Main cast:
1. Hyunsuk Treasure
2. Dita Secret Number
3. Jinny Secret Number
4. Soodam Secret Number
Memendam perasaan adalah hal yang sulit dan menyebalkan bagi Dita Karang, buktinya saat sekarang pun gadis berdarah Bali itu harus menyembunyikan perasaannya kepada Choi Hyunsuk, mahasiswa semester dua yang sedang berjualan es dawet di depan kampus, sudah satu tahun Hyunsuk menekuni pekerjaan selingannya itu, selama satu tahun itu pula Dita memendam perasaannya kepada Hyunsuk yang tak kunjung terungkap.
"Dit, hari ini lo nggak sibuk, kan?" tanya Jinny, sahabat Dita.
Dita tersadar dari lamunannya yang bertemakan Hyunsuk. "Nggak."
"Oh, kirain lo mau jualan es krim, terus jadi saingannya Hyunsuk lagi," ucap Jinny.
Dita menggeleng. "Hari ini nggak, kalo besok iya."
"Gimana sih Dit, katanya suka, kok sampe sekarang masih jadi saingan si Hyunsuk, sih, heran gue sama pemikiran lo." Jinny menepuk-nepuk punggung Dita. "Belajar merebut pacar orang dengan gaya yang lebih estetika dong."
"Setiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk membuktikan cintanya, dan gue memilih jadi saingannya dalam berjualan minuman, ketimbang jadi perebut pacar orang."
Jinny bergidik ketakutan. "Mengerikan sekali kisah cinta lo, sama sekali nggak patut ditiru."
"Hujat aja terus, ya udah, gue pulang duluan, ya!" Dita melambaikan tangannya, dan berjalan ke tempat parkiran.
"Hati-hati, jangan terlalu banyak berharap, nanti nyungsep," cemooh Jinny yang yang tidak mendapatkan tanggapan dari Dita.
Dita naik ke atas motor hitam miliknya. Sebelum menancapkan gas motornya, ia melirik Hyunsuk yang sedang berjualan es dawet dengan gerobak mini, di samping Hyunsuk ada seorang gadis yang menggunakan kacamata hitam.
"Cih, cewek itu lagi." Selain kesulitan dalam memendam perasaannya kepada Hyunsuk, ia juga sangat kesal dengan adanya perempuan di samping Hyunsuk yang bernama Soodam. Jika tidak ada perempuan itu, mungkin Dita bisa mengungkapkan perasaannya kepada Hyunsuk dan menjadi kekasihnya.
******
Hari ini, sesudah pertemuan di kampus, Dita menyempatkan diri untuk berjualan es krim yang bersebelahan langsung dengan Hyunsuk, ini adalah kesempatan baginya untuk bisa berdekatan dengan Hyunsuk, tapi sayangnya di samping Hyunsuk ada Soodam, kekasih Hyunsuk sejak satu tahun yang lalu.
"Es dawet-nya Kak?" Hyunsuk melambaikan tangannya seraya tersenyum kepada beberapa mahasiswi yang lewat di depannya.
"Jangan, nanti sakit perut, makan es krim aja yuk, lebih sehat dan segar." Dita tersenyum lebar.
Hyunsuk yang merasa tersaingi mendengus. "Cih, cewek ini lagi. Udah dilarang, masih aja jualan di sini, kayak nggak ada tempat lain aja, untung gue orangnya ganteng dan penyabar," gumamnya.
Seorang mahasiswi menjawab, "Maaf, gue lagi nggak kepengen es krim, apalagi penjualnya kayak lo yang nggak ada keren-kerennya, tapi kalo es dawet punya Hyunsuk mah, sampe ke penjualnya pun gue mau."
Dita terdiam, dengan perasaan tertohok. "Tidak dapat dipungkiri fisik sangatlah berpengaruh," gumamnya yang sedang merenungi nasib. "Tapi masalahnya gue kan nggak jelek, yak Jinny bilang gue cantik, apa karena gue kurang memperhatikan penampilan, kali ya?"
Hyunsuk melirik Dita. "Kenapa lo? Muka lo kok jadi menyedihkan gitu?"
Dita menundukkan kepalanya, ia tidak sanggup bertatapan langsung dengan Hyunsuk. "Gue sepertinya menyadari sesuatu, dan gue ingin memantaskan diri."
