"Aku selalu cinta sama kamu." Suara itu terus mengelilingi isi otaknya. Hembusan napas terdengar pelan. Gadis itu menutup kedua matanya sembari menikmati angin sore di balkon.
"Gimana kabar kamu? Aku rindu...."
Gadis itu membuka matanya. Menatap awan-awan yang menjingga tua. "Aku tau, rindu ini udah telat ... aku tau kalo kita juga tetep gak bakal bersama."
Jari-jemarinya mengepal kuat. Hatinya sesak ketika dia mengingat kenangan bersamanya. "Hazel ... kenapa kita dulu harus jatuh cinta?" Air matanya menetes. Ketika gadis ini harus ikhlas bahwa mantan kekasihnya sekarang telah mempunyai kekasih baru.
"Kalo bukan karena kamu baik, mungkin aku gak bakal jatuh cinta ... tapi kamu ngerasain gak sih apa yang aku rasain juga? Kangen, kangen sama kamu,"
"Hazel, Nala kangen...." Hazel dan Nala dulu saling mencintai, bahkan Hazel-lah dulu yang membuat Nala menjadi lebih banyak aktif dan pintar. Hazel selalu mendukung keputusan Nala.
Banyak kenangan yang selalu membuat Nala bahagia. Nala dan Hazel lupa bahwa mereka berbeda agama. Tak akan mungkin bisa bersatu, meskipun mereka saling mencintai. Satu alasan yang membuat Nala tak bisa melupakan Hazel bahwa Hazel tak pernah membuatnya menangis.
Mereka memutuskan hubungan karena berbeda agama. Kemarin, Nala tak sengaja bertemu dengan Hazel ketika di minimarket. Hazel nampaknya telah bahagia bersama yang baru. Hati Nala sakit melihat Hazel tersenyum tapi itu membuatnya senang.
"Terlambat ya, bilang kangennya?" Nala terkekeh kecil. "Kamu bilang, dulu kamu pengen jadi pilot ... sekarang kamu jadi penulis yang hebat."
"Aku lega kamu udah punya pacar, kemarin kamu ngasih aku undangan nikah ya...." Nala menunduk, melihat undangan yang dia pegang di tangan kanannya. Nama kapital Hazel tercetak jelas.
"Nala, apa kabar? Aku mau ngasih undangan ini ... ini calon istri aku."
Suara ombak dan aroma gelombang masih sama seperti dulu. Kenangan semakin jelas terlihat di kedua mata Nala. Air mata Nala menetes tanpa izin.
"Sekarang juga kamu tetep jadi yang teristimewa di dalam kenangan aku." Nala mengusap air matanya. "Hazel, semoga kamu tetep bahagia ya. Maaf kemarin aku malah diem doang pas denger kamu mau nikah. Makasih ya."
Nala mundur selangkah sembari mengusap air matanya. "Anak kamu pasti mirip sama kamu, aku yakin deh!" Nala tertawa miris, dia meremas kecil undangan pernikahan itu. Sudah saatnya dia harus merelakan ini semua.
Hazel telah menemukan cinta pertama dan terakhirnya. Hubungan Nala dan Hazel sudah benar-benar berakhir yang seharusnya Nala pikir akan berakhir bahagia. Nala harus ikhlas, sesak itu mulai pudar ketika Nala sudah mulai ikhlas.
"Aku janji, aku bakal ngelupain kamu dengan baik."