"Lari. Kamu harus lari. Terus berlari. Jangan pernah berhenti berlari. Lari dan terus berlari--karena ini yang kamu inginkan!" Begitu bunyi isi sepucuk surat dari seseorang tanpa nama pengirim. Ini sudah kali ketiga, sepertinya ia telah mengetahui tempat persembunyian Darto.
Darto adalah seorang anak muda yang menghabiskan hari-harinya menjadi seorang pelarian--sehari setelah ia berani memproklamirkan diri memilih untuk mengangkat senjata--yang secara terang-terangan berani mengkritik--melalui kolom opini di sebuah surat kabar--senjata yang dimaksud tak lain adalah pikirannya--ini sudah tahun kedua!
Tak seperti sebelumnya, kali ini Darto tidak merapikan barang bawaannya. Bersiap-siap untuk pergi, saban ia menerima sepucuk surat seperti yang diterimanya hari ini.
Sekali ini Darto memilih untuk duduk tenang. Pada sebuah kursi kayu tua yang setiap kali bergerak akan menimbulkan suara derit pada kakinya, disitulah Darto mendamparkan diri.
Seorang lelaki paruh baya menatap Darto dengan harap-harap cemas. Darto membalas tatapan itu dengan perasaan tenang. Si lelaki paruh baya terlihat menegakkan badan, menarik nafas dalam-dalam, menganggukan kepala dengan tenang, kemudian ia tepuk pundak Darto dengan segenap perasaan hormat.
Darto menutup kedua matanya, perlahan-lahan.
***
Ruangan itu gelap, sangat gelap, bukan cuma gelap, tapi juga sangat kecil. Ruangan itu cuma berukuran satu kali satu dan memanjang ke atas. Jadi, siapa pun orang yang ada di dalam ruangan tersebut, sangat tidak mungkin untuk bisa, jangan bilang untuk merebahkan badan, sekedar untuk menyelonjorkan kaki saja akan sangat kesulitan. Ruangan tersebut tidak ada bedanya dengan toilet yang biasa ditemukan di pasar-pasar tradisional, hanya untuk berjongkok, gak lebih gak kurang.
Seseorang, dari arah luar, membuka gembok, lalu daun pintu ditarik, seketika ruangan kecil itu menjadi terang. Si pembuka pintu tersenyum sinis. "Jangan bilang aku tidak mengingatkan kamu? Sekarang..." Si pembuka pintu memapah tubuh yang mulai terlihat letih.
***
Darto tertangkap? Tidak! Lebih tepatnya, Darto, menyerahkan diri. Kemarin sore, duduk di sebuah bangku pos polisi, Darto memilih untuk menyudahi pelariannya. Selang beberapa jam kemudian dua orang lelaki berpakaian preman menghampiri kemudian membawanya pergi.
***
Darto diseret ke sebuah ruangan. Ruangan berukuran persegi tanpa jendela. Pencahayaan ruangan tersebut bercahaya temaram. Di atas langit-langit sebuah kipas angin memutar dengan sangat perlahan, seperti hidup segan mati tak mau. Di dalam ruangan seseorang lelaki berbadan kecil sedang menunggu sambil menyalakan sebatang rokok. Darto didudukkan tepat dihadapan lelaki berbadan kecil itu.
Sekian menit mereka hanya saling beradu pandang. Darto menatap lurus dan tak sedikit pun tergurat gentar di wajahnya. Si lelaki kecil mengangguk kecil dan tersenyum mencibir. Berselang kemudian ia pun menghembuskan asap rokok itu ke muka Darto tampaknya hal tersebut sengaja ia perbuat. Darto terbatuk.
To, waktu kecil kamu punya mimpi apa, kata si lelaki kecil membuka percakapan sambil menghisap sebatang rokok yang terjepit di jemarinya. Sempat ia menawarkan sebatang rokok tapi Darto menolak dengan mengangkat sebelah tangannya.
Darto berkata sambil memainkan jemarinya ke atas meja, mengetuk meja. "Sama seperti kebanyakan anak-anak pada masa itu."
"Dokter!?" Tebak si lelaki kecil.
"Emang bisa bermimpi jadi Presiden!?" Darto berkata sinis. Si lelaki kecil paham maksud omongan Darto, ia pun menyahut seraya tersenyum kecil. "To, gak usah ngomong yang serius-seriuslah. Santai aja kayak di pantai! Bisakan!?"
"Sepertinya kita sudah kelamaan duduk bersantai-santai?" Darto berkata sambil melengoskan bibir. Si lelaki kecil mengangguk-anggukan kepala setelahnya dengan tarikan nafas yang cepat ia pun membuka sebuah buku kecil yang sedari tadi tergeletak di sisi kanannya. "Seharusnya tak perlu sampai seradikal ini, To." Si lelaki kecil menudingkan telunjuknya ke satu tulisan.
