SELALU BERSAMAMU
Adakalanya orang yang jatuh cinta bukan karena fisik yang cantik atau ganteng karena sering bersama. Seajaib itu jatuh cinta.
Bersama tidak semua membuat orang jatuh cinta tapi rasa nyaman itu pasti ada, tidak bisa dipungkiri keduanya bertahan karena adanya rasa nyaman.
Begitupun dua insan yang sedang duduk di kantin kampus sambil menikmati bakso pesanannya.
"Kuahnya dong?" Minta Sila pada Dafa.
Dengan tatapan pura-pura jengkel Dafa menumpahkan kuah baksonya dalam mangkuk Sila.
"Makasih" Ucapnya lalu menyeruput kuah baksonya itu.
"Iiihh perempuan kayak gitu amat makan bakso" Ujar Dafa seakan jijik dengan cara Sila.
"Gak banyak orang Daf, santai saja" Jawab Sila santai lalu ia kembali makan mie bakso dan pentolannya.
Mereka hening sejenak untuk menghabiskan bakso masing-masing. Karena Dafa termasuk orang yang cepat makan maka ia berinisiatif untuk membayar bakso tersebut.
"Uang mana, aku yang bayar di kasir" Minta Dafa dengan tangan ia ulurkan didepan tepat diatas meja.
"Gak terima tukang minta bang, hehehe. Bentar!" Ucap Sila bercanda.
Sila membuka tasnya dan tidak menemukan dompetnya, sekali lagi ia bolak balik isi tasnya namun dompetnya ia tidak temukan juga.
"Untung sahabat, kalau tidak ku geprek kamu" Jawab Dafa mendengar ucapan Sila tadi, "Kenapa diam, jangan bilang uangmu gak cukup" tebak Dafa.
"Bukan itu, lupa bawa dompet" Ujarnya dengan tatapan memelas, "bayarkan ya nanti aku traktir, janji" Sambung Sila sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Ganti, bukan traktir" Dafa membenarkan, "traktir, ingat aku sering traktir kamu" Dafa mengingatkan Sila.
"Perhitungan banget sih, kalau gak mau bilang aja, berapa semua aku ganti" Sila tidak mau kalah.
"Hahaha, merah mukanya marah ya?" Tanya Dafa, "sudah di list setiap aku traktir, nanti tinggal tambah uang mahar" Sambungnya dengan candaan.
"Wah, bahas mahar nih, kapan?" Tanya ibu kantin kampus.
"Jangan percaya bu, aku dan dia memiliki tembok yang tinggi jadi gak mungkin" Jawab Sila
Dafa mendengar itu, seakan tidak terima tapi memang benar adanya karena mereka berbeda.
"Maksudnya, tembok yang tinggi itu apa?" Tanya ibu kantin.
Seseorang datang menghampiri mereka bertiga yang tengah berdiri, "Tidak seiman bu" Jelasnya.
Dafa melihat Ilham ingin sekali melayangkan pukulannya, berani sekali masuk dalam obrolan mereka.
"Ada Ilham tu, mau ikut aku atau dia?" Tanya Dafa seakan marah kepada Ilham tapi ia luahkan kepada Sila, "berapa bu semuanya?" Lanjutnya.
Ibu kantin langsung kembali dikasirnya yang diikuti oleh Dafa, ia bayar lalu pergi begitu saja melewati Sila dan Ilham.
"Lah Dafa kenapa tu?" Tanya Ilham kepada Sila. Dan Sila hanya menaikkan pundaknya.
"Gak taulah Ilham, inces ku itu, lagi gak mood. Aku pergi dulu" Pamit Sila kepada Ilham.
Dafa yang melihat itu dari jauh langsung lanjut jalan tanpa menunggu Sila lagi. Sifat cemburu Dafa pada Sila muncul tiba-tiba jika Sila komunikasi dengan Ilham. Seakan hanya dirinya yang bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis tidak dengan Sila.
"Daf, tunggu dong" Teriak Sila dari jauh.
"Cepat!" Jawab Dafa sembari jalan tidak menunggu Sila yang berada jauh dengan dirinya.
Hari-hari mereka terus seperti itu selama dikampus, baik dan peduli itulah sifat Dafa pada Sila.
Waktu sudah menunjukkan sore hari tepat diparkiran motor, menunggu Dafa mengantar satu teman kelas mereka juga.
Dafa kembali untuk menjemput Sila dikampus, sesampainya Sila langsung menaik diatas motor dan lanjut menuju jalan pulang.
