Nona Cantik dan Tuan
Katanya, jika sore hari tiba. Jalanan kota Bandung akan semakin ramai dibanding sebelumnya.
Para Tuan dan Nona bergerombol memenuhi sepanjang jalan sambil duduk menahan kesal di dalam mobil mereka masing-masing melihat panjang nya antrean macet.
Di salah satu memori indah seorang Nona cantik...ia ingat betul.
Saat matanya lelah menatap panjang nya deretan mobil yang terpapar kala itu, ia menemukan seorang Tuan berada di sisi jalan.
Tuan itu melambai padanya. Membuat Nona cantik tersenyum.
Nona cantik itu tak sengaja melihat papan yang tergantung, “The Coffee”. Nona cantik lantas membawa mobilnya menepi. Berniat menghampiri sang Tuan yang baru saja melukis senyum di sudut bibirnya.
"halo, Nona.” Sapa Tuan itu.
Dengan secangkir kopi nikmat di hadapan nya, nampak nya Tuan ini tengah asyik menonton ricuhnya jalan kota saat ini.
“Tuan, sebaiknya Anda tidak terlalu mudah tersenyum pada seseorang yang dengan jahil nya Anda sapa.”
Kata sang Nona cantik.
“oh ya? Berarti mataku memang jeli menyapa mana Nona cantik yang sebenarnya. Haha..” suara berat itu kembali
menyelinap ke telinga si Nona cantik. Nona cantik itu hanya tersipu malu. Baru pertama kali ini ia mendapati Tuan seperti Tuan yang ada di sebelahnya saat ini.
“Nona, kenapa kau kemari?” tanya Tuan kemudian.
“aku melihat ada seseorang yang menyapaku. Mana mungkin aku akan mengabaikan nya jika Tuan ingin mengajakku menikmati secangkir kopi arabika di sore hari”.
Keduanya tertawa.
“Nona, kau salah. Aku penikmat kopi Robusta” Tuan
menggeleng pelan. Ada kekahan yang menyusul. Mata Nona beralih menatap cangkir kopi berukuran medium yang berada di tengah meja. Kembali ia tersenyum. Hidung nya menghirup dalam-dalam aroma yang dapat ia cium.
“Tuan, ternyata kau menarik”. Puji nya kemudian.
Ah, tapi sayang. Para Tuan dan Nona lain di tengah kota itu tidak mendengar apa yang akan kedua orang ini perbincangkan perihal kopi. Mungkin jika mereka tahu, mereka akan terpukau. Melihat bagaimana cara Tuan dan Nona ini berbicara perihal kopi.
"Tuan, apa kau tahu? Arabika itu sangat manis, seperti pencintanya yang satu ini." Nona cantik berpendapat.
"Nona, sayang nya aku tidak terlalu suka hal yang manis" ujar Tuan membalas. Kembali Nona cantik itu berucap. "Lantas, apa kau pernah mencobanya?". "Ah, ada banyak rasa, apa kau benar-benar tidak menyukai semuanya?" Sambung Nona cantik.
Ia mengayunkan tangan nya ke meja. Tangan mungil itu memangku wajah sang Nona cantik.
"Hey, Nona. Bukannya tidak suka. Ini lebih menyangkut hal yang mampu menarik minat sipencicip itu sendiri. Robusta itu bukan hanya soal rasa, bagi diriku yang hanya menikmati dan bukan tipe pekerja keras….." Tuan memberi jeda untuk kelanjutan kalimatnya.
"Robusta jauh lebih merakyat untukku, Nona"
Katanya. Tuan itu menampilkan deretan giginya. Dia juga melukis seuntai senyum kecil. Bukankah begitu?. Tidak hanya balik tersenyum, malah ada tawa yang muncul, Nona cantik itu.
"Haha, kau benar-benar lucu. Aku jadi heran, apa kau yang seperti ini tengah mengejek atau apa. Tapi beruntunglah, aku bukan orang yang suka mengambil hati." Ujarnya.
Tuan terlalu banyak tersenyum hari ini. Tidak seperti biasanya. Apa gara-gara Nona cantik ini?
"Nona, apa kau bersedia aku ramal?"
“Apa kau tengah bercanda,?" Nona cantik memastikan.
Tuan hanya tersenyum. Lagi.
