Pria itu berdiri di depan dinding kaca. Menatap indahnya kota yang diselimuti gelapnya malam tanpa bintang. Cahaya lampu kelap-kelip dari setiap bangunan juga dari padatnya lalu lalang kendaraan, menjadi pengganti kelap-kelip bintang yang hilang di malam itu.
Pria dengan tinggi 170 cm dan bersetelan jas itu masih menatap malam dengan datar. Seakan tak ada yang bisa menebak apa yang saat ini berputar-putar di kepalanya.
Di malam yang kelam ini, semua orang yang mencari sesuap nasi di gedung berdinding kaca itu telah terlelap di kediaman masing-masing. Kecuali pria ini.
Setumpuk kertas itu masih setia berada di sana.
'Ratusan tahun aku mencarimu. Setiap zaman ku lewati. Semua tempat juga sudah aku jelajahi. Berharap dan terus berharap aku bisa menemukan reinkarnasi mu. Tapi sampai saat ini, tanda-tanda kehadiranmu pun tak ku temukan. Kemana lagi aku harus mencari?' keluhnya.
Tok... Tok... Tok...
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan pria itu. Dia kembali tersadar dan langsung meminta orang di luar sana untuk masuk.
Seorang pria yang tak kalah rapi dengan pria yang melamun tadi pun masuk dan meletakkan sebuah berkas di atas meja sana.
"Terima kasih," datarnya.
Pria yang baru masuk tadi, tak langsung meninggalkan atasannya itu. Dia justru mendekati pria yang masih menatap malam dengan datar.
"Kau belum menemukan tanda-tandanya?" tanya pria itu sembari memberikan secangkir kopi hitam pekat ke atasannya itu.
"Terima kasih," dengan menerima secangkir kopi hitam itu dan menyesapnya sedikit.
Pahitnya kopi hitam itu seperti hambar di lidahnya yang mati rasa.
"Belum. Aku tidak tahu, kemana lagi aku harus mencarinya. Rasanya percuma memiliki eternal life, kalau setiap detik di hidupku terasa hampa," lirihnya.
"Kau jangan sampai menyerah, Elvano Rodrigo. Ingat perjuanganmu untuk sampai ke titik ini. Aku yakin reinkarnasi istrimu akan segera ditemukan," ucap Bryano Sanders menyemangati sahabat sekaligus atasannya itu.
"Terima kasih. Semoga yang kau katakan itu benar adanya," ucap Elvano.
Elvano Rodrigo dan Bryano Sanders, mereka bukanlah manusia. Kedua pria itu adalah makhluk eternal yang sering disebut iblis malam. Keduanya hidup damai di antara manusia dan berganti identitas di setiap zaman, hanya untuk menemukan seorang gadis yang bergelar panglima sayap putih.
Setelah berkali-kali berganti identitas, mereka sampai di zaman yang serba modern. Dengan kekayaan yang berlimpah, mereka membuat sebuah perusahaan untuk mempermudah kamuflase mereka.
Dan di sinilah mereka. Menikmati secangkir kopi ditemani suasana malam yang sangat menenangkan.
"Gimana kalau kita berburu? Pasti akan seru," tawar Bryano.
"Aku bukan vampire merah yang haus darah manusia," datar Elvano.
"Memangnya siapa yang mengajakmu berburu darah manusia?" ledek Bryano.
"Lalu kau mengajakku berburu dimana?" tanya Elvano mulai kesal.
"Di hutan. Kau mau ikut?" tawar Bryano lagi.
"Penghilang penat, boleh lah," jawab Elvano walaupun sedikit malas.
Kala keduanya akan melangkah pergi, Bryano tiba-tiba menghentikan langkah mereka.
"Maaf Tuan Rodrigo. Aku melupakan sesuatu."
"Apa?" ketusnya.
"Bulan depan akan ada karyawan magang di kantor kita," ujar Bryano.
"Lalu?" tanyanya acuh.
"Aku harus menyampaikan ini padamu, agar kita bisa mempersiapkannya," jawab Bryano.
"Huh.... Ada karyawan lain yang mengurusnya. Kau pun bisa mengurus hal kecil itu, bukan?" jengah Elvano.
"Setidaknya aku memberitahumu dulu," jawab Bryano santai.
"Aduh.... Untung kau sahabatku. Kalau bukan, sudah ku musnahkan kau," kesal Elvano.
Bryano hanya terkekeh mendengar kekesalan Elvano. Bryano terkadang selalu bertindak bodoh dan ceroboh. Itulah yang selalu membuat Elvano kesal, bahkan hampir naik darah. Pria itu sendiri heran, mengapa dia mau bersahabat dengan pria vampire itu.