***
Pagi ini, Dafa dan Sila sudah atur waktu akan kerja tugas kampus disebuah cafe dekat kampus.
Sila masih siap-siap pesan Dafa sudah masuk ponselnya.
"Sil, aku otw jemput nih" Pesan itu membuat Sila yang awalnya santai langsung menggunakan gerakan cepat agar Dafa sampai ia sudah siap.
Dafa sampai, Sila sudah menunggu. Mereka pun menuju cafe yang dituju dan entah kenapa disana sudah ada Ilham seorang diri.
Sila si baik hati setelah melihat Ilham langsung memanggil namanya dan melambaikan tangan. Begitupun dengan Ilham langsung berdiri dan melambaikan tangan.
Dafa melihat itu membuka helmnya sembari menghembuskan napas dengan kasar.
"Dia lagi, dia lagi" Gumam Dafa.
"Ayo" Ajak Sila.
Dafa menatap Sila dengan jengkel, "karena mau ketemu Ilham lupa buka helm"
"Oh iya" Jawab Sila dengan cengengesan.
Dafa masuk dalam cafe tersebut mencari kursi yang jauh dengan Ilham, ia sangat tidak suka kalau Ilham dengan Sila akrab meskipun mereka satu kelas.
Ilham memanggil Dafa, "Daf, sini"
"Disini saja, Sila tidak suka suara bising" Kilahnya, karena ia mencari tempat yang sedikit dipojok sehingga nyambung dengan alasannya.
"Aku yang gabung" Ujar Ilham.
"Disitu saja, aku dan Sila duduk berdua saja" Jawab Dafa sedangkan Sila hanya menatap Dafa dan Ilham lalu geleng kepala heran.
"Dasar manusia-manusia aneh, bukan kalian teman?" Tanya Sila diakhir kalimatnya.
"Tidak, saya kira bestie mu" Jawab Dafa sakit hati.
"Kan satu kelas" Ujar Sila membuat Dafa menatap Sila kesal.
Mereka pun kerja tugas berdua sedangkan Ilham tetap dimeja awalnya sendiri sampai selesai masing-masing.
Mereka pulang, diperjalanan pun Dafa memasang mode diam tidak seperti biasa sehingga Sila menyadari itu.
"Gimana kalau minggu ini kita ajak teman-teman satu kelas jalan-jalan" Usul Sila.
"Gak tau" Jawabnya singkat.
Seketika mereka diam, tidak ada yang memulai bicara lagi sampai asrama Sila.
Akhir-akhir ini Dafa jarang chat Sila seperti biasa, hanya ketemu dikampus selepas itu selesai. Dafa semakin jauh dari Sila dan Sila menyadari itu.
Hari-hari keduanya berjalan seperti itu dan akhirnya Dafa kembali menegur Sila saat mereka bertemu kantin kampus saat makan bersama Ilham dan teman-teman yang lain.
"Sil, tugasmu sudah selesai?" Tanya Dafa dan ia yakin kalau Sila pasti belum selesai mengerjakan tugas kampusnya.
"Belum Daf, kamu sudah?" Tanya Sila dan Dafa hanya menaikkan satu alisnya lalu menunjuk meja yang sedikit jauh dari Ilham dan yang lain.
"Oke, maaf ya aku harus pindah meja" Ucap Sila sembari mengangkat piringnya dan satu tangan memegang tas.
Ilham bangkit dari kursinya, biar aku yang pegangan piringnya"
"Sini tasnya, selalu merepotkan orang lain" Ujar Dafa dengan menarik paksa tas Sila lalu pergi.
"Maaf ya" Ucap Sila.
Mereka makan berdua sambil Sila kerja tugas.
"Daf, aku capek" Sila mengeluh.
Dafa tanpa bicara langsung menarik laptop Sila dan menghadap padanya lalu ia kerjakan tugas Sila dengan cepat.
"Nih" Ucap Dafa lagi.
Sila menatap Dafa seakan tidak percaya tapi itu kenyataannya. Sila senang melihat tugasnya sudah selesai dan Dafa pun hanya mengukir seulas senyum.
Dikampus mereka selalu bersama dimana ada Dafa disitu ada Sila, sehingga banyak yang dikira couple. Keduanya sadar hanya mereka abaikan.
Waktu begitu cepat hari ini kembali dihebohkan oleh berita kalau Ilham mengatakan cintanya pada Sila dalam kelas dan saat itu Dafa masih diparkiran motor.
