"Turun sekarang juga atau aku tinggal sepeda motornya sekalian!" Tegas Syafa di pinggir jalan.
Kiki segera turun dengan wajah cemberut dan kesal seperti ingin membunuh kakanya yang super menyebalkan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:57. Sebentar lagi lonceng sekolah akan segera berbunyi. Kini jaraknya masih sekitar 1 km dari sekolah.
Hanya karena berdebat masalah Kiki yang mengenakan kaus kaki kakaknya sampai-sampai ia diturunkan dipinggir jalan. Sungguh tega Syafa pada adiknya.
Kiki melambaikan tangan kepada angkot yang hendak melewatinya. wusssss... tak berhenti. Nampaknya sudah penuh. Sambil berlari menuju sekolah, ia sembari celingukan barangkali ada angkutan umum lewat lagi. Andai saja ia bisa mengendarai sepeda motor. Pikirnya.
"Ki... AYOK BARENG GUE" Teriak Riko tiba-tiba dari sebrang jalan.
"Oke... buruan kesini!" Jawab Kiki dengan memberikan instruksi cepat-cepat pada Riko yang masih berada di depan rumahnya.
Sungguh lega rasanya dengan waktu mepet yang tinggal 1 menit itu ada yang memberinya tumpangan. Riko malah lari masuk ke rumah mengambil helm untuk Kiki dan segera menggenjot motornya menghampiri Kiki.
Pegangan erat nan mepet. Anak tak tahu malu. Tak melihat kakaknya yang religius dan keluarganya yang melarang keras berpacaran. Begitulah Kiki. Namun ia masih memiliki moral yang utuh, hanya sebatas karena kepepet dan Riko yang mengebut.
...
Greeeeeeeggggg... gerbang mulai di seret oleh pak satpam. Riko lari duluan setelah tiba di parkiran depan sekolah sesaat setelah parkir. Maklum, anak SMP mana boleh pakai motor. Bisanya hanya ngumpet-ngumpet dari pihak sekolah.
Hampir sampai! Sedikit lagi Ki!
Brukk! tersungkur dia di depan gerbang. Tak banyak yang melihat untungnya. Syukur rasa malunya bisa sedikit berkurang. Kiki segera bangun dan melanjutkan perjalananya dengan kaki sedikit pincang. Pak satpam menyisihkan sedikit pintu karena kasihan.
Ujian yang sesungguhnya baru dimulai. Dia melihat guru BK menghadang di gerbang ke-2.
"Kesini kamu!" Sentak Pak Latif.
Kiki adalah anak yang rajin. dia tidak pernah terlambat sekalipun. Ini adalah hari pertamanya ia terlambat sekolah. Ia takut nama baiknya tercoreng jika ia sampai terlambat dan masuk ke ruang BK. Maklumlah dia takut sekali, karena ia tak berpengalaman di bidang ini. Apalagi ini tahun pertamanya di Sekolah Menengah Pertama. Pastilah ia mengira masalah sekecil apapun bisa membuatnya dikeluarkan dari sekolah ataupun sekedar mendapat point buruk.
Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak sanggup menahan ketakutan dan rasa kesal + dongkol yang ada di dadanya.
"Ma~af pak, saya terlambat" Jawabnya dengan suara bergetar khas menahan tangis.
"Kamu rumahnya mana?" Tanya pak Latif dengan nada agak tinggi
"Rumah saya di Jalan Kemangi pak. huk.. huk.." Kiki sudah tak tahan menahan tangis.
"Rumahnya deket kok bisa terlambat!"
"Ma~.. huk.. af pak"
"Loh, kenapa kamu nangis? saya kan nggak ngapa-ngapain kamu" Heran pak Latif
"Ndak papa pak~ huk.." Kiki menjawabnya dengan berusaha menunjukan sedikit senyum di bibirnya. Namun entah mengapa air matanya tak bisa berhenti keluar.
"Ya sudah, diam.. sekarang kamu tetp lari muter lapangan 3x, nanti temen-temen telatmu yang lain iri kalau saya nggak sportif"
"Baik pak.. huk.. huk.." Jawab Kiki yang tak bisa menghentikan Sesenggukan dan air matanya itu. Terlanjur berantakan suasana hatinya pagi itu.
