Sepenggal Cerita Lama
Semenjak menikah dengan Adipati, mertua dan kakak ipar begitu sulit menerima keberadaanku yang nota bene wanita karir. Semua berawal dari adanya aturan terikat dalam keluarga yang menuntut seorang istri tidak hanya mengabdikan hidup dan mati kepada suami, tapi juga tunduk pada perintah setiap anggota keluarga besarnya.
"Jasmin Ananta! Kalau tamu datang, ya disambut. Bukannya membusuk di belakang!" hardik Siti, kakak iparku kala melihat aku sibuk dengan setumpuk cucian di kamar mandi.
"Maaf, Kak. Aku enggak tahu kalau kamu sudah datang dari tadi," balasku menyesal. Kakak ipar ini tinggal di pulau seberang. Dia berkunjung ke rumah untuk mengikuti acara syukuran keluarga.
"Kau dan Adipati sama saja. Sama-sama enggak punya etika apalagi wawasan. Aku ogah sama orang kayak gitu." Meski sudah meminta maaf dan menjelaskan tentang sifat asliku yang pendiam, Siti tetap saja menganggap aku sengaja ingin mengabaikan kehadirannya di rumah ini.
"Jadi ini gadis yang dibanggakan Adipati? Apanya, pesek atau kurus-nya?" tanya Siti kepada ibu mertuaku saat kami duduk bersama di ruang keluarga.
"Heuh! Mungkin dilihat dari serabutannya," jawab ibu mertua dengan sedikit menekan. Sorot matanya berubah dingin.
Semenjak kedatangan kakak sulung suamiku ini, keadaan rumah menjadi sedikit menegang lantaran sikapnya yang suka menuntut pelayanan sempurna. Bahkan saat makan malam tiba, Siti merajuk dan memilih masuk ke kamar dengan alasan tidak sreg dengan sikapku yang tidak ramah. Padahal yang benar, aku lagi berjuang beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Mengingat diriku seorang gadis introvert, maka butuh perjuangan keras untuk melawan semua itu.
"Sana, bujuk lagi kakak iparmu sampai dia mau makan malam bersama kita," ujar ibu mertua datar untuk kesekian kalinya. Wanita itu sudah lebih dulu mengambil makanan ke piring dan bersiap untuk menikmatinya. Melawan, tentu tidak boleh. Aku hanya mengangguk pasrah. Saat hendak melangkah, ibu mertua menyoroti dengan satu lagi ucapan yang bikin hati panas.
"Turuti saja apa maunya, namanya juga penyesuaian di keluarga baru. Baik buruk sikapnya, perlakuan terhadapmu, terima saja. Mana ada yang enak di awal pernikahan."
"Tapi, Bu. Dia sudah menolak," bantahku memelas.
" Ya, sudah. Kamu enggak usah makan sekarang," ujar ibu mertua sambil menikmati suap demi suapan dari piringnya. "Sama, kami dulu juga gitu. Tidak diperbolehkan makan duluan sebelum ipar kami mengambil makanan. Juga tidak boleh minum sebelum mereka selesai minum," tambahnya dengan salah satu sudut bibir terangkat.
'Ya, Allah. Apa-apaan ini? Sebenarnya keluarga bang Adi itu mencari menantu apa cari pembantu sih?' batinku nelangsa sembari melirik ke meja samping. Adipati yang duduk di sana hanya menatapku sekilas sebelum akhirnya memilih pindah ke ruang keluarga. Aku mengekor dari belakang.
"Abang enggak makan?" tanyaku dengan air mata nyaris lolos.
"Enggak lapar," balasnya datar. Mungkin ayah mertuaku juga demikian, karena telah lebih dulu masuk kamar ketimbang memilih menu di meja. Saat ini aku termasuk orang yang paling lapar di antara semuanya karena selain tidak enak makan duluan, aku butuh penyesuaian dan juga tidak diperbolehkan mengunyah makanan sembarangan di depan mereka. Saat menyembunyikan makanan di kamar, malah dituding pelit dan tidak beradab.
"Jasmin Ananta, kalau dia enggak mau jangan dibujuk lagi. Memangnya dia siapa?" tegas Adipati saat aku masih berusaha meyakinkan Siti agar mau makan malam bersama. Tentunya itu sesuai arahan ibu mertua. Rasanya harga diriku benar-benar diinjak oleh kedua wanita itu.