"Terima.. terima.." Teriak teman-teman mereka sekelas.
Sila hanya diam ditempat duduknya dan Ilham menatap Sila silih berganti dengan teman-teman yang lain.
Dafa masuk dalam kelas yang tidak tau apa-apa langsung duduk diantara Ilham dan Sila, karena memang ia tidak suka sahabatnya dekat dengan Ilham.
"Daf, pindah dari situ" Teriak salah satu dari temannya.
"Sil, ini ada apa?" Tanyanya dengan berbisik ditelinga Sila.
"Ilham nembak aku, aku bingung jawab apa" jawab Sila.
Dafa seketika matanya melebar dan kaget, "Yang aku jaga selama ini, akan diambil orang" Batinnya.
"Tolak" Jawabnya lalu ia pergi dan Sila menanggung paham.
Dafa keluar dari ruangan dan duduk dikursi yang tidak jauh dari kelas, seketika Dafa mendengar suara teman-temannya mengatakan kenapa Sila menolak Ilham.
Dafa senang dan Sila keluar menemui sahabatnya itu.
"Daf, aku sudah tolak" Ucap Sila, "Untung kamu datang cepat, kalau tidak aku gak tau jawab apa tadi, memang kamu penyelamatku. Ke kantin yuk aku yang traktir" Ajak Sila.
"Aku yang traktir, sekaligus ada yang saya bicarakan serius" Ujar Dafa dengan hati yang deg-degan.
"Ok, ambil tas dulu dalam kelas" Pamit Sila dan Dafa mengikuti Sila dari belakang.
Dafa melihat Ilham hanya menunduk diam setelah cintanya ditolak, ia kasian sama Ilham tapi ia juga tidak mau kehilangan Sila dalam hidupnya.
***
Hari dilalui bersama dengan canda tawa seperti biasa, dan satu yang berubah dari sikap Dafa yang mulai overprotektif pada Sila.
"Sil, lapar gak, makan yuk."
"Oke"
Sila dan Dafa ke kantin seperti biasa dan disana entah dari mana penjual stiker itu datang dan menawarkan Dafa stiker.
Dafa terpaksa beli dan memberikan stiker itu kepada Sila.
"Ini stiker"
"Makasih" Jawab Sila sembari mengambil stiker tersebut.
"Untuk aku maunya Daf" Ujar senior yang duduk disamping Dafa dan Sila.
"Untuk Sila" Ucap Dafa lagi dengan santai dan menuangkan kuah baksonya untuk Sila.
"Makasih"
"Sama-sama"
Selesai makan Sila dan Dafa kembali ke kelas sambil menunggu dosen, di kelas banyak teman-teman menunggu Sila. Setibanya disana Sila dipanggil oleh teman-temannya.
"Sil, kesini dulu" Ajaknya.
Sila menoleh ke arah Dafa.
"Temui mereka" Ujar Dafa lalu pergi karena dalam kelas semua sahabat Sila.
"Ada apa?" Tanya Sila dengan santai sambil duduk.
"Kamu pacaran dengan Dafa?" Tanya salah satu diantara mereka bertiga.
"Gak kok, teman kayak kalian semua" Jawab Sila sambil menunjuk teman-temannya.
"Beda, penilaian kami itu Dafa perhatian banget sama kamu Sil, jangan bohong pasti tau apa yang kami maksud" Ujar salah satu sahabat Sila yang mewakili sahabat yang lain.
"Gak kok, dia sahabat aku gak ada bedanya dengan kalian. Jangan aneh nanti didengar oleh Dafa" Larang Sila kepada sahabat-sahabatnya.
Masih asyik cerita Dafa masuk dalam kelas menghampiri Sila.
"Sil pulang yuk, gak jadi masuk" Ujarnya sambil menaikkan satu alisnya, "kita jalan-jalan, bagus tau kalau sore pas pulang kampus" sambungnya.
Sila yang awalnya masih mikir-mikir langsung bangkit dari duduknya dan mengangkat tasnya.
"Let's go Daf. By teman-teman ku"
Dalam perjalanan Sila melihat sekelilingnya tidak luput dari bibirnya selalu memuji pemandangan di sekitarnya.
"Daf, kenapa baru bilang sekarang ada pemandangan sebagus ini?"
"Sengaja"
"Kok gitu" Jawab Sila sambil menarik napas kasar, seakan dirinya rugi baru tau tempat itu.