"Lo udah pantas kok sama gue. Gak perlu memantaskan diri," ucap Hyunsuk santai, tanpa memikirkan jantung Dita yang mulai berdebar-debar.
"Hah?!! Serius!!!" teriak Dita, histeris.
"Oh, jadi lo suka ya sama gue? Gue sih udah curiga dari dulu."
"Eh, kenapa gue kayak lagi dijebak, ya? Gimana nih gue harus jawab apa," gumam Dita yang mulai gugup.
"Kenapa lo? Lo beneran suka sama gue, ya?"
Deg. Pipi Dita memerah dan terasa panas, membuatnya semakin gugup. Duh! Hyunsuk, kenapa lo nanyain hal yang sensitif kayak gini, sih! Gue nggak bisa diginiin, hiks, rasanya tuh anjim banget, Dita membatin.
"Ya udah nggak usah dijawab, gue juga nggak butuh jawaban dari lo, toh gue punya pacar yang kecantikannya bagaikan bidadari dan hatinya yang selembut bantal. Ya kan, Neng Dami?" tanya Hyunsuk kepada Soodam.
Soodam yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mengangguk. "Iya, Hyun."
"Hah?!" Dita terbelalak.
Hyunsuk tertawa. "Hahaha, sorry ya udah bikin lo kebingungan."
Dita naik pitam, ia merasa dipermainkan. "Kalo nggak perlu jawabannya kenapa ditanya, hah?!" teriak Dita, dengan emosi yang naik turun, setelah itu ia melangkah pergi.
"Tu cewek kenapa sih? Kayak orang PMS aja. Padahal gue kan cuma bercanda. Aneh banget." Hyunsuk kebingungan.
Soodam menepuk-nepuk punggung Hyunsuk. "Sabar, Hyun, jadi cowok ganteng itu memang banyak resikonya, tapi tenang aja, gue rasa tu cewek nggak akan bertindak lebih kok."
*****
Semenjak pertemuan Dita dengan Hyunsuk waktu itu, kini Dita mengubah penampilannya menjadi lebih baik agar dirinya pantas disandingkan dengan Hyunsuk, walaupun sulit baginya untuk mendapatkan Hyunsuk, tapi tidak ada salahnya mencoba menjadi yang terbaik untuk seseorang yang dicintai.
Seperti biasa hari ini, Dita berjualan es krim di depan kampusnya, bersebelahan dengan Hyunsuk, tapi kali ini Hyunsuk tidak ditemani Soodam. Membuat Dita semakin leluasa memandangi wajah Hyunsuk yang berkilauan di bawah terik matahari.
Ciah, ganteng banget, bikin gue makin cinta aja, batin Dita yang terpesona dengan ketampanan Hyunsuk.
"Hallo, Pak! Cuaca panas kayak gini, enaknya minum yang dingin-dingin loh. Coba deh Bapak minum, minuman racikan saya dulu," ucap Hyunsuk, berusaha menarik pembeli yang sedang berjalan di depannya.
Bapak-bapak tersebut menggeleng. "Maaf, gua nggak tertarik, gua tertariknya sama cewek cantik aja." Lalu, Bapak-bapak itu pergi menjauhi Hyunsuk.
Hyunsuk menghela napas lelah. "Hari ini, belum ada satu orang pun yang beli dagangan gue, kenapa ya? Apa kegantengan gue berkurang, sehingga pembeli pun menghilang?" gumam Hyunsuk.
Dita memperhatikan wajah Hyunsuk yang kelelahan. Kasihan Hyunsuk, dia udah berusaha keras, tapi dagangannya tetap nggak laku-laku, batin Dita.
Setelah Dita membatin seperti itu, beberapa mahasiswa datang untuk membeli es krimnya, tapi Dita menolak dengan alasan malas gerak. Para mahasiswa itu kesal dengan alasan Dita yang tidak elegan dan akhirnya membeli es dawet Hyunsuk.
Mageran? Alasan macam apa itu! Gue yakin banget dia ngasih pembelinya buat gue, karena dagangan gue lagi nggak laku, segitunya amat dia suka ke gue, batin Hyunsuk seraya menggeleng-geleng.
