Tak tak tak
Suara sepatu itu terdengar nyaring di telinga karena seluruh ruangan sudah sepi. Pukul 18.00 tadi semua karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kini hanya ada Dara dan dua orang lainnya yang bertugas membersihkan kantor.
Dara Seruni adalah gadis 18 tahun yang baru diterima bekerja sebagai office girl di sebuah kantor marketing.
Dia baru bekerja dua minggu di kantor tersebut. Tentu saja sebagai orang baru dia mendapatkan perlakuan tidak adil dari seniornya.
Malam ini seharusnya dia bekerja dengan dua orang temannya yang lain. Entah kenapa mereka pulang lebih dulu dan meninggalkan Dara seorang diri.
"Kami duluan, ya. Kalau sudah selesai langsung pulang!" pesan temannya sebelum pergi. Dara mengangguk seraya melambaikan tangan. Begitu polosnya dia yang menganggap apa yang dilakukan temannya itu wajar karena dia telah menyelesaikan pekerjaannya.
Ternyata Dara tidak sendiri. Seorang atasannya sengaja pulang telat ketika mengetahui Dara belum pulang. "Dara, kemari sebentar!" perintahnya.
Dara berjalan mendekat. "Tolong bersihkan ruangan saya!" pinta pria yang memakai kemeja itu.
Dara pun tak menaruh curiga. Dia masuk ke dalam ruangan itu kemudian menyapu lantai yang penuh kertas berserakan. Terkesan disengaja tapi Dara tak menyadarinya.
Tiba-tiba dari belakang pria yang merupakan atasannya itu memeluk Dara. Dara tersentak kaget. "Pak, jangan begini." Dara berusaha menolak dengan sopan. Namun, laki-laki itu malah menjatuhkan dagunya di bahu Dara.
"Tidak usah malu, di sini hanya ada kita berdua," bisiknya di telinga Dara.
Gadis itu tentu merasa risih. Dia mencoba mengurai pelukan atasannya. Namun, dia tak berhasil. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga pria itu.
Laki-laki itu mendorong Dara hingga punggungnya membentur dinding. Pria yang bernama Riko tersebut mengangkat kedua tangan Dara dan menahan kedua tangan gadis itu dengan satu tangannya sedangkan tangannya yang lain membuka kancing baju yang dikenakan oleh Dara.
Riko melakukan pelecehan terhadap Dara. Dara menangis meraung tapi tak seorang pun yang bisa menolongnya. Terlebih saat ini gedung kantor tersebut sedang kosong.
Usai melakukan aksi bejatnya, Riko memakai kembali pakaiannya. Di saat dia sedang sibuk memakai ikat pinggang, Dara berdiri lalu mengambil gunting yang ada di atas meja. Dia menancapkan gunting itu ke punggung Riko.
Gadis itu gemetar ketika melihat Riko tergeletak dengan bersimbah darah. Dara berlari keluar sambil menangis. Namun, dia bertabrakan dengan Satpam yang sedang berkeliling. Satpam itu menatap curiga ketika melihat tangan gadis yang terjatuh itu berlumuran darah.
Dia pun mengecek ke ruangan lain. Satpam itu terkejut ketika seorang pria tergeletak dengan gunting yang menancap di punggungnya. Dia pun berlari mengejar Dara.
Dara berhasil ditangkap. Satpam tersebut menghubungi polisi. Dara pun digelandang ke kantor polisi. Kemudian polisi menghubungi keluarganya.
Dara hanya tinggal dengan seorang wanita yang tak lain adalah bibinya. Orang tuanya meninggal sejak gadis itu berumur lima tahun. Bibinya yang membiayai semua kebutuhan Dara selama ini.
"Dara, kenapa kamu bisa berada di sini, Nak?" tanya sang bibi sambil menangis di depan keponakannya. Dia menggenggam erat tangan Dara yang ada di atas meja.
Dara meminta kertas dan pulpen. Setelah pelecehan seksual yang dialami, dia mendadak tidak bisa berbicara.
'Bolehkah aku meminta sesuatu?'
Dara menulis kalimat tersebut kemudian menunjukkannya pada bibinya. "Apa itu? Katakanlah!"
'Jangan lakukan apapun untukku. Aku seorang pembunuh jadi aku pantas menerima hukuman.'
