Pagi yang sangat cerah, Zel menghampiri istri tercintanya itu dan memberi peringatan kecil untuknya.
"Sayang, ingat kau tidak boleh kemana mana tanpa seizinku."ujar Zel.
"Tapi sayang…"balas Karla.
"Shtttt...Tak boleh membantah."tegas Zel.
"Baiklah."balas Karla.
Lalu ia memeluk dan mencium lembut dahi wanita yang ia sayangi itu sebagai tanda perpisahan pagi ini, pekerjaan adalah penghalang mereka untuk menghabiskan waktu bersama sama.
Entah mengapa Suami mesumnya itu selalu melarang Karla bepergian keluar dari kastilnya ini, bosan yang melanda membuat Karla depresi.
"Heum...sangat membosankan."batin Karla.
"Nona ada yang nona ingin makan?"tanya pelayan.
"Aku ingin makan semua yang ada."balas Karla, yang membuat si pelayan kebingungan.
"Tapi nona..anu..ee
"Tak ada tapi tapi, bawakan saja makanannya kesini."tegas Karla.
"Baik non."balas pelayan yang beranjak pergi untuk memenuhi keinginan istri tuannya itu.
Dalam rasa bosan Karla mendapat kejutan dari sahabatnya Erin, yang tiba tiba saja datang bertamu.
"Suprise…"suara Erin, yang membuat Karla cukup merasakan degup jantung yang hampir lepas dari tampuknya.
"Astaga Erin...apa kau mau membuatku jantungan."ucap Karla, mengelus dadanya.
"Hehe maaf ya sayang."jawab Erin merayu.
"Haaa kau ini pasti ada maunya."cetus Karla, yang paham betul sifat sahabatnya itu.
"Hehe kau tau saja ya, tampaknya semenjak hamil kau mendapat kekuatan untuk meramal."goda Erin memeluk Karla sampai merasa sesak.
"Erin kau benar benar ingin membunuhku."ujar Karla, dengan nafas tersengal sengal.
"Hehe kau ini sensi sekali."balas Erin mencubit pipi lucu Karla.
"Lalu apa yang membuatmu kemari?"balas Karla, yang langsung to the points.
"Aku mau mengajakmu jalan jalan."ucap Erin tersenyum sumringah itu membuat tanda tanya untuk Karla.
Hanya Karla yang tak mengetahui tentang kesepakatan Zel dan Erin.
"Aku tidak bisa, Zel tidak mengizinkanku untuk bepergian."jawab Karla, raut wajahnya memelas itu sangatlah imut bagi yang dapat memandangnya.
"Euh…kau membuatku geram sayang."balas Erin mencubiti pipi lucu itu.
"Kau ini seenaknya saja, ini milik suamiku."gerutu Karla menjauhkan tangan Erin yang tampak enggan melepaskan daging kenyal nan lucu itu.
"Hehe baiklah, dan sekarang cepatlah mandi, urusan izin ke suamimu itu aku yang urus."tegas Erin mencubit hidung kecil mancung Karla.
"Baiklah..kau tunggu disini."balas Karla yang tampak senang akan perkataan sahabatnya itu.
"Bagaimana jika aku ingin ikut."goda Erin menatap dada Karla yang tampak begitu lezat untuk dikunyah.
"Enak saja...dasar gila."gerutu Karla mendekap dadanya dengan erat berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Erin yang mungkin ingin menerkamnya.
Suara gemercik air dari balik pintu kamar mandi yang di dalamnya terdapat sang putri yang sedang membersihkan tubuh indahnya.
"Cepatlah sedikit tuan putri."goda Erin tersenyum sambil memilih baju untuk dipakaikannya kepada sang putri.
"Kalau kau ingin cepat silahkan pergi sendiri."teriak Karla dari balik pintu kamar mandi dengan sedikit umpatan.
"Haha apa kau yakin sayang."goda Erin menjadi jadi mendapati kekesalan dari Karla yang mengumpat di dalam kamar mandi.
"Berisik…"balas Karla penuh kekesalan karena Erin tampak sedang menggodanya terus menerus.
Hari ini Erin akan menemani kemanapun sang putri ingin pergi, Zel meminta kepada Erin untuk menemani istri tercintanya itu agar sang putri tidak kesepian, mereka pergi ke tempat pusat perbelanjaan atas kemauan sang putri, sekian lama berkelana menyusuri pusat perbelanjaan akhirnya mereka pulang karena waktu yang menyadarkan mereka jika malam akan segera tiba.
Tut.tuttt...dering suara telepon.
"Halo sayang, apakah kau rindu pada suamimu ini."tanya Zel seolah sudah lama tak bertemu dengan permaisurinya itu.
"Sayang, kau ini lupa pulang ya."jawab Karla menahan rindu pelukan suaminya, namun ia tak ingin keinginannya itu mengganggu pekerjaan sanga pangeran itu.
"Aku akan pulang sebentar lagi, karena aku sudah tak sabar akan melahapmu."balas Zel yang seolah olah kelaparan.
"Dasar mesum..tutt."balas Karla memutuskan sambungan telepon karena sang pangeran mesum itu menggoda dan membuat pipi lucunya mulai merah mengembang.
Dalam diam ternyata ia tak sabar menantikan sang pangeran pulang, apalagi terdengar kata (Melahap)
bayangannya sudah tampak dengan jelas, membersihkan tubuh menata wajah dan rambut serta memakai wewangian, ia siap menyambut kedatangan yang selalu memberikan kebahagiaan, sudah menjadi tugas wajibnya sebagai seorang istri yang (Dilahap) oleh seorang suami yang mendambakannya
Penantian jarak mengingat waktu.
Lama waktu menunggu sang pangeran hatinya pulang, resah serta gelisah berkecamuk mengganggu pikirannya, seorang putri yang sedang menanti kepulangan sang pangeran, belum lama suara desir angin menghantarkan rasa rindu, kaki kecil itu sudah lebih dulu meninggalkan jejak jejak menuruni tangga melompat lompat kegirangan, tampaklah senyum indah yang dibaliknya penuh dengan rasa lelah, lelah meninggalkan dambaan hatinya terlalu lama.
by:iitarnt