Pada suatu hari, di desa yang jauh hiduplah seekor tikus dan seekor kucing. Mereka adalah sahabat karib. Mereka selalu mencari makan dan bermain bersama.
Suatu hari, tibalah musim kemarau yang panjang. Ini membuat mereka kesulitan mencari makanan. Hari demi hari, bulan demi bulan dilalui dengan begitu sulit, gudang tua tempat mereka tinggal pun menjadi saksi bisu penderitaan mereka. Hari haripun mereka lalui dengan berat, hingga akhirnya mereka berada di ujung tanduk. Si kucing jatuh sakit karena kelaparan. Tikus pun kebingungan apa yang harus dilakukannya untuk bisa menolong sahabatnya itu. Hingga akhirnya tikus pun berkata kepada si kucing “Sahabatku, aku tidak tega melihatmu menderita seperti ini. Jadi makanlah aku agar kau bisa kembali sehat.” si kucing pun terkejut mendengar apa yang barusan dikatakan sahabatnya itu. Matanya terbelalak tak percaya lidahnya kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata. Dengan suara yang bergetar dan lirih dia pun menjawab “Apa yang kau katakan? Aku tidak akan pernah melakukan hal itu… Tidak mungkin… Aku membunuh sahabatku…” kesedihan yang mendalam bisa dirasakan dari suara si kucing betapa berharganya sahabatnya itu baginya, namun sepintas tetap terlihat bayangannya yang mampu membunuh sahabatnya itu kapan saja bila dia sudah kehilangan akal sehatnya.
Tikus merasa iba dan khawatir dengan kondisi si kucing. Badannya kurus kering, matanya sayu, dan tak ada tenaga yang dapat dikeluarkannya. Ia hanya bisa terbaring lemah, sembari menggenggam tangan sahabatnya, tikus pun berkata “kemarau masih tersisa beberapa hari lagi, aku khawatir kau tak akan bisa bertahan selama itu kucing.” si kucing pun hanya bisa terdiam dan memikirkan apa yang barusan dikatakan sahabatnya itu. Dalam hatinya dia berkata “benar, mungkin aku tidak akan bertahan lama.”
Keesokan harinya, tikus pun pergi keluar untuk mencari makanan berharap bisa menolong temannya. Dengan tekat kuat dia melangkah keluar dari gudang tua itu.
Tak lama berjalan menyusuri hutan tiba tiba terdengar suara ledakan yang mengagetkannya. “DORR!!” suara peluru yang tertembak membuat si tikus terkulai lemas karena kaget. Diam-diam dia mengamati dari balik semak-semak, “seorang pemburu…” katanya lemas.
Pemburu itupun menangkap dan menyeret rusa yang yang menjadi korban buruannya lalu pergi menjauh. Setelah dirasa cukup aman tikus pun keluar dari tempat persembunyiannya, diamatinya rumput kering dengan sisa darah sang rusa. Ide liar pun muncul dalam benaknya, “mungkin kucing bisa memakan resapan darah yang ada dalam rumput ini? Walaupun tak banyak tapi setidaknya dia bisa bertahan hingga kemarau mereda” pikir si tikus.
Ia pun mengumpulkan rumput-rumput kering itu dan berjalan pulang dengan harapan sahabatnya itu bisa merasa lebih baik dan segera sembuh.
Saat si tikus kembali ke dalam gudang itu si kucing melihatnya dengan tatapan heran “apa yang kau bawa tikus?” tanyanya penasaran. “ini adalah rerumputan kering dengan resapan darah rusa di dalamnya, aku mengambilnya saat bertemu pemburu tadi.” jawab tikus menjelaskan kepada sahabatnya yang kebingungan. “kenapa kau sampai nekat mendekati pemburu itu?” si kucing mulai cemas dan merasa tidak enak, si tikus pun menjawab kecemasan sahabtnya itu “sudah tidak apa-apa, aku tidak terluka lagipula kau tidak bisa memakan yang aku makan selama ini, jadi aku harap ini bisa menolongmu.” si tikus menyodorkan rerumputan kering itu kepada si kucing “makanlah agar kau cepat sembuh.”
Dengan ragu-ragu kucing pun mulai memakan rerumputan itu “bagaimana?” tanya si tikus, “tidak bisa dibilang lezat tapi ini lumayan… Terima kasih tikus.” jawab kucing dengan tersenyum, tikus pun merasa puas atas apa yang dia dengar, dia berjanji akan mencarikan sesuatu yang lebih enak besok.
Keesokan harinya tikus terbangun dari tidurnya, ia melihat wajah pucat si kucing yang terlelap di sebelahnya. “aku akan pegi keluar dan mencari makanan lagi…” pikirnya, ia pun pergi meninggalkan gudang tua itu dan mulai berkeliling mencari makanan.
Hari mulai larut, namun tak banyak makanan yang bisa ia kumpulkan. Hanya dengan membawa biji-bijian dan sisa rumput di tempat yang sama kemarin, si tikus pun pulang dengan berat hati.
“aku kembali kucing. Tak banyak yang bisa kudapatkan hari ini tapi semoga ini cukup.” kata si tikus saat dia menghampiri kucing, namun tak ada jawaban dari sahabatnya itu, si kucing masih terbaring lemah dan tak merespon apa apa. Perasaan si tikus mulai tidak enak pikiran nya melayang kemana-mana, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri dan akhirnya memahami situasi tersebut. “tidak biasanya dia tidur selama ini… Jangan jangan…!” Dengan panik dan tergesa-gesa si tikus berlari menghampiri kucing berusaha untuk membangunkannya namun si kucing tak kunjung bangun.
