JUDUL : SURAT DARI RARA
(Semuanya hanya kisah fiktif)
Perlahan ku buka mataku, pandangan pertama yang kulihat adalah sebuah ruangan putih dengan banyaknya perlengkapan barang medis dan bau densifektan khas bau rumah sakit.
Terdiam di atas kasur, ku pikir akan ada orang yang datang yang menjenguk. Tpi ternyata hanya ada aku seorang diri, tidak ada teman ataupun keluarga yang datang.
Aku bukan anak yatim piatu, aku masih punya orang tua, hanya saja mereka membenciku.
Kebencian mereka terhadapku sangatlah besar,aku selalu mendengar perkataan bahwa 'tidak ada orang tua didunia ini yang membenci anaknya sendiri' itu selalu membuatku tertawa, karena yang kualami malah sebaliknya.
Terbaring lemah tanpa daya, tidak ada yang menyemangati atau menghiburku.
Tapi itu semua tidak membuatku sedih, karena aku sudah terbiasa.
Sejak kecil aku selalu dianggap sebagai anak yang tidak punya hati, acuh tak acuh dan dingin. Tpi sebelumnya aku adalah gadis kecil yang ceria.
Aku masih ingat disaat aku masih bisa tersenyum lebar, tertawa dan ceria saat aku berada di pelukan nenek.
Nenek memberiku dunia yang berwarna, dia mengenaliku berbagai hal tentang dunia dan aku belajar dari itu.
Kami tinggal di desa,kehidupan yang sederhana tapi itu semua membahagiakan ku.
Nenek selalu menceritakan kisah-kisah legenda di kala aku ingin tidur, memasak ayam semur kesukaanku, dan juga mengajakku bermain di ladang bunga matahari.
Kami hidup sangat bahagia,
Tpi ...
Nenek tiba-tiba jatuh sakit, penyakit jantungnya mulai kembuh.
Setelah dirawat beberapa hari, nenek dinyatakan meninggal.
Aku yang syok, merasa dunia ini tidak lgi berwarna.
Hatiku terluka, rasa duka membuatku terpuruk. Orang yang kucintai telah pergi ... aku merasa sendirian.
Di hari pemakaman nenek, tiba-tiba hujan pun turun, berbagai macam orang mencoba menghiburku. Aku tau mereka hanya berbicara omong kosong, mereka hanya mencari muka saja, apalagi bibiku.
Kedatangannya ke hari pemakaman nenek hanya sekedar warisan yang ditinggalkan oleh nenek.
Bibi tau kalau aku masih di bawah umur dan dia bilang warisan itu di pegang dlu oleh seorang wali. Aku tidak bisa mengelak, pengacara yang dituju untuk mengurus dokumen soal warisan telah di suap.
Warisan itu berpindah tangan, untuk meyakinkan hukum, bibi terpaksa merawatku di rumah nya.
Di hari pertama aku masih layak disebut manusia, namun di hari-hari berikutnya dia mulai memperlakukanku sebagai pembantu.
Tidak ada yang namanya kebahagiaan, sepupuku sering membuat drama dan itu membuatku diomelin oleh bibi.
Kehidupan bibiku terbilang cukup boros, pamanku adalah seorang dokter anak. Penghasilan mereka tidak banyak tapi itu semua cukup.
Sedangkan sepupuku adalah anak nakal, walau dia seorang gadis tapi perilakunya seperti hewan.
Bolos,sering pesta diskotik, menghambur²kan uang dan juga seorang pembully.
Aku dengannya hanya berjarak 1 tahun, dan kami bersekolah di sekolah yang sama.
Berbeda dengannya, aku dari rumah selalu berjalan kaki sedangkan dia selalu naik mobil.
Aku tau, mobil itu adalah hasil uang warisanku yang ditinggalkan nenek.
Tidak beda jauh dengan bibi, sepupuku tidak segan membullyku di sekolah.
Kami berada di kelas yang sama, bedanya dia tinggal kelas dan sekelas denganku du tahun pertamaku.
Awalnya aku tidak mau menghiraukan atau meladeni dia, tapi sayangnya dia tidak mau tinggal diam.
Dia terus-terusan membullyku ...
Tidak ada yang mau membantu, bahkan seorang guru pun.
Rasanya sesak untukku, disekolah ataupun dirumah bagiku itu semua adalah neraka.
