Aku Andin seorang siswa dari keluarga biasa yang terbilang sederhana. Saat semua teman-teman sudah memiliki handphone atau telepon genggam, aku belum memiliki alat itu. Namun itu tak membuat diriku patah semangat atau malu untuk bersekolah. Ayah dan ibuku seorang petani kecil yang menginginkan anak-anak berpendidikan, sudah dapat kubayangkan bagaimana kerja keras mereka untuk membiayai sekolahku. Aku tak ingin memberi beban lagi pada ayah ibuku, jika aku ingin memiliki sebuah telepon genggam. Bahkan aku merasa sangat malu jika meminta suatu barang dari mereka.
Sekolahku saat itu sudah menggunakan sistem pendidikan digital, semua siswa diwajibkan memiliki telepon genggam, namun aku tak ambil pusing bagian itu. Aku berpikir jika toh masih ada komputer yang melimpah di sekolah ini. Orang tuaku membayar sekolah untuk aku menuntut ilmu dan aku juga memiliki hak untuk memakai fasilitas itu.
Hampir satu semester aku bersekolah di sekolah favorit itu, sampai suatu hari seorang guru setengah baya yang berparas cantik dan lembut. Menanyai semua siswa yang ada di ruangan itu. "Anak-anak disini sudah punya handphone semua kan ya?" Tanya beliau pada seluruh siswa kelas itu. Aku menjawab belum, namun suara kau kalah dengan tiga puluh lima siswa lainnya yang menjawab "sudah Buu!". Akupun angkat tangan dan menjawab belum sambil menunduk. Kebetulan guru itu adalah guru BK.
Saat aku dipanggil untuk menuju ruang BK, tentunya ada rasa takut dalam benakku. Dalam hati aku berpikir-pikir apakah aku melakukan pelanggaran? Dari ujung kaki sampai ujung kepalaku terasa sangat dingin ketika kakiku melangkah melewati pintu yang terbuka lebar.
"Andin!" Suara seorang guru yang halus itu menegurku. Aku langsung menoleh ke arah suara bersumber. Terlihat Bu Irma yang duduk di mejanya yang tertata rapi. "Silahkan duduk Nak!"
Dengan kalem aku duduk di bangku hadapan ibu Irma yang menatapku tanpa henti. "Ada apa ya buk? Kenapa saya dipanggil? Apa saya buat pelanggaran?" Tanyaku bertele-tele karena gugup. Ibu Irma menjawab dengan sangat santai "Ohh tentu saja tidak Andin! Ibu hanya ingin tahu apakah kamu pernah mendapat bantuan beasiswa dari pemerintah atau sekolah?" Tanya Bu Irma. Aku hanya bisa menjawab dengan sebenarnya keadaanku. "Maaf Bu, belum," Pembicaraan kami berlanjut sampai sekitar lima belas menit, Ibu Irma bilang akan mengusahakan pengajuan untukku mendapatkan bantuan dari pihak sekolah. Tentu saja hal itu sangat kusambut baik, melihat keadaan ayah dan ibu yang sudah tua dan masih terus bekerja keras untuk biaya sekolah aku ini.
Beberapa hari berlalu, aku dipanggil lagi oleh Bu Irma untuk menemuinya. Kabar yang mengecewakan tentunya saat pihak sekolah tak bisa memberi bantuan kepadaku karena aku tidak memiliki bantuan apapun dari pemerintah. Namun aku tetap melapangkan dada, karena semua rezeki itu memang sudah ada yang mengatur.
Semua terasa lancar ketika aku bersekolah, walaupun aku tidak memiliki telepon genggam seperti teman-temanku punya. Sampai pada akhirnya sebuah surat edaran pemerintah yang menyatakan diliburkannya siswa kelas 10 dan 11 karena akan diadakan Ujian Nasional bagi kelas 12. Namun tak sampai disitu surat edaran dari pemerintah terus berlanjut yang menyatakan bahwa semua siswa harus melakukan pembelajaran jarak jauh atas akibat dari dampak wabah penyakit menular yang tengah terjadi. Dan mulai saat itu juga semua pembelajaran di pindah haluan ke berbasis digital atau online. Dulu saat di sekolah aku masih bisa memakai fasilitas sekolah, namun untuk saat ini, tak ada lagi telepon genggam dan tak ada lagi komputer dirumah ataupun warnet. Sebagai akibatnya kau tidak bisa mengikuti pembelajaran daring. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa mengisi hari tanpa melakukan hal bermanfaat.
Dengan perasaan berat dan tertunduk aku mencoba bilang kepada ibu bapakku yang sedang duduk di tikar kecil malam itu. "Pak Bu! Sekarang inikan pembelajaran dilakukan secara online, tapi aku belum punya HP" Terlihat Ibu dan bapak yang saling berpandangan. "Maaf Nduk, tapi bapak belum ada uang untuk membeli HP," Wajah ayah terlihat sangat kasihan padaku. Aku tak bisa berkata lagi, aku juga bisa melihat keadaan keluargaku saat ini, dimana harga sayur juga sedang sangat rendah.