"Ambil jaketmu, kita makan di luar," ucap Adipati lagi sambil meraih kunci motornya. Aku menurut karena perutku memang sangat lapar. Semenjak itu, hubunganku dengan Siti tidak membaik. Dia pergi dengan amarah dan tidak pernah berkunjung ke rumah hingga saat ini. Begitu pun ibu mertua, setiap hari ada saja alasan yang dibuat untuk memancing keributan dalam rumah. Seperti malam ini, tanggal tiga puluh saatnya tutup buku. Sebagai petugas keuangan, aku wajib lembur. Karena pulang terlambat, wanita paruh baya ini mencecarku.
"Hei! Lihatlah jam berapa dia pulang? Perempuan macam apa itu? Baru sebulan jadi istri sudah besar kepala." Kemurkaannya sudah menyambut kala kaki ini baru menjejaki pintu utama. Adipati yang menjemputku hanya diam dan memilih masuk ke kamar.
"Sudahlah, Bu. Jasmin itu kan baru pulang kerja. Kasihan seharian bergelut dengan urusan kantor. Jangan ditambah lagi bebannya dengan hal yang tidak penting." Ayah mertua terlihat membelaku.
"Halah, ini juga gara-gara Bapak yang terus belain Jasmin. Enggak lihat apa suaminya ditelantarkan sampai mogok makan seharian."
"Tapi kan Jasmin itu pergi kerja, Bu. Bukannya bermain di luar sana."
"Sama saja, Pak. Sebagai istri, dia wajib tinggal di rumah untuk melayani semua kebutuhan suami. Buat apa Adipati menikah kalau ujung-ujung ibu juga yang repot urusin makan minum untuknya?" Aku gegas menghindar daripada harus membiarkan harga diri tertindas.
"Memangnya tadi, Abang enggak makan seharian?" tanyaku ketus pada Adi saat memasuki kamar.
Suamiku menggeleng. "Abang tadi seharian ikut pendaftaran UKG di UPT Kecamatan. Jadi enggak sempat makan di rumah," jelasnya pelan.
"Tuh kan, ibu memang suka mengambil kesimpulan sendiri. Kenapa enggak tanya dulu atau sebaliknya Abang jelasin saja ke ibu kalau lagi sibuk di luar?" sambarku dengan nada bergetar.
"Sudah dijelaskan, Dek. Cuma ibu saja yang mau cari ribut," balasnya datar sambil meletakkan helm ke atas meja sudut. "Kamu yang sabar, ya. Sikap ibu memang begitu. Asal lihat yang enggak beres saja, dia pasti protes," bujuk Adipati saat melihat air mataku sudah tidak terbendung.
"Sampai kapan, Bang?" balasku sembari terisak, membanting tas selempang ke atas kasur dan berdiri membelakanginya.
"Seiring waktu," jawabnya pelan. Tiba-tiba sudah memeluk tubuhku dari belakang. "Nanti juga bakal sadar, Sayang," tambahnya dengan bisikan lembut.
Awalnya aku hanya diam dan berupaya untuk tidak menggubris semua perkataan ibu mertua, namun lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Saat aku pulang kerja atau baru mau berangkat kerja pagi-pagi, sudah disembur dengan segala macam hinaan.
"Ibu maunya gimana? Semua kebaikan yang aku buat selalu salah di mata Ibu," ucapku suatu ketika dengan suara bergetar.
“Aku maunya kau tahu diri. Kenali batasanmu sebagai menantu di keluarga ini.”
"Aku di luar untuk bekerja. Mana mungkin bisa menuruti semua keinginan Ibu kalau ada aturan yang sedang mengikatku di kantor?" Kali ini aku tidak akan menangis dan tidak ingin terlihat lemah di matanya.
Aku bahkan rela memangkas waktu sampai terlambat masuk kantor hanya gara-gara membereskan rumah, menyiapkan sarapan dan makan siang untuk mereka mengingat siang hari tidak bisa pulang. Bangun jam tiga dini hari, berangkat kantor jam 8.30 pagi. Selalu demikian. Kejanggalan ini membuat sebagian rekan kerja mulai protes dan menjauhiku. Bukan cuma itu, terutama timbal balik dari pihak atasan soal pemotongan gaji, pengurangan insentif, bahkan uang transport ikut terkena imbas karena hal ini.
"Bang, aku tuh lelah sama sikap ibu yang selalu menyudutkan setiap kali ada kesempatan, memangnya salahku di mana?" protesku suatu hari dalam perjalanan pulang dari kantor.
