Harga yang harus dibayar setelah seseorang meruntuhkan kepercayaan orang lain, adalah ketika dia tak akan bisa dipercaya seperti sebelumnya. Seperti kaca yang telah retak tak akan bisa disatukan seperti awalnya.
Harga yang harus dibayar oleh seseorang setelah meremehkan orang lain, hanya akan terlihat saat orang yang diremehkan telah jauh diatas dirinya. Seperti suatu tamparan keras yang mampu menyadarkan dia bahwa apa yang dikatakan terkadang ada benarnya, dan semua itu perlu adanya pembuktian. Dan untuk itu, "jadikanlah hinaan sebagai tepuk tangan mereka. "
Harga yang harus dibayar oleh seseorang yang menyakiti orang lain, adalah ketika dia tak pernah menunjukkan keluh kesahnya kepada sesama manusia melainkan langsung pada Sang Pencipta. Karena pada dasarnya tak selalu keluh kesah kita kepada sesama akan mendapat penyelesaian, justru terkadang malah jadi boomerang untuk menjatuhkan.
Harga yang harus dibayar oleh seseorang yang menyia-nyiakan masa mudanya dengan enggan belajar dengan tekun, jatuh bangun karena mewujudkan mimpi,dan berusaha mencari pengalaman untuk dijadikan pelajaran adalah, ketika dia di masa tua kesulitan memberikan pemahaman kepada anak-anak nya bahwa dunia tak semenakutkan yang dibayangkan, bahwa semua bisa dipelajari selagi masih ada waktu.
Harga yang harus dibayar oleh seseorang yang telah mengabaikan kesehatan yang ada padanya, hanya akan dirasakan setelah dia merasakan kesakitan yang mungkin tiada obatnya.
Harga yang harus dibayar oleh seseorang yang enggan berbagi disaat senang maupun lapang, hanya akan dirasakan ketika dia merasakan titik terendahnya yang tak memiliki apa-apa. Untuk itu, berbagilah meski hanya untuk sesuap nasi kepada yang membutuhkan disaat memiliki kelebihan, kecukupan, maupun kekurangan. Karena mungkin dialah yang suatu saat memberimu pertolongan yang tak terduga.
Hargailah segala sesuatu yang ada padamu, hari ini, esok hari, ataupun nanti. Tetaplah bersyukur atas apa yang ada. Mungkin kini masih bisa tersenyum dan membaca pesan singkat ini. Ku harap aku tak hanya menjadi lilin yang mampu menerangi orang lain tapi justru membakar diriku sendiri. Karena sejatinya segala sesuatu yang dilakukan di dunia ini pasti akan diminta pertanggungjawaban kelak.
Tulisan ini bukan hanya untuk ku, tapi juga yang membaca. Ku harap bisa direnungi kembali dan dijadikan pengingat.