Nasihat mudah dan ringan disampaikan, jika hanya sebatas ucapan. Tanpa empati yang disisipkan, ia cenderung hambar dan berlalu tanpa kesan. Atau sebaliknya: justru berpotensi menorehkan jejak luka perasaan.
Lain halnya jika kita bisa membayangkan saat di posisi pesakitan, atau pelaku ujian. Kita cenderung lebih peka mengunyah setiap ucapan sebelum disemburkan. Kata-kata ini manis atau pahit, bisa lebih mudah kita rasakan dan petakan.
Menimbang kata bukan semata soal ketrampilan. Justru lebih pada soal kepekaan. Ia mungkin bisa diteorikan. Tapi, tak akan sampai ke hati jika kata-kata hanya dirakit tanpa penghayatan.
Hari ini, bicara kepekaan bisa dituding baperan. Barangkali karena terbiasa bicara di balik akun medsos tanpa berhadapan. Jadi lupa cara menggali isi hati dari intonasi, tatapan, dan senyuman. Lupa, bahwa senyuman bukan selalu tanda kebahagiaan. Bisa saja itu adalah bungkus kegetiran.y
Dalam Islam, kepekaan diajarkan dan ditekankan. Di antara hikmahnya, ia bisa mencegah kesalahpahaman dan potensi perseteruan.
.
.
.
IG: @abun_nada
#mawasdiri