"Naik atas" Ajak Dafa lagi, setelah parkir motornya, "Diatas lebih bagus, kita bisa lihat pemandangan ini dari atas" lanjutnya dan Sila mengangguk setuju.
Ditempuh 10 menit, Dafa dan Sila pun sampai puncak. Napas ngos-ngosan membuat Sila memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum sampai di gazebo yang disediakan puncak tersebut.
"Minta bantuan gak?" Tanya Dafa.
Sila mengerutkan dahinya, "gak butuh, disana kan?"
Sila lalu lanjut jalan mendahului Dafa. Angin sepoi-sepoi bisa dinikmati diatas puncak ditambah Dafa membawa berbagai snack dalam tasnya.
"Nih"
"Waoow, kamu memang BFF yang tidak bisa didapatkan diluaran sana. Satu ya" Izin Sila.
"Semuanya untuk kamu"
"Dengan senang hati teman"
Mereka menikmati keindahan puncak di sore hari sambil menunggu sunset. Lembayung senja menghiasi dapat memanjakan mata penikmatnya. Sila ngemil sambil melihat pemandangan serasa puncak itu adalah miliknya.
"Sil, aku tanya sesuai boleh?" Tanya Dafa.
Sila sambil mengunyah makanannya menoleh kearah Dafa sekilas.
"Astaghfirullah" Ucap Sila spontan karena Dafa ternyata sangat dekat dengannya.
"Tanya saja, pasti saya jawab"
"Kalau aku pacaran gimana?"
"Gak masalah, yang penting jangan lupa sahabat saja"
"Kalau orang yang aku suka itu sahabat aku sendiri?" Tanya Dafa lagi.
Sila belum menyadari pertanyaan Dafa, "Gak masalah Daf, santai saja yang penting jangan lupa aku"
Dafa menarik bungkus cemilan ditangan Sila, Sila langsung kembali melihat Dafa dengan heran.
"Kenapa sih, aku jawab semua pertanyaan masih dipermasalahkan juga" Sila pura-pura ngambek.
"Sil, aku suka sama kamu. Mau jadi pacarku?" Tanya Dafa dengan satu helaan napas dengan mata terpejam.
Sila mendengar itu, menelan ludah pun susah. Memperbaiki posisi duduknya terlebih dahulu menggeserkan kursinya.
"Daf, kita bestie" Respon Sila dengan senyum sumringahnya.
"Gak, bagiku kamu lebih dari itu. Aku cemburu melihat mu dengan Ilham, aku cemburu Sil. Apalagi Ilham menyukaimu, aku gak mau Sil kehilangan mu" Jujur Dafa membuat Sila menjatuhkan air matanya.
Sila diam dengan seribu bahasa mendengar penuturan sahabatnya itu. Kenapa harus sahabatnya sendiri yang mencintainya sedalam itu, kenapa harus Dafa. Orang yang selalu ia anggap teman suka dukanya dikampus menyimpan rasa padanya.
"Kenapa harus aku?"
"Cinta tidak membutuhkan alasan Sil"
"Daf kita teman saja. Aku lebih takut kehilangan sahabat ketimbang pacar. Dan aku tidak mau itu terjadi"
"Aku tidak akan berubah, janji" Ucap Dafa sembari mengangkat jarinya membentuk huruf V dengan senyum lebarnya.
Sila hanya menggeleng kepala dan diam. Dafa hanya pasrah dengan kediaman Sila.
10 menit hanya diam-diaman sebelum memutuskan untuk balik.
***
Semenjak Dafa mengungkapkan perasaannya kepada Sila, saat itu Sila sedikit berubah. Sila sering hilang dalam kelas tiba-tiba, murung, makan di kantin memilih sendiri. Sahabat sekelasnya Sila bingung dengan perubahannya, begitupun dengan Dafa.
"Lihat Sila gak?"
"Gak, kantin mungkin" Jawab sahabat Sila.
Dafa langsung menuju kantin fakultas dan disana Sila lagi mengaduk minumannya sekali-kali ia seruput. Langkah Dafa tiba-tiba berhenti melihat Ilham yang duduk tepat depan Sila.
Dafa cemburu melihat itu, ia tidak ingin biarkan Ilham mendekati Sila lagi. Dengan langkah cepat menghampiri Sila dan duduk disampingnya.
Dafa meraih pipet ditangan Sila dan ikut menyeruput minuman tersebut.
Ilham dan Sila diam melihat sifat Dafa. Sementara Dafa setelah minum, ia langsung memuji minuman itu.