Sudah berkali-kali untuk mencoba melupakan tapi jiwaku seperti tidak bisa untuk lupa.
Aku sudah mencoba memikirkan cara untuk mengakhiri hidupku, tapi aku selalu takut. Takut nenek akan kecewa di sana, aku tidak ingin membuatnya sedih atau bahkan kecewa ... wajahnya yang murung akan membuatku sangat tertekan, aku tidak sanggup dengan itu. Lebih baik biarkan dunia menusukku dibandingkan air mata kesedihan yang jatuh dari kelopak mata nenek.
Akhirnya aku menahannya ...
3 tahun berlalu, sekarang aku duduk di sekolah menengah atas.
Dengan hasil kerja kerasku, aku berhasil mendapatkan beasiswa dan sebuah asrama sekolah.
Akhirnya bisa terlepas dari neraka dan bisa menjalankan kehidupan seperti anak-anak lainnya.
Karena bakat dan minatku di bidang kesenian, aku masuk eksul seni musik.
Dengan bakatku yang dari hasil kerja kerasku sendiri, aku berhasil menjabat sebagai asisten ketua seni musik.
Karena pekerjaan sebagai asisten, aku dengan ketua si pria baik, menjalin hubungan baik, aku menganggapnya teman pertamaku.
Kami bekerja keras agar ekskul seni musik bisa cemerlang dan sukses untuk bersama. Itu adalah janji yang kubuat bersama dengan ketua.
Tpi itu adalah mimpiku sebelumnya ...
Aku harus kecewa lagi ...
Aku tidak tau kenapa salah satu anggota timku mulai membullyku.
Awalnya yang merundungku hanya satu timku, lama-lama jadi satu kelas dan satu sekolah.
Ini tidak ada bedanya di masa smp, neraka itu adalah kata-kata yang cocok untuk saat ini lgi.
Berbagai macam cemooh dan hinaan kembali terjadi.
Kali ini berbeda, siswi dan siswa disini berani main fisik.
Pada akhirnya tubuhku penuh memar ...
Pertama pukulan di perut, kedua di dada ketiga di tangan dan banyak lagi ...
Rasanya sakit,,, sakit banget. Sakit ini yang membuatku ingin mengakhiri hidupku ...
Aku ingin bertemu nenek, aku selalu mengirim pesan surat untuk nenek.
"Nek, rara kangen. Rara kangen dengan suara mu, pelukkan mu, masakan mu, dan SEMUANYA, RARA KANGEN!!RARA KANGEN NEK!!KANGEN,,, NEK kapan rasa sakit yang di rasakan rara bisa hilang? Nek, rara sayang sama nenek."
Teman sekamarku, adalah siswi yang berbeda jurusan denganku. Awalnya kami akrab, tpi setelah masalah itu tiba dia mulai menghindariku, bahkan di saat aku di bully dan dia melihatku, dia hanya pergi tanpa menoleh kebelakang.
Dia mulai mengabaikan ku, kecuali hanya ketua.
Ketua yang tau masalah itupun, selalu menghiburku.
Dia selalu membawakanku makanan siang dan juga mengajak ku pergi ke atap sekolah. Dia adalah malaikatku, dia masih mau berada disiku walau aku di benci.
Hingga ...
Sore itu barangku ketinggalan di ruang ekskul.
Suasana saat itu sudah senja, kupikir sudah tidak ada orang lain lagi.
Di saat aku menginjakkan kaki untuk masuk, aku menahan langkahku. Aku kaget dengan percakapan orang yang didalam sana, aku mencoba mengintip dari balik pintu dan mencoba mencari kebenaran yang ada di hatiku.
"Bukankah cukup kejam menyebarkan fitnah kaya gitu tentang rara? Apa kau gak takut kalau semuanya bakalan ketahuan?" Ucap pria berambut sedikit pirang
"Kejam? Itu bukan apa-apa, gadis bodoh itu bakalan berfikir kalau aku adalah pangeran! Hahaha" ucap ketua.
"Haha kau jahat sekali, alasan kau berbuat kaya gitu apaan coba?" Tanya pria sedikit pirang itu.
"Cih, itu karena dia merebut peringkat 1 pertamaku" kesal ketua
"hei, bukannya kamu peringkat kedua? Nilai akademikmu udh termasuk besar!!"
Dengan kesal ketua membuat wajah marah
"Cih, karena itu ayahku memukulku!! Hanya karena masalah gadis bodoh itu membuatku dalam masalah!!"