Di akhir putaran pertama, Pak Latif menghadangnya dan bertanya.
"Kenapa kamu pincang gitu?" Tanya Pak Latif dengan suara kerasnya yang tak bisa hilang. Mungkinkah sudah bawaan? atau image yang sudah terlanjur menempel?
"Tadi saya jatuh di depan gerbang pak" Jawab Kiki yang kini suaranya sudah sedikit tenang.
"Ya sudah, kamu langsung masuk kelas saja!"
"Ya pak.. terimakasih"
...
Kiki masuk ke dalam kelas. Semua mata tertuju padanya. Dilihatnya pelajaran ilmu sosial sudah dimulai. Ia tergesa berjalan menghampiri guru yang sudah agak tua itu.
"Maaf pak, saya terlambat. huk.." ia kembali menahan tangis saking malunya.
"Ya."
ya. ya. ya. ???? satu kata itu terus terngiang di kepala Kiki selama perjalanan menuju tempat duduknya. Bagaimana pak guru bisa sedingin itu menjawab "Ya" tanpa melihat dirinya sedikitpun? sungguh killer.
...
Bel pulang sudah berbunyi. Saatnya ia kembali ke rumah dengan hati yang malas untuk kembali. Ia malas bertemu kakaknya. Ia malas bertemu bapaknya. Ia malas bertemu ibu juga adiknya. Bagaimana tidak, tadi pagi ia sudah dimarahi habis-habisan hanya karena semalam lupa mematikan kran yang membuat tampungan air sampai kosong moblong.
Meskipun Kiki sudah membela diri mati-matian bahwa dia benar-benar ingat sudah mematikannya tadi malam. Tak ada yang percaya seorang pun.
Ia menunggu kakaknya yang berada di tahun ke-3 itu di depan gerbang seperti biasa karena mereka akan pulang bersama menggunakan sepeda motor yang disetir si Kakak.
30 menit sudah ia menunggu. Tak muncul pula batang hidung si kakak. Kiki langsung pergi ke kelas kakaknya di lantai 3.
KOSONG!!!
Dia sudah pulang. Ingin menangis rasanya. Ia langsung turun dan mencari angkutan umum untuk pulang.
...
Akhirnya sampai juga di rumah setelah berjalan kaki sejauh 300 meter. Ya! Angkutan umum tak bisa masuk ke desanya karena tidak ada jalur angkut ke desa Kiki.
Sesampainya di depan rumah, ada bapak yang duduk di teras depan rumah. Kiki memberi salam sambil mengulurkan tangan hendak salaman.
settt.... bapak beranjak begitu saja dengan hanya menjawab salamnya sinis. Sabar, sabar. Kiki mencoba sabar. Ia lekas masuk kamar dan mengganti pakaiannya.
"Enak bener tiap hari sekolah naik motor udah ada yang ngisi in bensin, ada yang nyetirin, gak ada usaha sedikitpun buat maju!" Kata bapak dengan sinis.
Kiki hanya diam membisu. Dilemparkannya handuk kecil yang dibawa bapak ke punggung Kiki.
"Cuci motornya!"
Tak menyahut, Kiki langsung pergi kebelakang mengambil sabun dan mengusung air untuk dibawanya ke depan rumah.
"Ada yang tidak beres!" Batinnya.
Kiki mulai menuntun keluar motor yang ada di garasi. Di cucinya si motor dengan seksama. Saat hampir selesai, bapak muncul dari pintu dan mengamati motor yang sedang dicuci Kiki
"Kayak gitu kamu bilang nyuci? masih kotor semua tu! nggak liat? sini kalo nggak ikhlas biar bapak yang nyuci!"
Bapak langsung menghampiri Kiki dan menyerobot gayung yang sedang di bawanya. Air di gayung itu disiramkan ke tubuh Kiki. Kiki masuk ke rumah sambil menangis. Hatinya sakit. Tak biasa ya bapak segalak ini. Ia pergi ke kamar untuk berganti baju.
Saat hendak keluar meletakkan baju basahnya ke mesin cuci....
Duarrr..... SELAMAT ULANG TAHUN!!! Sebuah kue dengan lilinpun tak luput mereka bawa.
sungguh perfect skenario kalian🥺😫