Di pagi hari, hari dimana aku meninggalkan kesedihan pada diriku. Aku hanya diam menunduk dan mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh ibuku. Aku tahu salahku kerena ingin menyambung pelajaran di tempat yang jauh aku harus berjauhan dengan kedua orang tuaku. Hari ni aku akan berpisah oleh ibu dan ayahku yang akan berangkat pulang ke Surabaya setelah pendaftaran ku selesai.
Hari pertama aku kuliah adalah hari yang paling menyenangkan dan membuat ku merasa bahagia, walaupun perasaan rindu kepada ibu dan ayah menyesakkan dada. Kala itu, mataku tak sengaja bertatapan dengan seorang lelaki yang berambut panjang, dan bagiku penampilannya sedikit berantakan. Tapi mataku tetap mau memandangnya. Ternyata dia suka bercerita hal bodoh dan membuatku tersenyum sendiri.
"Dila, ayo malam ini kita keluar, mau nggak?." tanya teman seumuran ku yang bernama Fia.
"Nggak la, aku jarang keluar malam." jawab ku.
Keluar malam bukanlah kebiasaan ku, lagi pula keluargaku pasti tidak mengizinkan aku keluar malam, sebelum maghrib aku pasti sudah ada dirumah. Memang terlihat kampungan, tapi bagiku itulah yang terbaik untuk menjaga diri kita yang dari hal buruk.
"Alaa.. kamu ini, hari ini aja kok please." Fia menatapku dan membujuk. Hal seperti ini yang membuatku lemah.
"Yalah,, aku ikut." Ucapku, setelah memberi keputusan aku segera bersiap-siap karena Fia bilang ia sebentar lagi keluar dan dia sudah sangat lapar.
Setibanya di rumah makan, aku melihat dua orang yang aku kenali, Irfan dan Dino. Ternyata Fia mengajakku keluar karena untuk menemaninya berkencan dengan Irfan. Aku dan Dino hanya menjadi obat nyamuk. Awalnya aku sedikit marah pada Fia tetapi setelah itu tidak lagi dan untuk hari berikutnya aku tidak mau ikut keluar malam.
"Dila kamu anak surabaya ya?." Tanya Dino padaku. Irfan dan Fia entah kemana, di tempat tinggal aku dan Dino saja. Setelah diam beberapa saat barulah kami mulai bercerita. Dino membuka percakapan.
"Ya, aku dari Surabaya." Dia bertanya sepatah kata lalu aku menjawab dengan sepatah kata juga. Aku sudah mulai malas meladeninya. Lebih baik aku diam dan berbuat hal yang tidak menentu.
"Jadi lebaran idul Fitri ini kamu pulang ke Surabaya?." Tanya Dino padaku. kenapa pula orang ini bertanya soal ini, pikir hati kecilku.
"Nggak la, aku pulang Jogyakarta, keluarga mau lebaran disana nanti." Aku jawab jujur tanpa memandang wajahnya. Pandanganku menatap pada satu pasangan yang asyik bermain bersama anak kecil.
"Jogyakarta dimana nya?" tanyanya tiba-tiba.
"Kota Wonosari Gunungkidul." Ucapku.
"Samalah denganku, disitu rumah nenek belah ibu ku." Ucapnya. Mendengarkan jawaban itu hatiku terus diserbu bebagai perasaan. Kenapa dia?? Kenapa mesti orang Jogyakarta juga. Aku sudah bersumpah tidak akan menyukai orang Jogyakarta. Mulai hari ni aku mesti tekankan pada hatiku.
"Ouhh, okelah kalau gitu." Ucapku, aku menunjukkan reaksi yang biasa saja tidak berniat melayaninya bicara. Mungkin Dino paham, akhirnya dia diam dan memandang ke tempat yang asyik aku pandang tadi.
"Dino, Dila ayo pulang." Akhirnya Fia dan Irfan mengajak aku dan Dino pulang.
Beberapa hari kemudian
"Ayo pergi joging." Sofi pula yang mengajakku untuk pergi berolahraga. Hal ini yang membuatku malas.
