Apakah diantara pembaca Budiman yang memiliki hobi memancing ? Nah, saya berani menjamin diantara Anda sekalian suka sekali memancing dan sebagian mengalami kejadian yang tidak bisa diterima oleh nalar terlebih saat memancing di tempat yang dianggap sakral, menjelang malam.
Nah, cover diatas adalah sebuah lokasi tempat saya dan teman-teman memancing. Saya tak perlu menjelaskan dimana lokasi itu, tapi, yang jelas kami pernah mengalami hal-hal yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Di bawah ini, ada beberapa cerita atau pengalaman kami saat memancing.
01. KERETA KENCANA MENJELANG MAGHRIB
Ini adalah pengalaman Azhar ( bukan nama yang sebenarnya ). Aku diajak Made memancing di sebuah tambak perbatasan desa G dan K. Tempat yang konon katanya, angker dihuni oleh seekor ular raksasa usianya ratusan tahun. Selain ular masih banyak lagi sosok-sosok mengerikan menghuni tempat itu. Aku adalah tipe orang yang tidak percaya hal-hal yang mistis, demikian pula Made. Maka, kami berangkat ke lokasi sekitar jam 12 siang. Panas seakan membakar jalanan yang kami lalui, jarak tempat tinggal kami dengan lokasi sekitar 8 km dan begitu sampai disana hanya terlihat beberapa orang duduk di payon ( tempat duduk terbuat dari bambu dan beratap seng ). Beberapa diantaranya duduk santai sambil menunggu ikan menyambar mata kailnya, sebagian lagi hanya duduk memandang lokasi yang luas dengan tanaman bambu hijau dan kuning, sengon, mangga dan lain sebagainya.
Aku memilih duduk agak jauh dari mereka karena khawatir mengganggu pemancing lain. Sekali, dua kali, tiga kali mengganti umpan, masih saja belum mendapatkan ikan sementara, matahari mulai meninggi. Di lain pihak Made bolak-balik kailnya disambar ikan, entah ikan nila ataupun ikan wader, tapi ukurannya cuma sebesar 3 atau 4 jarian. Tempat memancing dan umpan sama namun aku sendiri yang masih belum mendapat ikan.
"Made, aku pindah di gundukan itu, ya... siapa tahu beruntung mendapatkan ikan yang lumayan," kataku pada Made.
"Hei, hati-hatilah, kolam itu dalam, Lo" sahut salah seorang pemancing yang berada diantara para pemancing di bawah payon.
"Iya, pak terima kasih," sahutku, sambil mencari jalan menuju gundukan tanah. Cuma ada jalan setapak, hanya berupa tanah berpasir dan kerikil-kerikil kecil. Kakiku menapaki jalanan tersebut dan mendadak saja kakiku melorot ke bawah. Untung belum sampai ke atas... satu-satunya cara untuk naik adalah melepas alas kakiku. Sebenarnya, enggan melepas alas kaki di tanah tandus ini, karena panas menyengat dan konyol sekali kalau memancing harus takut basah atau kotor, resikonya kecil daripada tercebur di dalam air.
Aku berjalan hati-hati sekali dan akhirnya sampai di atas gundukan tanah itu. Kupasang kailku dan kembali memasukkannya ke dalam air. Hampir sejam menunggu, belum dapat apa-apa. Kesabaranku benar-benar nyaris habis, namun, entah ini lemparan ke berapa barulah ikan menyambarnya.
Buru-buru aku menarik joranku dan ikan nila seukuran 5 jari berontak hingga membuat joranku melengkung 90⁰. Berhasil. Aku tertawa senang demikian pula Made. Lemparan selanjutnya, lagi-lagi, ikan sebesar telapak tangan dewasa kena pancing. Aku mendapatkan 5 ekor ikan, kalau ditimbang mungkin sekitar satu setengah kilo, tapi, pada tambak ini, sekalipun mendapatkan sepuluh kilo tidak diperhitungkan. Sistemnya adalah, harian bukan kiloan. Jadi, boleh membawa ikan lebih dari satu kilo yang penting tidak memasang lebih dari 3 mata kail.
