Setelah mengetahui bahwa aku mendapatkan skor 698 dalam ujian masuk universitas, pacar virtualku dari permainan daring putus denganku.
"Mendapatkan skor seperti itu, apalagi itu adalah jurusan teknik, kamu sepertinya adalah ladyboy
."
Dia mentertawakanku dengan mencemooh wajah jelekku di hadapan teman sekamarnya dan lupa mematikan suaranya.
Kemudian, rekanku sekaligus teman satu tim mengacungkan senjata dan menembakinya berulang kali.
"Kamu sudah terlalu jahat terhadap junior satu jurusanku. Anggap saja kamu sial."
Saat pertemuan awal sekolah, aku terdiam saat melihat pria tampan dengan tinggi 187 sentimeter di depanku.
Dia bukan temanku. Dengan wajah seperti itu, beraninya dia mengatakan bahwa orang lain adalah transgender? Apa kamu merasa hebat?
1.
Setelah hasil ujian masuk perguruan tinggi keluar, aku pun bermain game sepanjang malam.
Itu sebabnya, ketika aku menerima telepon Taylor Jones di pagi hari, suaraku sudah serak.
Dia berkata, "Wanda, mari kita putus."
Aku dan Taylor secara kebetulan bertemu di permainan daring.
Mulutnya sangat manis dan pandai membujuk orang lain. Pada malam setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, dia menyatakan cintanya dan kami pun berpacaran.
"Oke." Aku tidak berusaha mempertahankannya.
Taylor seolah-olah merasa lega. "Kalau begitu, kita masih bisa main bersama, 'kan?"
Aku setuju.
Tiba-tiba, suara menggoda yang tidak dikenal terdengar dari penyuara telinga, "Taylor, kenapa kamu tiba-tiba mengganti avatarmu. Apa kalian sudah putus?"
Taylor tidak mematikan mikrofonnya.
Dia mencibir.
"Tentu saja sudah putus! Apa kamu tahu, dia mendapat nilai 698 dalam ujian masuk perguruan tinggi? Dia bahkan mengatakan ingin mendaftar di jurusan komputer Universitas A!"
Semua rekan lainnya terdiam.
Bang! Bang! Bang!
Rekan satu tim yang hebat di sebelahnya, Dewa tiba-tiba melepaskan tiga tembakan berturut-turut dan meledakkan kepala Taylor.
"Kamu sudah terlalu jahat terhadap junior satu jurusanku. Anggap saja kamu sial."
Hah?
2
Setelah sekian lama, aku baru saja mengingatkan kata-kata teman satu tim yang hebat tadi, si Dewa.
"Senior? Terima kasih untuk hari ini! Bagaimana kalau aku menambahkan akun WeChat-mu? Nantinya, aku akan mengajakmu makan saat pergantian tahun ajaran baru?"
Satu menit kemudian, seniorku yang dingin menjawab dengan satu kata, "Oke."
Tak diragukan lagi, penghinaan publik yang dialami Taylor di depan umum membuatnya merasa malu. Dia keluar dari tim dengan marah.
Tidak disangka, ketika hari sudah larut, Taylor mengirimkan pesan lagi.
"Ayo, masuk ke permainan. Kita mainkan satu putaran lagi!"
Sepertinya, dia memutuskan untuk mendapatkan kredibilitas kembali.
Aku melihat-lihat anggota timnya. "ID ini terlihat cukup akrab."
Suara malas terdengar di telingaku, "Ada rekan profesional."
Meski orang ini sudah bermain bersamaku begitu lama, dia tidak pernah banyak berbicara. Namun, sejak dia membantuku, sepertinya dia terlalu malas mengetik dan langsung berbicara.
Aku melihat perlengkapan baru yang dimiliki Taylor dan merasa agak khawatir. "Bisakah kita menang?"
Seniorku yang hebat bertanya dengan malas, "Kamu ingin menang darinya?"
Aku tanpa ragu menjawba, "Tentu saja!"