"Nggak mau la, pasti ada Iwan dan Rio juga." jawabku langsung.
"Ada, tapi nggak apalah karena ada bella dan Ika juga." Ucap Sofi.
"Aku malas mau pergi." Jawabku. "Hmmm, yalah aku pergi." Ucapku lagi setelah ku pikirkan.
DI TRACK JOGING
"Mereka ini mau joging atau mau main-main aja." Aku bertanya pada diriku sendiri. Karena malas menunggu mereka, jadi aku pergi joging sendiri lebih dulu.
"Dila, tunggu. Kita pergi juga." Dino bersuara. haiss kapan pula dia disini, ucap ku dalam hati.
"Iya." Aku hanya tersenyum kecil dan terus melangkah pelan. Sebenarnya aku mau menghindar darinya, aku tidak mau jadi orang yang termakan pada sumpah ku.
Setelah lari dua round lingkaran tersebut. Aku dan Dino berhenti di tempat awal kami Joging tadi, di tempat di mana ada kawan-kawan Dino dan Sofi juga. Aku bukanlah orang yang berbaur dan suka banyak bicara dengan orang, jadi aku pergi dari mereka mencari tempat yang agak jauh. Nggak taunya Dino ikut berjalan beriringan dengan ku.
"Dino, kamu jangan dekat-dekat nanti disuruh langsung nikah." tiba-tiba suara Faisal memecahkan kesunyian.
"Kalau sudah jodoh mau gimana." Ucap Dino pada Faisal. Sebagai anak yang pernah bersekolah, di sekolah aku sudah biasa mendengan candaan seperti itu. Jadi aku tidak ambil pusing apa yang mereka ucapkan. Aku hanya diam dan meminum air yang aku bawa tadi.
"Dila, kamu tahu nggak kalau ada pasangan yang sedang duduk di bawah langit seperti ini mereka akan bicara apa." Tiba-tiba Dino memecahkan kesunyian kami.
"Mereka bicara apa?." Aku bertanya hanya untuk memecahkan kesunyian.
"Mereka akan bilang kamu bintang yang paling terang dan kamu selalu akan menerangi hati saya sayang." Ucap Dino tersenyum. Aku terkejut dengan kata-kata Dino, seolah-olah ucapannya dari hatinya.
"Ohh, hahahaha, tapi aku tidak berniat manis seperti itu jika pacaran, aku akan bersikap manis dengan yang halal bagi ku saja nanti. Aku mau pulang dulu, sudah ditunggu mereka." Ucapku. Menjelang malam aku baru smpai rumah, aku sangat letih ingin istirahat karena besok ada perkuliahan. Aku berfikir masalah tadi dengan Dino, aku tidak mau lama-lama memiliki perasaan padanya.
Kita hanya mampu merencanakan dan Allah yang selalu menentukan, Dino selalu mengintai ku dan akan memarahi seseorang yang dekat denganku seolah-olah aku miliknya, dan aku juga mulai yakin dengan perasaanku.
"Dila, kamu suka Dino ya?." Tanya Fia tiba-tiba.
"Entahlah, aku nggak tau, nggak paham juga." Jawab ku pada Fia.
"Kamu kalau suka dengan dia, kamu ungkapkan saja dengan dia. Kamu jangan ragu-ragu. Kalau kamu nggak yakin dengan perasaan itu, kamu akan suka dengan orang itu hanya sebentar saja." Ucap Fia menasehati ku.
Ada benarnya yang di ucapkan Fia, Mungkin mengungkapkan adalah hal yang lebih baik karena aku pun nggak tahu dengan perasaan dia. Mulai dari hari itu aku selalu panggil Dino dan aku bilang kalau aku ingin bicara sesuatu dengannya. Tapi akhirnya aku mengurungkan niatku untuk bicara.
"Dila, kamu jangan suka main-main dengan ku?, Aku nggak suka hal remeh seperti ini. Aku nggak suka orang yang main-main dengan ku." Ucap Dino berbicara dan membuat ku tidak enak padanya.
