Siang itu, Matahari lumyan sejuk untuk Kara menari dengan sayap warna putih indahnya itu. Kara memang sangat mahir menari apalagi, Kalau menari gerakan kupu kupu. Begitu juga Ibu Kara yang menjadi idola di pelosok hutan.
Suatu hari, datanglah seekor Belalang dan Capung dari hutan tetangga yang menantang Kara untuk menari. “Kara, tunjukan saja bila kamu mampu mengalahkan mereka.” Ucap Supi, sang Siput sahabat Kara. “Iya, aku akan berlatih untuk lomba menari esok.” Kata Kara memastikan.
Esooknya, Kara berlatih menari di halaman rumahnya namun, Kara tidak tahu kalau Lala dan Capi mengintip dari balik semak. “Tapi, kalau nanti Kara tau kita niru gerakanya gimana?” Tanya Capi, khawatir. “Tidak usah khawatir, nanti kita bilang saja yang menenmukan gerakan ini yang pertama adalah kita.” Jawab Lala santai.
Saat waktu lomba telah tiba, seluruh penghuni hutan datang untuk melihat, termasuk juga Ibu Kara yang sebagai Juri di Perlombaan. Lalu, Kara menari dengan moleknya di atas panggung, dan disusul dengan Lala dan Capi. Ibu Kara mulai heran, bagaimana Lala dan Capi bisa mengerti gerakan itu. Lala dan Capi pun juga tidak tau kalau itu adalah gerakan khas kupu kupu, ya, gerakan nenek moyang Kara.
“Sebentar, Berhenti!” Ucap Ibu Kara. “Iya ada apa? Kenapa berhenti?” Tanya Lala. “Dari mana kalian dapat gerakan itu, Itu gerakan nenek moyang kupu kupu.” Kata Ibu Kara. “Hei, ini kami buat sewaktu di hutan kami ya. Jangan mengaku ngaku.” Kata Lala. “Dari mana?! Apa bisa dibuktikan?” Ibu Kara tetap tidak mau kalah. Setelah Lala, Capi dan Ibu Kara berdebat lama, akhirnya Kara meredakan sedikit.
“Sudah, Ibu. Biarkan saja mereka.” Kata Kara, menenangkan. “Bagaimana bisa, Ibu biarkan gerakan itu ditiru. Itu gerakan khas kupu kupu, Nak.” Ucap Ibu Kara. Tiba tiba, Supi datang, dan berbicara pada Ibu Kara. “Kemarin, saat saya sedang mencari makan saya melihat Lala dan Capi mengintip Kara dari balik semak. Jadi, IBu Kara menurut saya Lala dan Capi lah yang meniru niru.” Terang Supi.
Seluruh penonton sorak sorai kala mengetahui Lala dan Capi salah. Dan pada Akhirnya, Lala dan Capi pun menunduk malu dan mengakui kesalahannya. “maafkan kami, Ibu Kara, juga para penghuni hutan. Memang kami akui kalau Kara sangat mahir di bidang menari.” Ucap Lala. Lalu, Lala dan Capi kembali ke hutannya. Ibu Kara pun memberikan piala kepada Kara.
Jadi, hanya karena iri jangan sampai kejujuran seseorang itu hilang dan tidak boleh mengakui apa yang bukan miliknya.