Dia terdengar tertawa kecil. "Baiklah."
Sembilan menit kemudian, Taylor bersama dengan para pemain profesional yang diundangnya dengan bayaran mahal mati dengan kepala yang meledak.
3.
Aku berpikir keras untuk waktu yang lama dan akhirnya mengirim pesan kepada Dewa.
"Senior, apakah aku akan menjadi hebat sepertimu kalau mengambil jurusan komputer di Universitas A?"
"Belum tentu." Dewa yang jarang berbicara itu membalas dengan beberapa kata, "Tergantung pada kecerdasanmu."
"Aku akan menyiapkan sarapan untuk Senior untuk sebulan!"
Dewa lagi-lagi bersikap dingin dan tidak membalas.
Setelah skor keluar, hidupku kembali menjadi sibuk.
Aku bahkan jarang bermain permainan daring selama lebih dari sebulan.
Tidak terduga, Taylor kembali mengirim pesan.
"Wanda, kita berpisah dengan damai waktu itu. Kamu tidak perlu meninggalkan permainan juga, 'kan?"
Setelah aku masuk ke akun yang telah lama ditinggalkan, aku baru menyadari bahwa rumor sudah menyebar ke mana-mana.
Setelah beberapa saat terjebak dalam kebingungan, akhirnya aku mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Taylor telah menemukan pacar baru.
"Akun baru dari pacar barunya itu, katanya avatarnya adalah wajah aslinya. Dia berkuliah jurusan penyiar."
Aku dan Dewa bermain bersama, kemudian terdengar suara bernada rendah yang santai di telingaku.
"Tampaknya, kamu sangat menyukainya. Mereka bilang saat dia putus denganmu, kamu bahkan kehilangan suaramu karena menangis. Tapi, sekarang dia telah memiliki pacar baru dan terlihat sangat bahagia. Jangan terlalu memikirkannya. Pria berengsek itu tidak pantas untukmu. "
Aku berkata dengan ekspresi datar, "Kenapa aku harus memikirkannya? Di Universitas A, ada banyak pria yang bisa aku pilih. Jadi orang tidak boleh terlalu serakah. Aku hanya menginginkan yang paling tampan saja!"
4.
Pada akhir Agustus, aku membawa koperku ke Universitas A.
Semuanya sangat baik di Universitas A, hanya saja lingkungannya terlalu besar. Aku hampir kehilangan setengah hidupku saat berjalan.
Pada hari pertama kuliah, aku mengirimkan pesan di dinding tanya jawab Universitas A. Seseorang memotretku dan mengunggah fotoku.
Oh ya, aku hampir lupa mengirim pesan kepada Dewa.
"Senior, aku sudah tiba di kampus. Ayo, makan bersamaku nanti."
Dia mengirimkan nama beberapa restoran. "Beberapa restoran di Pintu Barat ini cukup enak."
Tidak disangka, ketika aku baru saja duduk, tiba-tiba Taylor mengirimkan fotoku. Hatiku langsung berdebar kencang.
Ternyata, fotonya adalah pemotretan yang dilakukan seseorang terhadapku hari ini!
"Wanda, gadis ini adalah mahasiswi di fakultasmu?"
Bukankah dia baru saja mendapatkan pacar baru? Kenapa dia mencari tahu hal ini?
Tidak disangka, Wanda langsung mengirimkan uang kepadaku. "Kalau kamu punya kesempatan dekat dengannya, bisakah kamu meminta nomor kontaknya untukku?"
Aku menerima uangnya tanpa ragu.
"Baiklah, aku akan mencobanya."
Saat aku meletakkan ponsel, tiba-tiba seorang teman sekamar terkejut.
"Bukankah itu Shawn Pale? "
Ponselku tiba-tiba menyala dan ternyata itu pesan dari Dewa.
"Bagaimana rasa makanannya?" Aku mengirim foto hotpot. "Direkomendasikan oleh Senior, tentu dapat dipercaya!"