"Lo jualan kayak gini, sebenarnya buat apaan, sih?" tanya Dita setelah Hyunsuk selesai melayani pembeli.
"Buat bayar uang kuliah," jawab Hyunsuk.
"Eh? Bukannya lo itu orang kaya yang punya banyak perusahaan, ya? Pastinya lo punya banyak uang dong, tapi kenapa lo mesti susah-susah jualan kayak gini?" tanya Dita, kebingungan.
Hyunsuk tertawa. "Hahaha! Bisa-bisanya ya lo ketipu sama gosip yang nggak jelas kebenarannya. Kalo gue memang punya banyak perusahaan, untuk apa pula gue jualan kayak gini, lebih baik gue rebahan aja. Memang sih tampang gue itu tampang orang kaya, tapi bukan berarti gue itu orang kaya."
Dita terdiam. Oh, gosip, kirain beneran, gue malu-maluin banget sih, pake ditanya segala.
"Memangnya kenapa? Lo bakalan berhenti mencintai gue karena gue bukan orang kaya, gitu?" Hyunsuk menjeda ucapannya. "Bukannya gimana ya Dit, gue yakin banget lo itu suka sama gue, tapi lo takut mengungkapkannya ke gue karena gue udah punya pacar, sebagai pelarian lo memilih jadi saingan gue, biar lo bisa tetap dekat sama gue. Bener kan?"
Deg. Kedua pipi Dita memerah dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia tidak pernah menyangka kalau Hyunsuk bisa membaca perasaannya dan gerak-geriknya selama ini. "Hmm, karena lo udah tahu perasaan gue. Berarti gue juga boleh dong mengetahui gimana perasaan lo ke gue?" Tiba-tiba saja pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan itu, meluncur dari mulut Dita.
Bruk!! Tiba-tiba Soodam datang dan menggebrak gerobak milik Dita, hingga semua isinya berserakan di tanah. "Mentang-mentang gue nggak ada di sini, bukan berarti lo bisa mesra-mesraan sama pacar gue, ya! Sekarang, pergi dari hadapan gue dan Hyunsuk!!!"
Dita menggeleng. "Gue nggak akan pergi! Gue suka Hyunsuk jadi gue akan tetap berada di dekat dia!"
"Kalo lo suka Hyunsuk buktikan dong, dengan membiarkan dia bahagia bersama gue, cewek yang dia cintai! Bukannya mengusik hidup dia! Dasar pelakor, sok cantik, nggak tahu malu! Lo pikir Hyunsuk bakalan bahagia, kalo semisalnya dia pacaran sama lo, gitu?! Makanya berhenti ngehalu! Hyunsuk itu bahagianya sama gue, bukan sama lo!"
Semua kata yang keluar dari mulut Soodam, terasa sangat menyakitkan, tapi Dita berusaha mengatur emosinya dan berusaha bersikap setenang mungkin. "Karena lo pacarnya Hyunsuk. Gue apalah daya, tapi tolong izinkan gue jadi temannya, ya? Gue pengen jadi temen yang baik buat Hyunsuk, temen yang selalu ada buat dia."
"Nggak akan gue izinkan!! Sekarang pergi dari hadapan gue dan juga Hyunsuk!! Pergi, woi!! Gue muak lihat muka pelakor!!" teriak Soodam dengan wajah memerah.
"Oke." Dita berjalan menjauhi Hyunsuk dan Soodam. Matanya berair, dan kerongkongannya terasa tercekat. Pada kenyataannya, Hyunsuk tidak akan pernah menjadi miliknya, pada akhirnya Dita hanya mendapatkan luka. Seharusnya perasaannya kepada Hyunsuk tidak perlu terkuak dan lebih baik dikubur dalam-dalam saja.
"Dita! Tunggu!" teriak Hyunsuk, tapi orang yang dipanggil terus berjalan menjauhinya.
"Kenapa, Hyun? Lo tertarik ya sama tu cewek?!" Soodam memelototi Hyunsuk.
Hyunsuk menggeleng. "Nggak, gue nggak tertarik sama sekali. Hanya aja gue merasa tu cewek terlalu baik untuk disakiti, hujatan lo ke dia tajam banget, perasaannya pasti hancur lebur."
