Ini adalah sebuah kisah nyata, yang pernah dialami satu-satunya kakakku pada saat duduk di bangku perkuliahan. Pada semester awal tahun-tahun awal kuliah.
Sulit rasanya untuk menceritakan sebagai orang ketiga, kalau begitu akan kurubah sudut pandang cerita singkat ini menjadi orang pertama. Mari...
*****
Namaku Dani, lahir di Batam pada bulan Februari tahun 1999. Ibuku berasal dari kota Malang dan ayahku dari Semarang, saat ini aku, ibu dan adik tinggal di Semarang ikut dengan ayahku.
Tak perlulah kiranya perkenalan tidak penting itu, mari kita masuk ke dalam kisahku yang ingin diceritakan dalam cerpen ini.
Aku seorang mahasiswa semester tiga di sebuah universitas yang terletak di Jl. Pandanaran, tak perlu kusebutkan nama universitasku karena sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan jalan cerita ini.
Aku mengambil kuliah kelas karyawan yang dimana para mahasiswanya berangkat dari jam tiga sore sampai pulang jam sembilan malam. Kurang lebih seperti itu jika mengesampingkan tugas dari dosen yang kian menggunung seiring bertambahnya hari.
Kebetulan letak kampus dan rumahku cukup jauh. Ada tiga puluh menit perjalanan jika dalam keadaan normal, dua puluh menitan jika spedometer menunjuk ke angka 80 km/h, dan mungkin bisa sampai empat puluh menitan kalau hati sedang baik dan ingin menikmati perjalanan.
Saat itu aku baru keluar dari kampus ketika waktu menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh menit. Yah....tak heran kalau pulang sedikit telat seperti ini, hal itu sudah biasa.
Langsung saja, karena tubuh sudah lelah bekerja di siang hari dan belajar pada malam hari, segera ku naiki motor kesayangan untuk tancap gas menuju rumahku.
Aku sengaja tidak lewat jalan kota karena jalannya memutar dan akan memakan waktu lama. Maka aku sengaja memotong jalan dengan melewati jalan Banjir Kanal yang sudah lumayan sepi di jam segini. Tapi juga cukup ramai sih karena masih ada beberapa kendaraan yang lewat ke sana-sini.
Melewati SMA 7, semua masih nampak normal dan memang biasanya seperti itu, tak ada yang aneh. Jalan mulai menanjak saat memasuki pinggiran kawasan industri yang ketika musim kemarau membuat mata perih dan ketika musim hujan banjir dan licin dikarenakan jalanan di sana masih tanah biasa atau jalan semen (Bahasa keren : Dicor).
Jalan menanjak mulai berlika-liku dan di sini adalah tempat pemukiman penduduk, tentu saja sudah sepi pada jam segini. Mungkin hanya ada satu dua orang saja yang sama sepertiku, pulang kuliah, piket di pekerjaan, atau mungkin berangkat nongkrong bareng teman.
Di belakangku, ada satu lampu kuning yang menyorot-nyorot. Tahulah aku bahwa di belakang sana ada seseorang yang searah jalan.
Beberapa puluh meter setelahnya, jalan menanjak itu makin naik dan makin suram. Belokan dan tikungan mulai menajam seiring jalanan yang kian menanjak. Sudah keluar dari wilayah pemukiman penduduk dan di kanan kiri jalan saat ini hanya ada hutan-hutan saja.
Saat sampai di tanjakan paling terjal dan paling menyulitkan, yaitu sebuah tanjakan zig-zag yang di kanan terdapat tebing curam serta di kiri terdapat tempat pembuangan sampah, aku menambah kecepatan motorku untuk memudahkan aku menanjak naik.
Sampai di atas dengan mulus, aku mengurangi kecepatan laju motorku. Jauh di depan sana, ada sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat sungai kecil dan di kanan kiri adalah gugusan bambu hijau yang melengkung turun membentuk seperti terowongan.
Jangan lupakan seseorang yang daritadi ada di belakangku, sampai saat ini ternyata dia belum berbelok dan masih searah denganku.
