Huft...
Here we go, again.
Seseorang yang meringkuk seperti bayi di atas tempat tidur kamar kosku yang tak lebih luas dari kamarnya sendiri di rumahnya menyambut kepulanganku. Matanya yang berkaca-kaca menatapku bahkan sebelum aku mengeluarkan sepatah kata dan masih meliriknya dari depan pintu kos, membuatku yakin bahwa masalah yang ia bawa temanya masih sama.
Aku hanya menghela napas dan ikut masuk ke dalam kamar, bergeming seolah ia tak ada di sana. Aku baru pulang setelah empat hari bekerja di luar kota. Itu cukup melelahkan, olehnya aku tak memikirkan banyak hal. Dalam perjalanan pulang yang kupikirkan hanya mandi dan tidur, namun sepertinya rencana tersebut hanya wacana.
Gadis itu—Rania Kinafa—berkatnya aku belajar bahwa dari semua emosi yang mampu dirasakan oleh manusia normal, ekspektasi adalah satu hal yang boleh dipelihara, namun tidak tepat untuk dikembangbiakkan di dalam diri kita.
Tuhan memberinya segala hal lebih dari cukup namun memilih menjatuhkan harapan dan ekspektasinya pada seorang laki-laki bermodal kata manis nan manipulatif dari mulutnya. Rania adalah representasi dari kalimat "cinta itu buta". 100%.
Aku sendiri pun sudah tidak mampu menasihatinya dengan kalimat apapun lagi. Rania keras kepala dan mudah kecewa di saat yang sama namun terus saja meninggikan ekspektasinya terhadap seseorang yang jelas-jelas red flag-nya di atas rata-rata. Aku bahkan sempat berpikiran bodoh tentang sahabatku ini, hal berharga apa selain hati dan perasaannya yang telah dia berikan kepada laki-laki itu hingga terus saja berharap padanya?
"Putus lagi?" Kalimat pertama dari mulutku setelah cukup lama membiarkannya bergelut dengan pikirannya sendiri.
Gadis itu masih meringkuk dan mendekap erat bantal guling yang berada di pelukannya. Matanya sembab, hidungnya meler dan memerah, bahkan aku bisa tahu ia belum mandi berhari-hari hanya melihat dari wajahnya. Astaga! Sudah berapa lama gadis bodoh ini menangis? Gemas sekali rasanya.
Aku mengerti bahwa beberapa manusia ada yang tak cukup kuat untuk mengontrol perasaannya hingga ia kalah dan akhirnya terjatuh dalam perasaannya, entah jatuh ini membawanya pada kebahagiaan atau justru menyakitinya seperti halnya Rania. Namun, bukankah pengalaman harusnya membawa kita pada sebuah kesadaran untuk tidak jatuh di lubang yang sama?
Apa yang salah Rania? Nasihatku yang tak cukup menyadarkanmu atau kamu yang menolak untuk sadar?
"Kamu enggak capek kayak gini terus, Ra? Putus-nyambung-putus-nyambung. Cari yang lain aja gak, sih?" ujarku sedikit bercanda. Rania bergeming, rautnya seolah mengatakan ketidakrelaan. Selalu seperti itu.
Aku berdecak pelan melihat reaksinya. "Kamu mau dengar apa dari aku? Kayaknya semua kalimat yang ada di kepalaku sudah kuutarakan berulang kali, Ra. Pendapatku tentang pacarmu itu masih sama, red flag. Terakhir kali kamu cerita dia udah janji untuk berubah, tapi lihat sekarang?"
"Aku sebagai sahabat bukan tidak mendukung hubunganmu, Ra. Aku mendukung hal-hal yang membuat kamu bahagia dan aku sudah tidak melihat kebahagiaan yang bisa dia kasih ke kamu, at least dalam 3 tahun terakhir ini."
Satu hal yang juga menjadi pertanyaanku adalah apa laki-laki itu sedikit saja pernah merasa bersalah jika mengingkari janji-janjinya? Maksudku, kenapa di bumi yang luas ini, Rania harus menjatuhkan hatinya pada laki-laki itu. Dimana titik istimewanya? Mantan-mantannya masih ada yang jauh lebih baik dari laki-laki itu.
"Ra," panggilku terdengar serius.
"Kamu tahu, harapan dan ekspektasi adalah sesuatu yang sering dimaknai sama oleh orang-orang. Kadang-kadang mereka berharap, padahal tanpa mereka sadari apa yang mereka genggam adalah ekspektasi. Titik perbedaannya ada pada kata 'ikhlas dan obsesi', Ra."
"Ketika kita berharap artinya kita ikhlas terhadap hasil akhirnya, apapun itu. Namun ekspektasi memiliki obsesi di dalamnya, Ra. Hal ini yang sering kali mengecewakan manusia saat realita tak sejalan dengan ekspektasinya."
"Tidak ada keinginan paling tulus dari seorang sahabat selain daripada kebahagiaan sahabatnya. Kamu cantik, kamu berharga, kamu berpendidikan, kamu mandiri. Kamu layak mendapatkan seseorang yang lebih baik. Harus berapa kali melukai hatimu karena dikecewakan oleh orang yang sama, oleh masalah yang terus berulang dan bermacam-macam. Sekali, dua kali, kita bisa menyebutnya khilaf, Ra. Manusia tak luput dari kesalahan. Tapi kalau berkali-kali itu namanya kebiasaan. Apapun hubungannya, yang namanya saling menghormati dan menjaga perasaan masing-masing pribadi adalah etika yang wajib dimiliki semua orang, apalagi kalian istilahnya pasangan," jelasku panjang lebar.
"Jadi, coba pikir-pikir lagi," tutupku.
Sepertinya kali ini kesadarannya sedikit terbuka. Biasanya jika aku sudah mengomel panjang lebar seperti ini ia hanya menjawab iya-iya dan besok atau lusa sudah kembali lagi kepada laki-laki itu seolah tak pernah ada masalah di antara mereka. Namun saat ini sorot mata Rania berbeda.
Tinggalkan ekspektasimu di depan pintu, Rania. Semenjanjikan apapun seseorang, adalah sebuah ketetapan bahwa tiap-tiap manusia memiliki egonya sendiri.
written by larakita_