Gk kuat mendengar itu semua, aku mulai melupakan barangku lalu meninggalkan sekolah lalu pergi ke asrama.
Sekarang aku tau alasannya ...
1 tahun berlalu, hidupku masih sama seperti sebelumnya.
Aku jadi paham sekarang, aku tak perlu untuk peduli pada orang, dan sikap dinginku di mulai di masa ini.
Aku acuh tak acuh, mencoba menahan semuanya.
Walau pada akhirnya tubuhku berakhir membiru.
Sampai, seorang guru bk memanggilku. Mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menemuiku.
Aku datang keruangan itu, dan melihat seorang wanita cantik walau dia aslinya wanita paruh baya.
Wanita itu menatapku lalu tersenyum kecil.
"Hai, kamu rarakan? Aku adalah ibumu. Maaf sebelumnya, itu karena aku sibuk bekerja" ucap wanita itu.
Aku hanya terdiam tanpa menjawab wanita itu.
Wanita itu tidak peduli dengan kesunyianku, lalu berkarta.
"Rara adalah putri ibu, kamu akan pinda sekolah dan ikut ibu ke kota besar"
Senyumnya sambil menyodorkan dokumen pindah dan sebuah pulpen.
Seperti biasa, aku pada akhirnya tidak bisa mengelak.
Aku menandatangani dokumen itu, karena dia memberiku tatapan peringatan kalau aku menolak.
Aku tidak bisa memilih, karena juga desakan guru yang terus menerus mansihatiku untuk memaafkan ibuku.
Sehari kemudian, kami lalu pindah.
Ibu membawa mobilnya yang mewah dan membawaku kesebuah mansion yang mewah.
Sesampainya disana, ibu memperkenalkan semua orang yang akan merawatku padaku.
Dia mungkin malas membawaku berkeleliling jadinya hanya langsung bilang, bahwa pelayan akan membawaku ke kamarku.
...
Malam sudah tiba, di meja makan yang luas, hanya ada aku dan ibuku saja yang ada.
Ibuku bilang, bahwa ayahku adalah ayah kandungku dia memiliki istri lain dan mempunyai seorang putra atau kakak tiriku yang menjadi pewaris harta.
Dia mengatakan padaku untuk belajar tentang bisnis dan bersaing dengannya.
Aku meng iyakan perkataan ibuku, aku mulai belajar tentang bisnis dan mulai bersaing dengan kakakku.
Kakakku adalah pria tampan, dia orangnya sangat tegas dan disiplin.
Ayah melihat potensiku, dan dia memberiku sebuah anak perusahaan untuk dilihat seberapa cakapnya aku di bidang bisnis.
Aku berhasil, dan mendapatkan sebagian warisan yaitu anak-anak perusahaan padaku.
Ibuku yang tau, merasa tidak puas.
Dua membisikanku tentang caranya yang licik, berbagai macam siasat untuk mencelakai kakakku di mulai.
Beberapa siasat yang dibuat ibu, tidak berhasil.
Kakak masih lolos dari kekematian yang di lakukan ibuku.
Tapi sayangnya, rencana siasat yang gagal itu sampai ketelinga ayah.
Semua siasat yang dibuat ibuku semuanya adalah perbuatannya , bukan perbuatanku!
Seperti srigala berbulu domba, ibuku mengkambing hitamkan ku.
Dia melempar semua masalahnya pada ku yang aslinya tidak terlibat. Ayahku yang terlanjur emosi dia bahkan tidak mendengarkan penjelasannku dan malah mendengarkan bisikian iblis dari mulut ibuku.
Aku mengingat semua perkataannya, dia bilang aku terlalu ambisi sampai-sampai mencelakai kakak dan berkata aku adalah srigala bermata putih.
Dia mengusirku, dan aku baru tau kalau ibuku sedang mengandung lgi, pantesan sekarang aku di buang.
Dan sekarang, aku berakhir disini. Di rumah sakit dengan penyakit jantung bawaan.
Aku menulis surat ini, hanya untuk menghibur diriku sendiri tentang kisahku untuk siapapun yang membacanya...
Dari : Rara anggreany saputri
"Akhirnya, rara bisa menghebuskan nafas terakhirnya, dan meninggalkan dunia yang busuk ini"
Walau dia mati dalam kesepian ...