Ia melenggang langkahkan kaki panjangnya membuka jalan kerumunan di area makam. Sampai pada titik makam baru saja usai dikuburkan ia terduduk lemas melihat nama yang tertera di atas batu nisan.
____________
Flashback
"Ayolah mulai menulis nak" perintah pak tua yang entah sudah berapa ratus kalinya
"Tulis seperti apa, aku tak tahu apa yang harus ku tuliskan" gerutu Nobi dengan manyun bibirnya
"Kalau bisa yaa...nulis yang renyah, seperti renyahnya mengunyah kerupuk kulit yang barusan kau makan dan membuat pembaca tulisanmu seperti terbawa suasana dalam dunia karyamu, itu kalau bisa, untuk permulaan yah sebisamu saja nulis yang ada dalam pikiran mu" penjelasan pak tua
"Apa yaa..pak" lemas suara Nobi kebingungan hendak menulis apa
"Tulis saja apa yang sedang terjadi saat ini" perintah pak tua lagi
"Hmm baiklah pak" persetujuan Nobi yang sedikit tercerahkan
//Malam ini, Sabtu, 20 November 1999 pukul 20.00 WIB aku (Nobi) bermalam di rumah pak tua membawa bekal kerupuk kulit yang tadi sore beli di warung Mak Ijah, meskipun harus mengantri sepanjang rentetan kereta tapi tak apalah hasil yang diperoleh kini dapat menikmati kerenyahannya bersama pak tua ditemani wedang ronde kha buatan pak tua yang tiada duanya. Malam ini pak tua menyuruhku untuk mulai menulis, padahal pak tua sudah tahu kalau aku paling malas untuk menulis, karena kosa kata dan bagaimna menyusun diksi yang enak dibaca sungguh sulit sesulit memanjat kelapa sehabis diguyur hujan. Uuh...tapi tetap ku turuti juga perintahnya entah seperti apa responnya nanti setelah tulisanku usai dibacanya.//
"Ini pak" serah tulisan Nobi pada pak tua
Sepintas pak tua nyegir kuda saat membaca tulisan itu buat raut wajah Nobi muram kesal, "pasti nanti diklaim tulisan macam apa seperti ini" batinnya.
"Lumayan" ucap singkat pak tua seraya terkekeh
"Hmm...diluar ekspektasiku pak, hehe" balas lagi Nobi
"Memang seperti apa respon yang kau kira?" Tanya pak tua dengan senyum simpulnya
"Emm..ku kira pak tua akan membodoh-bodohkan ku karena tulisanku yang tak bermakna" jawab Nobi seraya menundukkan kepala takut bersitatap mata dengan pak tua karena telah berfikiran negatif
"Hmm...dengarkan baik-baik 'setiap kata memiliki kekuatan yang dapat membawa kita sebagai penulis pada masa saat itu peristiwa terjadi' suatu saat pasti kau akan mengalaminya" tutur pak tua
_____________
tangisnya pecah, isaknya mulai rapat dan tak lama ia tak sadarkan diri.
komen dan masukannya sangat diharapakan kak, terimakasih banyak 🙏