"Innalillhi wa innailaihi rojiun. Telah meninggal dunia putri ke empat dari bapak wiyono yang bertempat tinggal di RT 06/RW 08........"
Pagi ini, suara pengumuman ada warga yang meninggal terdengar di speaker masjid sebelah timur.
"lho.. bayi yang baru lahir kemarin kan ya mbah?"tanya ku
Mbah putri yang sedang sibuk memasak menengok padaku.
"Mbah ga krungu nduk, sopo seng mati?"tanya Mbah Putri
((translate: Mbah dengar nak. siapa yang meninggal))
"itu loh Mbah putri ke empatnya pak Wiyono" jawabku
Mbah terdiam dan menghela nafas. seperti ada yang ingin ku artikan dari helaan nafas Mbah putri.
-----------
..."anake meninggal lagi"ujar yu'Sri...
"Iyo . Saiki anak seng ke papat. Yo Ra Popo.. kan di tuker ambek seng luweh gede" ujar Bu Nissa sambil terkekeh
((translate:iya. sekarang anak yang ke empat. ya tidak papa, kan di tuker dengan yang lebih besar. ))
"eh.. Ono Ono ae. opo Yo Ono wong tuwo seng tego nuker anak ambek seng liyo" ujar yu' Sri sambil mengambil beberapa buah tempe goreng dan memberikan padaku
((translate: ehh.. ada ada aja. apa ada orang tua yang tega menukar anak dengan yang lain))
" ya ada kan.. itu contohnya'' ujar Bu nisa
"Iyo seh. hee.. Din untung ae warunge Mbah mu Iki adoh nduk.. Yen ora Yo wes Ra payu " ujar yu'Sri.
((translate: iya sih. Din, beruntungnya warung Mbah mu ini jauh nak. jika tidak ya sudah tidak akan laku))
aku tersenyum pelan.
"rejeki sudah ada yang mengatur Bu" ujar ku pelan sambil tersenyum.
----------
*Mbah Putri baru saja sampai dari upacara pemakaman putri pak Wiyono. dia sudah mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk membereskan lagi sisa dagangan yang ada. memang tadi Mbah putri terburu-buru menyelesaikan jualannya agar dapat segera ikut menghadiri pemakaman.
"Din, gantian neng omahe le' Wiyono nduk. ibu-ibu jek ate mulai masak nggo selamatan engko bengi*"ujar Mbah putri
aku mengangguk.
"inget nduk, teguhno imanku, inget Gusti Allah seng duwe Kuoso sak kabehane. ora usah nyawang seng ora ilok mbok sawang. Ojo lali dzikir Yo nduk" ujar Mbah putri.
--------------------
aku memasuki rumah le' Wiyono yang sudah ramai warga. ada yang mendirikan tenda, ada yang baru datang membawa **beras, gula dan lainnya. tradisi di desa ku apabila ada salah satu warga yang meninggal dunia maka warga lainnya akan bergotong royong memnbantu tuan rumah untuk mempersiapkan jamuan dan persiapan untuk acara kirim doa hari ke satu, tiga, tujuh, dan empat puluh.
rumahnya mewah, batin ku. barisan porselen berbentuk bati-bayi tertata rapi di sudut ruangan. rumah ini sangat ramai sekali. mungkin karena le' Wiyono termasuk salah satu orang kaya di desa, jadi banyak warga dari desa-desa lain yang ingin membantu. enak sekali menjadi orang kaya, batin ku.
rumah mewah ini cukup besar, aku bingung mencari dapurnya. ingin bertanya tetapi sepertinya semua orang sedang sangat sibuk. ahh,, biarlah ku cari sendiri, batinku.
terlihat anak kecil berlari kepadaku.cantik sekali kamu dek. aku tersenyum menyapanya. dia tersenyum sedih. tangannya menggenggam jariku. dingin dan kecil sekali jari anak ini, tapi lucu. ahh... dasar anak kecil. sepertinya dia terpisah dari ibunya. kasihan. biarlah ku bawa dulu sampai ibunya datang, pikirku. aku tersenyum dan menggenggam jari anak kecil itu.
"ikut kakak dulu ya dek"ujar ku.
anak kecil itu mengangguk pelan. tangan kecilnya seperti menarik ku ke salah satu ruangan. ah,, mungkin disana ada anak-anak lain. aku mengikuti tarikan tangannya. ku buka daun pintu yang menutup, seketika ada bungkusan yang jatuh ke lantai. berantakan. astaga.. tulang-tulang kecil jatuh berantakan. pasti tulang-tulang ayam ini sengaja di kumpulkan anak le' Wiyono untuk mainan.
aku tersadar anak kecil tadi sudah tidak ada. dan aku berada di pintu ruangan gelap. ah, dia pasti sudah kabur ketika aku sibuk memperhatikan tulang tadi. segera ku tutup kembali pintu dan berjalan mencari kerumunan warga.
banyak sekali warga yang berkumpul untuk memasak. aku langsung bergabung bersama mereka. yu' Sri dan lainnya sedang asyik mengobrol sambil memotong sayuran.
setelah menyapa sekitarku, aku langsung membantu mengupas bawang merah yang sangat banyak
"Mbah mu Endi to nduk?"
