Cerita Cinta bak di sebuah negeri dongeng, kisahnya tak pernah terlupakan meski sebenarnya hanyalah sebuah mimpi yang singkat namun seperti telah lama ku jalani. Bagiku ini adalah mimpi terindah yang pernah ku alami seumur hidup.
Ku tulis di sini sebagai antisipasi ketika ingatan itu memudar agar jika aku lupa dalam ingatan aku dapat mengingat nya kembali dengan membacanya di sini.
~~~
Suatu malam yang tenang sekitar jam sepuluh malam WIB aku memejamkan mataku di atas kasur. Tak lama setelah terlelap aku seolah kembali ke masa kecilku yang berusia 8 tahun. Kejadian itu seolah-olah benar benar pernah ku lalui seperti sebuah ingatan.
Saat itu di alam mimpi aku sedang menaiki sebuah sepeda bersama ayahku. Ia berhenti tepat di sebuah bangunan bertingkat. Bangunan itu adalah sebuah pasar yang sudah mulai sepi karena barang barang nya di jual dengan harga tinggi. pasar itu bernama pasar Dayang suri.
“Nduk, bapak mau masuk ke dalam dulu. Jangan ke mana-mana kamu tunggu di sini saja sampai bapak kesini lagi. Ingat ya kalo ada orang gak di kenal mendekat cepat-cepat jauhi . Kalo tampak mencurigakan kamu teriakin penculik aja ya,” celoteh ayah ku memberi pesan.
“Iya pak, jangan lama-lama ya.” Sebenarnya ketika di tinggal sendirian aku sedikit sedih dan takut namun aku harus menuruti perintah ayah kesayangan ku itu.
Aku berjongkok di samping sepeda United milik ku. Sangking lamanya aku menunggu, rasa cemas mulai menghampiri ku. Pikiran ku mulai kacau tak karuan. Aku sempat berpikir apakah aku ditinggal kan oleh ayah ku. Rasa cemas itu kian lama kian menghantui pikiran, akhirnya aku pun berpikir untuk mencari nya ke dalam bangunan. Pesan darinya tak lagi ku hiraukan.
Dengan rasa panik aku memberanikan diri mencari ke seluruh tingkat bangunan. Semua lantai pertokoan telah ku jelajahi namun tak juga ku temukan sosoknya. Aku kembali turun ke bawah dan mengelilingi nya sekali lagi. Alhasil tetap tak juga ku temukan keberadaan ayahku.
Terasa sudah air mata di pelupuk mataku. Aku mencoba menahannya, otak ku berpikir kemana lagi aku harus mencari nya. Teringat ada sebuah gang kecil di samping pasar ini.
“Mungkinkah ayah ku pergi ke gang itu?” kaki ku melangkah dengan reflek menuju gang sebelah pasar. Sudah lumayan jauh aku berjalan tak juga ketemu. Akhirnya aku tak dapat menahan tangis ku. Aku berjongkok menenggelamkan kepala di sela sela kedua lengan ku, di sana aku menangis terisak-isak.
“Hey, kamu kenapa menangis disini?” tanya seseorang yang mendekati ku.
Dengan berat hati aku menengadahkan kepalaku melihat orang yang sedang bertanya pada ku. Lantas aku pun menjawab dengan tersedu sedu,
“Aku kehilangan ayahku di pasar itu huhuhu.. dan aku sudah mencarinya huhuhu... sejak tadi huhu... tapi tidak ketemu ketemu, huhuhu...."
“Ooo begitu, tidak apa apa jangan terlalu khawatir ia pasti akan datang mencari mu, Sudah jangan menangis lagi.” ucap seorang pria cilik menenangkan ku.
Entah bagaimana ceritanya setiap kali aku bersedih dan menangis alam pun menjadi gelap tertutup awan hitam dan hujan pun turun seolah-olah ikut bersedih.
“Eh hujan turun nih, yuk berteduh di rumah ku!” pria cilik itu menarik tangan ku pergi ke sebuah rumah yang tak jauh dari tempat ku berjongkok tadi.