Beberapa hari kemudian, Pintu rumahku yang sederhana seakan ada yang mengetok. Aku masih berada di dapur saat itu, sedang membantu ibu mengupas sayur. Ibu keluar dan membukakan pintu, setelah beberapa menit ibu kembali ke dapur dan mengatakan bahwa guruku datang, "Eh Andin! Itu tuh ada guru kamu, namanya Ibu Irma. Mah ketemu sama kamu katanya!" Aku bergegas mencuci tanganku dan keluar untuk menemui tamu spesial keluargaku. Kami berbasa-basi sebentar sampai ibu keluar membawa segelas air putih biasa dan camilan dalam toples yang ibu buat sendiri. "Mangga Buk!" Ucap ibu mempersilakan Bu Irma.
Ibu Irma kemudian menjelaskan kedatangannya kemari katanya, Melihat ketidakhadiranku selama satu Minggu di presensi online, guru mata pelajaran melapor pada guru BK yang tak lain adalah Bu Irma. Bu Irma kemudian mencari alamat rumahku lewat dokumen siswa. Ia sudah tahu apa yan terjadi, beliau tahu bahwa aku belum memiliki telepon genggam.
Perbincangan kami mengenai pembelajaran secara daring yang begitu repot bagi siswa yang belum memiliki telepon genggam. Ditambah lagi dengan kuota yang lumayan.
"Kenapa kamu tidak belajar bersama teman kamu? Kan kamu bisa belajar bersama dengan teman dan titip mengumpulkan tugas dengan teman yang sudah punya handphone," Tanya Ibu Irma selanjutnya. Aku berpikir sejenak, sepertinya aku tidak ada teman satu desa yang satu sekolah denganku. Terlebih karena aku tinggal didesa terpencil jauh dari kota dimana aku bersekolah. "Saya tidak memiliki teman satu sekolah buk!" Jawabku.
"Ya mau bagaimana lagi Bu, Saya sebagai orang tua belum bisa membelikan barang itu! Yang saya pikir saya harus bisa membayar sekolah anak dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari!" Ucap ibu.
Labih lama aku lihat raut wajah Bu Irma yang kasihan terhadapku. Ia merogoh sesuatu didalam tas biasa ia pakai. Ia mengeluarkan sebuah benda kotak pipih dari dalamnya. "Emm, ibu punya sesuatu buat kamu nak!" Ia menunjukan benda pipih tadi kearahku. Terlihat sebuah handphone yang terlihat di tangan halus Bu Irma. Aku melongo seketika melihat benda itu seakan tak percaya Bu Irma baru saja bilang memiliki sesuatu untukku. "Iya Sab, Ini untuk kamu! Kamu haru janji sama ibu kamu akan belajar dengan giat! Buatlah bapak ibumu bangga padamu." Ia mengelus rambutku yang agak berantakan itu.
Betapa senangnya ibuku saat melihat handphone itu sudah ada ditanganku. Ibu kemudian mengambil tangan yang tadi memberikan handphone itu kepadaku, Ia sangat berterimakasih atasnya. "Terimakasih Bu! Terimakasih banyak!".
Tak lama setelah itu, ibu Irma handak berpamitan, Saya rasa saya pamit dulu Bu!" Katanya pada ibuku. Sekali lagi kami sangat berterimakasih kepada Bu Irma. Ku Cium tangannya, yang kemudian diambilnya tubuhku untuk dipeluknya. "Janji gunakan dengan bijak HP itu ya nak!" Aku mengangguk dengan air mata yang hampir menetes.
Mulai saat itu aku sudah bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh yang diadakan sekolahku. Tentu saja saat itu Bu Irma sudah mengisikan kuota dan pulsa untukku. Ku penuhi janjiku menggunakan handphone itu dengan sebaik-baiknya. Ku gunakan untuk mencari ilmu, menambah wawasan, dan juga mencari berbagai informasi perlombaan online yang tak terlalu mahal biayanya atau bahkan gratis.
Terimakasih selalu Aku ucapkan kepada Bu Irma yang membuatku bisa tetap mengikuti pembelajaran selama pandemi ini. Aku juga sangat berterimakasih kepada semua guru yang telah membimbingku kepada ilmu yang bermanfaat. Aku tak akan pernah bisa membalas jasa kalian. Yang aku bisa lakukan hanyalah mendoakan kalian disetiap jejak hariku, dan membuat ilmu yang kalian berikan bermanfaat. Tak akan kulupakan juga jasa orang tua yang selalu bekerja keras untuk membuatku bisa bersekolah, bahkan disekolah yang bagus.
Kudoakan kalian semoga diberikan kesehatan dan Rahmat yang berlimpah dari Allah SWT. Aku menyayangi kalian semua.