[Reinkarnasi] Aku dan Masa Lalu
Bunyi sambaran petir mengagetkanku, aku terbangun dengan peluh membanjir. Nafasku tersengal diiringi detak jantung yang tak beraturan. Aku menyentuh keningku, tidak demam dan dalam kondisi normal. Tapi aku bermimpi aneh?
Umumnya orang yang sedang demam itu mengalami halusinasi dalam alam bawah sadarnya. Kebanyakan malah sedikit aneh dan ekstrim. Tapi kali ini aku memastikan semua baik-baik saja. Tidak demam tidak juga dalam keadaan pengaruh obat. Lalu kenapa mimpiku terasa nyata? Apakah ini hanya sebuah bunga tidur atau memang sebuah pertanda?
Kuraih jam digital di samping bed, pukul dua dini hari. Aku mendengus kesal, kilatan cahaya petir terlihat jelas dari sela jendela kamarku. Suasana horor dengan suara petir yang menggelegar membuatku mengumpat seenaknya sendiri.
"Dasar sial, aku benci kilat dan guruh itu! Kalian membuat tidurku tak nyenyak!"
Untuk sesaat aku terdiam dan menyadari sesuatu. Mimpi, ya benar mimpiku!
Ada yang aneh dalam mimpiku, aku kembali bertemu lelaki itu lagi. Lelaki yang sama setiap kali aku bermimpi aneh. Mimpi yang terasa nyata, sangat nyata! Lelaki tampan, berkulit eksotik, hidung mancung dan beralis tebal. Matanya yang teduh membiusku dalam pesona yang sulit aku ungkapkan dengan kalimat terindah sekalipun.
Jantungku berdegup kencang saat kembali mengingatnya. Untuk kesekian kalinya aku bermimpi tentang dia, lelaki misterius yang selalu tersenyum ramah dan juga menawan di setiap mimpi-mimpi ku. Ah, siapa lelaki itu? Entahlah, aku sendiri tak tahu siapa dan kenapa dia selalu hadir dalam mimpiku.
Kali ini aku bermimpi bersamanya menjelajahi hutan belantara nan gelap. Kami berjalan bersisian dengan berpakaian khas kerajaan tempo dulu. Aku yang awalnya merasa asing akhirnya mengenali sekitar. Kami terus berjalan dalam kewaspadaan hingga akhirnya menemukan sebuah gapura berbatu merah. Mirip seperti pintu masuk ke sebuah tempat.
Gapura dengan sulur-sulur tanaman yang terjalin bak terowongan masuk. Lelaki tampan berbaju kesatria ala kerjaaan itu tersenyum padaku dan mengulurkan tangannya, membantuku untuk berjalan. Saat aku menyentuh tangannya saat itulah aku terjaga.
Aah, sial! Lagi-lagi kena tanggung! Aku merutuk dan mengumpat sendiri, kenapa selalu saja tak pernah selesai!
Tunggu, hutan purba? Sepertinya bukan, tapi lebih mirip dengan hutan biasa yang dihiasi rimbun pepohonan serta sulur-sulur tumbuhan yang saling membelit bak tirai misterius. Hutan yang lebih gelap dan dingin dari hutan biasa dengan kabut tipis yang selalu menghalangi jalan kami.
Aku melonjak terkejut saat Sambaran petir kembali memekakkan telinga, "Sh***t!"
Samar kulihat bayangan seseorang berdiri dalam gelap di sudut kamarku. Darahku berdesir dengan cepat, lututku terasa lemas, aku takut!
"Si-siapa disana?!" Seruku dengan rasa takut yang menyeruak dalam dada.
Sosok itu dilihat dari postur tubuh sepertinya laki-laki, ia tak menjawab hanya berdiri diam seolah menatapku dari sisi gelap. Kilatan petir kembali menyambar di langit tepat di sisi kamarku, begitu keras hingga aku pun berteriak. Bagaimana tidak selain karena bunyi yang nyaris memecahkan gendang telinga, cahaya petir itu memberikan penerangan cukup untuk menjelaskan padaku sosok yang berdiri di sudut ruangan!
Aku menarik selimut dengan cepat, hendak menutup seluruh tubuhku yang menggigil ketakutan.
"Pergi!" Teriakku dengan suara tercekat.
Aku hanya menyisakan sepasang mata yang mengintip dari balik selimut. Menatap takjub pada sosok pria tua yang kini mendekat ke tepian ranjang.