"Kok aku baru tau minuman ini, ternyata rasanya enak" Puji Dafa sambil memutar gelas tersebut.
"Sil, mama mencari mu katanya memilih cincin harus ada kamu" Ujar Dafa lagi.
"Cincin apa Daf?" Tanya Ilham penasaran.
"Cincin nikah, masa cincin tunangan"
"Tapi.." Sila bingung dengan ucapan Dafa.
"Bingung kenapa, itu yang membuatmu marah?, Yaah aku tau hatimu Sil, aku harus pergi, by" Pamit Dafa.
"Sil, kok menikah gak bilang-bilang?" Tanya Ilham.
"Aku aja gak tau, sepertinya aku harus pergi Ham" pamit Sila.
Dafa yang berlalu begitu cepat, "Maafkan aku Sil, aku tidak bermaksud mengatakan itu dengan cepat. Apalagi kita saat ini lagi kuliah"
Dafa pulang rumah sedangkan Sila masih mencari-cari keberadaan Dafa dikampus.
"Liat Dafa gak?" Tanya Sila.
"Tidak"
Sila ke kelas dan berharap disana ada Dafa dan lagi-lagi tidak ada, ditelepon pun tidak angkat.
"Kemana sih itu anak?" Batin Sila sambil menghapus keringat di pelipisnya.
***
Dafa sepulang kampus hanya duduk diam di teras belakang rumah, merenungi apa yang ia ucapkan kepada Sila sahabatnya.
"Nikah, satu-satunya cara untuk mengikat Sila" Batinnya lalu mencari keberadaan mamanya dalam rumah.
"Mam, aku pengen menikah"
"Haa, masih kuliah Daf" Ujar mama Ani.
"Gak masalah, aku mampu" Ujar Dafa penuh yakin.
"Siapa?"
"Sila"
"Sila sahabat kamu, dia muslim sayang" Jelas Mama Ani.
"Aku sudah siap jadi muslim mam, izinkan Dafa ya" Izin Dafa sembari memohon kepada mamanya.
Seketika pecah tangis Mama Ani, ia berpaling tidak ingin melihat wajah anaknya itu. Sakit mendengar kata-katanya yang sangat menggores hatinya.
"Hiks.. hiks, kenapa kamu meninggalkan kami demi Sila?, Apa kamu gak sayang sama mama?" Tanya Mama Ani.
"Sayang mam, izinkan Dafa mam, Dafa mohon" Ujarnya dan kali ini Dafa sujud di kaki mamanya.
Dengan berat hati Mama Ani akhirnya menyetujui itu, "iya, tapi ingat itu pilihanmu maka pesan mama taat pada Tuhanmu" Pesannya dan kembali menangis.
Hati siapa yang tidak sedih jika anaknya bukan hanya menikah mendadak tapi akan pindah keyakinan.
Dafa mendengar restu dari mamanya langsung bangkit dan memeluk mamanya.
"Terima kasih mam" Ucapnya sembari memeluk erat mamanya lalu melonggarkan pelukannya dan mencium pipinya.
"Sampai kapan pun mama bidadari Dafa yang tak bersayap, terima kasih mam" Ucap Dafa lalu pergi dengan buru-buru masuk kamar dan menelfon Sila.
"Hallo Sila, aku ingin ke rumahmu" Ucapnya dalam telepon.
"Iya, kesini saja, kebetulan aku dirumah" Jawab Sila lalu mematikan sambungan telepon.
Tidak membutuhkan waktu lama Dafa sampai rumah Sila, seperti biasa Sila membukakan pintu dan Dafa masuk. Sila melihat Dafa dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti ada yang aneh.
"Ada apa, tidak seperti biasanya?" Tanya Sila.
"Ayah kamu ada Sil?" Tanya Dafa.
"Ada, bentar aku panggilkan dulu" Ujar Sila lalu pergi memanggil ayahnya yang berada dalam rumah.
Sila kembali bersama ayahnya. Dafa langsung senyum melihat ayah Sila begitupun ayah Sila langsung membalasnya.
"Ada apa nak Dafa?" Tanya ayah Sila.
"Bantu Dafa pak mengucapkan dua kalimat syahadat" minta Dafa membuat Sila langsung menatap Dafa begitupun dengan ayahnya.
"Daf, itu bukan main-main" Ujar Sila.
"Aku serius Sil" Jawab Dafa.
