada Gorou dan si konyol itu segera mendekatkan mic pada bibirnya.
"Hari ini kami akan lakukan apapun yang kalian inginkan, tapi kami tidak akan menyanyi. Kalian bisa melihat kami menyanyi saat konser."
"Apapun?!" Teriak salah satu fans.
"Apapun," Sutaro menjawab dengan suara yang dibuat rendah dan dalam.
"Ah...aku jatuh cinta padamu Sutaro, suaramu begitu seksi," sahut Gorou membuat semua member dan fans tertawa.
Seperti yang sudah-sudah acara fansign selalu sukses. Grup The Prince terkenal dengan keakrabannya dengan para uri princess—sebutan fans The Prince. Tidak ada satu permintaan uri princess yang tidak dikabulkan. Memakai gift yang diberikan, melakukan hal-hal konyol, bahkan memberi pelukan.
Aku memandang iri mereka semua. Ah, bahkan ketika aku ingin menyentuh, aku harus memiliki alasan yang kuat dan masuk akal. Kalau tidak aku bisa ditendang Riuchi sampai ke kutub Utara atau ke Antartika.
Acara fansign diakhiri dengan kalimat mutiara dari para member.
"Hiduplah dengan baik karena hidup kalian adalah milik kalian bukan milik orang yang mengomentari seperti kritikus film yang selalu bilang kalau artisnya hanya cantik tapi tak bisa berakting," Sutaro.
"Jadilah bijaksana, nikmati hidup tapi jangan lupa kalau suatu saat semua akan pergi dan menghilang, karena itu selalu berhati-hatilah," Kenji.
"Jadilah manusia yang kuat, kalian boleh lelah, menangis, membenci tapi jangan pernah terpikir untuk berhenti melangkah dan menyerah. Hidup memang tak mudah, tapi lebih sulit lagi jika kita dalam kematian, sebuah dunia yang tidak kita kenali keberadaannya. Cintai pasanganmu seperti kamu mencintai diri sendiri, jangan berkorban karena pengorbanan adalah hal yang memaksa," Riuchi.
"Kami mencintai kalian, kami tak akan mencari pasangan," sebuah suara nyaring terdengar dari deretan bangku fans.
Ah, salah satu fans fanatik.
"Jangan mencintai kami sebagai manusia. Cintai kami sebagai idola, cintai karya-karya kami karena kalian tak mungkin memiliki kami." Isao—si kaku yang selalu blak-blakan.
"Makanlah yang baik, coba semua makanan yang menarik di mata kalian. Hati-hati dengan makanan mentah, kadang indah tapi beracun." Gorou, yang pernah keracunan buah beri liar.
Tour kali ini selesai. Setelah berbulan-bulan mengelilingi belahan bumi yang berbeda, disinilah kami sekarang. Sebuah jet pribadi membawa kami pulang.
Kelima pemuda itu tidur dengan nyaman, aku mengawasi dari tempatku duduk. Tidak ada percakapan, karena memang saat perjalanan sama dengan waktu istirahat. Hanya Riuchi yang tidak tidur, dia memandang keluar. Mungkin saat ini jiwanya sedang melayang menari samba diatas hamparan langit sambil tertawa.
Beberapa jam terlampaui. Perjalanan udara dilanjut perjalanan darat membawa kami pada sebuah rumah mewah di pinggir kota. Rumah ini adalah rumah singgah yang akan kami datangi setiap kali selesai tour. Setelah itu masing-masing member akan pulang ke apartemen masing-masing, kecuali Riuchi.
Bergantian mereka menepuk bahu Riuchi setelah mendatangi sebuah kamar lalu berpamitan. Bahkan Gorou si tukang bercanda akan menjadi pendiam tiba-tiba jika berada di rumah ini.
Aku akan selalu menjadi orang yang masuk paling akhir setelah semua member pergi dan rumah kembali lengang. Mendekati Riuchi yang kini duduk di sisi ranjang sambil menggenggam erat tangan seorang wanita yang sedang berada dalam tidur panjangnya.
"Kau boleh pergi," selalu itu yang kudengar ketika Riuchi mulai menyadari kehadiranku. Mata beningnya tak lepas dari wanita itu. Wanita yang tubuhnya penuh dengan alat penunjang kehidupan. Wanita dengan senandung nada mesin pengingat kalau dia masih ada di dunia ini.
Aku menepuk bahu Riuchi pelan lalu mengambil langkah undur diri. Tak ada yang pernah tahu apa yang dia alami dan rasakan dibalik senyum dan kata bijaknya didepan fans atau dalam video. Yang orang tahu dia menghibur orang lain tapi tak ada yang tahu jika dirinya sendiri butuh penghiburan...
===