Laki laki itu tertegun di depan cermin yang memantulkan wajahnya yang teramat pucat. Ia menghela napas pasrah, di atas kepalanya tertera angka angka yang berjalan mundur.
"Padahal usiaku baru 18 tahun." gumamnya. Shinigami, makhluk pencabut nyawa sudah mengintainya sejak satu Minggu yang lalu.
"Hey, biasanya sehari sebelum mati apa yang orang orang lakukan?"
Hal paling bodoh yang ia lakukan sekarang adalah mencoba bicara dengan shinigami. Makhluk serba hitam dengan sabit besar itu seperti patung. Sama sekali tidak peduli dengannya. Ia ada di sana hanya untuk mencabut nyawa.
Laki laki itu menghela napas. Sejak dua tahun yang lalu ia sudah tahu jika penyakitnya tidak bisa disembuhkan, ia memiliki keistimewaan yang orang lain tidak punya. Yaitu melihat masa hidup manusia.
"Habisnya orang lain tidak tahu kapan mereka mati, jadi mereka bisa santai santai. Kalau jadi aku pasti mereka juga bakal takut."
Dua tahun adalah waktu yang cukup panjang untuknya. Ia sudah menjadi pelukis terkenal dengan penghasilan mencapai ratusan juta. Ia juga jenius, lulus SMA di usia 17 tahun dengan nilai sempurna, siswa eligible.
Jadi, apa yang belum ia dapatkan sekarang? Ia cerdas, ia kaya, ia berbakat, fans nya bahkan mencapai ratusan, jangan tanya wajahnya. Ibunya saja model terkenal.
Ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal meneleponnya. Jika biasanya bakal ia abaikan, tapi karena sedang tidak ada kerjaan remaja itu memutuskan untuk mengangkat saja.
"Selamat pagi tuan pelukis, bagaimana kabarmu?"
Demi apapun! Laki laki itu hampir melompat dari ranjang rumah sakit. Suara itu sangat ia kenali.
Benar kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Tentu saja jika ingin menghabiskan hari terakhir gadis inilah yang paling tepat!
"Cla, kau mau berkencan denganku?"
"Hah? Hahahaa... Kau baru bangun tidur ya?"
"Tidak kok, aku sungguhan."
"Setelah setahun yang lalu kau menolakku akhirnya kau sadar jika hanya aku yang menyukaimu ya." gadis itu meledeknya.
Alza tersenyum kecut. Bagaimana mungkin ia menerima pernyataan cinta gadis itu di saat ia harus 24 jam berada di rumah sakit? Usianya juga tidak lama. Alza tidak mau membuat Clara hancur saat ia mati nanti.
"Apa kau sudah punya pacar, Cla?" Alza bertanya tegas. Ia tidak butuh basa basi lagi. Waktunya tidak banyak.
"Tidak. Apa kau lupa kalau aku penulis sekarang? Aku juga sama sibuknya denganmu, heh!"
Alza tertawa. Benar, dalam setahun ini yang menemani hari hari membosankannya adalah novel karya Clara.
"Baik, biar kujemput. Engkau sedang dimana, nona penulis?"
Kali ini Clara juga tertawa. Tawa renyahnya membuat jantung Alza ingin melompat keluar.
"Aku sedang di rumah sakit."
"Ah kau sakit?" Alza bertanya khawatir. Bergegas memakai jaket hitamnya. Lalu menekan nomor telepon di ruangan VVIP itu. Ia harus mendapat izin keluar sekarang.
"Yang sakit itu kau, bodoh! Aku sedang naik lift menuju kamarmu."
Astaga!
"Ehh eh... kenapa?"
"Apa maksudmu kenapa? Katanya mau kencan."
Alza menggaruk kepalanya tidak paham. Jadi tadi gadis itu meneleponnya untuk bertemu dengannya?
Dari pada kelamaan berfikir Alza mematikan telepon di ponselnya. Ia berhasil mendapat izin keluar selama 1 jam. Bergegas membuka gagang pintu, gadis yang ingin ia temui sudah berdiri di depannya. Hampir ia tabrak tadi.
"Haloo... Wah kau semakin tampan saja tuan pelukis. Uangmu pasti banyak sekali. Apa kau habis operasi?"
Alza tertawa. Mengangguk. Menepuk nepuk perutnya.
