Suatu hari terdapat seorang anak kecil yang menangis di hutan. Kemudian secara kebetulan terdapat seorang anak perempuan yang berada di sana dan menghampirinya. Dan ternyata anak yang menangis itu adalah seorang elf (peri) yang seluruh umatnya telah dimusnahkan oleh umat manusia. Anak elf tersebut merupakan satu-satunya elf yang selamat.
Untungnya anak perempuan itu sangat baik, mereka saling berkenalan satu sama lain dan bermain bersama-sama. Nama anak perempuan itu adalah Zinia, yang berumur 8 tahun sedangkan anak elf itu bernama Mialen, yang berumur 6 tahun.
Karena elf diburu oleh manusia, jadi Zinia tidak bisa membawa Mialen ke rumahnya. Maka dari itu mereka berdua membuat tempat persembunyian untuk Mialen di hutan, selain menjadi tempat persembunyiaan Mialen, juga menjadi rumah yang nyaman bagi Mialen.
Hari demi hari telah berlalu, Zinia setiap hari mengunjungi Mialen di hutan. Itu telah berlangsung selama 10 tahun. Kini Zinia telah menjadi seorang remaja yang cantik jelita dan Mialen menjadi pemuda elf yang tampan.
Suatu hari seperti biasa Zinia datang mengunjungi Mialen. Kali ini Zinia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting kepada Mialen.
"Hey hey Mialen, apa kau tau? Aku akan dilamar oleh seorang pangeran dan aku akan menikahi seorang pangeran" Ucap Zinia dengan antusias.
"Wah itu hebat sekali, ngomong-ngomong menikah itu apa?"
"Ahh sial, selama ini aku belum pernah mengajarimu tentang hal itu ya"
"Iya"
"Bagaimana aku menjelaskannya ya, pokoknya aku dan pangeran akan bersama menjadi sepasang suami istri dan kami akan menciptakan anak dari hubungan kami, begitulah intinya"
"Wah hebat"
"Jadi mungkin untuk beberapa hari aku tidak bisa menemuimu dulu, karena aku akan sibuk dengan upacara pernikahan dan melahirkan anak"
"Jadi begitu ya, apa kau akan kembali lagi?"
"Tentu saja, aku berjanji akan kembali padamu dan aku akan membawa serta menunjukan anakku yang lucu kepadamu"
"Wah aku jadi tidak sabar"
"Besok aku akan dijemput dan dibawa ke istana, jadi aku mulai besok tidak bis amenemuimu"
"Baiklah Zinia"
"Tapi aku masih tidak percaya bahwa aku yang seorang rakyat jelata ini bisa menikah dengan bangsawan"
"Memangnya rakyat jelata tidak boleh menikahi pangeran?"
"Yah pokoknya kau harus menungguku di sini ya"
"Aku berharap bisa menikah denganmu Mialen" Ucap Zinia dengan nada yang tidak bisa didengar orang lain.
"Apa?"
"Tidak-tidak, baik aku akan pergi dulu, aku harus siap-siap"
"Owh baiklah"
"Sampai jumpa, aku akan datang lagi menemuimu dengan membawa anakku" Ucap Zinia setelah itu dia pergi.
Mialen pun menunggu Zinia dengan penuh semangat. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun Mialen terus menunggu Zinia yang tak kunjung datang. Hingga 100 tahun telah berlalu.
"Apakah Zinia masih lama, mengapa dia belum kembali juga"
"Setelah kuhitung-hitung kemungkinan umurnya sekarang pasti sudah 118 tahun"
"Kapan dia akan kembali dan menunjukan anaknya kepadaku"
"Aku merindukannya"
Kejadian sebenarnya yang terjadi beberapa tahun setelah Zinia pergi meninggalkan Mialen yaitu, Zinia telah tewas dibunuh oleh suaminya, karena suaminya merasa menyesal dan malu karena menikahi rakyat jelata.
Hingga 200 tahun telah telah berlalu, Mialen masih menunggu Zinia di tempat yang sama.
"ZINIA, CEPATLAH KEMBALI”