Ayu dan Achmad duduk berdua di sebuah taman kota, mereka hanya terdiam, serasa telah habis kata-kata untuk dibicarakan. Keyakinan yang berbeda membuat mereka tak bisa bersatu, namun perjalanan yang telah mereka rintis bukanlah singkat, sejak duduk di bangku kelas satu SMA, berlanjut saat kuliah mereka mengambil jurusan yang sama, setelah lulus kuliah, dua tahun mereka kerja dan masing-masing sudah dikejar oleh keluarga masing-masing untuk segera nikah, namun harus ada yang mengalah agar satu perahu dalam rumah tangga.
Sore itu di bulan April setelah gerhana bulan terjadi, Ayu dan Achmad sepakat mengakhiri hubungan manis mereka, sangat berat namun harus mereka lakukan. Ayu tak berhenti menangis dalam diam, rasanya seluruh jiwanya hancur, dunia terbalik. Achmad berusaha tegar, dia yang pertama menguatkan diri dan berdiri dan berkata, “Sampai jumpa Yu, buktikan kita bahagia.” Achmad langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ayu yang masih duduk di taman, air mata Achmad yang sedari tadi ditahan, akhirnya mengalir membasahi pipinya juga.
Achmad langsung pulang ke rumahnya, ayah dan ibunya sedang duduk di teras rumah. “Bu, aku sudah putus dengan Ayu,” kata Achmad kepada ibunya. “Alhamdulillah, semua baik nak, Allah telah merencanakan yang baik untuk Ayu dan kamu, jika memang tak bisa berjalan bersama, ya pasti ada yang akan ditakdirkan Allah menjadi jodoh kalian,” kata Ibunya. Ayahnya yang juga mendengar hal ini langsung berkata, “Ayah, atur ya taaruf , ada anaknya Pak Muis, teman ayah, anaknya soleha, namanya Siti.” Achmad hanya diam tak menjawab.
Seminggu kemudian, Achmad langsung taaruf dengan gadis pilihan kedua orang tuanya, kejamnya dunia media sosial, tak memahami perasaan Ayu, dalam whatsapp grub ramai teman-temannya mengucapkan salam kepada Achmad. Ayu yang lagi menyusun pembukuan di Bank tempat dia bekerja langsung buyar pikirannya, seluruh tubuhnya gemetar, Ayu berlari ke toilet dan menangis sekencang-kencangnya di toilet. Zahra yang lagi di bilik sebelah terkaget, segera keluar dari bilik lalu di depan wastafel cuci tangan dipeluknya Ayu.
Ayu menenangkan dirinya di teras atas bank ditemani Zahra, diijinkan pimpinan karena mereka melihat betapa kacau rupanya Ayu. Ayu menceritakan semuanya kepada Zahra. “Yu, sakitnya hati cuma saat ini, nanti waktu akan menyembuhkan lukamu,” hibur Zahra. Ayu menguatkan diri dan menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Esoknya, Ayu tetap melanjutkan pekerjaannya, di sela waktu istirahat, Ayu melihat tawaran pekerjaan relawan pekerjaan di yayasan Tangan Pengharapan, walau memang harus siap ditugaskan di pulau-pulau kecil di seluruh Indonesia.
Ayu mendaftar di yayasan Tangan Pengharapan dan diterima, Ayu ditugaskan di pulau Napan, Pulau yang berada di kota Nabire, sebagai relawan guru SD. Tak disangka ternyata lamaran Ayu diterima. Ayu mengundurkan diri dari bank. Kepergian Ayu bertepatan dengan hari pernikahan Achmad, ibunya yang tak rela sebenarnya melepas Ayu pergi jauh, apalagi harus naik perahu lagi dari kota Nabire dan tak ada jaringan internet untuk bisa komunikasi.
“Sabar bu, jika dua tahun mungkin perpanjangan kontrakku bisa di pindahkan ke pulau Indonesia yang lain yang lebih dekat dari Jakarta,” kata Ayu menguatkan hati ibunya. Ibunya hanya diam, ingin rasanya menahan Ayu, namun ibunya tau berat bagi Ayu setelah putus dari Achmad, sehingga Ayu sangat bertekad bulat meninggalkan semuanya di kota ini. Achmad mendengar kepergian Ayu dari Riki saat Riki menyalaminya di pelaminan. Riki berbisik, “Ayu pergi hari ini ke Papua.”