Leparan-lemparan selanjutnya, yang kudapat hanya ikan seukuran 3 jari saja. Tanpa terasa, matahari bergulir di ufuk barat. Made yang akhirnya pindah tempat ke dekatku berkata, "Kita coba memancing sampai ba'da imsyak, ya?! Aku masih ingin mencoba beberapa tarikan lagi,"
"Ya, sudah kita pulang sehabis imsyak," sahutku, "Tapi, kau bawa Starlet, tidak ?" tanyaku.
"Aku bawa, kok..." katanya sambil mengeluarkan dua batang Starlet ( alat bantu penerangan. Biasanya dimasukkan ke dalam pelampung. Tujuannya, untuk mengetahui kemana ikan bergerak sambil membawa umpan yang kita pasang ) dari dalam tas pancingnya untuk kemudian memberikannya padaku. Kami sudah memasang Starlet dan kembali melempar umpan.
Bunyi Adzan Maghrib mulai terdengar, tapi, kami hanya mendapatkan ikan-ikan sebesar 2 atau 3 jari saja, sementara, rombongan para pemancing duduk di bawah Payon sudah pada pulang, mereka memperingatkan kami agar segera pulang atau paling tidak kalau berniat memancing malam hari pindah tempat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku dan Made hanya menanggapinya secara acuh tak acuh.
Setelah adzan Maghrib berakhir, satu jam kemudian, mungkin sekitar pukul tujuh menjelang imsyak...
"Neng... neng... neng..."
Bunyi itu terdengar samar-samar dari kejauhan. Aku masih tidak percaya dengan apa yang tertangkap di telingaku. Mungkin suara angin atau pemilik tambak ini
"Neng... neng... neng..."
Kali ini bunyi itu terdengar lebih jelas, arahnya dari sebelah kiriku. Sebelah kiri itu adalah sebuah patung perahu yang cukup besar, bunyi itu terdengar dari balik perahu itu semakin lama semakin dekat.
"Made, apakah kau mendengar sesuatu ?" tanyaku pada Made.
Made terkejut, ternyata dia tertidur, "Apa... apa kau bilang ?" tanyanya gugup.
"Astaga, kau tertidur, Made... Apakah kau mendengar sesuatu dari arah kiri ?" ulangku.
Made memasang telinganya, "Aku tak mendengar apa-apa, Jar. Memangnya, kau mendengar apa ?"
'Neng... neng... neng...'
Suara itu kembali terdengar diiringi dengan derap langkah kaki kuda. Dari arah kiri, yah, kiri tepatnya, perahu... tak mungkin ada apa-apa disana, itu adalah bagian dari kolam yang terdiri dari air.
"Suara klenengan, kereta kuda, Jar," ujar Made yang ternyata baru bisa mendengarnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kiri. Kami ternganga, ada sebuah kereta mengambang diatas air. Kereta kencana.
"Astaga, jar... aku lupa ini malam Jumat Kliwon," kata Made.
"Emangnya kenapa ... " tanyaku.
"Orang-orang disekitar sini bilang, hal-hal gituan pasti muncul saat Jumat lagi atau Jumat Manis. Kalau muncul kereta kencana, kereta itu akan berkeliling di sekitar sini, kusir kereta membawa sebuah lentera, jika, sinar lentera itu menyorot ke arah salah satu para pemancing malam, ia akan tertimpa sial," ujar Made.
Pada saat itulah aku melihat seberkas cahaya keluar dari kereta kencana yang indah itu, buru-buru aku membungkuk dan menarik baju Made. Kami berdua menundukkan kepala dalam-dalam. Dengan hati-hati, kami menuruni gundukan tanah dan segera angkat kaki dari lokasi pemancingan.
_____ &&& _____
04 Desember 2022