Teman sekamarku tiba-tiba menjadi bersemangat. Dia berteriak dengan suara kecil, "Hei, sepertinya Shawn sedang melihat ke arah kita!"
Aku bertanya dengan suara rendah, "Ehm, apakah kalian semua mengenalnya?"
Ketiga orang itu menatapku dengan kaget.
"Wanda, dia adalah tokoh terkenal di jurusan komputer kalian! Dia selalu meraih nilai tertinggi setiap semester dan sangat mahir bermain bulu tangkis! Tidak mungkin kamu tidak mengenalnya!"
5.
Aku teringat dengan perkataan teman sekamar sebelumnya dan tidak tahan untuk bertanya, "Senior, apakah kamu mengenal Shawn Pale?"
Dewa terdiam.
"Di antara kalian berdua, siapa yang lebih hebat?"
Dewa
masih tidak bisa berkata-kata.
Lantaran tidak dibalas oleh Dewa
dalam waktu yang lama, aku pun mulai merenung.
Pria sangat memperhatikan harga diri. Orang setingkat Dewa juga pasti juga demikian.
"Jangan khawatir, Dewa! Aku hanya asal bertanya. Aku bukan orang yang melihat penampilan seseorang! Bagiku, Senior adalah orang terhebat di jurusan komputer kita!"
Kali ini, Dewa akhirnya menjawab, "Siapa yang mengajarkanmu menggunakan perumpamaan seperti itu?"
Aku pun mengalihkan topik pembicaraan, "Setelah latihan militer selesai, mari kita makan bersama!"
Namun, tak disangka pada hari pertama pelatihan militer, aku sangat memalukan. Langkahku tidak sinkron!
Tiba-tiba, suara tertawa terdengar di sampingku.
Begitu aku berbalik, aku melihat seseorang yang tegap berjalan di sebelah lapangan dengan raket bulu tangkis di tangan.
Aku mengenalinya, bukanlah dia disebut adalah Shawn?
Perlu aku akui, mata para gadis di Universitas A benar-benar tajam. Pria ini memang luar biasa tampan.
Dalam sehari, berita tentang aku yang diberikan latihan tambahan pun menyebar.
6.
Sahabatku, Yasa Liana, langsung menelepon. "Latihan militer kalian memang ketat, tidak seperti kami. Sepanjang hari ini, kami hanya menyanyikan lagu! Oh iya, bisakah kamu meminjamkan akun permainanmu sebentar? Aku sedang punya banyak waktu luang."
Saat itu, aku juga sedang tidak ingin bermain, jadi aku memberinya kata sandi.
Aku merasa bahwa instrukturku terganggu dengan keberadaanku. Dia bertekad untuk mendidikku dengan baik.
Jadi, dalam satu minggu berikutnya, setiap kali kami selesai berlatih, aku harus tinggal dan berlatih tambahan selama setengah jam.
Setelah pelatihan selesai hari itu, dalam perjalanan pulang, aku mengeluarkan ponsel dan melihat ada banyak pembicaraan di forum pengakuan.
"Hari ini, bidadari sekolah berlatih tambahan. Memang tidak ada manusia sempurna! Meskipun dia mendapatkan nilai ujian masuk perguruan tinggi, yaitu 698 poin dan bahkan juara nasional pun, dia memiliki hal-hal yang tidak dikuasainya. Aku merasa dunia ini adil!"
Saat aku baru akan masuk ke gerai teh susu, tiba-tiba aku menerima pesan suara dari Taylor.
"Wanda, seingatku kamu mendapat 698 poin pada ujian masuk perguruan tinggi, 'kan?"
"Ya, kenapa?" Aku membalasnay dengan agak tidak sabar.
Taylor tidak merespons untuk waktu yang lama. Tiba-tiba, aku mendengar suara seorang pria lain di telepon.
"Hei, Taylor! Akunmu mati lagi! Aku tidak sanggup lagi. Akun bernama Wanwan ini terlalu hebat. Kamu sendiri saja yang main!"