"Ih bukan itu! Maksudku operasi wajah! Ah sudahlah, malas, kau tidak paham jokesku."
"Iya iya, aku paham kok. Aku mah dari dulu memang setampan ini Cla. Kau saja yang sombong tidak mau menjengukku. Mentang mentang sudah jadi novelis terkenal."
"Aku merindukanmu." Clara langsung menerjang tubuhnya. Memeluk Alza.
Alza membalas pelukannya.
"Aku juga merindukanmu. Kau jadi semakin cantik. Pasti perawatanmu mahal." ledeknya.
"Haha tidak semahal biaya rumah sakitmu kok."
Alza nyengir. Benar juga.
Dua sejoli itu bergandengan tangan keluar dari rumah sakit. Mampir sebentar ke toko baju, Alza membeli kaos, celana, dan sepatu untuk kencannya hari ini.
"Bagaimana, aku jadi keren kan?" tanyanya, memamerkan kaos branded yang baru ia beli.
Clara mengangguk, tentu saja, bagi gadis itu Alza yang paling tampan sedunia.
Selesai dengan toko baju. Mereka duduk untuk makan di kafe. Alza memesan banyak makanan dari daging, sayur, hingga dessert.
"Ini berlebihan Za." Clara berkomentar. Meja mereka penuh.
Alza tersenyum tipis.
"Sekali sekali." jawabnya. Mulai makan.
Mereka tidak banyak bicara. Entah kenapa Alza merasa jika Clara tidak seceria biasanya.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Alza tertarik dengan gadis itu. Diantara seluruh orang di dunia yang pernah Alza temui, Clara lah satu satunya manusia yang tidak bisa ia lihat masa hidupnya. Ia yakin kekuatannya ini tidak sedang rusak. Orang orang lain memiliki angka angka dengan hitungan mundur di atas kepalanya.
Yang itu tinggal seminggu. Pegawai itu masih ada tiga tahunan. Yang duduk di pojokan sana punya 25 tahun. Bahkan anak bayi yang sedang digendong ibunya punya usia sampai 50 tahun. Alza bisa melihat semuanya.
Tapi Clara, hanya gadis ini satu satunya yang tidak.
"Kenapa kau melihatku begitu?" Clara melirik.
"Makanmu jelek sekali." Alza mengambil tisu. Mengelap ujung bibir Clara yang terkena krim dari kue yang sedang ia makan.
"Ih sok gentle." Clara mencibir.
"Kau baper ya?" Alza malah menggodanya.
"Tidak tuh. Enak saja. Aku sudah move on tahu."
"Haha, syukurlah."
Clara tersenyum kecut. Bukan itu jawaban yang ia inginkan.
Setelah makan Alza mengajaknya pergi ke kebun binatang. Sopirnya sudah datang bersamaan dengan mereka keluar dari kafe. Mengantarkan mobil milik Alza.
"Memangnya kau punya SIM?" tanya Clara.
Alza mengangguk. Mengeluarkan kartu dari dompetnya. Clara menatapnya tidak percaya. Memangnya kapan Alza punya waktu untuk mengurus SIM? Bukannya ia selalu berada di rumah sakit ya?
Alza menunjuk kepalanya. Seolah bilang 'Aku tuh jenius, sekali coba langsung lolos'
"Ilih palingan nyogok."
Alza tertawa.
"Ngawur. Ini real ya. Kalau cuma menyetir mah diluar kepala Cla. Easy."
Alza tidak berbohong soal itu. Ia lancar menyetir. Bahkan Alza jago memarkirkan mobil. Setelah berputar putar melihat hewan hewan di alam buatan, sekarang mereka hendak melihat pertunjukan lumba lumba.
Clara langsung menggandengnya, menggenggam tangannya erat erat.
"Aku mau antri tiket. Kau tunggu di sini saja. Panas."
"Tidak mau, aku ikut."
"Jangan, nanti make up mu luntur. Kau tunggu di sini saja, sebentar kok." Alza memberikan sebotol air mineral padanya sebelum pergi sendiri untuk membeli tiket.
Melihat punggung Alza yang menjauh membuat Clara merasa tidak enak. Gadis itu tiba tiba berlari, memeluk Alza dari belakang.
"Eh, tidak usah lihat lumba lumba. Pulang saja yuk."
