Seberkas cahaya kuning kemerahan.
Meluncur pesat bagai anak panah.
Membelah awan hitam yang menutupi langit malam.
Melayang-layang, meliuk-liuk bagai lenggak-lenggok para penari mistis di sebuah pesta bangsa lelembut.
"Dduuaarr !!"
Cahaya api itu mendarat ke sebuah bangunan mewah vila bukit tidar.
"Aakkhh..."
terdengar jeritan menyayat hati dari dalam vila itu, seorang wanita melompat bangun dari tempat tidurnya.
Wajahnya memerah Semerah matanya yang terbelalak lebar seakan hendak keluar. Otot-ototnya bertonjolan keluar, memperlihatkan urat-urat nadinya yang biru kehitaman bagai cacing.
Mulutnya ternganga lebar, dari kerongkongannya mengeluarkan suara aneh...
"kkrookk... kkrrookkk... kkkrrrookk"
Detik berikut, sesuatu merayap naik dari perut menuju kerongkongan, naik dan terus naik hingga akhirnya, sesuatu benda hitam keluar dari mulutnya.
Gumpalan daging berwarna merah dan dihiasi oleh logam-logam besi pipi berkilat-kilat.
Tubuh wanita itu kejang-kejang manakala daging pada bagian perut hingga dada seperti disayat-sayat benda tajam. Wanita itu pun roboh dengan tubuh bermandikan darah dan tak bergerak-gerak lagi.
Nun jauh disana,
Sebuah bayangan hitam duduk bersila menghadap meja altar dengan tungku api, di dalamnya berisi sebuah foto wanita yang sebagian sudah jadi abu.
Bayangan itu tersenyum dingin, "Selesai juga akhirnya," desisnya.