"Aku yakin esok kau akan kemari lagi”
Tuan mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku jaketnya. Kertas itu disodorkan pada si Nona cantik. "Kapan kau membuatnya?" Terbesit pada Nona cantik untuk menanyakan itu, tapi rasanya tidak usah juga tidak apa-apa. Ini menarik.
“Tuan, kau terlalu percaya diri. Tapi, jujur aku masih ingin bertanya tanya lagi padamu soal Robusta kesayangan mu, haha. Ini hampir pukul 5, haruskah aku pulang? Atau ibu presiden (mama) akan marah. Mungkin kita bisa berjumpa lagi besok, Tuan" Ucap Nona cantik.
Nona cantik beranjak. Tentu setelah menerima secuil kertas dari Tuan di hadapan nya.
"Nona, kau menakutkan" canda Tuan.
Sore yang benar-benar mengesankan, pikir Nona cantik. Lalu, Nona cantik melambai.
"Baik Tuan. Sepertinya Nona cantikmu ini harus pergi”
Kata Nona cantik sebelum memasuki mobilnya.
Tuan sepertinya tidak jauh berbeda dengan si Nona cantik, masih penasaran.
"Nona, padahal aku belum sempat menjamu mu dengan secangkir Arabika" Tuan.
"Lain kali saja," balas Nona cantik mengakhiri. Tak terasa, macet mulai melonggar. Tak lama, Nona cantik menghilang setelah menerobos kawalan mobil lain di lalu lintas. "Haha, memang cantik."
Esoknya….
Nona cantik kembali melewati jalanan kota Bandung. Jalur persinggahan antara apartemen tempat tinggal nya dengan kantor majalah profesinya. Nona cantik itu kembali mendatangi tempat dirinya bertemu dengan si Tuan.
“Haha, Nona. Kau benar-benar datang kembali?" Sapa Tuan yang kemarin ia temui.
Namun, kali ini berbeda. Meski masih di tempat dan meja yang sama.
Tetapi kali ini, muncul secangkir kopi lagi di sebelah… ah? Kopi robusta Tuan?
"Alan, sepertinya kau memenuhi janjimu kemarin Apa Nona cantikmu ini benar?"
Nona cantik itu duduk di sebelah sang Tuan. Wangi khas robusta dan arabika berpadu menyelubungi kedua lubang hidung si Nona cantik.
“Kau sudah membaca kertasku kemarin, Nona?”
Tanya Tuan dengan senyum khasnya. Nona cantik mengangguk pelan. Tak sadar matanya menangkap lilitan gelang hitam di pergelangan si Tuan.
Nona cantik mungkin penasaran.
“Gelangmu membuatku bertanya-tanya, apa penyair musikal sepertimu juga memiliki ketertarikan akan benda bundar itu?" Tanya ya.
Tuan terkekeh, ia mengaduk hiasan cream di atas kopinya.
Nona, aku hanya penyair. Gelang ini bukan masalah untukku" balas Tuan.
Nona cantik itu masih terhanyut dengan gelang hitam milik Alan, Tuan yang ada di sebelahnya ini.
"Oh ya, Alan.
Apa kau tidak mau menanyakan namaku? Kita terbatas oleh waktu sampai kita tidak sempat mengenalkan diri” Nona cantik tersenyum kecil. Dirinya sudah berandai-andai bagaimana reaksi Alan nanti saat tahu namanya.
Tapi,
"Nona Naomi, sepertinya aku sudah tahu"
Kalimat itu keluar dari mulut si Alan. Nona cantik itu menganga. Baru saja ia akan menanyakan dari mana Alan tahu,
"Hey, Nona. Apa kau tidak sadar sedari kemarin ada kartu pegawai yang tergantung di lehermu? Atau karena terlalu nyaman menatapku kau jadi lupa?”
Tuan itu menyunggingkan senyum kecil. Kemudian meminum nikmat kopi yang mulai menghangat di meja. Tuan benar-benar menikmati kopinya.
"Alan, kau benar-benar berbahaya, aku bisa jatuh cinta padamu" kata Nona cantik.
"Bersamaku hanya akan membuatku terus memujamu, seperti yang aku tulis dalam kertas kemarin".
Entah apa maksud Alan barusan. Tapi Nona cantik menyukainya.
Nona cantik mulai menikmati jamuan dari Alan. Secangkir Arabika yang begitu cocok dengan sore hari kala hampir menjelang senja. Seperti acara minum kopi bersama. Tapi bukan, ini adalah pertemuan antara penikmat kopi Robusta dan Arabika.