"Kenapa?" Alza membalik tubuhnya, menatap lekat wajah cantik Clara. Wajah itu terlihat sedih. Kemudian Clara menarik tangannya, kembali masuk ke dalam mobil.
"Ada apa Cla?" tanya Alza khawatir, menyentuh kening gadis itu. Tidak panas, ia sehat.
"Za, ke taman aja yuk."
"Taman?"
"Iya."
Alza berfikir sebentar. Melihat ke belakang, shinigami itu setia mengikutinya.
Lantas mengangguk. Ia hanya harus bersenang senang sekarang, dan terakhir kalinya.
Masih di area kebun binatang, ada taman di dalam sana, tempat para pengunjung untuk beristirahat. Alza dan Clara duduk di salah satu kursi dekat kolam ikan, beratap payung besar.
Alza membeli sekantong besar jajanan dan pakan ikan. Clara tersenyum senang, bergegas melempar makanannya ke dalam kolam. Ikan ikan berkumpul di bawah kakinya.
"Lihat Za, ada yang mirip denganmu!" celetuk gadis itu.
Itu hal yang membuat Clara unik. Gadis itu benar benar moodbooster, ada saja kalimat kalimat aneh yang bisa ia lontarkan.
"Maksudmu aku hitam? Itu kan yang paling jelek Cla."
Clara tertawa.
"Itu yang paling unik Za. Yang lain putih ia hitam sendiri. Kau kan juga begitu."
"Biasanya konotasi hitam itu buruk."
"Tidak, bagiku hitam itu keren. Jaketmu juga hitam kan sekarang. Hitam itu warna yang cocok denganmu Za, tertutup, misterius."
"Jenius." Alza menambahkan.
Clara melempar pakan ikan ke wajahnya.
"Heyy, ini amis tahu!" gerutu Alza. Clara tertawa.
Akhir dari kencan mereka adalah rumah sakit. Clara tidak melepas genggaman tangannya. Alza tiduran, wajahnya semakin pucat. Ia tadi dimarahi dokternya gara gara keluar seharian, padahal cuma dapat izin satu jam.
"Sudah malam, kau tidak pulang?" tanya Alza.
"Maaf aku tidak bisa mengantar. Mau kupesankan taksi?"
Clara menggeleng. Ia sudah izin dengan ayah dan ibunya jika malam ini mau menginap. Gadis itu sudah selesai ganti baju, pelayan rumah sakit sudah menyiapkan tempat tidur untuk gadis itu.
"Wah wah, berani sekali kau mau tidur dengan cowok."
"Haha, memangnya cowok yang bahkan tidak kuat berdiri sendiri itu bisa apa?"
Alza mendengus. Tubuhnya drop lagi. Mungkin sampai besok, lagipula ia hanya punya beberapa jam. Sejujurnya ia senang tidak sendiri sekarang.
"Za, kapan kau terakhir bertemu orang tuamu?"
"Hmm sebulan yang lalu mungkin. Kenapa?"
"Tidak apa apa, penasaran saja."
Clara tidak bisa melepas pandangannya pada wajah Alza. Gadis itu sengaja tidur menghadapnya.
"Ini hanya perkiraanku. Apa kau tahu sesuatu Cla?"
"Tahu apa?"
"Entahlah, kau aneh sekali lo. Tiba tiba datang, mengajak kencan, tidak mau berpisah sama sekali, bahkan sekarang menginap di sini."
Clara tiba tiba berbalik badan. Tubuh gadis itu bergetar, perlahan terisak.
"Yang... tahu itu kan kau sendiri! Aku sangat takut saat lewat di depan rumah sakitmu, makhluk jelek itu ada di sana. Dan sejak tadi mengikuti kita."
Alza sangat paham apa yang Clara katakan.
"Ah kau melihatnya ya? Sejak kapan kau bisa melihatnya?"
"Sejak dulu, siapapun yang diikuti makhluk itu pasti mati. Aku pernah berusaha mengusirnya saat dia mengikuti nenekku."
"Ppfft..." Alza menahan tawa. Sekarang ia tahu ada manusia yang lebih bodoh darinya yang mengajak shinigami bicara, Clara malah pernah mengusirnya.
"Tinggal beberapa jam lagi. Tapi tidak apa apa aku sudah senang dengan hidupku."
Gadis itu menangis semakin keras.
Tapi ia tidak bisa mengubahnya.
"Terima kasih Cla. Hari ini menyenangkan."