Ayah Sila pun mengantar Dafa di mesjid terdekat ditemani oleh Sila.
Disitu pula Dafa mengatakan kalau dirinya serius dengan Sila dan ingin secepatnya menikahi Sila.
Ayah Sila tidak menyangka jika calon anaknya adalah sahabatnya sendiri. Ia tidak ingin mempersulit calon putrinya asalkan ia benar-benar serius maka ia akan menerimanya dengan tangan terbuka.
"Ayah setuju, ayah sudah mengenalmu sudah lama. Bagaimana Sila?" Tanya Ayahnya.
Sila melihat Dafa lalu menatap ayahnya.
"Bagaimana bisa Sila menjawab kalau ayah sudah setuju" Jawab Sila.
"Alhamdulillah" Jawab Dafa sambil mengusap wajahnya. Senyum sumringah tidak luntur dari bibir Dafa.
"Kamu kembali dirumah mu Daf?" Tanya Sila.
"Ngontrak" Jawabnya.
Ustadz yang membantu Dafa mengucapkan dua kalimat syahadat langsung menawarkan diri.
"Gimana nak Dafa tinggal saja dirumah saya, kalau kamu mau jadi anak pertama saya"
Dafa langsung meraih tangan ustadz tersebut dan menciumnya, "Terima kasih ustadz, saya mau. Suatu anugrah buat saya."
Dafa pulang bersama ustadz dan Sila pun kembali rumah dengan ayahnya.
Satu kelasnya belum ada yang tau kalau Dafa sudah mualaf selain Sila. Hubungan mereka pun kembali seperti biasa dikampus layaknya seperti sahabat walaupun mereka tinggal menunggu hari untuk menikah.
"Daf, kuah baksonya dong" Minta Sila.
Dafa menatap Sila dengan tatapan sayang, "Sil, apa perlu aku pesankan satu mangkok lagi?"
"Gak, ini aja udah cukup" Jawab Sila.
Mereka asyik makan, tiba-tiba ponsel keduanya bunyi pesan grup.
"Masuk Sil" Ucap Dafa.
Dafa membayar harga bakso tersebut dan Sila mengangkat telepon dari Ilham.
"Baik Ham" Jawab Sila lalu matikan ponsel.
"Siapa? Ilham lagi. Apa perlu saya umumkan dikelas kalau sebentar lagi kita akan menikah" Kesal Dafa pada Ilham.
"Eh, jangan" Larang Sila.
"Jalan Sil nanti gak bisa masuk kelas gara-gara terlambat" ujar Dafa lalu pergi meninggalkan Sila dibelakang.
"Hahaii cemburu" Batin Sila.
Selesai kuliah mereka pulang, Dafa sudah menunggu Sila diparkiran motor.
Tidak terasa waktu pernikahan Sila dan Dafa H-1 tandanya Sila sudah tidak bisa bertemu Dafa lagi.
Malamnya Dafa menghafal kata sakral itu berulang-ulang dibantu oleh ayah angkatnya. Semakin diulangi Dafa makin lupa.
"Nak, istrahat saja dulu nanti subuh selesai shalat baru belajar lagi" Ujar istri ustadz yaitu ibu angkat Dafa.
"Sebentar lagi Umi" Jawab Dafa. Ia tidak ingin buang-buang waktu sementara ini adalah waktu yang ia inginkan beberapa minggu ini.
Tengah malam Dafa baru bisa tidur deg-degan itu yang ia rasa. Adzan berkumandang tanda waktu shalat subuh. Setelah selesai shalat Dafa kembali belajar sampai memakai pakaian untuk ijab kabul pun belajar menghafalnya.
Pihak perempuan yaitu Sila dan keluarganya sudah menunggu. Ia duduk bersampingan membuat Dafa deg-degan dan keringat dingin.
Sila sampai ingin ketawa tapi tidak enak dengan tamu.
"Daf, kalau grogi bisa lupa semuanya" Bisik Sila.
Dafa menoleh kearah sahabat sekaligus cinta terakhirnya, "Aku bisa Sil"
Dafa pun berjabatan tangan dengan ayah Sila yang nantinya akan menjadi ayah mertuanya, dengan cepat dan jelas Dafa mengucapkan kalimat sakral itu dalam sekali helaan napas.
Seketika para saksi mengatakan sah. Mulai detik itu status keduanya berubah menjadi suami istri.
Ustadz menyuruh Sila mencium tangan Dafa begitupun Dafa mencium kening Sila.
TAMAT