"Maaf." Ucapku, aku terus memalingkan wajahku karena tidak mau dia melihat tangisanku. Rupanya dia tidak suka hal yang tidak jelas seperti ini. Lebih baik aku lupakan perasaan ini, toh hari libur kuliah juga udah dekat.
Dino
"Dino kenapa kamu bicara seperti itu dengan Dila, kenapa?." Ucap Irfan memarahi Dino.
"Aku mau tau apa yang ingin dia bicarakan pada ku itu apa, bukannya malah main-main nggak jelas tidak ada pembicaraan." Ucap Dino.
"Ternyata benar apa yang dibilang Dila, kamu memang suka sekali emosi, kamu emang nggak sabaran. Sedangkan kamu menyukainya tapi kamu selalu marah dan emosi padanya." Ucap Irfan pada Dino.
"Biarkan saja, kalau jodoh nggak kemana. Sekarang mesti belajar dulu."
"Bingung mau ngomong sama kamu, Dila sebentar lagi pulang Surabaya, mungkin sekarang dia sudah dijalan ke bandara, kalau kalian jodoh nggak kemana kan, berdoa saja agar dia jodoh mu. Dila ke Surabaya kamu ke Jogyakarta kamu mau tetap dengan ego mu kah." Ucap Irfan berlalu pergi meninggalkan Dino yang tidak mau mengaku tentang perasaannya pada Dila.
"Assalamualaikum Dino, ini aku Dila. Aku mau minta maaf kalau aku selalu buat kamu marah. Aku mau bilang kalau aku suka dengan mu. Tapi sebelum kamu marah denganku, Aku tahu aku tidak pantas dengan mu dan tidak akan pernah pantas. Aku minta maaf. Tolong kamu jaga teman-teman ku untuk ku. Kamu jangan selalu marah-marah. Kamu mesti jaga wanita yang nantinya jadi milikmu. Jangan smpai dilepaskan jika telah mendapatkan nya. Bye. Aku sudah dalam perjalanan pulang ke Surabaya, jangan cari aku, aku minta maaf."
Pesan dari Dila dibaca berulang kali. Aku tahu aku salah, aku nggak mau kehilangan dia. Ya Allah, Kalau memang berjodoh tolong pertemukan aku dengannya.
Telpon pun tidak di angkat. Ya Allah, aku kira dia pulang Surabaya sebentar saja, rupanya selamanya dia pulang ke sana. Ya Allah, aku serahkan semuanya kepadamu. Kalau emang dia di takdirkan untukku pertemukan lah kami.
5 TAHUN KEMUDIAN#
"Kenapa mesti kakak yang menikah, kakak belum mau menikah, kakak masih mau belajar lagi." ucap ku kesal. Aku tidak terfikir akan menikah di usia 23 tahun ini.
"Ibu juga tidak tau, ayah yang punya rencana ini, ayah berjumpa dengan teman lamanya di Jogjakarta. Ibu tidak tau tentang rencana perjodohan ini. Anak teman ayah juga baru selesai kuliah." Ibu menjelaskan panjang lebar agar aku memahaminya.
"Aku nggak mau menikah secepat ini." Ucapku berusaha menolak jodohku. Aduhh,, ayah kenapa membuat keputusan ini tanpa berbicara dengan ku.
"Kamu mesti menikah nak, ayah sudah panggil orang-orang terdekat untuk buat acara syukuran, dua minggu lagi kalian menikah." Kata-kata ibu membuatku terkejut.
"Ya Allah, dua minggu?" Ucap ku kaget, perasaan tidak karu-karuan. Siapa jodohku pun aku tidak tau. Mesti keturunan Jogyakarta, aduh gimana dengan sumpah ku dulu, ucap ku dalam hati.
*Dino*
"Dino, kesini sebentar." Ucap ibu pada Dino. "Ini soal masa depan Dino." Ucapan ibu membuat dadaku berdebar. Aduh, apa yang ingin.ibu bicarakan ini.
"Iya, ibu mau bicara apa?." Aku bertanya pada ibu dengan perasaan berdebar.