"Jangan takut nak,"
Sosok pria tua dengan rambut yang hampir memutih seluruhnya berjalan mendekatiku. Sumpah demi apa pun juga aku ketakutan setengah mati, aku tidak mengenalnya juga tidak pernah melihatnya! Siapa pun tolong aku!
Aku tak kuasa bergerak, sesuatu yang aneh menekan diriku. Membuatku sesak dan seolah terhimpit di medan magnetik yang sangat berat. Apa ini?!
"Aku datang karena sebuah perjanjian, sudah waktunya kau mengerti siapa dirimu sebenarnya."
Aku semakin menggigil ketakutan, aku sama sekali tak paham apa maksudnya. "Si-siapa kamu?" Tanyaku takut.
"Aku? Panggil saja aku dengan sebutan kakek. Akulah penjagamu nak."
Kakek tua itu tersenyum, matanya yang sayu begitu teduh saat kupandang. Ajaib, rasa takutku seketika memudar. Aku memberanikan diri menurunkan selimut dan membiarkan kakek berambut putih itu mendekat serta duduk di tepian ranjang.
"Penjaga? Apa maksudnya, saya nggak butuh satpam, kek? Saya juga bisa jaga diri sendiri." Sahutku asal dengan hati was-was.
Kakek itu kembali tersenyum, "Aku adalah penjagamu wahai kesatria Pajang."
Aku semakin tak mengerti dengan ucapan kakek ini, apa dia sudah gila? Dan apa itu Pajang? Fix aku berhalusinasi, yup aku rasa ini yang paling tepat. Halusinasi!
"Kalian berdua adalah kesatria Pajang yang dihukum karena dosa besar yang telah kalian lakukan."
"Maaf tapi sepertinya anda salah orang kek dan bagaimana kakek bisa masuk ke dalam kamarku?" Aku semakin penasaran.
"Para penjaga tak pernah salah mengenali tuannya."
Hawa aneh kembali menyergapku, bulu kudukku berdiri seketika. Tiga ekor kucing besar tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Mereka mengitari ranjang sebelum akhirnya duduk diam dalam posisi masing-masing. Jantungku berdegup kencang, apa apaan ini?!
Darimana kucing besar itu datang? Satu ekor berwarna hitam dengan mata kuningnya yang menatapku tajam, satu belang dan satunya lagi putih polos nan lembut bak karpet bulu dari Turki. Aku menatap ketiganya dengan takjub sekaligus takut. Satu saja bisa memakanku habis dalam hitungan menit apalagi tiga? Ya Tuhan, aku masih ingin hidup!
Kakek itu terkekeh melihat raut wajahku yang sudah jelas dan pasti pucat pasi.
"Apa kau tidak mengenali mereka? Mereka bagian dari para penjaga, mereka bisa menjadi alat dan juga teman yang baik."
"Tidak, aku tak tahu siapa mereka! Aku sendiri takut dengan makhluk berbulu seperti kucing! Bagaimana bisa aku percaya jika mereka adalah penjagaku kek?! Yang benar saja!"
Aku berdecak kesal, jika ini lelucon ini sangat tidak lucu!
"Kau mengenalinya, hanya saja kau tidak menyadari dan cenderung menolak mereka. Mulai saat ini kau harus menerima mereka termasuk aku!"
"Apa alasannya?"
"Karena waktunya telah tiba, dan kesatria Pajang telah kembali untuk itulah kalian dipertemukan."
Aah, kakek itu lagi-lagi membuat kalimat aneh yang penuh misteri. Aku sungguh tak memahami perkataannya!
Belum juga aku mengerti, seekor kucing besar berbulu belang sudah naik ke atas ranjangku, aku menjerit ketakutan. Nafas panasnya terasa menyentuh kulit wajahku dengan kasar, tapi sedetik kemudian entah mengapa aku menjadi tenang.
Kepala kucing besar itu bersandar di bahuku dan membuatku geli dengan gerakannya yang seolah ingin dimanja oleh ku. Tiba-tiba saja aku merasakan kerinduan yang teramat sangat pada kucing besar itu. Meski awalnya aku takut tapi kini aku menikmati lembutnya bulu tebal di tubuh kucing besar itu. Dia jinak!