“Ini rumah ku, ayah dan ibu ku juga sedang tidak ada di rumah jadi kau tidak perlu takut. Oh iya siapa nama mu?”
“Namaku Sriyani susanti. Biasa di panggil Santi”.
“Ooo, kalo namaku Axsel?” kami saling bercerita dan dan bercanda ia membuat ku lupa masalah yang sedang ku hadapi.
Hujan mulai mereda, matahari mulai menampakkan cahaya, udara terasa sangat sejuk air hujan menggenang di beberapa tempat, pemandangan itu sangat menggoda.
“Santi main becek becekkan yuk, seru loh." Axsel membujuk ku.
Melihat pemandangan yang menyenangkan itu aku pun menganggukkan kepala dengan antusiasnya.
Dengan asyiknya kami melompat lompat di atas genangan air hujan serta saling melempar lempar percikan air sambil tertawa lepas. Dunia serasa milik berdua. Kami yang asyik bermain-main, berlari-lari tak sadar kalau waktu ternyata sudah berlalu cukup lama. Aku yang tengah asyik mengejarnya hingga ke jalan tak sengaja melihat sosok ayah ku dari kejauhan. Kerena melihat ayah aku tak lagi melanjutkan aksi kejar-kejaran dengan Axsel. Axsel pun mendekat.
Kring..
Kring...
suara bel sepeda.
Ayah ku tiba di hadapan ku. Air mataku kembali mengalir. Ia tampak hendak memarahiku namun aku yang merasa lebih kesal akhirnya lebih dulu mengomentari ayahku. Axsel merasa tak nyaman berada di antara pertengkaran kami. ia pun pergi dengan diam.
Ayahku juga kesal padaku akhirnya ia menyuruhku naik ke kursi belakang sepada. Sebelum pergi aku melihat halaman rumah Axsel. Terlihat ia sedang berdiri dengan senyum manisnya serta melambaikan tangan padaku. Dengan wajah yang masih sedih karena di marahi aku mencoba untuk membalas senyuman nya dan melambaikan tangan padanya.
Sesudah hari itu aku tak lagi bertemu dengan nya karena ternyata hari itu adalah hari terakhir ku di kota tembilahan dan pindah ke daerah lain.
Entah bagaimana ceritanya seolah aku melampaui waktu. Aku melihat diriku sudah tumbuh besar menjadi gadis cantik. Di saat itu aku pun kembali ke kota seribu parit (Tembilahan).
Di malam hari, di tepi trotoar, aku sedang berjalan sendirian dan di sana seseorang menyapaku. Pria muda yang tampan, ternyata dia adalah Axsel. Aku terkejut bukan main bisa bertemu dengannya lagi.
“Hay Santi! kau masih mengingat ku bukan?” tanya nya lembut. Ia tersenyum padaku. Saat itu tiba-tiba jantung ku berdegup kencang. Aku terus menatapnya.
“Ya aku masih ingat, kau Axsel kan?” tanyaku tegang.
“Iya, syukurlah kau masih mengingat ku.”
Entah kenapa aku benar benar senang saat bertemu lagi dengan nya. kami terus berbincang-bincang entah apa saja yang ku bicarakan dengan nya malam itu. Aku sudah tidak ingat terlalu detail lagi.
Singkat cerita, lagi lagi seperti ada yang terlewati.
Suatu hari ia datang ke rumahku, ia tersenyum padaku. Aku bingung darimana dia tahu rumah ku. Sempat aku bertanya padanya sayangnya aku lupa dengan jawabannya. Yang paling mengejutkan adalah saat itu ternyata dia datang untuk melamar ku.
Aku benar benar terkejut sekaligus bahagia.
Banyak pernyataan yang bagiku mengharukan diucapkannya ketika itu.
“Apakah kau mau menikah dengan ku?” ucap nya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berisikan cincin perak yang sangat indah.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengangguk setuju.
“Tapi aku tidak bisa memberikan mu pesta pernikahan karena aku hanya orang biasa yang tidak punya apa-apa,” ucapnya jujur.
Aku tetap menerima lamarannya. “Tidak apa-apa meskipun pernikahan biasa aku juga sudah sangat senang."