Tikus pun berlari kearah hutan untuk mencari pertolongan. “tolong!! Kumohon siapa pun bantu aku!!!” teriaknya sekuat tenaga. Dari kejauhan terdengar suara yang memanggilnya. “apa yang terjadi padamu tikus?” tanya seekor burung hantu tua. “temanku… Temanku sekarat, dia tidak mau bangun…” jawab si tikus dengan napas tersenggal-senggal. Burung hantu tua itu memiringkan kepalanya tanda ia kebingungan “apa yang terjadi pada temanmu?” tanyanya penasaran. “dia kelaparan… Kumohon tolonglah aku… Aku tak ingin melihatnya mati.” jawab si tikus dengan putus asa. “bukankah lebih baik membiarkannya mati daripada membuatnya hidup dalam penderitaan?” kata si burung hantu dengan nada sinis, “aku tidak akan membiarkannya mati seperti itu!!!” bentak si tikus, ia muak mendengarkan ocehan yang dilontarkan oleh si burung hantu.
Sesaat burung hantu terdiam, lalu bertanya “apakah kau rela menggantikan ajal temanmu itu?” si tikus sempat tertegun tapi dengan mantap dia menjawab “aku rela melakukan apapun.” “baiklah kalau itu pilihanmu” kata si burung hantu sebelum ia mengambil sesuatu dari balik sayapnya. Buah kecil bewarna hitam itu diserahkannya kepada tikus. “berikan ini pada temanmu itu maka dia akan hidup, tapi ada harga yang harus dibayar untuk kehidupannya itu” kata si burung hantu menjelaskan, tanpa pikir panjang si tikus langsung berlari pulang berharap sahabatnya baik-baik saja.
Sesampainya di gudang, ia lalu menghampiri sahabatnya itu lalu memasukkan buah itu kedalam mulut si kucing seraya memohon agar buah itu memperlihatkan efeknya. Tak lama setelah itu si kucing perlahan-lahan mulai membuka matanya. Si tikus merasa bahagia. Dipeluknya sahabatnya itu dengan erat. Si kucing yang kebingungan dengan apa yang telah terjadi pun bertanya kepada si tikus, namun dengan senyum simpul si tikus hanya menjawab “tidak apa apa, istirahatlah matahari akan segera terbit” mulutnya berkata tidak apa apa namun dalam hatinya dia masih memikirkan apa yang dikatakan sang burung hantu tua. Seraya melihat bulan yang belum tergantikan oleh matahari si tikus bertanya dalam hatinya “harga yang harus dibayar… Apakah itu artinya sewaktu-waktu aku bisa mati?”
Semalam telah berlalu, sikucing mulai merasa kesakitan. Rasa sakit yang luar biasa, membuat si kucing tidak bisa berpikir jernih. Dia mulai meracau, dan berhalusinasi berpikir bahwa ajal akan menjemputnya. “sakit!! Lapar!! Aku lapar sekali… Aku sudah tidak tahan!!” jerit si kucing kesakitan. Tikus kemudian menghampiri sahabatnya itu dengan tergesa-gesa “bertahanlah kucing!!! Kau harus makan sesuatu!!” namun tiba-tiba saja si kucing menerkam sitikus “peduli amat kau temanku atau bukan…! Yang namanya makanan tetap makanan!!!” racau si kucing dengan ganas. Tikus sangat terkejut melihat sosok sahabatnya itu. Sungguh wujud yang tak pernah terbayangkan di benak sitikus sebelumnya. Mata si kucing memerah, mulutnya penuh dengan air liur yang menetes, taringnya yang tajam juga terlihat dengan jelas. Dengan melihat sosok sahabatnya itu dia bisa menyimpulkan mungkin inilah harga yang harus ia bayar.
Disaat seperti itu yang terbesit di pikiran sitikus adalah kenangan-kenangan indahnya saat bersama si kucing. Mereka lalui setiap hari bersama dengan penuh canda tawa. “apakah ini ajalku?” kata si tikus di dalam hatinya namun ia tidak takut, tidak juga menyimpan dendam. Ia justru merasa senang karena bisa menolong si kucing, walaupun nyawanya sendiri taruhannya.
Mulut si kucing menyeringai lebar, dia menggeram dan membuka mulutnya. Seiring dengan terbukanya mulut si kucing, si tikus memejamkan matanya, siap apabila ajal akan menjemputnya. Si kucing pun memakan si tikus dengan rakus, darah menetes dimana mana, suara kunyahan yang keras dan mengerikan menggema di dalam gudang tua itu. Kucingpun tersadar dengan apa yang diperbuatnya, dia terkejut dan melompat menjauhi sisa-sisa tubuh sahabatnya itu tubuhnya gemetar hebat, tak percaya apa yang telah dilakukannya.
Semua sudah terlambat. “Tidak… Apa yang telah kulakukan…” kata si kucing dengan suara yang parau. “aku minta maaf, tikus maafkan aku…” tangis si kucing menjadi semakin keras dan terdengar menyedihkan. Seiring dengan suara tangisan itu, rintik hujan turun membasahi desa. Kemarau telah usai.