"Minggu depan ibu mau Dino menikah dengan pilihan ibu dan ayah. Ibu sudah tidak sanggup melihat Dino tidak tentu arah. Jodoh yang ayah kamu pilihkan itu keturunan yang baik dan dia anak dari teman ayah kamu." Kata-kata ibu sangat mengejutkan untuk ku. Dan saat ini satu wajah yang terbayang di pikiran ku, Dila. Mungkinkah aku dengan dia tidak berjodoh, pikir ku.
"Nggak apa la Bu, Dino ikut saja, apa yang terbaik untuk ibu dan ayah pasti terbaik juga untuk Dino." Jawab ku tenang.
"Kalau seperti ini, mudah la kerja ibu dan ayah, pasti kamu akan bahagia dengan dia." Ucap ibu.
"Baiklah ibu, Dino naik dulu ya." Setelah melihat ibu mengangguk aku bergegas naik. Melihat wajah ibu bahagia membuat aku yakin dengan keputusan ku.
*Menikah*
"Aku terima nikahnya Nurul Dila Saputri Binti Jafri dengan mas kawin 20 gram tunai." dengan sekali nafas Dila sudah sah menjadi isteri Dino.
Selesai acara ijab kabul, masing-masing merasa berdebar untuk melihat wajah pasangan satu sama lain. Tangan bersalaman, dahi dicium dan akhirnya mata bertemu mata lalu…
"Kamu." Serentak kami bersuara pelan. Kenapa dia Ya Allah. Orang yang tidak aku inginkan dan tidak terbayang aku bersanding dengan dia.
Setelah selesai semua acara pernikahan selesai. Aku pun terus berjalan masuk kedalam kamar. Hanya Tuhan yang tau capeknya aku hari ini. Menikah bukanlah akhir dari cerita percintaan, tetapi menikah adalah awal lembaran perjalan hidup dimulai. Otakku masih terus berpikir, apakah aku bermimpi ataupun nyata dan akhirnya aku mencubit pipiku sendiri.
"Ouuhh,, sakit." Ucap ku, ini bukan mimpi. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang sedang tertawa dan berjalan ke arah ku.
"Apa yang sedang kamu lakukan." Ucapnya pada ku. Karena malu aku mengambil bantal dan menutup wajah ku, aku sangat malu padanya.
"Kamu tidak pernah berubah, masih saja lucu seperti dulu." Dino mengambil bantal ku dan menarik dagu ku agar bisa memandangnya. Pipiku pun merona merah.
"Kamu tau tidak, aku sangat mencintai kamu, aku suka pada mu sejak dulu. Tapi semua aku serahkan pada Allah, aku mau kamu sukses, aku tidak mau kamu terkendala dalam pelajaran, karena itu aku tidak mengungkapkan perasaan ku pada mu.
"Aku sudah tidak suka dengan kamu." Ucap Dila.
"Kalau tidak suka tidak mungkin kamu malu-malu seperti ini dengan ku." Ucap Dino.
"Kamu suka marah denganku." Ucap Dila.
"Karena aku tidak mau kamu tau perasaan ku pada mu. Kamu tau aku tidak suka main-main, karena perasaan mau tahu ku lebih kuat makanya aku marah padamu." Ucap Dino.
"Kamu tidak balas pesan ku." Tanya Dila.
"aku sengaja tidak membalasnya karena aku yakin bahwa jodoh ku itu adalah kamu." Jawab Dino.
"Tapi aku tidak pernah mau menikah dengan kamu." Ucap Dila.
"Tidak perlu izin darimu sayang, karena mas tau sayang akan bahagia dengan mas. Please, beri waktu mas kesempatan." Ucap Dino lalu menarik ku kedalam pelukannya, aku hanya diam dengan apa yang dia lakukan.
Terima kasih ya Allah karena telah mempersatukan kami. Aku tidak menyangka kami ditakdirkan bersama. Ya Allah, sesungguhnya apa yang kau berikan itu adalah terbaik.
TAMAT