Dara mengangkat kertas yang ditulisi tersebut sambil meneteskan air mata. Tangannya bergetar memegang kertas itu. Bibinya yang membaca isi tulisan Dara menangis pilu.
"Apa yang kamu katakan? Aku akan membebaskan dirimu dengan cara apapun," tegas sang bibi.
"Maaf waktu kunjungan sudah selesai," kata penjaga lapas tersebut.
Mereka membawa Dara kembali ke dalam selnya. Dara hanya bisa pasrah. Dia tidak mau merepotkan bibinya. Selama ini dia selalu menjadi beban bagi wanita itu. Dia tidak mau membuat bibinya menderita lagi.
Ketika berada di dalam sel, dua dari penghuni sel itu menghampiri Dara. "Heh anak baru, gue denger lo bunuh orang?" tanya salah satu dari kedua wanita yang mendekatinya.
Dara hanya diam dan menunduk. "Budek lo?" sarkas wanita itu seraya mencengkram dagu Dara. Mereka tidak tahu kalau Dara tidak bisa berbicara. Setelah itu dia mendorongnya hingga membentur dinding. Tubuh Dara jatuh ke lantai. Bukannya menolong mereka malah menendang Dara secara brutal.
"Cukup! Hentikan!" teriak penjaga lapas yang bertugas ketika melihat Dara dipukuli. Dara dibawa ke ruang kesehatan. Di sana lukanya diobati.
Sebulan kemudian Dara mengikuti sidang pertamanya. Statusnya sudah dinaikkan sebagai tersangka. Jaksa penuntut umum mendakwa dia dengan pasal pembunuhan. Walaupun tidak disengaja tapi laki-laki itu mati ditangan Dara setelah dia menusuknya.
"Saudara Dara, apa anda keberatan berada di sini?" tanya seorang pengacara yang mengikuti sidang tersebut.
Dara menulis jawabannya di sebuah kertas. 'Tidak, saya tidak keberatan.'
Dia menjawab itu karena dia memang bersalah. Bayangan laki-laki yang ditusuknya itu masih sangat segar di ingatannya. Namun, pengacara itu mengambil kesimpulan lain.
"Dia menyatakan tidak keberatan Yang Mulia," lapor pengacara tersebut pada hakim yang bertugas. "Berarti dia mengakui kalau dirinya telah membunuh saudara Riko dengan sengaja."
Dara keberatan dengan pernyataan pengacara itu. Dia menggebrak meja agar orang lain menoleh padanya. Dara menulis apa yang ingin disampaikan secara terburu-buru.
'Saya tidak berniat membunuh dia. Saya hanya membela diri.'
Dara menangis. Bibinya yang hadir pada persidangan itu juga menangisi nasib keponakan kesayangannya yang teramat menyedihkan.
Namun, percuma Dara membela diri. Dia tidak memiliki bukti kalau dia dilecehkan. Mulutnya yang tidak bisa mengeluarkan suara membuat dirinya tidak bisa mengungkapkan dengan gamblang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Pengacara tersebut malah menyudutkan Dara dengan tuduhan bisa jadi Daralah yang menggodanya terlebih dulu.
Keluarga Riko sudah membayar pengacara itu agar memenangkan persidangan sehingga Dara bisa dihukum seberat-beratnya. Mereka tidak terima anaknya mati mengenaskan.
"Saudara Dara Seruni, anda akan dijatuhi hukuman selama lima tahun penjara." Hakim membacakan hasil keputusan sidangnya.
Tok tok tok
Palu yang diketuk menandakan keputusan akhir dari sidang tersebut. Bibi Dara menangis meraung karena merasa hukuman yang diterima keponakannya tidak adil. Hati Dara hancur berpisah dengan orang yang paling dia sayangi. Namun, Dara lebih baik dipenjara daripada mendapatkan cemoohan dari orang-orang yang mengenalnya.
Ketika dia berjalan menuju sel tahanannya, Dara tiba-tiba pingsan. Polisi yang berada di belakangnya langsung menangkap tubuh Dara. Mereka membawa Dara ke ruang kesehatan.
Satu jam kemudian gadis itu sadar. Dia berusaha bangun sambil memegangi kepalanya. "Berbaringlah jika masih terasa pusing!" perintah opsir yang menjaganya saat itu. Dara memaksa bangun.
