'Busurnya terlihat lebih sederhana dan kayaknya sangat kuat. Tapi, kenapa ukurannya jauh lebih kecil dari yang lain?' batin Emely dengan menyentuh kaca etalase yang menyimpan sebuah busur sembari keheranan.
Menyadari akan respon Emely yang menatap heran akan salah satu busur koleksinya, Kakek Sidiq -kakeknya Kyra pun tersenyum penuh arti. Dia mulai mendekati Emely dan menyadarkan lamunannya.
"Kenapa? Apa kau tertarik dengan busurnya?" tanya Kakek Sidiq seakan menyadari apa yang ada dalam isi kepalanya Emely.
Emely pun dan mulai sedikit canggung. Sembari menggaruk kepalanya, dia mulai berucap, "Ah, tidak Kek. Aku cuma heran aja, kenapa ukuran busur itu jauh lebih kecil dari yang lain, tapi di sisi lain nampak lebih kuat juga dari yang lain."
Kakek Sidiq tidak langsung menjawab. Beliau hanya mengukir senyum tipis sambil berkata, "Busur itu memang tidak dimiliki oleh siapapun."
Mendengar jawaban Kakek Sidiq sontak membuat Kyra bingung sekaligus heran. Begitupun Emely.
"Hah!!! Tidak dimiliki siapapun? Bukankah kakek sering cerita bahwa semua benda dan senjata antik koleksi kakek itu punya pemiliknya semua ya? Bagaimana bisa busur kecil itu tidak punya pemilik?" heran Kyra.
Kakek Sidiq hanya menghela nafas panjang dan dengan tatapan hangat beliau mulai menjelaskan sesuatu.
"Semua barang antik kakek memang punya pemiliknya. Terkecuali busur kecil itu. Karena benda itu hanya dimiliki oleh satu orang yang bertubuh kecil sama seperti Emely," jelas Kakek Sidiq.
"Heh!!! Sama sepertiku?" Emely semakin bingung akan penjelasan dari Kakek Sidiq.
Setelah diminta duduk di salah satu kursi di ruangan itu, Kakek Sidiq mulai menceritakan sebuah sejarah masa lalu yang tidak pernah diceritakan oleh siapapun.
Mendengar semua penjelasan dari beliau -terkhusus tentang pemilik busur itu, pening mulai menyerang kepala Emely. Seakan ada ribuan belati yang ditusuk secara brutal ke kepalanya.
Pening, sangat sakit. Namun di sisi lain, memorinya seperti dipaksa untuk memutar suatu rekaman di masa lalu. Setiap kata dan moment yang diceritakan tentang pemilik busur itu, seperti menceritakan tentang dirinya sendiri.
'Akkhhh..... Apa yang terjadi? Tidak mungkin kan aku adalah panglima itu,' batin Emely sembari meringis kesakitan dan mencengkram rambut di balik hijabnya.