Di sebuah ruangan minim cahaya itu, terbaring seorang gadis yang sangat manis. Dengan balutan hijab dan gaun tidur yang sangat indah. Dia berada di tempat yang sangat asing.
Lalu beberapa saat kemudian, nampak kelopak matanya mengerjap. Menyesuaikan cahaya minim yang menusuk matanya.
Hingga bola matanya terbuka sempurna. Gadis itu menatap langit-langit kamar yang dominan gelap. Lalu dia pun melirik ke arah kiri kanannya.
'Asing sekali. Dimana aku?' gumamnya pada diri sendiri.
Gadis itu pun memposisikan diri untuk duduk dan mengamati sekelilingnya.
Ceklek.
Bunyi pintu terbuka berhasil mengalahkan atensinya untuk melirik ke sana. Muncullah dari balik pintu seorang pria tinggi tegap dengan wajah pucat porselen. Pemilik wajah dingin bak mayat hidup itu mulai menghampiri si gadis yang masih kebingungan.
Hingga jarak keduanya tinggal beberapa langkah, mereka pun saling pandang dengan tatapan yang berbeda.
"Kau sudah bangun?" tanya si pria datar tanpa ekspresi.
"Kau siapa? Ini bukan tempatku. Dimana aku?" tanya gadis itu dengan tatapan tajam.
Pria pucat itu hanya tersenyum smirk.
"Kau lupa, apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu, Nona Panglima Sayap Putih?" ucap pria itu seakan ingin menyudutkan si gadis.
'Tunggu!!! Panglima Sayap Putih??? Bagaimana dia bisa tahu identitasku?' batin gadis itu.
"Baik akan ku buat kau mengingat semuanya. Beberapa hari yang lalu, kau berusaha menyusup ke istanaku. Entah apa yang kau cari. Tapi yang pasti, aku berhasil menangkap mu dan membawamu kemari," jelas pria itu.
Gadis itu mulai memejamkan mata. Berusaha mengingat kejadian yang dialaminya beberapa hari yang lalu.
"Terlepas dari apapun yang kau cari. Tanpa perlu repot-repot menangkapmu, kau datang sendiri ke istanaku," ucapnya lagi.
"Tunggu!!!" gadis itu berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. "Tanpa perlu repot-repot menangkapku? Maksudnya kau berusaha untuk menangkapku sebelumnya? Tapi, apa tujuanmu? Kenapa kau ingin menangkapku?" tanya gadis itu mulai bingung.
"Kau akan tahu nanti. Tapi kau harus persiapkan dirimu. Karena besok malam, tepat purnama merah muncul kita akan melangsungkan pernikahan," tuturnya.
"Tunggu dulu!!! Pernikahan??? Maksudmu kau, aku, menikah???" tanyanya tak percaya.
Pria itu hanya mengangguk. "Ya. Kita akan menikah."
"Aku bahkan tidak mengenalmu. Bagaimana mungkin aku bisa menikah denganmu?" tanya si gadis semakin bingung.
"Kau sangat mengenalku. Itu sebabnya kau begitu berani masuk ke istanaku."
"Tunggu!!! Apa kau adalah King Dracula?" tanyanya dengan memicingkan mata.
"Bukan. Lebih tepatnya aku adalah pewaris dari kakekku," ucapnya. Lalu pria itu melirik jendela. "Maaf, aku harus pergi. Jika kau ingin tahu lebih banyak, bisa kau tanyakan besok setelah kau resmi jadi istriku," serunya dan dia pun segera pergi.
"Hey.... Hey.... Tunggu!!!"
"Akkhhh...... Dia sudah pergi"
'Bagaimana ini? Apa yang akan aku katakan pada King El Fath? Kalau sampai dia tahu, aku menjadi bagian dari musuh. Bisa habis aku,' gumamnya resah.