"gantian Bu, Mbah di rumah"jawabku.
Mbah wati tersenyum.
"rubingah duwe putu seng ayu tapi celandaan. wong cilik Ojo kemenyek Yo nduk" ujar Mbah gikah sambil membantuku mengupas bawang.
((translate: rubingah mempunya cucu yang cantik tapi kurang ajar. orang miskin jangan menel (ga tau diri) ya nak)).
aku terkejut, terdiam. apakah tadi Mbah gikah melihatku masuk kedalam ruangan. aku tidak sengaja, bukan bermaksud sengaja masuk. tapi ya sudahlah. percuma aku menjelaskan. mendadak ada rasa takut yang menyergap diriku. ku ingat pesan Mbah putri. ku lafalkan ayat kursi, salah satu ayat favorit ku dalam kitab suci Al-Qur'an.
"j**cukk arek iki ancen mayak!" Mbah gikah mengumpat.
(translate: j**cukk, anak ini memang kurang ajar!)
aku terkejut dan segera menatapnya. Mbah gikah menyadari aku menatapnya segera mengangkat kepalanya. dia tersenyum licik kepadaku.
tiba- tiba tangannya memegang tanganku yang hendak mengambil bongkahan bawang merah.
"koe ate ndelok to nduk? tak penuhi". ujarnya sambil tersenyum.
((translate: kamu mau melihat kan nak, aku beri))
aku terkejut dan segera menarik tanganku. mbah gikah terkekeh dan berdiri pergi meninggalkanku yang masih sangat bingung.
ku lanjutkan kembali mengupas bawang-bawang di hadapanku.
aku merasakan perubahan atmosfer yang terasa di ruangan. suara yang teramat ramai ku dengar. suara langkah anak kecil bermain. ahh.... dimana orang tuanya sih. suasana sedang berduka bagaimana bisa membiarkan anaknya bermain di rumah duka.
Samar ku dengar suara bayi menangis tidak henti. awalnya ku biarkan, namun tangisannya tak berhenti seolah tidak ada orang dewasa yang menenangkannya. aku berdiri mencari arah suara. kasihan sekali kamu dek, batin Ku.
langkah ku terhenti ketika di hadapanku ada sebuah pintu yang hampir ku masuki tadi. perlahan ku buka pintu tersebut. nampak beberapa rak bayi berjejer. ruangan penuh aroma bayi. salah satu bayi menangis tidak henti. ada seorang wanita duduk di sampingnya, membelai bayi itu dan menyanyikan senandung lagu yang tidak ku kenali. mendadak aku terkejut ketika wanita yang dari tadi terlihat membelakangi ku tiba-tiba m menoleh. setengah wajahnya hancur menatap tajam padaku. aku segera menutup pintu. aku merasa sangat ketakutan. aku merasa sangat terancam. ku putuskan untuk segera pulang. Mbah Putri, aku takut...!!! aku berlari meninggalkan rumah le' Wiyono sesegera mungkin. bahkan aku pun tidak sadar, kaki ku berlari tanpa alas. aku hanya berfikir bagaimana caranya samapai ke rumah
--------
tok..tok..tok...
aku mengetok pintu sangat keras, berharap Mbah putri segera membuka pintunya.
"Ono opo to nduk.. pintu iku iso jebol mbok ketok" ujar Mbah gikah tersenyum licik padaku.
((translate: ada apa sih nak, pintu itu bisa rusak kamu ketuk))
air mata ku menangis sambil terus mengetuk pintu. aku sangat ketakutan.
"Ono opo Iki kah?" terdengar suara Mbah putri dari belakang ku.
(translate: ada apa ini kah?))
aku menoleh melihat Mbah putri baru datang dengan beberapa kantong plastik sayuran.
hatiku mendadak sedikit tenang.
"Iki Lo moto putumu kok becik tenan, ojo nganti moto seng becik dadi petoko nggo awake dewe. Yo wis lah...aku tak mbalik Yo yu'. le' Wiyono jek butuh aku"ujar Mbah gikah sambil tersenyum padaku.
((translate: ini loh matab cucumu kok cantik sekali. jangan sampe mata yang cantik jadi petaka untuk dirinya sendiri. ya sudahlah aku pulang lagi ya mba. pak Wiyono masih membutuhkan ku))
Mbah putri terdiam, dia memandangku dengan cemas., sementara aku? aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Hanya berharap semua akan baik-baik saja.