Tak hanya si belang, si hitam dan si putih ikut bergantian naik ke atas ranjang seolah menyapa dan berkenalan padaku. Aneh, aku merasa tenang dan bahagia tak ada rasa takut pada makhluk berbulu itu.
"Bagus, mulai malam ini berlatihlah bersama mereka! Kau hanya perlu melatih intuisimu dan kepekaan pada sekitar. Pada waktunya nanti kesatria Pajang yang lain akan datang padamu. Kalian terpisah oleh takdir dan karma buruk. Tapi sejatinya kalian itu satu. Jiwa, hati, dan pikiran kalian ditakdirkan untuk bersama tapi tidak pada raga. Hukuman itu akan terus berlanjut hingga putaran reinkarnasi usai."
Aku mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan kakek tua itu. Meski tak paham tapi perlahan aku mulai mengerti. Kerinduan pada tiga kucing besar yang tidak bisa dilogika adalah salah satu dari misteri besar yang akan aku hadapi. Benarkah mereka penjagaku?
Malam-malam berikutnya mereka kembali datang, memberiku pengajaran tentang beberapa hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku mulai mengerti dan memahami tentang siapa diriku dimasa lalu.
***
Siang ini aku ada janji temu dengan sahabatku di sebuah coffe shop. Sahabat lama yang harusnya aku temui saat liburan panjang kemarin. Aku sampai rela menempuh perjalanan selama enam jam untuk tiba disana. Stasiun Gubeng, disinilah kali pertama aku menjejakkan kaki di kota Surabaya.
Entahlah, angin apa yang membawaku rela pergi ke Surabaya, padahal aku termasuk wanita yang sangat takut pergi jauh dari rumah. Tapi sesuatu mendorongku untuk datang ke kota ini. Ada hal lain yang tak kumengerti selain agenda bertemu sahabatku.
Setelah beristirahat sejenak di hotel, aku memutuskan pergi ke coffe shop sesuai janji kami. Jantungku berdebar kencang, sebagian dari sisi tubuhku terasa dingin menggigit dan panas pada saat yang bersamaan. Aku tak nyaman dengan situasi ini. Kepalaku juga terasa berat, mungkin aku kelelahan. Enam jam perjalanan di kereta mungkin membuatku sedikit … trainlag?!
Sahabatku tiba lebih dulu, ia melambaikan tangan padaku. Ia tak sendiri tapi seorang pria duduk di hadapannya. Aku tak bisa melihat wajahnya, dan aku tak peduli!
Keperluanku adalah bertemu sahabatku hanya itu!
Tapi apa yang terjadi kemudian membuatku tercengang. Ya Tuhan, apa ini juga mimpi? Dia disana! Duduk didepan sahabatku! Lelaki yang selalu hadir dalam mimpiku, lelaki dengan senyuman mempesona. Jantungku benar-benar melompat dari tempatnya, tanganku gemetar dan dingin saat menyambut tangannya yang terulur padaku.
"Hai, aku El,"
"Hai, Thalia,"
Astaga senyuman itu! Aku tak pernah melupakannya. Siapa dia, kenapa dia ada disini? Apakah dia yang disebut kakek sebagai kesatria Pajang, sang Penjaga? Entahlah yang jelas ada sengatan energi lain yang menyapaku saat tangan kami bersentuhan.
Aku yakin dia merasakan hal yang sama dari ekspresi wajahnya. Oh Tuhan, inikah yang namanya takdir kehidupan?
Yang jelas aku tidak bisa berkonsentrasi pada obrolan kami, mataku terus mencuri pandang pada sosok lelaki manis di depan ku. Senyum itu, mata teduh itu … aku merindukannya, sangat rindu.
Satu kerlipan masa lalu seketika menyapaku, tepatnya kami berdua. Masa dimana kami bersama dalam ikatan cinta tabu. Dia yang seharusnya melindungi ku, dia yang seharusnya menjagaku dari peperangan antar saudara yang pecah pada tahun 1586.
Kami telah melakukan banyak kesalahan selama pelarian. Kami berdua harus menjalani karma buruk sebagai hukuman atas cinta tak biasa itu. Dan kini kami kembali dipertemukan dalam situasi yang sama. Situasi rumit yang tak pernah bisa kami hindari.
Ah, persetan dengan itu! Yang penting sekarang, aku bertemu dengannya. Bertemu dengan lelaki yang telah membuatku jatuh hati bahkan ketika kami belum pernah bertemu sebelumnya.
I love you, El …,