Lagi-lagi cerita nya seolah-olah di percepat.
Aku terbangun terkejut. Saat itu aku sedang mengenakan pakaian pengantin berwarna putih. Gaun yang sangat indah. Aku terheran heran. Bertanya pada diriku sendiri, “Kenapa aku mengenakan gaun pengantin semewah ini? bukankah Axsel bilang ia tidak bisa melaksanakan pesta pernikahan?”
Aku keluar dari rumah ku dan disana aku mendapati sebuah pesta pernikahan yang sangat mewah. Suara musik terdengar sangat keras, berasal dari sound sound yang sangat besar.
“Pesta pernikahan siapa ini? megah sekali,” batinku heran.
Saat itu suasananya sangat ramai dan di antara keramaian itu muncul sosok Axsel yang berjalan ke arah ku. Ia tersenyum sangat bahagia. Ia meraih tangan ku mengajak ku ke sebuah genangan air hujan. kami berdiri di atas genangan air hujan itu sambil saling bertatap tatapan mata. Aku sempat teringat, ini seperti kejadian saat kami masih kecil dulu.
Tak lama Ia pun mengangkat tubuh ku, membopong ku dengan tatapan ramah.
Kali ini benar benar sangat aneh. Kejadian tak terduga terjadi. Tubuh kami melayang terbang ke langit seperti di film film fantasi cina. Sangat romantis pikir ku saat itu.
Sungguh tak masuk akal bukan? Eits tapi tunggu dulu itu belum selesai.
Ia terbang membawa ku pergi ke suatu tempat. Tempat itu sangat aneh.
Tempat itu adalah hutan yang sangat tenang. Udara di sana sangat asri, pepohonan berbaris dengan rapi dan kupu-kupu berterbangan mengitari bunga-bunga yang bermekaran. Sungguh pemandangan yang indah seperti surga.
Axsel yang sangat tampan itu membangun sebuah rumah sederhana dari papan. Di sana kami hidup berdua dengan tenang.
Endingnya aku sedikit lupa, tapi samar samar di ingatan ku sepertinya aku sedang mengandung tetapi sepertinya itu tidak terlalu meyakinkan.
DAN AKHIRNYA AKU PUN TERBANGUN DARI TIDUR KU.
Aku sempat bercerita tentang mimpiku itu kepada teman terbaikku. Aku menceritakan nya dengan sangat antusias. Dia bilang mimpiku seperti cerita dongeng.
Aku benar benar sangat menyukai mimpiku yang satu ini sebab perasaan yang terasa sangat nyata dan lagi ada sosok pria tampan yang lemah lembut. Benar-benar pria yang sangat ku idam idamkan. Sampai sampai setelah aku bermimpi kejadian itu aku berdoa agar bertemu pria sempurna seperti Axsel di dunia nyata dan dijadikan nya sebagai jodoh ku.
Intinya aku berdoa agar mimpi indah ku itu menjadi sebuah kenyataan. Tapi kenyataannya sampai saat ini pun aku tak menemukan pria seperti nya dan sekarang malah masih saja jomblo.
Ternyata mimpi hanyalah mimpi. Tapi kalau boleh, aku masih berharap agar menjadi nyata sungguhan.
OH IYA GUYS AKU JUGA MAU PROMOSI NIH!
MAMPIR YUK KE KARYA KU (NOVEL)
BERJUDUL:
“APA KABAR CINTA?”
#SINOPSIS
Menceritakan tentang kisah cinta seorang sepasang kekasih yang ditakdirkan.
Mereka adalah remaja yang kehidupannya bertolak belakang. Yang satunya adalah seorang gadis cantik dari keluarga broken home dan yang satunya lagi adalah seorang pria tampan dari keluarga ternama.
Di pisahkan oleh keadaan di jauhkan oleh situasi. Lalu apakah bisa takdir mempersatukan mereka dengan kenyataan yang rumit?
Yuk intip skenario mereka di “apa kabar cinta?”
Jangan lupa tinggalkan jejak di sana.
~~~~~~~~~~~~~~THANKS~~~~~~~~~~~~~~