"Baiklah, sekarang hanya ada kita, " ucapnya di tengah ruang kosong dan hampa. "Beritahu aku jika kamu adalah pendosa di kala aku bertindak. " sambung nya.
Aku tersenyum. Aku tidak berkenan untuk melawan nya. Tapi, "Apa benar aku memang seorang pendosa? "
Dia mulai menyalakan sebatang rokok dan mengebulkan asap nya ke atas. "Sampai sekarang kau tidak ingin menerima itu."
"Aku bukan seperti mu yang bahkan tidak malu dengan dosa mu sendiri. " ujar ku di yang lalu di susul dengan sunyi.
Dia segera mengebulkan rokok nya hingga pada hisapan yang terakhir. Mematikannya pada asbak yang berdiri gagah di atas meja. Menatap ku tanpa campuran emosi seraya mengetukkan jarinya telunjuk nya di meja. Tidak lama kemudian dia angkat bicara. "Lihat. Lihatlah dengan cermat. Sekarang kita ada di ruang selidik. Kau baru saja melakukan kesalahan. Tapi kamu tidak ingin menerima jika kau salah. Kau adalah pendosa. Itu karena kau bohong pada dirimu sendiri dan lari dari tanggung jawab. Tidak hanya tanggung jawab untuk orang lain, tapi juga dirimu sendiri . "
Amarah ku bergejolak."Maksud mu? Jangan samakan aku seperti mu. Kau itu jahat. Selalu menyeret orang lain kedalam masalah mu."
Seketika dia memukul meja dengan keras. "Gak usah sok benar dan baik!!! . Kau manusia dan manusia tempatnya salah. Kau terlalu egois untuk menjadi suci. " Aku membalas. "Lalu, spekulasi apa yang menjadikan ku orang buruk? Aku adalah orang yang selalu baik kepada segalanya. Buka matamu, Bentala selalu memandang amal ku. Kalo bisa bakar saja aku jika tidak ingin aku mengganggu mu. "
Mendengar ucapan ku, dia menata posisi kursi nya dan duduk."Kau bukan rasul, kau bukan nabi. Bahkan seorang nabi pernah berbuat salah. Manusia pertama pun pernah berbuat salah. Bentala memang senang melihat amal baik mu, tapi dia sedih melihat ku. "
Aku tertegun. "Aku lupa. "
Dia mengeluarkan sebuah pemetik api dan tiba-tiba muncul minyak dari tangan nya. Ia pun segera mengguyur dirinya sendiri pada minyak. "Apa yang kau lakukan? " tanya ku. Dia menjawab. "Lihatlah, aku akan segera memetik kan api dan tubuh mu akan hangus terbakar. Apa yang akan kau lakukan? "
"Bakar saja aku. "
Dia tertawa. "Haha, ternyata memang benar, kau adalah seorang pendosa. "