Belasan meter sebelum aku mencapai jembatan, lampu motorku yang diseting ke lampu dekat mengangkap siluet seseorang.
"Hm....sopo kui?" (Hm...siapa itu?) gumamku kebingungan sambil membuka kaca helm.
Aku mampu melihat dengan jelas, sangat jelas dan bukan samar-samar atau kabur. Sangat-sangat jelas terlihat di jembatan yang hanya sepanjang beberapa meter itu ada seseorang sedang menyeberang. Karena memakai lampu dekat, sehingga yang nampak kulihat hanyalah kaki dan celananya saja.
Aku melihat kaki itu adalah kaki seorang pria, memakai celana tiga per empat warna coklat muda dengan sendal japit warna biru. Seperti orang-orang pada umumnya.
"Oalah...wong nyeberang jebule...." (Oh...ternyata hanya orang menyeberang) gumamku seraya menekan rem belakang untuk sedikit mengurangi kecepatan.
"Klik." ku seting lampu motorku ke mode jarak jauh agar dapat melihat lebih jelas, namun saat itu juga mataku terbelalak dengan tubuh agak tercekat.
"Loh, kok ilang...?" (Loh, kok hilang?)
Aku menoleh ke kanan dan kiri namun sosok tersebut sama sekali tidak terlihat. Tak mungkin kan saat aku lewat dia buru-buru loncat ke sungai?
Melewati jembatan itu, sedikit kuperlambat laju motorku untuk meneliti tempat sekitar. Akan tetapi di situ memang tidak ada orang.
"Brum...brum..."
Tiba-tiba motor yang sejak tadi ada di belakangku terdengar mempercepat laju motornya. Dari kaca spion dapat kulihat bahwa motor itu jalan mendekat kearahku. Begitu tiba di sampingku, aku menoleh untuk menemukan pengendara itu yang juga menoleh kepadaku.
"Loh mas, tiyange mau ten pundi?" (Loh mas, orang yang tadi kemana?) tanya orang tersebut sesaat setelah membuka kaca helmnya.
"Loh?" aku kaget sekali mendengar itu. Tak kusangka ternyata orang yang sedaritadi ada dibelakangku juga melihatnya.
Pasalnya, pernah ku mendengar cerita dari orang-orang kalau kita sedang bertemu dengan sosok-sosok macam itu, biasanya yang lihat hanyalah diri sendiri saja, orang lain belum tentu melihat hal yang sama seperti yang kita lihat. Karena itulah aku terkejut bukan main.
"Kulo mboten ngertos mas." (Aku tidak mau mas) aku menjawab sedikit teriak.
"Yowes, iring-iringan mawon mas." (Yudah, jalan iring-iringan saja mas) ajak orang itu yang entah memang penakut atau apa aku tak tahu. Namun aku menerimanya karena tak ingin mengalami kejadian serupa. Sehingga mulai dari jalan itu sampai ke rumah, aku dan orang ini berjalan berdampingan dan terus berdekatan depan belakang.
Saat aku berbelok ke gang kecil rumahku, dia masih tetap berjalan lurus. Orang itu membunyikan klakson untuk menyapaku sebelum menancap gas dan melaju kencang menuju ke arah hutan di depan sana. Mungkin dia memang penakut?
Sampai saat ini, aku terus menduga bahwa sosok yang menyeberang itu mungkin bukan manusia. Lagipula, mana ada manusia yang pandai menghilang? Apakah ini sebuah cerita silat jaman kuno yang para tokohnya pandai lari cepat juga melompat tinggi? Tak mungkin!
*****
Saat cerita ini sampai ke telingaku melalui ucapan kakakku sendiri, aku pun terkejut sekali. Untung bahwa dia bukanlah seorang penakut sehingga pada malam-malam berikutnya, dia masih terus lewat di jalan yang sama sungguh pun menurut penuturannya, saat melewati tempat pembuangan sampah sering mencium bau aneh. Bukan bau sampah melainkan bau aneh entah dari apa itu.
Demikianlah cerpen singkat ini, yang hanya menceritakan sepenggal kisah dari perjalanan pulang kakakku ketika tak sengaja bertemu sosok penyeberang yang hilang.