Saat itu aku mengerti satu hal. Bahwasannya dukungan itu serakah. Mereka meminta dan meminta pada tiap kepala dan mata yang menatap untuk selalu mendukungnya.
Lantas katanya saat itu ia bicara mengatakan.
"Aku ingin menjadi seorang superstar, dan jika inginku disini tidak terpenuhi maka kau angkat kaki saja. Aku berlatih tak kenal waktu dan kau jika terusik pergilah! Ini kekuasaanku rumahku, kalau memang kau menolak segala ingin dan kehendak ku disini pergilah. Aku tidak peduli kau anakku atau saudaraku intinya keinginanku berhak jadi nyata."
Lantas hari itu aku mengatakan padanya. Hei Kisana, yang ditakdirkan sebagai satu darah denganku. Jikalau hukum tak ada dan kau tidak memiliki hubungan darah denganku.
Mungkin segan tanganku meremas seluruh ucapanmu. Tapi nyatanya dengan hubungan Tuhan menahan meriam dalam hatiku yang hendak meledak.
Bangsat! Kau tau sejak dahulu sangat dahulu masalah yang menimpaku selalu ku selesaikan sendiri. Bukan hanya kau saja manusia yang sengsara disini.
Bermandikan hujatan hinaan aku berjalan di antara kerasnya kehidupan. Ketika saat itu usiaku menginjak delapan tahun.
Kau pernah mengatakan, manusia yang melampiaskan amarahnya pada manusia lain adalah pengecut.
Namun beberapa tahun setelahnya. Ucapan sakral itu seakan mati tak ada jejak. Ucapannya mati begitupun hatinya.
Kisana, gelimpangan harta yang tadinya kau banggakan, yang kau buat diriku dan mereka bahagia, mendadak dilahap takdir di bumi hanguskan.
Saat itu tinggallah dirimu, satu manusia yang kebingungan. Berbekal celana dan kaos yang masih melekat pada tubuhmu kau pulang dengan rambut yang basah.
Ketukan pertama tidak membangunkan kami dirumah. Ketukan kedua kami masih terpejam. Ketika ketiga aku dan Telapak kaki surga terbangun. Kami menyambutmu yang lusuh di tenggelamkan berita kelam.
Selang lima bulan berlalu kau yang bijaksana berubah. Menjadi seorang montser yang segan menampar siapa saja yang tak baik padamu.
Kisana yang dahulu ku hormati. Ku mohon dengarkan apa yang ada dalam hati kecilku. Aku ingin bertanya perihal apa yang sudah kau katakan padaku dahulu.
Kemana letaknya kalimat bijak itu? Mengapa tidak kau jalani? Mengapa kau meninggalkan prinsip yang kau buat sendiri?
Ketika lisan lain mengingatkan padamu perihal itu, sekali dan berkali-kali telapak tanganmu terangkat mencoba menutup mulut kami dengan kekuasaanmu.
Dunia dan alur kehidupan bangsat! Benar-benar merubah manusia suci dalam sekejap.
Diksi ini tidak akan mati maknanya. Sebab keluhan akan lebih terjabar luas dalam tulisan.