Achmad seperti manusia yang jiwanya lagi tidak di dalam dirinya setelah mendengar kabar Ayu yang pergi. Ayu tiba di Nabire, diterima di keluarga Chrestian, beristirahat sehari lalu keesokannya dengan perahu Ayu melanjutkan perjalanannya ke pulau Napan. Perahu itu telah dinaiki dua orang tentara yang sepertinya juga akan berdomisili di Napan. “Permisi Pak,” kata Ayu saat mau duduk. “Mari duduk mbak,” sapa seorang tentara Angkatan Darat itu. Akhirnya perahu dinyalakan dan berlayar ke pulau Napan, wajah Ayu berubah pucat, sebab melawan ombak, namun dia melihat yang lainnya tenang.
“Kerja di Napan?” tanya seorang tentara tersebut kepada Ayu. “Iya Pak, guru di SD Negeri 1 Napan, saya dari yayasan Tangan Pengharapan,” Ayu menjelaskan, Ayu merasa nyaman bercerita sebab setidaknya ada aparat keamanan juga yang sama-sama akan di pulau Napan, bukan hanya penduduk setempat. “Ibu guru dari kota mana?” tanya tentara yang satu lagi. “Saya dari Surabaya,” Jawab Ayu. “Bu guru tenang saja, kalau tenggelam kita kan sama-sama tenggelam,” kata tentara tersebut, seisi perahu yang terdiri dari lima orang penumpang dan dua orang sebagai juru mudi tertawa.
Akhirnya sampai juga mereka di pulau Napan, Ayu langsung dijemput teman-teman yang sudah mendahului karya pelayanan yayasan Tangan Pengharapan di pulau Napan. Ayu masih sempatkan diri berbalik dan berpamitan dengan kedua tentara tersebut, “Saya duluan Pak.” “Hati-hati bu guru, kapan kapan kita pasti akan bersua lagi,” kata kedua tentara tersebut. “Kau kenal mereka?” tanya Maria yang menjemput Ayu. “Tidak, baru kenalan di perahu,” jawab Ayu. “Jangan terlalu dekat dengan aparat keamanan, nanti kau susah diterima warga,” pesan Maria. Ayu hanya diam, penduduk setempat masih kuat memiliki sikap apatis terhadap aparat keamanan.
Sebulan Ayu telah berada di Pulau Napan, ada gerakan Tentara bangun desa, kebetulan memperbaiki jalan di depan sekolah Ayu, Ayu kembali bertemu dua tentara tersebut, “Bu guru, waktu itu belum kenalan,” kata seorang dari mereka. Ayu mengulurkan tangannya, “Ayu.” “Alex dan ini temanku Rian,” kata Alex. “Bu guru kita bisa datang main di rumah ka?” Alex memberanikan diri. “Boleh,” Ayu tersenyum melihat Alex.
Ternyata Alex seumuran dengan Ayu umur 25 tahun, belum menikah, Alex memiliki darah Timor, berkulit hitam manis. Ayu tidak menutup dirinya diapun membuka dirinya untuk persahabatan, “Kenapa mau merantau sejauh ini?” tanya Alex. “Karena putus dari pacarku,” jawab Ayu ketika malam minggu Alex mengunjunginya di perumahan guru yayasan. “Sebegitunya sampai harus kau pergi?” tanya Alex. “Sembilan tahun, namun beda keyakinan, jadi ku harus pisah,” kata Ayu. “Kalau gitu mulai sekarang Ayu harus semangat, berdoa dan bekerja dan jangan menutup diri dari pergaulan,” pesan Alex.
Ayu bersyukur sekali, Tuhan mengirimkan Alex menemaninya di saat Ayu dalam pelarian, Alex tak memaksa Ayu untuk harus pacaran, namun mereka berdua ternyata dapat menjadi sahabat dalam duka, saling menguatkan di perantauan. Dua tahun masa kontrak kerja Ayu telah habis, suatu malam saat mereka berdua duduk di halaman sambil melihat bintang yang berkerlipan di langit, “Alex,” panggil Ayu. “Tak usah kau lanjutkan Yu, aku pun belum mapan untuk melamarmu, makanya selama ini kau tetap kulindungi di dalam lingkaran yang radarnya telah ku pagari dengan kasihku, akupun tak akan memasukinya.”
Ayu menangis lagi malam itu, Ayu datang ke pulau Napan dengan hati yang luka, dan disembuhkan oleh kehadiran Alex, tentaranya yang selalu menjaga dirinya, menjaga hatinya hingga akhirnya Ayu dapat pergi dari pulau Napan dengan damai. Ayu telah berdamai dengan dirinya, Ayu telah memaafkan Achmad, dan terutama akan selalu Ayu kenang, Alex prajurit yang membawa kedamaian di dalam dirinya, foto Ayu dan Alex tak pernah di buang, selalu di dompet Ayu, walau Ayu kini telah memiliki sepuluh orang cucu, dia akan selalu menceritakan kisah Alex prajurit yang menemaninya dalam keadaan terpuruk.
Tamat.