"Apa kamu tidak tahu kalau kamu hamil?" tanya opsir tersebut pada Dara.
Mata Dara mengembun. Sesaat kemudian dia memukul perutnya berulang kali. "Aku tidak mau anak ini. Aku tidak mau," teriaknya secara brutal.
Opsir dan petugas kesehatan di sana memegangi tangan Dara agar dia tidak menyakiti janin yang ada di dalam perutnya. Dara kembali tenang setelah merasa lelah. Setelah itu dia dikembalikan ke sel tahanan.
Petugas memberi tahu pada teman satu sel Dara agar mereka tidak menyakiti dia. "Perlakukan dia dengan baik! Jangan menyakiti Dara karena dia sedang hamil."
Setelah memberitahu pengumuman tersebut, petugas itu pergi. Teman-teman Dara di dalam sel itu mendekat. "Jadi kamu diperkosa sampai hamil?" Mereka telah mendengar cerita Dara.
Bukannya Dara tidak mau menjawab tapi dia tidak bisa berbicara. Trauma yang dialaminya seakan menjadikan dia bisu permanen. Dara hanya mengangguk. Dia takut disakiti lagi.
"Lo bisu ya?" Dara mengangguk lagi.
"Pantas saja waktu itu dia diam pas kita tanya. Sorry kita nggak tahu," kata wanita yang pernah memukuli Dara.
Sejak saat itu mereka memperlakukan Dara lebih baik. Mereka merasa kasihan karena Dara mendapatkan hukuman yang tidak adil. Padahal dia harus menderita akibat pelecehan tersebut.
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dara meminta petugas lapas untuk melarang siapapun mengunjungi dirinya. Dia tidak mau bibinya tahu kalau dia hamil anak bajingan itu.
Hari ini Bibi Dara datang berkunjung. Sebelum masuk dia mengisi daftar hadir terlebih dulu. "Maaf, Bu. Dara tidak mau menerima kunjungan dari siapapun," ungkap penjaga di luar lapas.
"Kenapa, Pak?" tanya wanita yang memakai sweater tersebut.
"Saya tidak tahu alasannya. Saya hanya menyampaikan perintah," balas petugas itu.
Bibi Dara merasa kecewa. Padahal dia membawa masakan yang disukai Dara. Wanita itu pun pulang dengan langkah gontai.
Hari berganti hari Dara menjalani kehidupannya di dalam bui dengan berat. Dia tidak bisa menerima janin yang dikandungnya. Dia merasa jijik mengandung anak dari laki-laki yang telah memperkosanya.
Tapi di dalam sel teman-temannya mendukung Dara. Mereka memperlakukan gadis itu layaknya anggota keluarga. "Makan yang banyak agar anakmu tumbuh sehat di dalam perutmu."
"Apa kamu sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya temannya yang lain. Mereka terlihat antusias daripada Dara. Gadis itu merasa senang. Setidaknya mereka tidak lagi menyakiti dirinya.
Pagi ini semua penghuni lapas melakukan kerja bakti di luar. Dara yang tengah hamil besar tidak ikut sehingga dia tinggal sendirian dia dalam sel tahanan.
Tiba-tiba dia merasakan kontraksi di perutnya. Padahal usia kehamilan Dara baru menginjak tujuh bulan. Dara yang tidak bisa berteriak hanya bisa menangis tanpa suara. Gadis itu memegangi perutnya yang sakit luar biasa.
Setelah kegiatan kerja bakti selesai, orang-orang menemukan Dara dalam keadaan pingsan dengan darah keluar di antara pahanya. Penjaga lapas segera menolong wanita itu. Mereka membawa Dara ke rumah sakit. Sayangnya di perjalanan Dara menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Pihak lapas mengabari berita kematian Dara pada bibinya. Sang bibi menangis pilu. Setelah itu salah seorang petugas memberikan sepucuk surat yang ditulis Dara ketika berada di dalam penjara. Surat itu ditemukan oleh teman satu sel Dara ketika sedang membersihkan tempat tahanan.
'Aku menyayangi bibi. Maaf selama ini aku sudah banyak merepotkanmu. Bibi sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Namun, aku belum bisa membahagiakanmu. Jika kita tidak bisa bertemu lagi, izinkan aku menjadi anakmu di kehidupan berikutnya. Maka aku berjanji aku akan membuatmu selalu tersenyum.'
END