"Itu bagian dari impian masa kecil saya," Darto tersenyum mencibir. Si lelaki kecil mengangguk lagi. "Apa kau tahu akibatnya!?"
Darto mengangguk tegas. Si lelaki kecil membalas dengan anggukan. "Kenapa kau memilih untuk ditangkap? Capek? Bosan? Atau..."
"Lagi-lagi itu bagian dari impian masa kecil saya." Sahut Darto lugas. "Menjadi pahlawan? Pahlawan kesiangan!?" Si lelaki kecil tersenyum meringis.
"Saya pernah membaca ayat di sebuah kitab perjanjian lama yang berkata, kalau setiap darah yang tertumpah itu akan berteriak kepada sang penciptanya." Kata Darto.
"Peristiwa Kain dan Habel," sahut si lelaki kecil.
"Tinggal menunggu waktu saja," Angguk Darto. Si lelaki kecil kembali menarik sebatang rokok yang sedari tadi cuma ia diamkan terjepit di jemari tangannya. "Dan kau siap menjadi tumbal!?"
Darto mengangguk tegas.
"Bagaimana kalau kau salah!?" Tanya si lelaki kecil.
"Ah, aku juga pernah membaca di kitab yang sama, kalau di bawah kolong langit ini sesungguhnya tidak ada yang baru. Kalau yang baru saja sesungguhnya tidak ada apalagi yang abadi, bukan begitu?!" Kata Darto.
"Segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk bertemu dan ada juga waktu untuk berpisah." Kata si lelaki kecil. Darto mengangguk kecil. "Dan kau siap untuk itu?" Lanjut si lelaki kecil menatap tegas ke arah Darto.
"Buat impian masa kecil saya, tentu saja saya siap!" Darto tak kalah tegas. "Ingin sekali aku mewujudkan impian masa kecilmu itu, sobat." ujar si lelaki kecil.
Darto bangkit berdiri dan membentangkan kedua tangannya serta dadanya membusung tegak ke depan.
"Sayangnya, aku tidak diserahi peran seperti itu, setidaknya untuk hari ini. Sekarang aku hanya diminta untuk berbincang-bincang dengan dirimu, tapi kemarin... Ngomong-ngomong apa kau tahu bagaimana rasanya menghantarkan seseorang kepada sang pemiliknya?" Ucap si lelaki kecil berpanjang lebar.
"Yang kutahu cuma satu, mereka mengampunimu." kata Darto kembali duduk di kursinya. Si lelaki kecil membelalak kaget.
"Kau tidak ada bedanya dengan prajurit Romawi itu. Kau cuma menjalankan apa yang telah diperintahkan kepadamu. Kau tidak berhak untuk menarik kesimpulan. Disitulah letak penderitaan seorang prajurit." Kata Darto. Si lelaki kecil mengangguk perlahan.
"Semua orang menjalankan takdirnya masing-masing, bukan begitu?" Ucap Darto tenang.
"Kalau tidak salah besok adalah hari ulang tahunmu kan?" Tanya si lelaki kecil. "Mungkin juga menjadi hari terakhirku," timpal Darto. Si lelaki kecil lagi-lagi menganggukkan kepala. "Tampaknya kau sudah bersiap untuk itu."
"Aku ikhlas lahir batin! Demi impian masa kecilku!" kata Darto dengan ketenangan yang teramat sangat tak sekalipun terdengar suara yang tergetar di ujung bibirnya.
Si lelaki kecil bangkit berdiri. Si lelaki kecil menarik nafas dengan berat. Si lelaki kecil berbalik badan. Si lelaki kecil berjalan perlahan ke arah pintu. Sesampainya di depan pintu, si lelaki kecil menatap ke arah Darto, tegas. Si lelaki kecil melambaikan tangan. Darto membalas lambaian tangan tersebut bersama sebuah senyuman, senyuman yang lebar. Si lelaki kecil menganggukan kepala. Si lelaki kecil menarik daun pintu, kemudian ia tutup kembali, ia kunci dari arah luar. Dari dalam ruangan Darto hanya bisa mendengar jejak langkah kaki yang terkesan terburu-buru.
Selang kemudian sekepulan asap berwarna putih memenuhi ruangan tersebut, dari sebuah corong yang berada tepat di atas langit-langit ruangan. Darto duduk tegak sambil menggenggam sebuah kalung kecil di tangan kanannya. Kalung kecil itu pemberian dari sang Romo, lelaki paruh baya, tempat terakhir kali ia menginap, sebuah gereja tua, di sebuah dusun kecil, di balik bukit yang hijau.