"Jadi lo lebih mementingkan perasaan dia ketimbang perasaan gue, Hyun? Padahal perasaan gue retak-retak pas ngeliat lo berduan sama dia, rasanya tuh sakit banget." Soodam menundukkan kepalanya, ia merasa kecewa.
Hyunsuk tertawa kecil melihat tingkah soodam yang menggemaskan. "Ya ampun, Dami, kenapa mikirnya gitu, sih? Lo itu pacar gue, ya pastinya gue lebih mementingkan perasaan lo. Itu sih nggak perlu diragukan lagi, tapi gue merasa nggak enak aja gitu, dia kan senior kita."
Soodam mendengus. "Senior macam dia mah nggak perlu dianggap senior!"
Hyunsuk mengacak rambut Soodam dan memeluknya. "Dami, gue tahu banget lo itu takut kehilangan gue, takut gue pergi ninggalin lo bareng cewek lain, tapi percayalah, gue bukan cowok abal-abal yang mudah berpaling. Lo selalu percaya itu, kan?"
Soodam mengangguk-angguk dalam pelukan Hyunsuk. "Iya, gue percaya lo, tapi tolong jaga kepercayaan gue, ya? Seberapa pun rintangan di masa yang akan datang nanti, lo nggak akan ninggalin gue. Sekalipun nanti ada bidadari yang deketin lo, lo nggak akan ninggalin gue, kan?"
"Ish ngaco! Bidadari itu kan lo, Dami. Mana mungkin gue ngerusak kepercayaan bidadari secantik lo, yang ada gue mimisan duluan, hahaha!"
Soodam meninju tangan Hyunsuk. "Lagi serius kok malah digombalin, sih!"
"Lagi serius kok malah dianggap menggombal, sih!" Hyunsuk tertawa.
Dita yang masih berada di sekitar Hyunsuk dan Soodam hanya bisa menyesali kebodohannya. Sekarang ia tidak mungkin lagi berharap banyak. Angan-angan hidup bahagia bersama Hyunsuk pun lenyap sudah, karena pada kenyataannya Hyunsuk bahagia dengan Soodam bukan dengannya. Kini, jalan terbaik adalah melepaskan yang seharusnya dilepaskan dan pergi dengan lapang dada, karena tidak semua yang kita inginkan bisa kita gapai.
*****
Hari demi hari berlalu. Sudah hampir satu tahun Dita tidak pernah lagi berjualan es krim di depan kampus, dan Dita tidak pernah lagi bertemu dengan Hyunsuk yang sekarang bekerja sambilan di sebuah restoran. Setiap kali hampir berpapasan, Dita selalu menghindar dan bersikap seolah tidak pernah mengenali Hyunsuk. Setidaknya itulah cara yang dapat ia lakukan agar perasaannya terhadap Hyunsuk memudar dan hilang.
Dita berjalan menuju parkiran, tapi langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya digenggam seseorang. "Tunggu, Dit, jangan menghindar lagi, gue capek ngejarnya."
Dita terbelalak. "Hyu-hyunsuk?!"
"Iya ini gue. Gue datang buat minta maaf, karena waktu itu Soodam ngomong kasar ke lo."
Dita menggaruk lehernya. "Ah, masalah itu, udahlah lupain aja, ucapan soodam nggak sepenuhnya kasar kok, ada baiknya juga buat gue."
Hyunsuk tersenyum. "Kalo gitu sekarang lo jadi temen gue, ya?! Waktu itu kan lo minta izin ke Soodam buat jadi temen gue, tapi Soodam ngelarang dan sekarang Soodam udah ngasih izin karena gue desak terus."
Dita menggeleng. "Tapi, rasanya nggak mungkin."
"Nggak mungkin apanya? Udahlah jujur aja, lo pasti seneng kan jadi temen gue?" Hyunsuk merangkul pundak Dita. "Gue yakin sih, lo pasti seneng banget."
Dita mengangguk. "I-iya, gue seneng banget."
"Nah, kan. Hahaha!" Hyunsuk tertawa dan mereka~ berjalan bersama meninggalkan kampus.
Dita tersenyum senang karena pada akhirnya ia bisa dekat dengan Hyunsuk, walaupun hanya sekedar teman, tapi setidaknya salah satu keinginannya tercapai dan itu sudah cukup baginya.
~Tamat~