"Sudah, enggak usah dibahas. Lagi pula kamu kan tahu ibu memang aslinya cerewet."
"Tapi, Bang. Harga diriku ditindas terus, capek! Waktu lagi hamil, ibu menyalahiku gara-gara bangun terlambat, enggak urus rumah. Padahal dia tahu kalau bawaan ngidamku harus bedrest. Bahkan saat aku tidur siang, malah sengaja diganggu sama Feli si bungsu. Ibu sengaja berteriak keras padanya hanya untuk menyindirku dari balik dinding kamar. Giliran melahirkan Fatin, malah dibilang tidak becus." Tak tahan, kuluapkan semua beban yang menumpuk di dada.
“Sayang, kamu sabar. Sudah berulang kali abang bicarakan hal ini, tapi sepertinya ibu sengaja menutup kuping. Padahal kamu bekerja buat jaminan sekolahku juga,” ucap Adipati menurunkan nada.
“Jika begitu, harusnya ibu tau diri. Kenapa dari dulu ibu enggak ongkos kuliahmu?” tanyaku sambil meletakkan telapak tangan ke atas pundaknya.
"Kamu kan tahu, itu kesalahan masa laluku. Makanya ibu ngotot sampai sekarang.”
Ya, kesalahan suamiku karena membiarkan dirinya larut dalam kenikmatan dunia. Membuatnya lupa kalau ada tanggungjawab besar yang harus dipikul sepanjang hidup. Apa aku harus menuntut masa lalunya di saat dia jatuh ke titik nadir begini?
Di rumah, ibu mertua sudah menunggu di ruang keluarga. Kali ini dia tidak sendirian melainkan dengan Siti yang baru muncul lagi setelah setahun tidak bertandang. Tatapan tajam dan dingin dari keduanya membuatku merasa seolah dikuliti hidup-hidup.
"Pulang kerja jam begini bukan cuma menyusahkan suami, tapi juga anak kamu," ujar kakak iparku dengan nada menekan.
"Ya, mau gimana lagi? Kerjaku memang begitu. Apa kabar kuliah bang Adi kalau aku sampai berhenti kerja? Belum lagi beli susu formula buat Fatin, pakai duit dari mana coba?" sambarku cepat dan itu mengundang kerlingan miring dari keduanya.
Ya, suamiku ini memang masih berjuang keras mencoba peruntungan calon ASN dan guru profesional yang tak kunjung mujur, tapi itu tidak membuat kami menyerah. Bahkan tujuanku mempertahankan pekerjaan yang menyita waktu ini juga karena Adipati. Terpaksa membiarkan putri kecil kami, Fatin diasuh oleh ayah mertua dan juga sepupuku sebagai peran utamanya. Tidak ketinggalan ayah kandungku ikut melibatkan diri dalam mengurus Fatin, seminggu tiga kali. Sedang ibu mertua, hanya sesekali membantu. Itupun tidak lepas dari protes panjang pendek.
Hari berganti, tahun berlalu. Fatinku sudah menginjak usia ke 5. Tentunya sudah punya adik kecil di bawahnya berusia dua tahun bernama Afiyana. Hal yang paling menyedihkan manakala ayah mertuaku harus berpulang menghadap sang pencipta. Apesnya, dua puluh delapan hari setelah kepergian beliau, ayah kandungku menyusul. Aku ambruk, kehilangan pegangan.
Ujian terberat yang tak pernah terbayangkan sepanjang hidup, membuatku semakin terpuruk dan nyaris tidak punya kekuatan untuk melanjutkan duniaku. Saat itu profesi suamiku masih berstatus honor daerah. Aku lelah hingga di tahun ke delapan, memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih fokus kepada anak-anak. Mendengarnya, ibu mertua dan kak Siti mulai berubah sikap. Menyadari kesalahan dan meminta maaf kepadaku.
Titik terang muncul seiring hadirnya putra mungilku bernama Abram. Dia pembawa keceriaan dan kemujuran dalam keluarga kecil ini. Nasib pekerjaan suamiku beralih dari honorer menjadi ASN. Di tahun ke sembilan, tambahan tunjangan guru profesionalnya membuat ekonomi kami semakin membaik.
Di sini aku memahami makna tulus dan sabar yang sebenarnya. Untuk apa membalas keburukan dengan kejahatan kalau kebaikan saja bisa mengubah semuanya? Hidup terus berjalan. Berdamai dengan hati, bersahabat dengan luka agar tidak mencipta lara di kemudian hari.